Bagian Dua Puluh Dua - Bagian Terpenting Dalam Hidup

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 10 Maret 2017
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

5 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Dua Puluh Dua - Bagian Terpenting Dalam Hidup

Aku masih memandang undangan yang masih ku taruh di atas kasurku. Aira akan menikah hari ini. Aku tidak pernah menyangka selama berada di Melbourne keadaan malah semakin memburuk. Semuanya seakan berpaling dariku menjadi kenangan yang paling menyakitkan. Cinta itu selalu adil, tapi kadang Takdir mempunyai makna keadilannya sendiri. Apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang akan ditakdirkan untuk kita kadang adalah hal yang sebenarnya tidak akan pernah kita dapatkan.

Empat tahun lalu  aku menyukai Aira dengan segala apa yang aku punya, tapi semuanya hancur ketika Rama datang dan membawa semuanya jauh lebih buruk daripada sebelumnya. Walaupun yang di undangan tertulis nama laki-laki lain bukan nama Rama. Namun itu membuatku benci setengah mati kepadanya, tidak ada seorangpun yang mau dikhianati dan tidak ada seorangpun yang mau disakiti. Semuanya terjadi begitu saja, dengan cara yang sederhana.

“Dim.” Suara ibu memanggil dari balik pintu kamarku.

“Iya bu?” Tanyaku kepada ibu sambil setengah beteriak.

“Antar Aika sekolah tuh sebentar, kamu nggak kemana-mana, kan?” Tanya ibu kepadaku memastikan bahwa aku bisa mengantar Aika.

Aku berjalan ke arah pintu dan membukanya secara perlahan, disana kutemui wajah ibu. Malaikat tanpa sayap yang mendidikku hingga sampai seperti ini. “Sebenarnya nanti mau kondangan bu.” Kataku lembut kepada ibu.

“Di tempat siapa?”

Aku tersenyum kecut. “Aira bu.”

Ibu tersentak mendengarkan ucapanku. “Aira udah nikah?” Aku mengangguk lemas, ibu mengetahui kalau aku mencintai Aira. Semenjak Ayah meninggal tempat aku bercerita adalah ibu, dia adalah satu-satunya yang bisa menenangkanku. “Cepet juga ya, kamu kapan?” Ledek ibu kepadaku sambil tertawa.

“Apasih bu, aku belum mau menikah.” Sahutku.

Ibu memegang pundakku, ini adalah hal yang biasa ibu lakukan ketika dia mulai akan menasihatiku. “Dimas, menikah itu kan anjuran agama. Daripada pacaran terus, mending langsung nikah kalau sudah mampu dan bertanggung jawab. Kamu karir sebagai seorang penulis sukses, pendidikan tamatan Monash University, wajah nggak jelek-jelek banget. Tunggu apa lagi coba?” Todong ibu kepadaku. Sepulangnya dari Melbourne dua bulan yang lalu membuat ibu selalu bertanya soal kepastian aku menikah. Memang ibu sudah tua dan mungkin tidak ada lagi yang ibu tunggu selain melihat anak keduanya menikah di depan matanya. Melihat perempuan yang nantinya dia panggil menantu dan melihat perempuan yang akan menjagaku ketika dia sudah pergi.

“Tunggu yang cocok bu.” Ujarku sambil merebahkan diri di kasurku.

Ibu beranjak masuk kekamar mengikutiku dari belakang. “Cocok itu bukan di tunggu tapi di cari.” Kata ibu masih terus memojokkanku. Aku hanya terdiam, ibu memperhatikan gerak-gerikku. Ada yang mengganjal dalam pikirannya dan aku tahu dia mengetahui apa yang sedang ku pikirkan. “Masih takut disakitin?” Tanya ibu tiba-tiba.

Aku hanya menoleh ke arah ibu.

“Dimas, setiap apa yang manusia lakukan di dunia ini selalu ada yang namanya konsekuensi dari setiap keputusan. Kalau kamu sudah berani memutuskan untuk jatuh cinta kamu harus mampu menanggung patah hati nantinya.”

“Ibu menikah dengan ayah bahagia-bahagia saja, ada konsekuensinya?”

