Aku Hanya Bertanya

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 April 2017
Aku Hanya Bertanya

Hujan berhenti dengan sendirinya, perlahan malam menjadi teman kesunyian yang mengasyikkan. Aku masih memacu laju motorku, di jalanan yang lenggang dengan kendaraan. Pukul 11 malam adalah waktu yang amat sangat rawan terhadap kejahatan, banyak kejahatan terjadi ketika malam hari apalagi menyambut tengah malam. Tapi malam ini aku merasa pasrah pada kehidupan, merasa ingin semuanya cepat-cepat terselesaikan, ingin semuanya berhenti sejenak agar semesta mendengar apa yang sedang kurasakan.

Air mataku masih mengalir perlahan dengan senyum tipis yang kupaksakan. Perlahan waktu merubah semuanya, merubah hal yang baik menjadi buruk, ternyata semuanya benar tentang perasaan, bahwa yang paling menyebalkan dari jatuh cinta adalah patah hatinya, yang paling menjengkelkan dari jatuh cinta adalah penghianatannya. Aku membencinya malam ini, sangat membencinya, bahkan aku menyesal pernah jatuh cinta, mungkin itu cara Tuhan untuk menegurku secara perlahan, lewat sakit hati dan tangisan yang tiada henti.

Namun jika ini memang ujian, ini tidak adil. Aku layaknya laki-laki lemah yang hanya bisa menangis ketika dipatahkan hatinya, laki-laki yang tidak tahu harus bersikap seperti apa pada dirinya, laki-laki yang bahkan tidak bisa memikirkan bagaimana dirinya bisa bertahan dari semua perasaan sakit yang membelenggu. Kalau memang ini ujian ini tidak adil, dan mungkin aku tidak akan pernah bisa menerimanya. Patah hati terhebatku hadir malam ini, tangisanku pecah persis di depan orang tua dan juga adik-adik dari kekasihku. Perih rasanya ketika kita sudah sepenuhnya percaya terhadap orang lain tapi perlahan kepercayaan itu dihancurkan dengan begitu mudahnya.

---

“Aku udah bilang berkali-kali sama kamu kalau aku nggak pernah bisa di kekang kayak gini!”

“Aku nggak mengekang kamu, aku cuma tanya dia siapa. Apa salahnya sih kalau aku tahu?” Tanyaku kepadanya.

Dia menggeleng perlahan, dengan senyum pahit yang dia tunjukkan. “Nggak ngekang katamu? Terus ini namanya apa? Nanya-nanya orang ini siapa, abis jalan dari mana dan sebagainya. Apa namanya kalau bukan ngekang?” katanya sambil terus menunjuk foto yang ada di hpnya.

Aku terdiam beberapa saat, berusaha untuk mencari apa yang salah dengan ucapanku. Aku cuma tanya, aku cuma mau tahu. Aku cemburu. Gumamku, mulutku masih bisu, masih tidak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun.

“kenapa kamu diam? Sadar kalau kamu itu salah?” Perlahan telunjuknya mulai menyentuh badanku dan mendorongnya dengan keras. “Bara denger ya, kamu memang pacar aku, kita memang sudah pacaran tapi bukan berarti kamu bisa membatasi aku, bukan berarti kita pacaran dan kamu ngelarang aku pergi sama laki-laki lain, yang penting aku dan kamu baik-baik aja, kan?”

Aku hanya bertanya, aku hanya ingin tahu. Aku cemburu. Gumamku, mulutku masih bisu.

“Ngomong Bar ngomong, jangan cuma diam saja. Kamu laki-laki! jangan bisanya diam saja seperti perempuan! Kayak nggak punya harga diri! Dasar laki-laki lembek!” teriaknya di depanku sambil menangis. Mungkin tangisan itu keluar karena emosi pikirannya kalah dengan emosi perasaannya.

