Bagian Dua Puluh Tiga - Diary Ramayana Mencari Cinta

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 13 Maret 2017
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

5.8 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Dua Puluh Tiga - Diary Ramayana Mencari Cinta

Janji untuk menemani Kirana ke launching sebuah komik yang dimana komikusnya adalah favorite Kirana sendiri aku tepati. Aku sudah berada di rumah Kirana lebih awal, pertama agar tidak telat nantinya ke tempat acaranya karena Jakarta macetnya sangat-sangat tidak mengenakkan dan yang kedua aku hanya ingin tahu saja latar belakang Kirana.

Yang telat kusadari dan mestinya aku mengetahuinya. Kirana adalah anak pertama dari lima bersaudara. Lima bersaudara? Tidak aku tidak sedang bercanda, Kirana menjadi tulang punggung keluarganya setelah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan di salah satu sekolah di Jakarta Selatan. Adik-adik Kirana masih kecil-kecil, yang paling besar masih SMP. Dan itu membuatnya harus berjuang mati-matian untuk keluarganya. Namun entah mengapa aku tidak pernah melihat beban dalam setiap hari-harinya, seakan-akan semuanya baik-baik saja. Bahkan mungkin tidak memiliki masalah sama sekali dalam hidupnya, Kirana suka tertawa, sering bersendagurau dan sering berkumpul bersama teman-temannya. Namun tidak sedikitpun keluhan yang aku dengar darinya karena mempunyai adik yang banyak dan harus membantu ayahnya yang seorang pengawas lapangan salah satu perusahaan Korea.

Rumah Kirana berada di salah satu komplek di bilangan Jakarta Selatan, dia tinggal di sebuah rumah Cluster yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk menampung keluarganya. Rumah Kirana nyaman dan sejuk, mungkin karena ada beberapa pohon dan tanaman di depan rumahnya yang sengaja ia tanam untuk membuat rumahnya lebih sejuk.

“Ini diminum dulu Dim teh nya.” Kata ibu Kirana sambil membawakan teh hangat untukku.

“Iya ibu nanti saya minum.” Balasku kepadanya. Kemudian ibu Kirana pergi begitu saja. Dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

Aku meminum teh hangat buatan ibu Kirana, sambil sesekali melihat ke arah arlojiku. Pukul dua belas siang, masih ada waktu dua jam untuk sampai di tempat acara. Kirana turun dari kamarnya, sudah hampir satu setengah jam dia berada di kamarnya, entah apa yang dia lakukan tapi dandannya terlihat biasa saja tidak ada yang spesial.

“Lama ya?”

Aku tersenyum. “Nggak kok, sebentar.”

“Oh yaudah.” Katanya singkat. “Oh ya gue ngajak adik gue nggak apa-apa ya?” Tanyanya kepadaku meminta izin. Lalu orang yang dia maksud menuruni tangga perlahan sambil memanggil nama Kirana dengan sebutan ‘kakak’.

Aku mengangguk mengizinkan kemudian kami pergi ke tempat acara. Banyak hal yang bisa kuceritakan bersama dengan Kirana, banyak hal yang bisa kubagi bersama dengan Kirana. Kadang Kirana bercerita soal pekerjaannya yang kadang membosankan, atau soal rambutnya yang kadang kusut kalau tertiup angin, memang itu hal yang kecil tapi akan sangat berarti ketika ada yang orang yang bersedia menjadi pendengar. Dan aku bersedia dengan sangat, mendengarkan semua cerita Kirana.

Adik Kirana Angela juga tidak mau kalah, baru pertama kali bertemu denganku dia sudah banyak bercerita. Soal ada laki-laki yang menaksirnya di sekolah, dan dia menolaknya. Padahal dia masih SD. Angela juga bercerita soal Kirana. Katanya Kirana pernah mempunyai hubungan dengan laki-laki bernama Satya dan putus ditengah jalan karena Satya pergi ke Solo untuk ikut keluarganya pindah, dan semenjak hari itu Kirana tidak pernah bisa jatuh cinta dengan laki-laki manapun. Kirana hanya terdiam ketika Angela bercerita hal itu, aku menatapnya lekat. Aku mengerti bagaimana perasaannya, itu sangat amat menyakitkan. Ditinggalkan seseorang yang membuat kita yakin kalau Tuhan mendatangkan orang itu untuk kita, sama seperti aku dan Aira. Aku pernah percaya setengah mati kalau Aira memang diciptakan dari tulang rusukku. Tapi kenyataannya tidak demikian, Aira diciptakan untuk laki-laki lain. Laki-laki yang lebih layak.