“Ada.” Jawab ibu singkat. “Ayah adalah laki-laki biasa dari sebuah desa di Sunda Dimas, orang tua ibu tidak pernah setuju dengan ayah kamu karena waktu itu dia hanyalah seorang mandor bangunan. Konsekuensi yang ibu terima ibu harus siap susah nantinya ketika menikah dengan ayah kamu, tapi kenyataannya itu tidak pernah terjadi. Setelah mengetahui kalau orang tua ibu nggak setuju sama ayah kamu, ayah kamu lalu mulai mencari profesi lain yang bisa mendapatkan pengakuan oleh orang tua ibu, dan menjadi seorang arsitek adalah hasil dari usahanya.” Lanjut ibu menjelaskan kepadaku.

Aku terdiam berusaha untuk menelaah semua perkataan ibu. Sebenarnya aku sudah dengar cerita soal ayah dan ibu sebelum menikah dari kakak. Jadi bukanlah hal yang mengejutkan lagi ketika aku mendengar cerita ini untuk kesekian kalinya. Ibu benar, ayah adalah orang yang paling sering berjuang demi apa yang ia inginkan. Mungkin mencintai ibu adalah hal yang harus dia perjuangkan daripada berdiam diri dan menerima perempuan yang biasa-biasa aja. Maksudku yang tidak seperti ibu.

Namun, seberapapun ibu berbicara soal keputusan dan konsekuensi. Hati dan pikiranku belum bisa menerimanya, aku sudah pernah kecewa oleh jatuh hati yang pertama. Dan keadaan tidak ingin dikecewakan terus berada dalam kepalaku dan terus berputar disana. Seakan menolak untuk kembali memikirkan soal cinta dan sebagainya, kekuatan cinta kadang bisa berdampak besar bagi kebahagiaan tapi kadang berdampak besar bagi sebuah rasa kecewa. Begitulah cinta berjalan, ada yang menyerah lelah ketika diabaikan. Ada yang masih terus bertahan meski tak dipedulikan. Cinta punya kekuatannya masing-masing.

Aku mulai menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan, lalu menatap ibu lekat. “Aku harus mulai dari mana bu?” Tanyaku yang sudah siap untuk memutuskan.

Ibu tersenyum. “Memaafkan, maafkan diri kamu sendiri dan maafkan semua yang ada disekitar kamu. Disitu nantinya kamu akan paham dan menemukan kesimpulan dari permasalahan semuanya.”

Aku mengernyitkan dahi.

Ibu tersenyum kembali. “Dimas, hidup itu tidak pernah bisa jauh-jauh dari ‘memaafkan dan dimaafkan’. Ketika kamu memaafkan kamu belajar untuk ikhlas, berlapang dada, dan juga merelakan sesuatu. Ketika kamu dimaafkan kamu belajar introspreksi diri, jujur dan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.” Jelas ibu kepadaku.

Aku hanya terdiam sambil terus berusaha tegar. Semua perkataan ibu membakar pikiran dan hatiku dan aku tahu apa yang seharusnya ku lakukan. Sesuatu yang harusnya kulakukan sejak dulu. Mengembalikan semua yang berharga dalam kehidupanku.

---

Beberapa jam lagi matahari tergelincir senja. Beberapa jam lagi cahaya orange memenuhi langit diseluruh wilayah Depok. Selepas mengantar Aika ke sekolah aku memutuskan untuk menulis di Zoe Cafe, sekaligus mengenang beberapa kenangan yang hampir aku lupakan. Aku terduduk di meja dekat sekali dengan bagian Book Corner kafe. Aku ingat disini adalah hari terakhir aku dan yang lain berkumpul, di meja ini aku memukul rama sampai ia berdarah. Di kafe ini aku mengawali semuanya bersama mereka dan di kafe ini juga aku memulai semua pertengkaranku bersama mereka yang berujung pada perpisahan.

Sejak kecil ibu selalu berkata jangan pernah lupa terhadap mereka yang pernah mengambil andil dalam hidup, jangan pernah tinggalkan mereka yang pernah berbuat baik pada kita. Karena sejahat apapun mereka ada masa dimana kita tertawa dan mulai membangun koneksi dengan mereka lewat sebuah candaan sederhana. Bagian terpenting dalam hidupku ada tiga; Keluarga, Sahabat dan juga Jodohku kelak. Ketiga bagian penting ini yang selalu berada dalam kehidupanku dan juga membuatku bertumbuh jauh lebih baik dari sebelumnya.

