APRILIA, MAAFKAN AKU MEMBUATMU TERUS MERASA BERSALAH.

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Februari 2016
APRILIA, MAAFKAN AKU MEMBUATMU TERUS MERASA BERSALAH.

Aku tak tahu harus memulai semuanya dari mana, namun ketika kulihat punggungmu mulai menjauh secara perlahan. Aku tahu, ada sesak yang tertinggal. Mungkin ini catatan sederhana-ku untukmu, setiap langkah yang berjalan bersamaan dengan kita dan semua rasa bersalah yang bersarang pada diri kita masing-masing.

Aku tahu dan mungkin paham semenjak Adam dan Hawa melakukan kesalahan saat berada di surga mungkin manusia sejak saat itu sudah ditakdirkan untuk melakukan kesalahan-kesalahan yang barangkali tak pernag bisa kita pahami dengan pikiran kita sendiri. Disaat banyak orang yang tidak pernah percaya pada dirimu soal bagaimana kau bisa menjagaku ataupun membahagiakanku, disitu pula aku merasakan dirimu bersalah setiap harinya.

Sesak-sesak tangis yang tertahan ketika setiap orang berusaha menjauhi dirimu dariku, dan setiap rasa kecewa ketika aku tak pernah berubah setiap detiknya. Aku tak tahu kemana orang lain akan melihat hubungan kita, tapi ini bukan masalah kesetiaan. Kau menghormatiku dengan menjauh perlahan, dan diriku mungkin tak bisa memaksamu untuk terus bersamaku.

Aprilia, kau bukanlah Hawa yang sengaja diutus Tuhan untuk menjadi pendamping Adam. Kita bukan mereka, ya, kita hanya manusia biasa. Masih ada berjuta kemungkinan kita berpisah atau dipisahkan. Seandainya Tuhan menciptakan manusia untuk benar-benar bertakwa hanya padaNya mungkin tak ada yang namanya keraguan dalam setiap langkah manusia itu sendiri.

Mungkin kau bertanya-tanya kenapa Tuhan menciptakan manusia? Padahal Dia mengetahuinya bahwa akan ada beberapa hambaNya yang akan mengecewakanNya. Aprilia, dari sedikit yang ku tahu, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi. "Tapi kalau kita lihat beberapa orang yang selama ini. Mana ada khalifah yang suka membenci?" katamu. Bagiku manusia diciptakan berbeda untuk bisa melihat kekurangan dan membantu satu sama lain.

Aprilia, maafkan aku yang membawamu memaksamu untuk memahami duniaku, pada dasarnya aku yang terlalu memaksakan semuanya untuk dapat terlihat baik-baik saja. Aku bersalah karena telah mengecewakanmu di awal, maafkan aku yang perlahan membuat deklarasi bahwa kau adalah jodohku. Maafkan aku karena aku telah berkhianat pada hatimu, membuatmu merasa bersalah setiap harinya.

Aku ingin kau tahu, bukan aku hanya ingin mereka tahu. Aku yang bersalah karena telah mengecewakanmu, aku yang bersalah karena hampir saja berkhianat padamu. Maka saat ini, saat kulihat punggungmu menjauh, aku melihatnya. Tangis yang tertahan karena ketidakbertahuan mereka yang menghakimimu, dan sesak yang tertahan didada saat semua orang berusaha menjauhimu.

Mungkin ini sederhana; maafkan aku untuk semua kesalahan dan keterpaksaanku padamu, saat ini kau bebas melakukan apapun yang kau suka. Didepan kau akan dibersamai dengan orang-orang yang lebih baik dibanding hari ini. Dan aku? Tenang saja, aku akan mengasingkan diri pada kenyataan. Aku tak ingin terlalu terlihat oleh yang lain, aku ingin bergerilya pada diriku sendiri. Pergi barangkali adalah mengahapus kehadiranku bersamamu. Lagi pula PERGI adalah sebuah kata kerja, kan?

Mungkin ini catatan awalku untukmu tapi mungkin ini yang terakhir untuk saat ini. Semoga kau baik-baik saja.

Depok, 05 Februari 2016

  • view 404