Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 6 Februari 2018   00:22 WIB
Lembar Ketiga ; Percakapan Terakhir

Siang hari itu gue sedang asik-asiknya bekerja di salah satu percetakan di daerah Depok. Maklum karyawan baru. Tidak terlalu ramai pelanggan yang datang waktu itu, menjelang liburan akhir tahun. Gue masih memandangi jalanan dengan tatapan kosong, sambil beberapa kali menyeruput teh hangat yang sudah disiapkan di meja gue. Beberapa saat kemudian ponsel gue berbunyi, sebuah pesan singkat whatsapp datang dari sahabat gue, namanya Bunga. Kami sudah bersahabat cukup lama, sudah sekitar 4 tahunan.

Gue mengenal Bunga dari perkenalan pertama kami disebuah sekolah. Tidak, kami tidak satu sekolah, Bunga dan gue belajar disekolah yang berbeda. Karena waktu itu ada sebuah event disebuah sekolah di Jakarta Selatan, gue tidak terlalu ingat event seperti apa tapi kalau tidak salah lomba futsal antar sekolah.

“Fin, lagi dimana?” Gue menatap pesan singkat itu, sedikit terkejut ketika tahu Bunga tiba-tiba bertanya sama gue. Kita sudah jarang kontak-kontakkan, bahkan tidak pernah sama sekali semenjak gue tahu dia punya pacar dan gue punya pacar. Sebenarnya karena kesibukan juga, Bunga bekerja sebagai Teller di sebuah bank swasta.

“Lagi dikantor, kenapa? Tumben nanya?” Tanya gue ke Bunga.

“Makan siang sama gue mau nggak?” Sontak melihat balasan whatsapp nya gue tersedak. GILA NIH ORANG, udah jarang kontak-kontakkan tiba-tiba datang mau mengajak makan siang bersama.

“Lo mabuk apa gimana? Otak lo ketinggalan di tempat sampah tetangga lagi?” Tanya gue sambil membersihkan mulut gue yang basah karena air teh.

“Gue serius!” Kata nya dengan emoticon marah. “Gue sekedar mau ngobrol, kalau lo mau gue tunggu di Bakso Pak Dino.”

Gue berpikir sejenak. Gue lalu mengecek dompet gue, jaga-jaga kalau sebenarnya ini modus karena dia mau minjam uang ke gue. Dan ya waktu itu tanggal tua, di dompet hanya ada 50 ribu rupiah. Aman kalau dia minjam gue tinggal bilang ‘di dompet gue tinggal 50 ribu, itu juga pegangan buat sampai gajian’ batin gue berkata. “Oke.” Gue balas chat nya, dan akhirnya gue bergegas untuk berangkat ke Bakso Pak Dino.

---

Gue sedikit telat 15 menit dari jam yang sudah ia tentukan.

“Sorry telat.” Kata gue meminta maaf. Dia hanya mengangguk. Wajahnya suram, seperti tidak ada gairah dan semangat hidup. Matanya pun sembab seperti sedang menangisi sesuatu. Gue memperhatikan sekitar, Bakso Pak Dino ramai seperti biasanya. Perlu kalian ketahui bakso disini memang terkenal enaknya, dagingnya lembut dan seperti ada kenyal-kenyalnya. Gue sering makan disini sama karyawan kantor yang lain atau kalau lagi tidak punya uang sama sekali gue ajak pacar gue kesini, alternatif kalau lagi tidak punya uang banyak.

Gue duduk tepat di depan dia, tapi tatapan Bunga masih kosong. Gue riskan mau menebak dia sedang tidur dengan mata terbuka atau memang sedang melamun. “Jadi kenapa lo minta ketemuan?” Tanya gue langsung tanpa basa-basi. Dia hanya diam ketika gue tanya, seperti orang yang baru melihat hantu. Perlahan gue melambaikan tangan gue didepannya dia, berkali-kali sampai dia tersadar dan meminta maaf karena melamun.

“Ada yang mau gue ceritain sama lo.”

Gue mengernyitkan dahi gue. “Kok sama gue?”

“Cuma lo satu-satunya sahabat yang gue punya Fin.” Dia hampir menangis.