Orang tuanya dan adiknya perlahan keluar dari rumah ketika mendengar suara teriakkan dari luar. Perlahan dengan wajah panik mereka mendekati aku dan dia. Perlahan ibunya mengelus-ngelus dada anaknya dengan lembut, mata sang ayah memicing padaku, mencurigaiku bahwa aku sudah menyakiti anak kesayangannya. Perlahan aku menunduk, semua tetangga yang keluar dari rumahnya melihatku dengan sinis, semua orang perlahan membicarakanku diam-diam, berbisik atau hanya sekedar melihat saja dengan tatap mata tidak suka.

“kamu lebih baik pergi dari sini daripada harus menyakiti anak saya terus-terusan!” Sang ayah tiba-tiba saja mendorongku keras dengan tatapan mata penuh kesal, ibunya baru saja membawa dia masuk ke dalam untuk menenangkan diri. Aku bangkit perlahan, tersenyum tipis lalu pergi dengan rasa kecewa.

---

Sepanjang jalan air mataku terus keluar selepas kejadian tersebut, aku merasa bingung dengan apa yang terjadi. Baru saja bukankah aku yang tersakiti dibilang tidak punya harga diri sebagai laki-laki, dibilang tukang kekang padahal hanya bertanya, apa salahnya sebuah pertanyaan di lontarkan? Aku hanya sedang bertanya. Bukan menginterogasi, lagipula apa salahnya mengetahui laki-laki yang setiap weekend sering main dengan pacar sendiri? Lalu darimana unsur aku menyakiti seseorang yang paling aku sayang? Aku diam bukan berarti aku tidak punya harga diri, aku hanya ingin dia tahu, aku mencintainya dan aku tidak ingin membantahnya.

Aku memberhentikan motorku perlahan ke tepi jalan, menghirup nafas dalam-dalam, mengusap air mata yang tumpah. Perlahan aku merasa bahwa aku benar-benar telah dibohongi, bukan, bukan aku yang menyakiti seseorang tapi dia telah menyakiti aku. Mungkin itu adalah situasi yang tepat, seharusnya bukan aku yang di usir, seharusnya bukan aku yang di lihat dengan tatapan sinis, seharusnya bukan aku, bukan, bukan aku. Konsep perempuan selalu benar bukanlah hal yang tepat untuk masalah seperti ini, aku menyesal telah mempercayakan diriku kepada orang yang dengan sengaja mematahkan hatiku. Kadang aku berpikir apakah memang cara Tuhan menguji hambanya untuk kuat dengan cara yang sangat menyakitkan atau kita hanya perlu menangis saja agar Tuhan mengerti kalau kita sedang patah hati? Aku rasa tidak, Tuhan tahu aku sedang patah hati, Dia Maha Mengetahui. Aku rasa memang sudah hukum Semesta berjalan demikian.

Semesta secara tidak langsung memberitahukan sesuatu, cinta adalah hal yang menyakitkan. Bagaimana rasanya ketika kita sudah percaya kepada orang lain untuk memegang perasaan kita malah balik menghancurkannya? Itu sama saja seperti kita mempercayakan rumah kita untuk dibangun oleh Artsitek ternama kota Jakarta, namun tanpa kita sadari sang Arsitek menanam bom di dalam rumah tersebut dan siap-siap untuk meledakkannya kapanpun dia mau. Dan mungkin itu yang sedang kurasakan, bomku telah di ledakkan olehnya, Arsitek yang dengan sengaja menanam bom di dalam rumah yang telah ku bangun.

Cinta memang menyebalkan, cukup menyebalkan untuk membuat kita menyesal setengah mati telah jatuh cinta terhadap orang yang salah.

Udara malam ini terasa dingin, hujan kembali datang dengan rintik-rintik kecil yang perlahan berubah menjadi besar. Aku masih termangu dengan motorku di pinggir jalan, masih memikirkan semua hal yang tidak masuk akal.

Aku hanya bertanya, aku hanya ingin tahu. Aku cemburu. Gumamku, mulutku masih bisu. Dan bukan berarti aku ingin mengekangmu jika seperti itu.