Keluarga, menemaniku semenjak aku terlahir kedunia ini sampai pada akhirnya semua dari mereka harus pergi satu-persatu dan berpisah denganku. Atau yang paling buruknya aku yang pergi lebih dulu meninggalkan mereka. Tanpa ikatan bernama keluarga mungkin aku akan merasa bahwa aku hanyalah orang yang kebetulan lahir dari rahim seorang perempuan yang bukan ibuku dan Tuhan merestui kelahiranku ke dunia. Tanpa ikatan bernama keluarga mungkin aku tidak akan baik-baik saja dan mungkin akan hancur secara perlahan bersama waktu.

Sahabat, aku selalu menyebut bagian ini adalah keluarga kedua, bagian dari sesuatu yang tidak pernah terpisahkan dalam hidupku. Apapun masalahnya dan bagaimanapun keadaannya mereka adalah orang-orang yang pandai membuatku tertawa dan melupakan semua masalah yang ada, bertumbuh bersama menjadi lebih baik. Bagiku sahabat adalah mereka yang berperan penting dalam karir, kisah asmara dan juga pendewasaan yang ada dalam diri kita, tanpa mereka mungkin kita tidak akan pernah tahu artinya ‘ada’.

Jodoh, ah bagiku yang ini unik sekaligus misterius. Jodoh itu benar-benar sangat unik. Seringkali yang dikejar-kejar menjauh. Yang tak sengaja mendekat. Yang seakan sudah pasti menjadi ragu. Yang awalnya diragukan menjadi pasti. Yang selalu diimpikan tak berujung pada pernikahan. Yang tak pernah dipikirkan bersanding di pelaminan. Jodoh itu bukan masalah berapa lama kita mengenalnya. Tapi, seberapa yakin kita kepadaNya. Seberapa ikhlas saat kita gagal mendapatkannya, lalu digantikan dengan versi yang lebih baik menurutNya. Jodoh memang selalu seperti itu, kadang membuat kita bingung bukan main. Sangat tidak menyenangkan dan sakit rasanya ketika mengetahui jodoh kita bukanlah orang yang kita inginkan. Entah bagaimana cara Tuhan membuat hati kita terus menerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Seperti saat pertama kalinya aku tahu Rama dan Aira sudah berpacaran, dan seperti saat ini ketika aku tahu Aira akan menikah dengan laki-laki yang bukan Rama. Jodoh itu benar-benar unik, ya sangat unik.

Aku menatap matahari yang baru saja berubah warna menjadi orange, aku melupakan pekerjaan tulisanku sejenak. Karena mungkin kita hanya perlu beberapa hal sederhana untuk bisa memaknai kehidupan dengan cara yang sebenarnya. Aku sebenarnya selalu bertanya ketika kehidupan membawaku ke titik ini, titik dimana aku bisa dikenal banyak orang sebagai seorang penulis, titik dimana aku mendapatkan sahabat yang setengah mati aku sayangi tapi kami malah berpisah di tengah jalan. Di titik ini, titik semuanya mungkin akan berakhir. Aku selalu bertanya, ya terus bertanya, kemana sebenarnya kehidupan membawaku? Apa yang sebenarnya sedang kita tuju? Kekayaan? Istri cantik dan solihah? Anak yang lucu dan keluarga yang sederhana? Atau sahabat yang akan menemani sampai tua nanti? Apa yang sebenarnya kita tuju, pernahkah kalian juga merasakannya, sebenarnya mengapa Tuhan menciptakan suatu hal yang Dia sudah ketahui akhirnya? Seperti kehidupan, di akhir Tuhan sudah menuliskan semuanya, bahwa kematian perlahan akan mengejar yang hidup, dan pertanggung jawaban akan mengejar yang mati. Mungkin sebenarnya kita tidak butuh sebuah tujuan, tidak butuh sebuah pentunjuk arah. Kita sudah tahu akan kemana, kita sudah mengetahuinya secara pasti; jalan pulang.