“Eh jangan nangis dong.” Kata gue sedikit panik, gue takut dikira hamilin anak orang karena tidak mau tanggung jawab akhirnya gue kabur dan kembali bertemu di tempat makan bakso hanya untuk bilang ‘anak itu beneran bukan anak aku’ hiiii membayangkannya saja seram. Tidak kebayang kalau gue beneran hamilin anak orang. Eh MULUTNYA JAGA FIN! “Yaudah-yaudah, ceritakan saja apa yang hendak engkau ceritakan wahai mbak yu” perlahan gue berubah jadi anak Prabu Siliwangi.

Bunga menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. “Gue nggak tahu harus gimana, lama kelamaan gue ragu sama Yoga.” Dia mulai berbicara dari awal pembicaraan ini gue tahu dia sedang ada masalah sama pacarnya. “Gue nggak tahu dia itu serius atau nggak sama gue, tapi lama kelamaan gue malah takut kalau dia bakalan ninggalin gue Fin.”

“Kok gitu?” Hanya itu respon gue, gue nggak tahu harus merespon seperti apa.

“Dia jadi sibuk kerja, jadi jarang ketemuan sama gue, bahkan yang lebih parahnya lagi teman sekantornya lihat dia pulang bareng sama bawahannya dikantor Fin!” Gue masih memperhatikan dia. “Gila nggak tuh cowok?! Di depan gue senyum manis, di depan gue berkata manis sampai buat janji-janji manis. Tapi dibelakang gue malah jadi laki-laki BRENGSEK!” Nadanya sedikit agak tinggi, gue tahu dalam keadaan seperti ini Bunga sedang emosi, mata nya berkaca firasat gue sebentar lagi dia akan menangis dengan kuat. Dia terus bercerita tentang Yoga yang terus menerus bertindak seperti anak kecil, ketika terjadi konflik berdua Yoga selalu saja membanting barang, selalu berkata lebih keras daripada suara Bunga. Yoga mungkin sayang dengan Bunga, tapi menurut gue Yoga hanya ingin menguasai seluruh diri Bunga dan dihempaskannya begitu saja. Gue seorang laki-laki gue tidak bisa merasakan apa yang sedang Bunga rasakan, tapi gue tahu rasanya dikecewakan seperti apa.

Kata Bunga terakhir kali mereka bertemu adalah 2 minggu yang lalu, semenjak itu mereka sudah jarang mengkontak satu sama lain. Kalaupun saling berbalas chat hanya sekedar ‘kamu sudah makan belum?’ atau ‘kamu sudah mandi belum? Kalau belum, mandi sana badanmu bau sampah’ tidak begitu juga sih. Hubungan mereka berdua sudah berada diambang kehancuran, rencana yang mereka susun untuk menikah dan punya anak lalu hidup bahagia selama-lamanya hancur begitu saja. “Gue jadi berpikir sebaiknya memang gue sendiri saja untuk saat ini.” Katanya lirih. “Rencana pernikahan dan semua hal yang sudah direncakan hancur semuanya Fin, gue jadi membenci diri gue sendiri.”

“Kok gitu?”

“Iya gue menyesalinya, kenapa gue bisa jatuh cinta dan orang seperti dia.” Kalimatnya penuh penyesalan, dia makin membenamkan wajahnya.

“Penyesalan itu nggak baik Bunga, jangan disesali, coba lo tarik nafas pelan dan mulai memikirkan semuanya baik-baik. Ini bukan salah lo, lo nggak bisa milih untuk jatuh cinta sama siapa.” Kata gue sok bijak, Mario Teguh sudah berada dibelakang gue untuk memandu. “Tidak semua hal bisa lo salahkan, tidak semua hal juga bisa lo benarkan.”

“Lo nggak ngerti perasaan gue Fin, gue kecewa sama Yoga. Dia sudah menghancurkan mimpi berdua yang sudah dibangun susah payah. Padahal kalau jadi, tahun depan kita akan lamaran dan menikah.” Katanya sambil mengusap pelan air matanya.

