Permulaan

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 28 September 2017
Lembaran Cerita

Lembaran Cerita


Kategori Cerita Pendek

151 Hak Cipta Terlindungi
Permulaan

Sebelum kita memulai semuanya, perkenalkan nama gue Arifin Narendra Putra. Gue lahir dengan selamat disebuah Rumah Sakit didaerah Jakarta Selatan dengan dipandu oleh seorang Dokter berjanggut tebal bernama Budi dengan teleskop yang ia bawa kemana-mana. Tapi gue sedikit kurang suka dengan Dokter yang membantu persalinan nyokap gue ini. Faktor terbesarnya karena dia menggoda suster yang berada didalam ruang operasi nyokap waktu itu. Gue tidak tahu menahu soal ini, nyokap yang cerita soal ini.

“Dok apa perlu kita lakukan Caisar?”

Dokter Budi tenang sambil terus membantu persalinan nyokap. “Maaf, saya nggak punya waktu untuk joget.”

“Kok joget?”

“Iya, Caisar kan yang joget-joget itu?”

“Bukan Dok maksud saya operasi Caisar!”

“Dia sakit apa?”

“Siapa?”

“Si Caisar, masa iya Tarjo. Kan kita lagi ngomongin Caisar, lagi pula siapa itu Tarjo?”

“Kok dokter tanya saya, kan Dokter yang bilang Tarjo tadi?”

Dokter Budi berpikir sejenak. “Oh iya ya.”

“Nah kan..Jadi bagaimana Dok? Kita lakukan Caisar sekarang kan?”

“Sepertinya memang sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi.”

Si Suster mengangguk. “Baik saya akan ambilkan peralatannya.”

“Eh tunggu kamu mau kemana?”

“Mengambil peralatan untuk operasi Dok, memangnya mau kemana?”

“Bukan operasi, tapi lamaran saya yang sudah tidak bisa ditunda lagi untuk kamu.” Dokter Budi menaikkan satu alisnya dengan wajah yang menjijikan.

Beberapa hari berikutnya selepas masa persalinan gue Suster yang membantu Dokter Budi dikabarkan tewas karena bunuh diri dari lantai 2 rumah sakit.. Beberapa hari kemudian dinyatakan bahwa sang Suster overdosis...

Ya, dengan gombalan Dokter Budi.

By the way, mari lajutkan ceritanya. Gue lahir dikeluarga yang mejunjung tinggi kesopanan, bukannya sombong tapi memang seperti itu kenyataannya. Orang tua gue adalah orang sederhana. Tidak terlalu kaya tapi tidak terlalu miskin juga. Gaji bokap sehari-hari hanya bisa menutupi kebutuhan sebulan, kalau ada lebihnya biasanya bokap membelikan gue dan kakak laki-laki gue atau biasa gue panggil Mas Rangga kaos sepakbola kesayangan kami; Gue, bokap dan Mas Rangga. Well, Dari sini artinya gue anak yang biasa aja. Bukan anak luar biasa yang bawa mobil Lamborghini ke sekolah sambil bersiul ke anak perempuan ibu kantin dan bilang “Ayo naik mobil abang neng.” Weee jijik gue. Tapi gue pernah seperti itu, waktu itu gue baru mendapatkan sepeda motor pertama gue yang nyokap belikan. Eits jangan berpikir gue yang memintanya, nyokap bilang itu hadiah karena gue berhasil rangking 1 setelah 6 tahum terakhir gue tidak mendapatkannya. Ya, gue anak paling pintar disekolah, dalam hal sontek-mensontek. Kelas 1 SMP pertama kalinya lagi gue mendapatkan rangking 1 dikelas. Kali ini bukan karena gue pintar atau gue mensontek dengan orang yang pintar, tapi jumlah siswa dikelas gue paling sedikit dari kelas yang lain. Dan beruntungnya gue satu kelas sama siswa/siswi yang memang tidak ketolong lagi nakalnya. Dari laki-laki sampai perempuan, dari yang cantik dan ganteng sampai yang aneh, jelek, ileran, ubanan, kudisan. Hihh, mengerikan kalau diceritakan ke kalian. Kasian kalian, mendengar cerita yang kurang berbobot.

“Lo mau pulang bareng gue?” SMP pertama kalinya gue ngomong sama perempuan secara personal. Sisanya hanya minta tolong kalau sedang butuh saja. Namanya Keara, perempuan cantik yang sudah gue suka sejak jaman batu, waktu perang dunia ke II gue sudah menulis surat cinta untuk Keara. Ya asal kalian tahu, gue adalah salah satu keturunan dari kaum Asgard, kalau kalian pernah dengar hal tersebut, ya itu nyata.

