Mempesona

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Juli 2017
Mempesona

"kamu sudah siap?" tanya ibu kepadaku.
 
Aku menatap ibu dengan tajam, rasanya baru kemarin aku terlahir dari rahimnya. Dan sekarang aku sudah harus berpisah dengannya, dengan segala kehidupan yang sudah menyatukan aku dengannya. Perempuan paling kuat yang pernah ada. 
 
Aku mengangguk mantap. "sudah bu."
Ibu hanya tersenyum, tapi aku bisa melihatnya. Bulir air mata yang terjun dari matanya, aku melihatnya walaupun ibu berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya, seorang anak selalu tahu apa yang dirasakan ibunya. Mungkin ini yang disebut sebagai sebuah ikatan. 
 
"kamu sudah dewasa, sekarang ada perempuan lain yang harus kamu tanggung kehidupannya. Ibu hanya titip, jaga dia dengan baik dan jangan sakiti dia bagaimanapun juga. Seperti ibu, dia adalah seorang perempuan dan calon guru pertama bagi anak-anakmu kelak. Ingat pesan ibu, jangan sakiti dia." aku mengangguk mantap, sambil memeluk ibu dengan erat. 
 
Waktu merekam semuanya secara perlahan. Hampir 5000 tamu undangan yang akan datang, kebanyakan adalah kolega ayahmu dan juga teman-teman ibu dan kakak laki-lakiku. Temanku dan temanmu hanya beberapa, mungkin ini sedikit berlebihan tapi aku menyukainya. Lucu ya, ketika semua hal yang kita takutkan waktu itu malah menjadi kenyataan. Ketakutanmu akan pernikahan dan ketakutanku untuk menjaga dirimu. Sampai sekarangpun aku masih ragu apakah bisa aku menjagamu dengan baik layaknya ayahmu.
 
"saya nikahkan dan kawinkan putri saya Indah Nevita Sari Binti Abdul Jaelani Habibi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dengan uang tunai 50 juta rupiah dibayar tunai." kata ayahmu mantap kepadaku.
 
Aku mulai menarik nafas dalam-dalam. "saya terima nikah dan kawinnya Indah Nevita Sari Binti Abdul Jaelani Habibi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." kataku. Ayahmu menatap sekitar, melihat ke beberapa orang saksi. Sedangkan aku menatap sekitar dengan rasa panik yang cukup dalam. 
 
"SAH!!!" Dan semua orang berteriak, rasa khawatirku hilang seketika. Aku mengucapkan hamdalah dengan pelan lalu dilanjutkan dengan doa yang dipandu ayahmu. Ya, laki-laki yang tidak pernah lelah menjaga dan mengajarimu banyak hal. Indah, kita menjalani kehidupan dengan nasib yang hampir serupa. Ayahku meninggal ketika aku berumur 5 tahun, dan ibumu meninggal ketika kau berumur 3 tahun. Kita sudah kehilangan orang yang kita sayang sejak kecil. Tapi kita hanya percaya jalan Allah selalu baik untuk kita. 
 
"panggilkan mempelai perempuannya." kata salah seorang dari kubu saksi. Dan seketika kau keluar dengan gaun putih yang mempesona. Aku terpsesona seketika. Kau lebih cantik seribu kali lipat dari biasanya, ah bukan maksudku kau cantik juga ketika tidak pakai make up, tapi kali ini kau menjelma bidadari surga yang mempesonaku sepersekian detik lebih cepat daripada biasanya.
 
Aku mengecup keningmu dan kau mencium tanganku dengan penuh kasih sayang. Ayahmu tersenyum dihadapan kita, sedangkan ibu menangis bahagia disampingku. Dan ya, beginilah caraku mencintaimu, menghalalkan segala apa yang ada padamu.