Gue masih terdiam menatap Bunga, dalam batin gue merasa kasian dengan apa yang Bunga alami. Buat kalian yang tidak tahu, Bunga dan Yoga adalah salah satu pasangan paling romantis yang pernah gue temui. Mereka memperjuangkan cinta mereka semenjak duduk dikelas 1 SMK, banyak orang yang tidak setuju dengan hubungan mereka tapi mereka terus bertahan dan membuktikan bahwa omongan semua orang itu salah. Mereka pantas disandingkan sebagai kekasih atau mungkin sebagai suami dan istri. “Sekarang lo tenangin diri lo dulu. Setiap hubungan lamban laun akan menemui titik terlelah nya sendiri.”

“Lo juga?”

“Juga apa?”

“Menemukan titik terlelah?”

Gue mengangguk mantap. “Pasti, gue dan Aprilia juga sama. Kami pernah saking lelahnya ribut besar dan saling diam satu sama lain selama seminggu. Tapi pada akhirnya kami bersama lagi.” Gue menatap matanya dalam. “Gue tahu apa yang lo rasain, gue memang bukan perempuan tapi gue tahu rasanya di kecewakan itu nggak enak.”

Bunga hanya terdiam sambil menunduk.

“Lo pasti bisa jauh lebih kuat daripada ini. Cinta itu memang membahagiakan kadang tapi disatu sisi cinta bisa menyedihkan ketika kita tidak bisa bersama-sama dengan orang yang kita cinta.” Dalam benak gue, gue tepuk tangan sama diri gue sendiri karena gue tidak menyangka bisa berbicara seperti tadi.

“Gue paham Fin. Gue akan coba.”

Gue tersenyum sama Bunga, dia pun ikut tersenyum tapi dipaksakan. Dan gue baru sadar kami belum memesan makanan. Akhirnya gue memanggil pelayan dan beberapa menit berselang tersajilah Semangkuk bakso telur dan semangkung bakso urat.

---

Dari pertemuan singkat itu, gue tidak menyangka ternyata lama-kelamaan Bunga jadi dekat sama gue. Setiap malam Bunga kadang mengirimkan pesan singkat ‘Fin lagi apa?’ entah gue merasa dia sedang kesepian dan mencari teman untuk mengobrol atau memang dia benar-benar menyimpan rasa sama gue. Tapi lamban laun gue merasa tidak enak dengan Yoga. Kabar terakhir yang gue tahu Yoga dan Bunga masih belum putus, mereka masih menjalin hubungan. Dan gue masih ada Aprilia, ini aneh dan..... Bagaimana cara menjelaskannya ke kalian ya... Rasa-rasanya ini menjadi cinta yang rumit.

Setiap malam akhirnya Bunga selalu curhat dengan gue. Entah apapun yang dia bicarakan ditelepon gue selalu iyakan. Gue tidak enak menolaknya. Tapi yang pasti kami berdua menjadi dekat kembali. Gue tidak sedang berusaha mendekati Bunga tapi mungkin Bunga butuh teman untuk ngobrol, maka akhirnya gue mengiyakan ketika dia ingin curhat.

Setiap jam istirahat tiba alarm ponsel gue selalu berbunyi dan ada tulisan kecil disana. Makan siang bersama Bunga. Hal-hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan, gue lama-kelamaan hampir terbiasa dengan Bunga sampai gue lupa gue sudah punya pacar, begitupun Bunga. Kami sama-sama melupakan semuanya, Bunga menganggap gue pendengar yang baik dan gue menganggap Bunga pun demikian. Gue masih ingat wajahnya, kedua pipinya merah merona ketika tersenyum, jerawatnya akan muncul seketika ketika dia sedang pusing setengah mati dengan pekerjaannya, dan celotehannya selalu tidak jelas ketika benar-benar sedang lelah. “Gue tuh ya Fin, sebenarnya cucunya Superman! Gue bisa terbang, mau lihat nggak lo?” Tanyanya setengah sadar, gitu deh dia kalau sudah seperti itu layaknya orang mabuk.

