Jatuh

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Februari 2016
Jatuh

Aku jatuh diantara reruntuhan manusia, aku terbangun dipagi hari yang membutakan, semuanya masih terasa gelap, hanya cahaya lampu dan suara bising kendaraan yang mengganggu. Malam ini hujan mengguyur lautan perasaanku, aku baru saja mimpi buruk, aku baru saja terbangun dari semua ketidakpastian yang memaksaku untuk terbangun dari semuanya dan kembali pada kenyataan.

A, kau pasti tahu rasanya terjatuh, kau pasti mengerti rasanya kehilangan, kau pasti mengerti, kan? Aku seperti berada pada ketinggian yang barangkali ini adalah benar-benar yang tertinggi, aku terhempas jatuh ke bumi, aku merasakan sakit yang tak biasa, aku merasakan seakan semua badanku remuk karena semua kenyataan pahit yang kuhadapi.

A, aku masih mengingat kata-katamu. ?Terjatuh adalah cara agar kau merasakan rasa ?sakit seperti apa, terjatuh adalah bagian dari sedikitnya rasa sakit, terjatuh hanyalah semacam cara Tuhan untuk membangunkanmu dari tidur panjangmu.?

?Kenapa Tuhan menjatuhkan setiap hambaNya? Bukankah dia selalu sayang pada hambaNya?? tanyaku.

?Karena dengan terjatuh Tuhan sedang menguji mentalmu, hanya dengan jatuh kau akan merasakan rasa sakit yang berbeda, lebih dari apapun dengan terjatuh kau akan merasakan penderitaan yang barangkali hanya Tuhan berikan padamu.? Katamu. ?Sampai pada saatnya kau diberikan pilihan untuk tetap terbaring ditanah atau bangun dan kembali mencoba.? Lanjutmu.

Aku masih mengingat semuanya, A. Kau yang mengajarkanku semua itu, jika ujian terberat hanya akan diberikan Tuhan pada hambaNya yang paling kuat. Sedangkan yang terlemah hanyalah bagian dari hidup orang-orang yang kuat. Mereka yang lemah belajar dan meniru cara orang kuat bertahan, mereka yang terlemah mencoba mencari sebanyak-banyaknya ujian dan cobaan hanya untuk menjadi kuat. Tapi Tuhan selalu saja Adil, dia selalu saja memilih, walaupun setiap manusia didunia ini pasti akan mendapatkan ujian, namun porsinya pasti berbeda. Yang paling kuat adalah dia yang bertahan, yang terlemah adalah mereka yang melepaskan semua ketidakbisaan dan ketidakmampuan mereka pada apa saja yang bisa memudahkan, pada apa saja yang bisa mengecilkan.

Lemah bukan berarti tidak kuat, lemah hanyalah semacam jeda untuk mengumpulkan tenaga saja! Katamu.

Pada kenyataanya mereka yang terlalu sering mengumpulkan tenaga adalah mereka yang membuang-buang tenaganya sendiri. Mereka tak pernah berpikir untuk berlari lebih cepat, berusaha lebih keras, bersabar lebih lama, atau membuat jeda lebih kecil. Yang pasti Tuhan ingin memberitahukan kita pada setiap cobaanya, bahwa orang yang dianggap ?cupu? sekalipun bisa menjadi yang terkuat, maka benar katamu A.

Hidup adalah serangkaian proses perjuangan, sisanya teruslah mengecilkan jeda saat berlari, jangan pernah kalah dengan miliaran ribu cahaya, jadilah lebih cepat dari itu, sampai pada saatnya kau akan mengerti. Tuhan mengajari kita untuk tak menunda semua yang bisa di ?kerjakan!