Tuhan menciptakan kita manusia dari tanah lalu ditiupkannya ruh kepada kita. Perlahan kita lahir dari rahim seorang perempuan yang kita panggil ibu, kita tumbuh dewasa dan mengalami banyak hal. Sampai di akhir, Tuhan berbisik Waktumu sudah habis, sekarang pulanglah. Dan disitulah kita akan kembali ke tanah, tempat seharusnya kita berada.

“Sendirian aja bapak penulis?” Tanya seseorang tiba-tiba. Aku mengenal suaranya.

Aku menoleh ke arah suara berasal. “Iya sendirian aja, mau nemenin nggak?”

Dia tertawa, dan berjalan ke arahku perlahan. “Lo Dim, masih aja bercanda.” Katanya sambil memukul pelan punggungku.

Aku tersenyum ke arahnya. “Lo sendirian?”

Bayu menggeleng. “Nggak, gue sama Moses.”

“Mana dia?” Bayu menunjuk ke arah bawah, dan aku sepertinya tahu apa yang sedang dia lakukan. “Lo tahu darimana gue disini?” Tanyaku kembali kepada Bayu.

Bayu mendekat ke arah mejaku dan duduk disana, sambil melihat naskah baru yang sedang kukerjakan. “Lima tahun Dim kita sahabatan, masa iya gue nggak tahu lo kayak gimana.”

“Memangnya?”

“Lo suka laki.” Katanya sekenanya. “Bercanda, jangan mancing makanya. Gue sama Moses tadi kerumah tapi kata ibu lo, lo nganter Aika ke sekolah dari siang dan belum balik. Dan karena gue nggak mau menunggu ya gue kesini aja.” Lanjutnya.

Aku hanya tersenyum, melihat Bayu duduk disini mengingatkanku kepada semua hal sederhana yang aku buat dengan yang lainnya. Maksudku lengkap dengan semuanya, tidak hanya aku, Bayu dan juga Moses. Aku rasa kami tidak cocok menjadi trio masketir, kami lebih cocok bertujuh, lengkap dengan pedang dan lencana. Menjadi lengkap itu menyenangkan dengan semua orang yang kita sayang yang berada disisi kita.

“HAI! WHATS UP?!” Teriak Moses tiba-tiba sesampainya di ujung tangga. Aku mempunyai julukan baru sepertinya untuk Moses, orang pintar yang paling bodoh yang pernah ada. Dia tidak pernah berpikir sebelum berteriak, kafe ini bukan miliknya.

Bayu tertawa dan memukul punggungku perlahan dengan tawa yang masih berada di ujung mulutnya. “Like old time huh?”

Aku menoleh ke arah Bayu. Lalu kembali menoleh ke arah Moses yang masih kebingungan ketika orang-orang melihat dirinya berteriak. “Ya, Like Old Time, walaupun kurang beberapa orang.” Aku tersenyum, Bayu pun begitu. Dan Moses masih lucu dengan tingkahnya yang tidak karuan.

Malam ini kami berencana untuk berangkat bersama ke pernikahan Aira. Semoga tidak ada hujan air mata dan juga semoga hatiku baik-baik saja. Semoga.

---

Melihat orang yang paling kita sayang bersanding dengan orang lain adalah hal yang paling menyesakkan sepanjang hidup. Semua hal yang barangkali kita bayangkan sangat indah, sangat mengesankan ketika kita mengingat semua hal soal orang itu. Namun, ketika kita berada disatu titik, di tempat yang mungkin kita sendiri harus memahaminya. Perpisahan datang dengan cara yang tidak masuk akal, kadang mungkin aneh, lucu atau bisa jadi menyakitkan. Tak ada perpisahan yang tidak menyakitkan sebenarnya, hanya saja semua perjalanan soal cinta, soal perasaan yang tidak bisa kita ungkapkan, soal semuanya selalu saja rahasia, karena tidak pernah tahu kemana Tuhan membawa hati kita, sampai mana Tuhan menguji kita. Kadang sebuah perjalanan yang sakit ketika kita berikan sedikit jeda di tengah bisa menjadi hal yang lucu ketika kita ingat kembali.