Kami sama-sama memiliki selera film yang sama; Romance, Komedi dan juga Action. Tapi pada bagian Action kami memiliki pendapat yang berbeda. Film action yang kami suka adalah film Superhero tapi dia memilih DCEU daripada MCU. Kalau kalian belum tahu DCEU adalah singkatan dari DC Extended Universe, tempat bagi pahlawan super seperti Superman, Batman, Wonder Woma, The Flash, Shazam dan beberapa tokoh yang dimiliki DC Comic. Sedangkan MCU adalah singkatan dari Marvel Cinematic Universe, tempat bagi pahlawan super seperti Ironman, Captain America, Hulk, Black Widow dan yang lainnya yang dimiliki Marvel Comic. Gue lebih menyukai Marvel tapi dia lebih menyukai DC, kadang kami suka berdebat tentang siapa pahlawan yang paling hebat dari masing-masing kubu. Tapi kami tidak sampai berseteru hebat, kami hanya berseteru seperlunya saja, meluruskan yang sedikit bengkok.

Hampir 4 Bulan gue semakin dekat dengan Bunga, kami menjadi makin nyaman satu sama lain sampai kejadian malam itu datang.

“Lo tahu nggak sih Fin?”

“Apa?”

“Ternyata benar Yoga selingkuh Fin, gue bener-bener benci banget sama tuh cowok!”

Gue hanya terdiam.

“Dia itu ya, seperti tidak menghargai gue Fin. Masa dia sudah punya pacar tapi masih nempel sama perempuan lain.” Kata Bunga, setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti menggebu-gebu. “Gue mau labrak dia dikantornya besok!” Kata-katanya sedikit nyakitin gue, kalau Yoga saja bisa dikategorikan laki-laki yang tidak bermoral apalagi gue, sudah punya pacar tapi dekat dengan Bunga.

“Eh jangan..”

Bunga terdiam. “Loh memangnya kenapa?”

“Nggak harus sampai melabrak di depan orang banyak. Lo juga pasti mengertikan bedanya menegur dengan menyalahkan?”

“Apa bedanya?” Tanya nya polos, gue tahu dia hanya ingin berlama-lama.

“Kalau lo mau menegur dia atas kesalahannya sebaiknya diobrolin secara empat mata, tapi kalau ujung-ujungnya lo mau melabrak dia di depan banyak orang lo malah menyalahkan dia. Dan kemungkinan ada dendam yang tersisa karena Yoga merasa dipermalukan.” Kata gue dengan sok bijak.

“ITU TUH MEMANG PANTAS BUAT LAKI-LAKI BRENGSEK KAYAK DIA FIN! SEENAKNYA MAININ HATI PEREMPUAN!” Dia mulai marah, kali ini suaranya lebih kencang daripada suara abang tukang sekoteng. Cinta itu memang menyebalkan, terkadang orang yang lembut dan halus tiba-tiba bisa berubah menjadi kasar dan pemarah karena dikecewakan. Gue tahu Bunga seperti apa, dia orangnya penyabar, tapi entah kenapa dalam urusan ini dia tidak sabar. Mungkin sedang khilaf.

“Gue paham tapi bukan seperti itu caranya.” Kata gue dengan tenang.

“TERUS BAGAIMANA? GUE HARUS NUNGGU DIA SAMPAI BAWA PACAR BARUNYA KE HADAPAN GUE DAN DIA BILANG ‘BUNGA INI PACAR BARU AKU’ UDAH GILA LO YA?”

“Tolong tenang dulu.” Kata gue masih dengan sikap yang sama. Gue kadang tidak bisa marah atau emosi terhadap sesuatu yang menurut gue kurang jelas. “Maksud gue it...”

Tuuuuuuuuttttttt

Telepon dimatikan.

Kali ini gue tahu Bunga tidak sepenuhnya mendengar perkataan gue. Dan tiba-tiba saja gue sedih, entah pada apa.

---

Waktu bergerak cukup cepat, seminggu gue tidak mendapat kabar lagi dari Bunga. Mungkin kejadian malam itu mengubah pikirannya bahwa gue bukan pendengar yang baik, tapi gue hanya tidak ingin dia membenci seseorang karena hal yang belum tentu benar. Maksud gue, dia hanya mendengar semua kisah perselingkungan Yoga dari teman sekantor Yoga bukan dari Yoga langsung. Memang sikap Bunga tidak salah, karena Bunga hanya perempuan biasa yang akan sakit ketika dikecewakan. Gue juga pernah dikecewakan karena cinta, tapi kasusnya berbeda. Waktu itu gue masih kelas 2 SMP jadi gue tidak terlalu bersedih. Gue selalu berpendapat ‘kalau dia nggak mau sama gue, ada perempuan lain yang pasti suka sama gue’ gue percaya itu waktu SMP. Tapi ketika masuk SMK gue buang jauh kata-kata itu, karena satupun perempuan tidak ada yang suka sama gue.

