Surat Cinta Yang Tertinggal Di Kolong Meja

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Februari 2016
Catatan Harian Sekolah

Catatan Harian Sekolah


Sebuah tulisan soal sekolah, sebuah kenangan soal masa-masa SMK. Semoga biasa tersampaikan dengan baik; soal cinta, teman, sahabat, guru dan juga sekolah itu sendiri. Segera datang novelnya...

Kategori Cerita Pendek

3.1 K Hak Cipta Terlindungi
Surat Cinta Yang Tertinggal Di Kolong Meja

Aprilia, sesekali aku ingin memegang tanganmu, berusaha mencari siapa dirimu. Berusaha memahami duniamu sepenuhnya, aku hanya manusia biasa yang dengan usahanya ingin menemukan Hawa-ku. Mungkin itu kamu, tapi masih ada berjuta kemungkinan kamu tak bisa menerimaku apa adanya.

Kau ingat pertemuan pertama kita? Aku mengingatnya betul-betul, ketika cinta pertama menjadi sebuah kebanggan bagiku. Dan kamu adalah semacam penyemangat dalam kehidupanku. Aku belum pernah menemukan wanita sepertimu sebelumnya, dengan rambut yang kau cipol setiap hari semasa SMP, ikat rambut berwarna merah yang sering kau pakai. Aprilia, mungkin jodoh adalah soal menemukan kecocokan dalam diri kita masing-masing, dan aku merasa kita punya satu kecocokan yang sama; ceroboh.

Aprilia, ketika fajar mulai berada di ujung bagian timur dunia dan perlahan naik menuju atas untuk menerangi yang lainnya. Seperti senja yang menyingsing secara drastis menuju ujung khatulistiwa. Seperti semua itu aku mecintaimu, seperti cinta keremajaan pada umunya. Cinta barangkali adalah semacam ketidaberdayaan kita pada hati dan pikiran, namun aku memang sudah tak bisa menerima akal sehatku. Aku mencintaimu, lebih dari apapun.

Perlahan, dalam kesunyian aku berjalan dalam gelap. Mengakrabi kembali keberadaan dirimu, mulai berusaha meraba hatimu, menggapai pikiranmu. Ya, hanya agar aku tahu bahwa sebagian dirimu memang diciptakan untukku. Dan kamu adalah Hawa dan aku adalah Adam yang dipertemukan di bukit asmara.

Aprilia, namamu bagus. Aku selalu suka nama itu, selalu suka ketika tanganmu mulai menunjuk ketika guru memanggilmu lewat absensi kelas.

Aku ingin mencintaimu, seperti rumus-rumus matematika pada jam-jam pelajaran kelas. Ya, sederhana hanya meminta dirinya untuk di temukan. Seperti apapun aku mencintaimu. Dalam gelap, dalam kesunyian. Dalam lorong-lorong kelas kita, aku mencintaimu.

Sampai nanti....

  • view 335