Jubah Kemuliaan

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Februari 2016
Jubah Kemuliaan

Kau sadar, ketika suamimu perlahan pulang kerumah demi sebongkah uang kertas, demi mengidupi keluarga barunya, apa yang sedang ia korbankan? Waktu, Tenaga, dan juga pikiran. Kau sadar, ketika suamimu perlahan mengetuk pintu rumah dengan kehangatan yang dia inginkan Bapak baru pulang? Aku buatin teh anget ya?. Namun kalian menemukan teori baru di zaman ini Bawa uangnya cuma segini Pak?! Kerja yang rajin dong, aku mau cepet kaya!. Kau sadar, apa yang sedang dia usahakan untuk sekedar mengais rezeki demi dirimu.

Bangun subuh, merapikan barang-barang, perlahan mengambil dasi berwarna hitam, mengendarai motor butut yang tak pernah lunas tagihannya. Kau tahu apa yang sedang ia pikirkan soal keluargamu? Ya, uang yang cukup untuk membuatmu menjadi seperti apa yang kau mau. Kau tahu, ketika malam menjelang, senja tergelincir ke sudut barat bumi. Kau tahu di sela-sela itu dia mulai membaca doa, meminta Tuhan menambahkan rezekinya.

Kau tahu apa yang ia korbankan?

Waktu

Tenaga

Pikiran

Lalu kenapa dia suamimu bertahan? ?Dia sudah membersarkan anak-anakku, dia sudah mendidik mereka untuk menjadi orang yang lebih baik dari kami berdua.? Katanya. ?Dialah Jubahku yang indah dengan segala berlian di sisinya.? Lalu dia tersenyum perlahan, meninggalkan jejak-jejak kelelahan di dahinya.

Lebih baik aku cari yang kaya waktu itu katamu. Buatku, tak ada perempuan yang berlebihan soal harta, yang ada hanyalah laki-laki yang mengeluh atas hidup yang sedikit tak adil. Namun, bukankah istri adalah jubah suami? Bukankah melihat sisi perjuangannya adalah suatu yang harus di hargai?

?Itu udah kewajiban suami!? katamu.

Benar itu kewajiban suami, tapi dia akan menjadi gagal jika kau mengagalkannya, kan? Kau akan kehilangan sebagian perasaanmu padanya jika tak ada waktu untuk memperbaiki perjuanganya, kan? Jangan buat padangan orang lain jelek terhadap jubah suamimu (kamu) Jangan biarkan orang lain berpikir yang bukan-bukan pada jubahnya. Kau tahu kau adalah jubah berwarna merah dengan berlian disisinya, dan dengan sengaja dia memilihmu dari ribuan jubah yang sudah ada bahkan jauh lebih bagus. Dia mewajibkan dirinya untuk menafkahimu, dan kadang dia punya sedikit rasa khawatir pada jubahnya.

Jubah yang sobek dan kotor akan menjadikan sang raja menjadi sangat kotor dan memalukan, bukan? Namun, jubah yang bersih dengan sisi berlian yang menyala dan halus akan memperelok sang raja, bukan hanya jubahnya yang bagus tapi juga dia suamimu. Seseorang yang dengan sengaja meminangmu untuk menjadi jubahnya dunia akhirat.

Jangan pernah mengharapkan memiliki suami yang kaya dalam sekejap, kecuali itu adalah keturunan. Namun, berjuanglah bersamanya, jadilah jubah yang baik. Agar mahkota yang berada di tas kepalanya tak pernah terjatuh untuk kesekian kalinya. Jadi jubah yang menjahit dirinya sendiri ketika sobek, jadilah semua itu. Indah dan menghangatkan.

Itu fungsi sebuah Jubah (Istri) untuk dia (suami), kan?

---

?Assalamualaikum?

?Walaikumsalam, mas udah pulang??

?Baru pulang, tadi mas lembur. Maaf ya pulang telat.?

?Nggak apa-apa, namanya juga nyari uang.?

Dia tersenyum, dan kau tersenyum. Kehangatan yang istimewa dalam cinta yang luar biasa.

?Aku buatin teh hangat ya.?

?Makasih ya?

Kau tersenyum? kembali dan dia sudah menjadi raja yang sangat bijak, dan kau perlahan memperbaiki sobekan pada jubahmu.? Selamat menjadi jubah yang lebih baik dari biasanya, karena sang raja meminangmu untuk suatu alasan.

?

Depok, 14 Februari 2016

Arifin Narendra Putra

?

?Gambar di ambil disini!