Cerita Dari Kenangan Masa Kecil..

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Februari 2016
Cerita Dari Kenangan Masa Kecil..

?Mah Papah pulang, tolong siapkan makan malam ya? kataku setengah berteriak pada Istriku

?Iya Pah? jawabnya singkat

Malam ini aku pulang agak cepat karena semua pekerjaan sudah selesai lebih cepat dan aku memang ingin cepat pulang. Ketika istriku sedang menyiapkan makan malam untukku dan jagoan kecilku Maulana Aprilio Putra, aku menengok nya ke dalam kamarnya yang pintunya terbuka sedikit, ternyata dia belum tertidur, dia masih bermain bersama boneka Monster University nya dengan riang. Ah, tak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan semua keceriaan seorang anak, kan?

?Kakak? belum tidur?? tanyaku lembut padanya

?Lagi nunggu Ayah, sekali-sekali aku bangun cuma mau sekedar nunggu Ayah aja nggak apa-apa kan?? tanyanya polos

?Nunggu Ayah?? aku bingung, rupanya aku yang membuatnya belum tertidur. ?Kenapa harus nunggu Ayah??

?Aku mau tanya sesuatu Yah? sambil mengangkat kedua tanganya dia mengatakan itu

?Tanya apa?? kataku sambil menaikkan kedua alisku

?Bahagia itu apa? Lalu sebab terkecil kita untuk bahagia itu apa?? katanya

Aku terdiam, mengapa dia menanyakan hal seperti itu. ?Untuk apa Kaka menanyakan hal seperti itu??

?Disuruh teacher Maulana? jawabnya polos

Aku tersenyum, tiba-tiba aku teringat ketika aku sedang bermain bersama Ayahku 20 tahun lalu, waktu itu pertanyaan yang hampir sama terlempar kepada Ayahku

---

?Ayah kenapa manusia harus selalu bahagia?? tanyaku polos

?Kenapa kamu menanyakan itu?? tanya Ayahku

?Aku membaca buku diary Kakak, dia bilang ?bahagia sebenarnya adalah salah satu tujuan manusia, dan aku harus mencapainya? begitu? kataku

Ayahku menarik napasnya dalam-dalam. ?Nak, soal bahagia bukanlah tujuan utama kita. Namun, dia selalu kita butuhkan, karena pada dasarnya dia adalah periang kita saat kita sedang jatuh, saat kita sedang tak bisa menerima sepenuhnya diri kita, di saat seperti itulah bahagia selalu dibutuhkan?

?Rasanya seperti apa?? tanyaku

?Hmm.. Sulit juga? sambil jari ayah mengetuk-ngetuk dagunya. ?Rasanya seperti, saat ini yang sedang Ayah dan kamu lakukan?

Aku bingung

?Begini, bahagia adalah sebuah tindakan yang selalu membuat kita senang dan tertawa riang, bahagia adalah apa saja yang sedang kita kerjakan dan kita senang, bahagia adalah menemukan orang yang mengerti dan paham sepenuhnya diri kita, bahagia adalah apa saja yang ada di sekitar kita? singkat Ayah. ?Nak, bahagia adalah soal kesediaan, jika kau sudah besar nanti belajarlah ?bersedia? untuk bahagia. Menangis sesekali tak apa, tapi setelah itu kau harus menemukan dan bersedia untuk berbahagia? lanjut Ayah

?Caranya?? tanyaku penasaran

?Belajar? singkat Ayah. ?Belajarlah untuk bersyukur dan menerima sesuatu dengan ikhlas, jangan melulu hidup dalam keluhan-keluhan, hiduplah dalam kesenangan. Mereka yang hidup dalam keluhan-keluhan adalah mereka yang tak pernah bisa mengerti dirinya sendiri, mereka adalah orang-orang bimbang yang terbuang. Karena itu, beranilah untuk memustuskan, bukan hanya untuk bahagiamu sendiri tapi juga bahagia orang-orang sekitarmu. Jangan melulu soal hal-hal besar, bahagia bisa kau buat lewat hal-hal yang kecil dan yang sering kita lupakan? jelas Ayah

?Hal-hal yang kecil?? Aku lebih bingung dari sebelumnya

?Iya yang kecil, namun menyenangkan? kata Ayah. ?Contohnya seperti ini? tiba-tiba Ayah mengangkatku ke atas, dia menggendongku dengan posisi seperti sebuah pesawat yang akan lepas landas, lalu dia menerbangkan untuk menemukan angin-angin kesegaran dan bahagia kami berdua. Ya, kami berdua yang sedang berbahagia saat ini

---

Semenjak saat itu aku mengerti kata-kata Ayah, yang harus dan mesti kita lakukan bukanlah soal besar dan kecil nya sesuatu untuk kita bisa bahagia. Namun, ini hanya soal kesediaan, bahagia adalah soal kesediaan, menghendaki diri kita untuk bersedia sepenuhnya bahagia adalah kunci nya. Mari bersedia bahagia!

?Pah makananya udah siap? Istriku berteriak dari bawah menandakan makanan sudah siap

?Iya Mah? jawabku. ?Nah, nanti akan Ayah jawab pertanyaan kamu, sekarang kita makan dulu ya jagoan?? sambil mengangkatnya

?Oke siap? jawabnya antusias

Terima kasih Ayah, sekarang aku mengerti... Aku kan terus seperti ini ?bersedia? dan terus membuat anakku untuk melakukan hal yang sama pada kebahagiaannya sendiri, aku hanya akan menuntunya tak menyetir semua kebahagiaannya. Seperti yang kau lakukan padaku dulu, kau membebaskan ku memilih bahagiaku, maka benar katamu hidup dalam keluhan-keluhan memang tak pernah membahagiakan.

?