I am joking, gue keturunan manusia biasa bukan keturunan kaum Asgard.

Gue jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Keara, dia benar-benar meluluhlantakkan semesta gue ketika senyumannya yang manis terlihat oleh gue. Ah, bibirnya yang mungil, warna merah muda yang menawan hati gue dalam sekejap, entah kenapa gue seperti melihat bidadari jatuh dari surga yang memang diutus untuk menghilangkan rasa kesepian gue. Gue  jomblo waktu itu, jadi wajar kalau sedikit berkhayal.

“Kita kan beda arah, gue nggak mau bikin lo repot.”

“Nggak apa-apa, gue sekalian mau mampir ke toko buku di dekat rumah lo.” Gue hanya beralasan agar dia mau gue antar pulang. Lagi pula ke toko buku dekat rumah Keara sudah menjadi kebiasaan gue, bukan untuk membeli buku, hanya untuk melihat keara dari kejauhan. Namanya toko buku Bang Amin, toko buku sederhana pinggir jalan yang menjajakan buku-buku lokal dan luar negeri. Buku favorit gue yang sering gue baca disana adalah Hujan Bulan Juni milik Om Sapardi yang terbitan pertama. Gue suka membaca, benar-benar suka membaca, tetapi berbeda cerita ketika berada di toko buku Bang Amin. 20% membaca dan sisanya hanya melihat Keara membersihkan kebun atau bermain bersama keponakannya di halaman rumahnya. “Gue lagi cari buku sambil baca-baca sedikit.” Itu alasan gue sama Keara kalau sewaktu-waktu ketemu dan dia tanya ke gue. Bang Amin yang sudah tahu maksud dan tujuan gue hanya tersenyum sambil berdehem dengan keras. “Hajar terus Den!” Teriak bang Amin kalau jahilnya sudah keluar.

“Besok-besok aja, gue juga nggak mau pulang terlalu siang gini.”

“Lo mau pergi? Kemana?”

Mata Keara memicing. “Kenapa jadi kepo gitu lo.”

“Ya nggak apa-apa, siapa tahu bisa gue antar.”

“Mending lo jualan tempe daripada tahu.”

“hufft.”

Itu moment ter-menyebalkan yang pernah ada sewaktu gue SMP. Tapi sekarang, moment itu nggak bisa ke ulang lagi. Keara sudah pindah ke London untuk kuliah disana. Walaupun hanya sementara, tetap saja gue nggak bisa melihat senyum nya yang manis semanis madu. Tapi mungkin senyuman bang Amin masih bisa.

Ahh melegakan ya kalau bercerita seperti ini ke kalian. Sudah lama gue tidak melakukannya.

Sekarang, mari kita memulai semuanya: gue selalu bercerita soal diri gue, jatuh cinta gue, dan banyak hal tentang gue yang mungkin kalian menganggapnya setiap tulisan gue fiksi. Padahal semuanya gue ambil dari kisah gue pribadi tapi gue ngakunya fiksi biar kalian nggak banyak tanya. Hari ini, ada yang ingin gue ceritakan ke kalian, bukan soal dunia gue. Tapi dunia orang lain dan soal kehidupan orang lain, maka simak baik-baik. Setiap kejadian yang akan gue tulis gue angkat dari kisah semua orang-orang yang pernah gue temui. Ini kisah “Nggak” terlalu nyata karena ada beberapa yang akan gue sembunyikan atau sedikit gue bengkokkan untuk kenyamanan bersama, tapi bisa juga menjadi nyata jika kalian menganggapnya demikian.

Gue akan bercerita apa adanya, layaknya buku diary. Jangan membuat gue tersinggung dengan berkata dan bertanya “kok tulisannya sok anak muda gini?” “kok tulisannya konyol gini? “kok tulisan nya seperti anak kids jaman now gini?” dan bla bli blu ble blo. Eh wait a minute, kalau sudah pakai kids berarti tidak perlu pakai anak kan ya? Benar kan? Ah sudahlah. By the way Ini diary digital, gue hanya akan bercerita sebagaimana gue berbicara atau curhat dengan orang lain. In this case, gue sedang curhat ke kalian. Maka, jadilah lawan curhat yang baik, jangan sebentar-sebentar bertanya mana bagian serunya. Gue sarankan jangan cari serunya, cari uang yang banyak buat modal nikah. Hufft

Oke mari kita mulai.

Gue akan mulai menuslikannya.

Kepada yang terhormat...

Eh salah, tapi Dear Diary..