Aku masih menatap Aira dari pintu utama gedung tempat pernikahan Aira dan laki-laki bernama Daud diselenggarakan. Aira mengenakan gaun cantik berwarna putih dengan penutup kepala yang seragam dengan gaunnya. Sang mempelai pria menggunakan baju pengantin yang seragam dengan mempelai perempuan hanya saja sedikit lebih elegan.

“Lo siap?” Tanya Bayu kepadaku. Aku mengangguk perlahan. “Oke kalau gitu, kita salaman dulu. Setelah itu..”

“Makan.” Potong Moses.

Bayu menatap Moses aneh. “Otak lo makan terus kerjaannya.” Keluh Bayu kepada Moses.

Malam ini aku didampingi Moses dan Bayu untuk memberanikan diri mengucapkan selamat kepada Aira dan suaminya. Aku terus berdoa dalam hati semoga aku tidak pingsan nantinya. Kami berbaris menunggu giliran untuk mengucapkan selamat, gedung tempat pernikahan Aira begitu ramai, mungkin bisa kupastikan sekitar 5000 tamu undangan hadir malam ini. Aku tidak pernah tahu Aira punya teman sebanyak ini, tapi kurasa mungkin tamu-tamu ini kebanyakan kolega bisnis suaminya, yang aku dengar suami Aira sekarang adalah seorang direktur sebuah perusahaan Creative Agency besar. Perusahaannya sudah dikenal seantero Indonesia, dan kadang rekan bisnisnya bukan hanya dari Indonesia saja. Tapi dari Amerika, Inggris, Korea Selatan, China dan beberapa negara Asia lainnya. Mungkin selamanya aku tidak akan pernah bisa menandingi si Mas Daud ini.

Akhirnya tiba giliran kami untuk mengucapkan selamat. Aira yang tak sengaja melihat kehadiranku perlahan menundukkan wajahnya. Aku tersenyum kepada si Mas Daud dan berhenti tepat di depan Aira yang masih tertunduk. Jantungku berdegup kencang, detakkannya semakin cepat, seperti ingin keluar dari bagian dalam tubuhku. Pikiranku tidak terkontrol ketika melihat Aira yang sudah bahagia dengan orang lain, entah perasaanku saja atau bagaimana tapi aku merasa tidak rela. Terbesit dalam pikiran untuk memukul si Mas Daud yang berada tepat di samping Aira dan membawa Aira pergi dari gedung ini. Tapi aku tidak berhak melakukannya, aku tersadar dan mengingat perkataan ibu; Maafkan diri kamu sendiri terlebih dahulu.

“Selamat ya.” Kataku kepada Aira sambil memaksakan diriku untuk tersenyum.

Aira mengangkat kepalanya dan menatapku lekat-lekat, ada sedikit bulir air mata yang siap tumpah dari ujung kelopak matanya. Aku bisa melihatnya, aku masih menahan senyumku berharap Aira juga tersenyum kepadaku. “I.. Iya makasih ya Dimas.” Katanya sambil memaksakan dirinya tersenyum juga.

Aku turun dari atas panggung diikuti dengan Moses dan juga Bayu. Aku berhenti sejenak dekat seorang photographer yang sedang memotret. Aku berbalik badan dan menatap wajah Aira, dia pun menatap diriku lekat. Entah apa yang ada didalam pikirannya, tapi aku hanya ingin berbisik pelan sambil memegang tangannya. Semoga kamu bahagia.

“Lega?” Tanya Bayu kepadaku.

“Sedikit.” Kataku sambil menarik nafas lalu melihat ke arah Bayu, tapi Moses sudah lebih dulu berada di booth bakso untuk memesan beberapa mangkuk bakso. FYI, Moses sedikit bergairah dengan makanan, karena itu dia akan jauh lebih cepat kalau soal makanan.

Bayu menepuk pundakku. “Tenang aja Dim, nantinya selepas ini lo akan menemukan perempuan yang terbaik yang pernah ada, yang akan bikin lo bahagia. Lo inget kan perkataan gue?” Tanya Bayu.

Aku mengangguk. “Kadang kita ketemu orang yang salah dulu baru yang benar.” Kami mengatakannya secara bersamaan, layaknya sepasang adik dan kakak yang selalu kompak.

