Lembar Pertama ; Kematian

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 30 September 2017
Lembaran Cerita

Lembaran Cerita


Kategori Cerita Pendek

167 Hak Cipta Terlindungi
Lembar Pertama ; Kematian

Beberapa hari yang lalu tetangga gue meninggal dunia. Ya, pergi ke tempat yang lebih menenangkan kata sebagian besar orang. Malam itu hari Kamis sehari sebelum libur tahun baru Islam. Sangat menyayangkan ketika berada dihari yang menyenangkan bagi seluruh umat muslim, pergilah salah satu saudara kita yang muslim. Sedikit menyedihkan.

Selepas pulang kerja gue mulai mengikuti pengajian yang diadakan oleh sang pemilik rumah, gue mulai bercampur dengan bapak-bapak yang tidak terlalu akrab dengan gue. Gue adalah orang yang super sibuk, tidak terlalu super sebenarnya tapi memang waktu gue dirumah hanya gue habiskan sekitar 12  jam. 8 jam untuk tidur dan sisanya hanya makan dan menulis Diary seperti ini. Jadi gue tidak terlalu akrab dengan para tetangga. Gue tahu itu salah, karena itu gue mencoba memperbaikinya perlahan.

Malam itu dingin sekali, bukan karena cuaca. Tapi entah mengapa perasaan gue berkata seluruh alam semesta mendoakan juga sedih melihat salah satu penghuni nya meninggal dunia. Hujan turun tiba-tiba beberapa menit setelah gue merasakan kedinginan tersebut. Dari kejauhan gue melihat sang istri dan anak-anak yang ditinggalkan menangis sambil melihat jasad ayahnya yang siap dimakamkan besok pagi pukul delapan. Gue tidak bias membayangkan betapa sedih dan kehilangannya mereka, keluarga yang tadinya lengkah dan utuh sekarang sudah pergi ke tempat lain, meninggalkan yang masih hidup sendirian dan dengan perasaan yang duka.

Gue memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan soal kematian, bokap. Ya, bokap gue meninggal ketika gue kelas 2 SD lebih tepatnya ketika umur gue 7 atau 8 tahun. Walaupun pada akhirnya ada hikmah dibalik semua itu tapi tetap saja, kesedihan yang mendalam menyelimuti gue dan keluarga, terutana nyokap. Nyokap tidak pernah keluar kamar selama 3 hari karena merasa dia butuh me time nya sendiri untuk melepas dan mengikhlaskan kepergian bokap. Gue dan Mas Rangga pun merasakan yang sama, kehilangan orang yang kita sayangi memang benar-benar menyebalkan kadang. Selalu ada tangisan yang menyelimuti disetiap malam, selalu ada rasa bersalah yang datang dengan tiba-tiba, selalu ada cara yang tidak menyenangkan datang dengan tiba-tiba dengan kepergian bokap. Dan yang paling menyebalkan adalah soal kesepian. Bokap biasanya setiap sore mulai bermain layang-layang sama gue dan dia akan selalu berkata.

“Bapak akan ajarkan kamu caranya layang-layang ‘bertarung’ dengan layangan lainnya.” Gue hanya tersenyum sambil melihat bokap. Gue tidak mengerti apa yang bokap katakan, yang gue mengerti adalah dia selalu berusaha membuat gue senang dan terkesan dengan kehebatannya dalam melakukan sesuatu. Tapi sayangnya beberapa bulan setelah itu dia pergi, tidak meninggalkan pesan-pesan apapun kepada gue dan Mas, mungkin dia berkata sesuatu kepada nyokap sebelaum pergi, tapi itu hanyalah nyokap yang tahu gue tidak mau menggangu. Tidak banyak yang bokap tinggalkan untuk gue, kecuali rasa kesepian.

“Turut berduka cita ya bu dengan kepergian bapak.” Mas Rangga mulai menyalami Bu Ismi istri Almarhum.

“Makasih ya Nak Rangga.” Dia menatap sedih ke arah jasad suaminya.

Setelahnya gue yang mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Almarhum.

“Kematian itu datang secara tiba-tiba dek, beberapa detik kemudian kita bisa saja meninggal, atau beberapa menit kemudian atau beberapa bulan atau beberapa tahu. Kita tidak tahu kapan dan bagaimana cara malaikat mau menjemput kita.” Mas Rangga memagang tanganku sambil terus mengingatkanku. “Yang kita tahu hanyalah Allah memberikan kita nafas setiap detik untuk senantiasa menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya, sisanya adalah tetang bagiaman kita bisa menjadi manusia yang berguna bagi sesama selama hidup didunia. Dengan begitu nafas yang Allah berikan kepada kita, tidak sia-sia dek.”

“Kadang tidak selamanya kematian datang karena kesakitan, bisa saja ketika sedang duduk diteras rumah dan tertidur dengan posisi tidak bernafas lagi.”

“Seperti bapak?”

“Mirip-mirip.”

Mas Rangga menarik nafas dalam dan mengerluarkannya secara perlahan. “Intinya selama kita hidup, mungkin lebih bijak ketika kita menggunakan kesempatan hidup tersebut dengan cukup baik, ya setidaknya agar tidak merugikan orang lain atau diri sendiri.” Tutup Mas Rangga.

Gue hanya tersenyum. Kematian adalah jodoh yang sempurna, dan mungkin adalah tempat terbaik setelah kehidupan. dari bokap dan dari tetangga gue dan dari nasihat Mas Rangga, gue belajar bahwa kehidupan yang kita jalani selayaknya kita pergunakan sebaik mungkin, berbuat baik sebanyak mungkin, berbuat kejahatan seminim mungkin. Kehidupan adalah cara untuk kita menyadari kekuasaan dan kebesaranNya kepada kita, dan kematian adalah cara kita untuk mulai mengingat kembali; kehidupan tidak berjalan seusai skenario kita dan ada banyak hal yang harus kita perbaiki. Mungkin mulai dari sekarang.

Sadarlah, jodoh kita perlahan datang dengan cara yang tidak kita sangka.

Maksud gue kematian…

  • view 44