Lembar Kedua ; Mobil Bekas

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 21 Oktober 2017
Lembaran Cerita

Lembaran Cerita


Kategori Cerita Pendek

152 Hak Cipta Terlindungi
Lembar Kedua ; Mobil Bekas

“Udah  lama  ya gue nggak kesini?” Tanya gue sambil berusaha mengingat-ngingat kapan terakhir kali datang ke tempat ini, tempat dimana semuanya berawal.

“Entahlah, gue lupa.” Jawab teman gue yang masih mengorek-ngorek tumpukan buku absen di meja guru. Gue dan Dika mampir sekejap ke SMP kami dahulu. Sekarang gedung ini sudah di renovasi menjadi lebih baik, menjadi lebih, menjadi lebih pantas disebut sebagai sebuah sekolah. Banyak kenangan tersimpan disini, banyak tawa, sedih dan yang lainnya terkumpul disini.

Mata gue masih menyapu tempat ini dari ujung ke ujung. Ruang kelas ini adalah saksi bahwa kami pernah sesekali meributkan hal sepele tentang perempuan. Di kelas ini menjadi saksi bisu bahwa aku pernah ditolak seorang perempuan dan disuraki banyak orang dari kejauhan. Banyak hal yang tersimpan rapih dan berada di paling dalam ingatan. Rasanya menyenangkan ketika kita menyadari sesuatu bahwa dahulu kita pernah menjadi bagian dari sesuatu. Gue pernah jadi bagian dari sesuatu, komplotan anak bad boy tapi gue yang paling pengecut. Diantara sekian banyaknya anak bad boy yang ada, bahkan mungkin komplotan bad boy tersebut menerima gue hanya untuk menjadikan gue “budak”. Ya, untuk membeli gorengan, es campur, atau makanan lainnya yang mereka inginkan.

Gue merasa bodoh waktu itu. Atau mungkin sekarang masih sama?

“Ketemu.” Teriak Dika dengan sumringah.

Gue menoleh ke arah Dika. “Nyari apa lo dari tadi?”

“Ini.” Katanya sambil menunjukkan sebuah kunci mobil yang sudah karatan, dan mungkin sudah tidak bisa dipakai sama sekali.

“Kunci?”

“Iya.”

“Buat apaan kunci kayak gitu?”

“Ini bukan kunci sembarangan.” Dia mengambil jeda, gue memperhatikan dengan raut wajah serius. “Ini kunci MOBIL!”

“Yee dodol sumedang lo! Nenek-nenek pakai piyama juga tahu kalau itu kunci mobil..” Kadang Dika memang suka menjengkelkan pada saat-saat tertentu. “Ditambah karatan.” Lanjutku.

“Ini tujuan gue ngajak lo mampir kesini.”

“Buat sebuah kunci?”

“Dibilang ini bukan kunci sembarangan.”

“Kunci itu lo simpen di meja guru selama bertahu-tahun?” Tanya gue dengan heran, karena aneh saja ada orang yang menyimpan sebuah kunci mobil di tempat yang notabene tidak pernah didatangi lagi olehnya. Bahkan mungkin jarang sekali.

Beberapa saat kemudian gue dan Dika mengelilingi sudut-sudut sekolah dengan seksama. Buat gue, cara merapikan kenangan adalah dengan mengingatnya kembali, itu yang gue bilang sama Dika. Ada sesuatu yang berharga yang tidak boleh dilupakan. Hal buruk ataupun baik. Karena yang selalu gue percaya, manusia selalu dibangun dan dikembangkan dengan semua peristiwa buruk dan baik yang mereka alami. Kejadian-kejadian tersebut merubah cara pandang manusia terhadap sesuatu, entah apa. Namun yang pasti setiap inci hal tersebut memberikan sebuah pelajaran.

“Ini kunci mobil bokap gue.” Akhirnya setelah kebingungan yang melanda gue, Dika berbicara juga.

Gue mengernyitkan dahi. “Buat apa?”

“Lo sendiri kan yang bilang dulu ketika SMP, cara merapikan kenangan itu dengan mengingatnya kembali. Kadang itu membuat kita sedikit lebih bijaksana... Gitu kan?”

Gue mengangguk sambil tertawa dalam hati. Si dodol sumedang inget juga sama apa yang gue bilang.

“Selepas bokap meninggal, nggak ada satupun kenangan yang bisa gue inget soal dia selain ini. Mobil bekas yang ia bawa kemana-mana buat mengantar dan menjemput gue sekolah.” Dika menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. “Lo ingat nggak waktu bokap gue jemput kita berdua sambil mampir ke warung Mbo Ijah buat beli nasi uduk?”

“Inget.” Gue menggaruk dagu gue yang tidak gatal. “Yang lo diare sampe 3 hari itu, kan ya?”

Dia mengangguk. “Lagian Mbo Ijah nasi uduk dari pagi masih dijual aja sampe sore.”

“Aneh ya dia.”

“Iya aneh.”

