Wanita Penggenggam Hujan

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Februari 2016
Wanita Penggenggam Hujan

?Sudahlah kau tak perlu menutupi kepura-puraanmu! Anggap saja semua bayaran ini setimpal dengan apa yang telah kau berikan kepadaku. Aku masih memiliki banyak agar bisa membuatmu damai dan tentram? kata laki-laki itu dengan penuh percaya diri

Hari itu Aini hanya menangis, dia tak tahu harus berbuat apa lagi semuanya telah hancur. Hal-hal yang sejak dulu telah ia jaga dengan sedemikian rupa, hancur karena kenyataan dan permainan hidup yang tak pernah kunjung henti. Dia tak pernah bisa menutupi air matanya. Semuanya sudah tak ada gunanya

?Sudahlah tenang ya, kita rahasiakan ini? Laki-laki itu menenangkan, namun semuanya tak akan kembali seperti semula lagi. Keputusan yang telah Aini ambil hanya untuk sebuah kehidupan yang agak sedikit lebih baik, hanya agar orang-orang tak pernah meremehkan dia lagi karena kemiskinannya, dia melakukan semuanya hanya agar semuanya lebih baik. Tapi apa bedanya; A. Memberikan semuanya dan tak menyisakan sedikitpun B. Menyisakan sedikit hanya untuk diberikan kepada laki-laki itu, ahh, kalau hidup ini pilihan ganda pilihan C selalu berbunyi A dan B benar. Tapi percuma saja, semuanya sudah tak akan pernah kembali seperti sebelumnya.

?Aku nggak bisa lagi deket-deket sama kamu? sambil menangis tersedu Aini mengemas barangnya dan pergi dari tempat itu. ?Aku udah hancur hes, aku udah hancur!?

?Hey Aini tenang dulu? berkali-kali laki-laki itu berusaha menenangkan Aini

?Tenang! Tenang kamu bilang! Gimana aku bisa tenang, ini sudah kelewatan, aku udah kehilangan semuanya dan sekarang kamu nyuruh aku tenang?! Berusaha untuk ngembaliin semuanya dan jadi suci aja aku nggak bisa, gimana aku ngomong sama mamah aku soal semua ini? Hah! Jawab aku?!? lanjut Aini

Laki-laki itu tak memperdulikan semuanya. ?Nih aku tambahin? sambil menyodorkan bongkahan kertas berwarna merah

?Ini bukan soal kurang atau ga, kamu kan udah janji nggak akan pernah ngerusak aku, memang aku lagi butuh uang Hes, tapi nggak begini juga caranya. Ini soal harga diri aku Hes, aku udah ngejaga itu semua dari sejak aku remaja dan sekarang semuanya hancur, nggak akan pernah ada masa depan buat aku. Dan kamu bilang ini hanya masalah bongkahan kertas kaya gitu?! Kamu selalu pinter buat ngejebak aku Hes, aku kecewa sama kamu? sambil berkata seperti itu ia perlahan berjalan menuju lift dan pergi

---

Terkadang hidup memang tak pernah bisa sesuai harapan, tak pernah bisa ditebak, selalu ada seribu kemungkinan soal kebaikan dan selalu ada seribu kemungkinan soal keburukan. Mereka yang bertumbuh dengan dosa bukan berarti sudah hancur, dan mereka yang bertumbuh dengan kebaikan bukan berarti sudah baik.

Tentang harga diri dan berbagai kemungkinan yang terjadi, semestinya harga diri adalah sebuah senjata yang kita gunakan untuk hal yang lebih baik untuk kedepannya, kan? Harga diri adalah semacam manifestasi kita pada diri sendiri, namun terkadang kita lebih suka menghancurkannya dan menukar nya dengan apapun yang menurut kita akan membuat kita ?bahagia? penuh waktu. Padahal bahagia bukan soal menjadi kaya raya dan mempunyai banyak uang, kan? Lalu sisi dari kita yang mana yang menganggap semuanya harus terpenuhi? Lalu untuk apa Tuhan menciptakan kata kerja bernama ?Usaha? dan ?Sabar? kalau hanya untuk menjadi pajangan dalam pikiran kita saja?

