Ibu

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 23 Januari 2016
Ibu

Mari kuperkenalkan hikayat sebuah nama, dari banyaknya nama yang kutahu sejak kecil aku sudah mengenal satu nama yang sudah berada pada ujung lidahku, menunggu untuk disebutkan ketika aku terlahir ke dunia ini.

Aku ingin memperkenalkan dia kepadamu, kebanggaanku, semua hal yang terbaik pada diriku, semuanya dia yang selalu mengajarkannya. Menjadi Madrasah pertama bagiku, aku menyayanginya, sungguh menyayanginya.

Sebelum aku datang ke dunia ini, aku mempunyai rumah yang penuh dengan kenyamanan dan kehangatan, aku selalu bermain disana bersama teman yang diutus Tuhan untuk menemaniku di rumah itu. Tuhan memperkenankan aku untuk tumbuh di sana dengan senang hati, asal tak merepotkan saja. Aku selalu tercukupi, dari yang namanya sarapan, makan siang, makan malam, susu, buah-buahan, sayur-sayuran dan lain-lain yang menyehatkan aku di rumah itu. Di sana aku hanya bermain saja bersama temanku itu, banyak orang yang sudah menjaga ku dari luar rumah ternyamanku itu. Namun, tak selamanya aku tinggal di sana, Tuhan hanya memperkenankan aku tinggal selama 9 bulan 15 hari. Maka aku selalu memanfaatkan semua waktu ku selama berada di dalam rumah ku itu, sebelum aku keluar dan benar-benar melihat hamparan spesies yang sama seperti diriku ini.

Aku meyerap semua apa yang masuk ke dalam rumah ku itu, aku tak pernah melewatkan satupun. Aku mulai tumbuh, hamparan daging mengelilingiku, aku merasakan sesuatu yang cukup kecil tapi mungkin cukup berguna dalam kepalaku, lalu aku menemukan yang lainnya; Dalam dadaku, di bagian kiri dadaku aku merasakan sesuatu yang berdetak dengan perlahan tapi pasti. Di sebelah kanan aku memang tak merasakan sesuatu yang berdetak lagi, aku menemukan sesuatu yang berharga juga. Aku tak tahu apa itu, tapi Tuhan memberitahukan namanya adalah hati.

?Hati? Apa itu ya Allah?? tanyaku padaNya waktu itu

?Itu organ istimewa yang akan membantumu untuk merasakan bahagia, sakit, sedih, atau apapun?

?Bahagia? Sedih?? Aku bingung bukan main

Allah tak membalas pertanyaanku. Aku tak mengerti apa itu bahagia, sedih atau sakit, yang jelas yang aku rasakan pada bagian dada kananku seperti istimewa saja. Apa fungsi hati ini? Aku harus mengetahuinya nanti ketika aku keluar nanti. Teman yang sengaja diutus Allah untuk menemaniku dalam rumah ku pada waktu itu, mengucapkan selamat tinggal ketika aku akan pergi keluar dari rumah nyaman itu.

?Kenapa kamu tidak ikut denganku?? tanyaku penasaran

?Aku hanya ditugaskan untuk menemanimu selama 9 bulan 15 hari, agar kau tak merasa kesepian di dalam rumah ini. Ketika kau sudah merasa nyaman, maka aku akan menemanimu agar kau lebih nyaman lagi? sambil tersenyum

?Lalu siapa yang Allah utus untukku ketika aku keluar nanti? Apa kau akan ada di sana??

?Aku akan menemanimu, tapi tidak selalu dan setiap saat. Allah sudah mengutus manusia yang sama sepertimu, yang mungkin sifat dan kelembutannya melebihi aku? katanya waktu itu

?Siapa?? tanyaku bingung

?Ibu? jawabnya singkat

?Ibu? Siapa dia? Di mana aku bisa mencari nya? Apa dia akan selalu menjagaku seperti yang kau lakukan saat ini?

?Pasti, dia akan lebih mengawasimu, dia akan menjagamu, memberikan jiwa dan raga nya hanya untukmu. Dia akan menjadi orang yang memperkenalkanmu pada ilmu, dia akan memberitahumu sesuatu yang belum pernah ku beritahu tetang semua hal yang ada di luar sana. Dia akan membantumu menemukan angin, dia akan mengajariu caranya membuat api dan semua hal yang belum kuajarkan padamu? katanya hari itu

Aku tak mengajukan pertanyaan lagi, menurutku apa yang digambarkan olehnya adalah Malaikat yang sama, yang hatinya lembut dan penuh kasih sayang. Sekarang aku menjadi tak sabar untuk keluar dari rumah ini, dan bertemu dengan orang yang bernama Ibu itu. Aku bersemangat kali ini.

?-

Sudah berjam-jam aku menunggu untuk keluar, tetapi ternyata belum waktunya, padahal kali ini semangatku menggebu-gebu, aku ingin melihatnya, seseorang yang diutus Tuhan sebagai Malaikat ku di dunia.

Ketika aku sedang memikirkan semua yang Tuhan katakan dan temanku katakan aku membayangkan bahwa aku benar-benar lebih bahagia saat keluar dari sini, aku ingin benar-benar keluar; Ibu, aku harus menemukannya. Harus!

Kurasa sudah waktunya aku keluar, aku menemukan cahaya yang cukup terang, mungkin itu menandakan aku harus keluar. Aku menghampiri sumber cahaya itu, aku berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari situ, rasanya aku harus berusaha lebih. Dan aku pun keluar dari rumah ku sebelumnya, aku meliha banyak orang berpakaian warna hijau pada waktu itu, mereka menggunakan masker dan membawa sebuah suntikan. Namun, yang mengherankan adalah kenapa aku menangis? Bukankan sebelumnya aku bersemangat? Lalu mana yang bernama ibu itu? Aku tak melihatnya, Tuhan tak menjelaskan ciri-cirinya, namun Tuhan mengatakan dia makhluk yang akan berkorban apapun demi kebutuhanku, bahkan jiwa dan raganya sekalipun. Di sekeliling aku hanya melihat keramaian yang tak jelas saja, namun ada satu orang yang melihatku dengan penuh harap dan kelegaan karena aku sudah berhasil keluar. Apa dia yang dimaksud ibu? Apa dia orangnya? Seorang perempuan? Dia mulai mendekatiku, lalu memelukku dan menangis tersedu. ?Akhirnya Ibu ketemu kamu juga? sambil menangis wanita yang nantinya aku panggil ibu itu mengatakan itu berulang kali, seketika aku menjadi paling istimewa, semua orang yang berada di sekeliling ku berbahagia atas kehadiranku. Aku bahagia, ternyata ini malaikat yang dengan senang hati kau tawarkan untukku Tuhan? Seorang Ibu? Aku bahagia, jadi ini fungsi hati yang kau ciptakan di dada kananku ini? Aku mengerti, aku bahagia kali ini, sepenuhnya.

Inilah hikayat sebuah nama, sebuah nama yang menjadi malaikat pertamaku yang diutus Tuhan di dunia ini, terima kasih Tuhan.