Nilai Tambah Seorang Wanita

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 24 Januari 2016
Nilai Tambah Seorang Wanita

Aku selalu mersa wanita mempunyai hal yang paling istimewa dalam dirinya, kau tahu dimana keistimewaan wanita terletak? Kau tahu? Bira ku beritahukan padamu.

Wanita diciptakan untuk menggerakkan peradaban, pada akhirnya mereka adalah leher dari setiap kepala. Gerak bagi setiap niat, jalan bagi setiap jalan pulang, langkah bagi setiap orang. Tuhan menciptakan wanita dengan keistimewaan yang tak pernah laki-laki pikirkan. Wanita terlahir untuk akhirnya kembli menjadi seorang ibu, dia tumbuh untuk sebuah peradaban baru. Karena pada akhirnya merekalah wanita yang akan mendidik anak-anak dan menjadi setiap anaknya orang yang lebih baik, itu istimewa pertama.

Kau sadar setiap wanita kecil pada akhirnya ditakdirkan Tuhan untuk menjadi ibu, bayangkan, mereka wanita ketika kecil mempunyai surga untuk orang tuanya, menjadi terkabulnya setiap doa orang tuanya, menjadi yang pertama medoakan orang tuanya. Ketika remaja, mereka wanita menjadi bagian terpenting dari keluarganya sendiri, menjadi berkah dari setiap orang dan setiap hal yang mereka sampaikan adalah bagian dari perasaan mereka. Ketika sudah berumah tangga, mereka mempunyai bakti yang bisa menjadi selimut kehormatan suami, menjadi sebab kesuksesan sang suami. Dan merekalah wanita yang akan benar-benar menjaga anaknya, mendidik dan megajarkan bahwa anak-anaknya harus menjadi lebih baik dari dia. Ketika sudah menjadi ibu, mereka wanita mempunyai surga untuk kemudia kita hormati di bawah telapak kakinya. Itu sudah istimewa kedua.

Wanita mempunyai nilai tambah yang tak pernah laki-laki miliki, seperti Umar bin Khattab ketika dimarahi oleh istrinya, sahabat Muhammad Rasullah itu hanya diam, hanya mendegarkan. Ketika ditanya ?Kenapa wahai Umar, kenapa kau tak memarahinya kembali, kenapa kau mengalah? Padahal kau dijuluki Singa Padang Pasir oleh Rasullah.? Tanya sahabat yang lain. Sambil mengangkat membenarkan posisinya Umar berkata. ?Karena dialah yang telah membesarkan anak-anakku, tanpa dia tak akan ada namanya kehidupan bagi generasi penerus, karena dia sudah menjadi jubah kehormatan untukku. Karena dia yang akan mengajarkan semua hal pada anak-anakku yang tak aku tahu. Karena dia istimewa.?

Lalu pertanyaannya, masihkah kita rela menyakiti perasaan wanita hanya agar mereka mengerti maksud laki-laki? Bukankah seharusnya sebagai laki-laki, kita yang mengerti dan menjaga perasaanya. Seperti Umar dan ribuan laki-laki lainnya, bukankah wanita adalah jubah kehormatan untuk laki-lakinya? Lalu masihkah kita (laki-laki) akan melancarkan emosi yang sama pada pasangan kita jika mereka melancarkan emosi dan meluapkan semuanya kepada kita?.

Apakah emosi hanya soal marah? Bukankah bahagia justru lebih berbahaya, mereka membuatmu berjanji dengan mudah. Apakah emosi hanya sekedar marah? Kurasa bukan, ini soal mengerti dan tidak saja.

Itu sudah semua keistimewaan, jika kau menghancurkan wanitamu, itu artinya kau menghancurkan jubahmu sendiri. Pada akhirnya yang tersisa adalah debu yang tak bisa kembali dan lubang yang tak pernah bisa tertutup.

Iya, kan?

?

Muhammad Arifin Adi Saputra

Depok, 24 Januari 2016

  • view 178