Hanya Aprilia saja yang senantiasa membuka hatinya untuk gue. Perlahan kehadiran Bunga benar-benar menghilang. Sampai disuatu minggu telepon gue berdering, sebuah nomor tidak dikenal berada dilayar ponsel gue.

“Halo.” Gue jawab dengan santai.

“Halo, dengan Arifin?”

“Iya, siapa ya?”

“Ini Yoga.”

Deg.... Deg..... Deg

Jantung gue tiba-tiba saja berdegup cepat. Masa iya ini cinta? Kan tidak mungkin. Jatuh cinta sama palem pisang! Arrghh Gila. Nih orang kenapa telepon gue tiba-tiba. Gue tidak berkutik sama sekali dalam beberapa menit berikutnya gue terdiam masih terus berpikir, ada gerangan apa dia menelpon gue begitu saja. Jangan-jangan gue mau dihajar? Atau mau di cabik-cabik kulit gue karena sempat dekat dengan Bunga, tapi kan Bunga sahabat gue masa iya gue tidak boleh dekat dengan Bunga. Haduhh pikiran gue kacau, tidak karuan.

“Halo.” Suara diseberang sana menyadarkan gue dari lamunan.

“I... Iy... Iya sorry gue melamun tadi. Mikirin hutang sama rentenir, biasa urusan keluarga.” Kata gue asal bicara, kenapa harus bawa-bawa rentenir. “Ada apa? Ada masalah ya sama Bunga?” Tanya gue pelan.

“Bunga?” Tanya dia heran, seperti orang yang tidak pernah mendengar nama tersebut.

Gue mengernyitkan dahi. “Iya lo ngehubungin gue karena mau ngomongin soal Bunga kan?”

“Bunga siapa sih?”

“Bunga pacar lo.”

“Gue nggak punya pacar namanya Bunga.”

Gue jadi bingung sendiri, ini gimana ceritanya sih. Apa tiba-tiba kepalanya Yoga kebentur dinding apa gimana sih? Masa iya sama pacarnya sendiri tidak kenal. Apa Bunga saking kecewanya masukin obat penghilang ingatan ke makanan atau minumannya si Yoga? Bisa jadi, mengingat terakhir kali dia ngobrol sama gue sampai marah seperti Hulk.

“Gue Yoga Temen kecil lo dulu, waktu masih jadi tetangga.”

Hah? Temen kecil gue? Gue lihat foto profil telepon WA nya, ternyata benar. Dia Yoga teman kecil gue. Gue udah jantungan kalau itu Yoga pacarnya Bunga, bukannya kenapa-kenapa takut aja gue di cincang jadi kecil-kecil gara-gara pernah deket sama si Bunga.

“Bikin gue jantungan tahu nggak lo.” Kata gue sambil mengeluarkan nafas lega. “Kenapa?”

Yoga hanya tertawa di ujung telepon. “Gue udah dirumah lo nih, pulang lah kerja terus.”

“Ngapain dirumah gue?”

“Nyari kotoran kecoa.”

“Ohhh...”

“Ya mainlah! Kita sudah lama nggak ketemu, kangen gue sama lo.”

“Gue kira beneran nyariin kotoran kecoa.” Gue tertawa keras, dan dia juga tertawa. Gue mengiyakan akan segera pulang, gue bilang sama dia tunggu 15 menit gue akan segera sampai. Gue bergegas merapihkan meja dan semua yang perlu gue rapihkan. Gue melewati Bakso Pak Dino dan teringat kembali wajah Bunga, dan mungkin benar Bunga telah benar-benar menghilang. Nggak ada lagi kabar tentangnya semenjak hari itu, dia sengaja menjauh atau memang dia sudah kecewa berat sama gue karena gue bukan pendengar yang baik.

Yang pasti, malam itu menjadi percakapan terakhir kami.

Dan gue kangen tiba-tiba, entah sama apa. Mungkin sama Bunga.

Karya : Arifin Narendra Putra