Malam ini salah satu sahabatku dan sekaligus orang yang aku sayang menikah, ah aku tidak tahu apakah masih bisa disebut sahabat. Semenjak pertengkaran waktu itu, aku menghapus kontak Aira, Yuri, Saka dan juga Rama. Hanya Bayu dan Moses yang masih berada bersamaku. Walaupun sudah seperti ini kadang aku merindukan kebersamaan yang terjalin bersama ketujuh orang yang sangat amat menyenangkan. Aku berharap bertemu mereka kembali dan ingin meminta maaf, lalu memperbaiki ini semua dengan sebaik-baiknya.

Patah hati terhebat bukanlah terjadi ketika kita meninggalkan orang-orang yang kita sayang, tapi patah hati terhebat terjadi ketika orang-orang berhenti peduli dan pergi secara perlahan. Aku masih terdiam kaku di samping mas photographer yang kutahu namanya ada Eros dari name tag yang ia kenakan. Bayu dan Moses sudah berada di kursinya masing-masing dengan bakso yang berada di tangan mereka. Aku masih merenungi semuanya, masih dengan rasa bersalahku kepada para sahabatku.

“Empat tahun di Melbourne sombong ya.” Seseorang menepuk pundakku dari belakang.

Aku terkejut dan menoleh ke arah suara. “Kirana.”

“Iya, nggak usah kaget gitu kali. Udah kayak lihat hantu.” Candanya lagi kepadaku, dengan candaan lama.

“Ya engg.. Enggak gue pikir siapa. E.. Elo ngapain disini?” Tanyaku penasaran.

Kirana menunjuk sang mempelai pria. “Dia atasan gue, ya masa gue nggak dateng ke nikahannya atasan gue. Bisa terancam gaji gue.” Katanya sambil tertawa.

Aku sedikit kaget. “Oh Mas Daud itu atasan lo?” Tanyaku sambil menunjuk Mas Daud dengan telunjukku. Kirana mengangguk setuju.

Aku masih memperhatikannya. Malam ini pertemuan tidak sengaja terjadi, yang entah aku tidak mau menebaknya ini sebuah pertanda atau bukan. Tapi aku hanya ingin berusaha menjalani semuanya dengan baik-baik saja. Kirana terlihat cantik malam ini dengan gaun putih yang ia kenakan, lesung pipi yang menggoda dan juga rambut yang ia cepol degan rapih.

“Eh besok ada acara?” Tanyanya kepadaku.

Aku mencoba mengingat-ngingat, tapi sejauh ini aku sudah mengosongkan jadwal sepertinya. “Kayaknya nggak ada deh kenapa?”

“Besok mau ikut nggak ke launching komik Diary Ramayana Mencari Cinta.”

Aku mengernyitkan dahi. “Sejak kapan toko busana jadi komik?”

“Toko busana?” Tanya Kirana keheranan.

“Lah itu Ramayana, kan toko busana.” Balasku santai.

“Ihh bukan dodol, di kasih judul kayak gitu karena nama komikusnya Rama.” Katanya manja sambil memukulku.

Aku tertawa, tapi ada satu hal yang membuatku terheran, perkataan Kirana soal nama penulisnya adalah Rama. “Jam berapa acaranya?” Tanyaku.

“Jam dua siang.”

“Oke.”

Kirana tersenyum mendengar jawabanku yang meresposnya secara positif. Dan malam ini aku pulang dengan Kirana lalu mengantarnya sampai gerbang komplek rumahnya, dia selalu menolak ketika ingin aku antar sampai rumahnya. Entah karena alasan apa, Bayu dan Moses mereka masih disana, katanya nanti ingin bermain Where Wolf dengan beberapa teman kantor Moses. Bayu hanya ikut-ikutan saja.

Malam ini menjadi malam yang bahagia bagi Aira, tapi tidak untukku. Kadang masih ada perasaan sayang itu secara diam-diam, dan masih ada perasaan keinginan untuk mengembalikan kebersamaan itu diam-diam. Ya semuanya seimbang, persahabatan dan cinta semuanya tak pernah lepas dari itu.