Cinta memang selalu seperti itu, ketika kita yakin terhadap satu hal berlandaskan cinta dan kasih sayang, entah dengan cara apa dan entah bagaimana sesuatu yang buruk terjadi. Hati kita dipatahkan karena kepercayaan yang setengah mati sudah kita bangun. Menyakitkan dan mengenaskan bagi seseorang yang tidak pernah mengalaminya, itu akan menjadi semacam trauma yang berkepanjangan. Takut untuk jatuh cinta kembali.

“Masih bisa, kan?” Tanya Kirana sesampainya kami diparkiran.

Aku melihat arloji, lalu mengangguk perlahan. “Masih.” Jawabku singkat.

---

“Jadi Diary Ramayana Mencari Cinta ini bercerita tentang apa?” Tanya sang moderator kepada sang komikus yang ternyata sesuai dengan dugaanku sebelumnya.

“Diary Ramayana Mencari Cinta adalah lanjutan dari seri sebelumnya Diary Ramayana dan Putri Bintang. Kalau dalam film ini ibarat sekuelnya, hanya saja ada beberapa karakter yang saya tambahkan didalamnya. Ada beberapa karakter yang ada di Diary Ramayana dan Putri Bintang saya masukkan ke komik sekuel ini juga. Untuk melengkapi ceritanya dan membuat pembaca komik saya lebih senang lagi membacanya.” Ujarnya sambil melihat ke arah sekeliling dan semua penonton bertepuk tangan.

“Oke kalau begitu kita masuk sesi tanya jawab, ada yang mau bertanya?”

Aku menaikkan tangan kananku. “Saya, saya.” Rama melihatku dengan ekspresi yang kaget bukan main. Jelas saja orang yang memukulnya empat tahun yang lalu sekarang berdiri dan datang ke acara launching komik nya.

“Iya silahkan.” Sang Moderator mulai membiarkanku berbicara.

Aku melihat Rama lekat, diapun begitu. Orang-orang yang hadir menunggu-nunggu pertanyaan apa yang akan aku ajukan. Mereka semua menatapku lekat termasuk Kirana dan adiknya. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. “Kalau ada sahabatnya mau minta maaf dimaafin nggak?” Tanyaku sambil menatap Rama.

“Lo apa-apaan sih?!” Tanya Kirana dengan nada kesal, aku tahu mungkin menurutnya aku mempermalukannya. Tapi selain untuk mengantar Kirana aku memang akan melakukan ini.

Orang-orang menatapku aneh dan heran dengan pertanyaanku, jelas saja pertanyaanku tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan komik yang Rama buat. Ini hanya masalah pribadi, masalah yang memang harus dituntaskan dan di damaikan. Rama menatapku dengan seksama, dia mulai mencoba berpikir apa yang harus di katakan kepadaku. Mungkin dia berusaha menimbang apakah aku dimaafkan atau tidak.

“Tergantung sebesar apa masalahnya.” Jawabnya kepadaku.

Aku tersenyum, senang karena dia masih mau menjawab pertanyaanku. “Kalau misalnya karena salah paham dan akhirnya memukul sampai berdarah?” Tanyaku lagi.

Dia menaruh jari telunjuknya di dagunya sambil mengetukkannya beberapa kali. Perlahan senyumnya mengembang dengan cepat. “Tergantung seberapa keras pukulannya.”

“Kalau nggak keras-keras banget?”

Dia tertawa kali ini. “Tergantung rayuan apa yang dikasih.”

Aku tertawa, aku tahu maksud Rama. Orang-orang yang datang kali ini juga menganggap Rama adalah orang yang sama anehnya denganku. “Kalau nasih goreng Mbo Ana?” Tanyaku merayunya.

“Oke.” Jawabnya singkat sambil tersenyum ke arahku.

Aku tersenyum, perkataan ibu benar soal saling memaafkan. Kadang kita hanya perlu memaafkan diri kita sendiri dan juga sekitar kita, setelah itu kita akan belajar sesuatu dari sana. Hidup tidak pernah bisa terlepas dari memaafkan dan dimaafkan, dan sekarang aku mengerti apa yang dimaksud dengan keikhlasan dan perasaan lapang; menerima semua kekurangan yang ada, tumbuh bersama dari sana dan membuatnya menjadi kelebihan yang membuat orang lain iri melihatnya. Aku sudah membuktikannya, dengan Rama tentunya.