Bukankah Tuhan selalu adil? Atau kita melakukan itu karena putus asa akan ujian yang Tuhan berikan kepada kita? Ahh, putus asa hanya soal kelemahan dan ketakuatan saja, kan? Ketakutan kepada hal-hal yang tak pernah ingin terjadi dalam kehidupan kita yang mungkin bahagia, kelemahan kepada kekurangan dan lubang-lubang kehancuran kita yang tak bisa terisi penuh jika mengandalkan hal-hal yang biasa saja.

?Sekarang! semua keputusan sudah terambil, semua kejadian sudah terlewati, semua hal buruk telah datang dan semua hal baik mungkin menjauh. Namun ingatlah, tidak ada yang namanya ?Kepalang Basah? Tuhan selalu membebaskan hambaNya untuk memilih dan berubah menjadi lebib baik, kan? Lalu untuk apa masih berdiam sampai sekarang? Untuk apa masih mengeluarkan semua isi peluru dari senjata-senjata kalian? Ayolah, hidupmu akan terasa sia-sia jika terus berkubang dalam penyesalan-penyesalan. Angkat kepalamu, sudah lama kau tertidur, kau membutuhkan sinar baru untuk dapat kau serap, kau membutuhkan udara baru untuk kau hirup, tangan baru untuk dapat kau pegang, jalan baru untuk menuntunmu dalam kebaikan.

Sekarang! Kau harus berdiri, melompat dari jurang yang kau buat sendiri, kau harus membuat jembatanmu sendiri agar kau bisa melewatinya, tenanglah, kau memang tak akan pernah bisa mengembalikan semuanya, namun kau selalu bisa membenahi semuanya.

Sekarang! Sudah saatnya kau melihat ke sekitar, masih banyak orang yang mau menerimamu dalam keadaan yang tidak baik sekalipun, kau masih bisa kembali. Kau masih bisa kembali, cepatlah!

Sekarang! Kau punya harga diri baru, kau punya senjata baru, kau punya sesuatu yang baru, kau akan bertemu orang-orang baru. Tuhan menciptakan masa depan bukan hanya agar hidup harus terus berjalan maju, namun agar kita juga menemukan orang-orang baru, orang-orang yang mungkin akan bertahan lebih lama untuk bersama kita, orang-orang yang selalu mengingatkan kita. Tenanglah, bumi masih menerimamu, kau masih bisa mekar dengan sedikit tetesan air hujan. Kau masih bisa mekar!

Sadarlah!

---

Perempuan itu menangis dalam gelap. ?Aku nyesel, aku nyesel Mah?

?Sudahlah Aini, seharusnya Mamah yang minta maaf karena terlalu membiarkanmu, Mamah seharusnya tak seperti itu? Sambil memeluk perempuan itu

?Tapi aku sudah nggak punya apa-apa lagi Mah, semuanya sudah hilang! Aku sudah seperti tong yang kosong, sudah nggak ada isinya, pikiran aku sepernuhnya sudah hampir lelah mikirin semua ini, aku udah nggak punya apa-apa lagi Mah, nggak punya apa-apa lagi!? sambil terus menangis Aini mengatakan itu

Mamah terdiam. ?Kamu masih punya Mamah Ai, Mamah tetap sayang sama kamu, tenang ya, Mamah maafin semuanya?

Sambil menatap lekat mata Mamah, Aini memeluk Mamah erat-erat. ?Makasih Mah, Makasih?

Saat itu angin berhembus bergitu sejuk, suara klakson mobil bersahutan di ujung jalan, bintang masih bersinar terang, semuanya masih berjalan apa adanya, seperti biasa. Namun sedikit berubah.

?Ai hidup hanya soal bersyukur?

?Iya Mah, Aini ngerti sekarang?

  • view 134