Sunyi hadir tiba-tiba melewati kami, entah apa yang kami bicarakan. Tapi gue merasa sedikit melantur. Buat apa Mbo Ijah dibawa-bawa?

“Ini kenapa jadi ngomongin Mbo Ijah?” Dika baru tersadar. “Balik lagi ke topik.”

“Oke.”

“Dulu gue membuat replika dari kunci mobil bokap, karena kadang kalau bokap ngelarang gue bawa mobil, gue akan dengan mudah bawa kabur mobil tanpa bokap tahu. Dulu gue nakal banget Fin, mungkin hampir jadi brandalan.”

“Maklum efek dibully. Nakalnya nggak kesampean disekolah dilampiasin di luar.”

Dika menatap gue tajam. “Lo bisa nggak kalau orang cerita jangan dipotong.”

“Maaf-maaf.”

Dia memegang kunci replika itu erat-erat, seperti balon hijau yang takut pecah. “Gue sadar gue salah sama bokap, tapi cuma ini yang gue punya dari bokap. Bokap kadang memang ngeselin tapi dia juga jadi laki-laki terhebat gue sepanjang masa.” Dia berhenti sejenak, gue melihatnya jelas. Air mata mengalir dari mata nya perlahan. “Ketika gue lagi butuh uang untuk jalan-jalan sama Rani, gue jual mobil bokap, gue jual mobil bokap untuk kepentingan gue sendiri Fin! BODOH! BODOH!” Dika memukul dirinya sendiri.

“Dik udah, udah.” Gue mencoba menghentikan pukulannya.

“Gue bodoh Fin, gue bodoh! Dan dengan gampang nya gue bilang sama bokap ‘mobilnya dicuri pah’ dan bokap cuma senyum ke gue tanpa sedikitpun marah sama gue.” Tangisan itu pecah sudah sedari tadi, dia tidak bisa menahannya sama sekali. Dikantin yang kosong kami berbicara tanpa ada siapapun yang mendengarkan. “Gue masih inget apa yang bokap bilang ‘itu cuma mobil bekas Dik, nanti kita beli yang baru ya’ Gitu Fin, gue langsung merasa menjadi anak durhaka sedunia!”

Gue hanya terdiam sambil terus memperhatikan.Gue nggak pernah menyangka akan hal tersebut, Dika rela menjual mobil kesayangan bokapnya, padahal dari dulu gue dan dia tumbuh bersama dan kita sama-sama tahu kalau berbohong atau mencuri adalah hal yang salah. Memang manusia suka gitu ya? Sudah tahu beberapa hal dilarang tapi tetap dilakukan, menahan hawa nafsu kadang jauh lebih sulit daripada menjaga perasaan orang-orang yang kita sayang.

“Setiap orang punya masalah di masa lampau Dik, dan nggak semua orang suci dalam setiap masa lalunya.”

Dika menggeleng. “Gue udah keterlaluan.”

“Lo masih bisa memperbaikinya Dik, merasa bersalah itu bagus tapi terlalu merasa bersalah kadang nggak bagus juga.” Gue berusaha menenangkan Dika.

“Gue cuma pengen nebus kesalahan gue. Mungkin dengan menyimpan kunci replika ini akan terus mengingatkan gue dengan kesalahan dimasa lalu. Setidaknya gue mau bertumbuh jauh lebih baik.” Ujarnya sambil memaksa tersenyum. “Gue juga akan kumpulin uang buat beli mobil baru.”

Gue sedikit kaget. “Buat apa?”

“Buat anter jemput anak gue. Seenggaknya gue mau merasakan apa yang bokap rasakan dulu. Menyayangi anaknya dengan penuh kasih sayang.” Kali ini senyum yang ia keluarkan benar-benar tulus.

“Gue akan bantuin lo Dik.”

“Makasih ya Fin.”

Gue mengangguk. Beberapa saat kemudian rintik hujan turun, seperti di FTV-
FTV, kalau ada sebuah penyesalan atau sebuah nasihat keluar biasanya hujan datang.

Eh by the way, dodol memang ada yang dari sumedang ya? Setahu gue cuma tahu yang dari Sumedang.” Dika bertanya hal yang tidak penting disaat-saat yang romantis.

---

Dari Dika gue belajar sesuatu, bahwa apa yang kita lakukan hari mungkin saja mempunyai dampak yang besar bagi diri kita dimasa depan. Ketika kita menanam hal yang baik maka apa yang kita petik akan baik, ketika kita menanam hal yang buruk maka bisa jadi apa yang petik akan buruk. Masa lalu kadang bagai sebuah biji, masa kini bagai pohon yang sedang tumbuh, masa depan bagai pohon yang sudah berbuah dan besar.

Buah apa yang kita dapat dimasa depan, ya tergantung apa yang kita tanam dimasa lalu.

Kenangan adalah cara menyebalkan untuk menyesali semuanya tapi kadang kenangan juga adalah cara paling menyenangkan untuk mengingat sesuatu yang berharga. Yang mungkin kita lupakan.

 

  • view 34