Bagian Dua Puluh Satu - Dear Aira

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 09 Maret 2017
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

5.3 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Dua Puluh Satu - Dear Aira

Dear Aira,

Apa kabarmu?

Aira ketika kau membaca surat ini itu artinya aku sudah berada di Melbourne untuk melanjutkan studyku. Aira, aku sedang berada disebuah ruangan remang-remang yang didalamnya berada kenangan-kenangan kita berdua waktu itu, ketika cinta adalah pengikat bagi setiap kemustahilan yang ada, dan kasih sayang adalah penguat antara aku dan kamu.

Aira, waktu bergerak begitu cepat, tiga tahun sudah kita bersahabat, layaknya saudara ketika bertengkar dan layaknya sepasang kekasih ketika saling memperhatikan. Ah, seandainya aku bisa memperbudak waktu, aku ingin sekali berusaha mengulang semuanya dan membiarkanmu terus berada disampingku. Terus menerus bercerita padaku, terus menerus terlelap di bahuku.

Aku suka kata-katamu tempo hari. “Kita bertujuh itu adalah sebuah perantara yang Tuhan berikan untuk membuat bahagia.” Katamu dengan kerudung merah muda yang setengah tertiup angin.

“Lo kayak tahu aja bahagia itu apa.” Sahutku dengan wajah yang sedikit sok tahu.

“Gue tahu.” Kamu tidak mau terima dengan pernyataanku, kamu terdiam beberapa saat sambil terus memandang ke arah langit-langit yang biru dan cerah. “Bahagia itu adalah ketika orang disekitar kita bisa merasakan kebahagiaan yang kita rasakan, atau mungkin lebih tepatnya kita membagi kenyamanan dan kebahagiaan kita untuk mereka. Agar mereka juga merasakan hal yang sama.” Kau tersenyum di ujung kalimatmu.

Aku terdiam mendengar semua perkataanmu, hari itu aku mengetahuinya, kebahagiaan yang kau maksud sejak dulu.

Aira, disaat aku menuliskan surat ini untukmu mungkin cita-citaku menjadi seorang penulis sudah tercapai, aku sudah menerbitkan satu buku yang menjadi karya pertamaku, kau pun tahu itu dan jika beruntung aku ingin mengadaptasi nya menjadi sebuah film. Impian yang sejak dulu aku anggap sebagai sesuatu yang tidak mungkin kali ini terjadi dalam kehidupanku, kalau bukan karena semua ocehanmu dan teman-teman soal naskahku yang tidak selesai-selesai mungkin aku tidak akan berdiri sekarang menjadi seorang penulis.

Aira, waktu menjelma menjadi kenangan ketika semua yang tersisa dalam ingatan hanyalah serangkaian peristiwa membahagiakan yang kita miliki, aku ingat pertama kalinya ketika kita terkena hujan bersama saat itu, ketika perasaan cinta kita masih biasa-biasa saja, ketika keluguan kita soal perasaan yang kita telat sadari. Hari itu kita hanya berteduh di pinggir jalan sambil terus bedoa agar hujannya cepat reda, tawa kita membeku bersama dinginnya cuaca ketika aku berbicara soal hidungmu yang pesek, kerudungmu yang tidak rapih, tanganmu yang mungil, nilai-nilai memuakkan yang diberikan Bu Eva di akhir-akhir semester. Aku masih mengingatnya, semua memory indah yang kurekam bersamamu.

Tidak ada perpisahan yang bahagia, tidak ada perasaan lapang yang begitu saja. Aku masih berdiri di persimpangan ketika punggungmu mulai menjauh, membuat jarak di antara kita, seakan-akan ada jurang yang menghalangi jalanku untuk mengejarmu. Perpisahan ada ketika sebuah kerterikatan manusia pada Sang Pencipta benar-benar nyata, kau tahu aku tidak pernah suka berpisah, tidak pernah menyukainya. Hanya terkadang perpisahan datang secara tiba-tiba, dengan suara yang tertahan di ujung tenggorokan untuk berteriak atau berbisik Jangan tinggalkan aku. Kali ini, semuanya hanya soal waktu Aira, ketika punggungmu mulai menjauh dan membikin jeda di antara kita, aku akan perlahan membuat jembatan yang membuatku bisa mengejarmu. Membuat semua kenangan kita kembali untuk kesekian kalinya.

Aku baik-baik saja, tetaplah kejar apa yang kau mau, Tuhan belum menjodohkan kita bersama untuk saat ini, nanti? Ah aku tidak mau menebaknya Aira, semoga Sang Waktu membuat kita bertemu dipersimpangan jalan sana.

Maafkan aku yang tidak pernah berani mengatakan semuanya kepadamu, aku hanya takut. Hanya takut ketika kau mengetahui semua perasaanku kau akan berbalik menjauhiku hanya karena jalinan persahabatan yang kita miliki dengan beberapa teman-teman yang lain, aku tahu Saka dan Yuri telah menjalaninya tapi mereka menjalani hubungan itu sebelum Sette terbentuk, kan? Cinta itu unik Aira, cinta itu unik. Tidak ada yang salah dengan setiap perasaan yang kita rasakan, hanya kadang Skenario yang Tuhan atur jauh lebih baik daripada keinginan kita.

Terkadang kita harus berhenti peduli pada seseorang bukan karena kita membencinya, tapi karena dia tidak menyadari kepedulian kita. Terkadang kita harus memilih untuk meninggalkan seseorang bukan karena kita berhenti mencintai, tapi karena kita merasa tidak dihargai. Terkadang lebih baik menjauh dari dia yang kita cintai bukan karena berhenti mencintai, tapi karena harus melindungi diri dari patah hati. Aku tidak mau merasakan sakit yang sama untuk kedua kalinya, kau telah menunjukkan itu padaku. Rama, entah mengapa nama itu menjadi sangat aku benci. Aira maafkan aku yang menjadi pembenci, maafkan aku. Aku hanya membutuhkan waktu sampai semuanya netral kembali. Empat tahun di Melbourne aku rasa cukup untuk membuat semuanya pulih seperti semula.

Jaga Rama untukku, karena bagaimanapun juga sahabat tetaplah sahabat, tidak akan pernah ada yang menggantikannya. Ingatkan Yuri dan Saka untuk tidak terus-terusan bertengkar, mereka seperti Tom dan Jerry ketika bertengkar. Bayu dan Moses? Mereka biar aku sendiri yang menegurnya. Cahaya senja masuk tanpa permisi ke dalam sini, Aira semoga kita bisa melihat senja bersama lagi, di tempat yang berbeda atau mungkin tidak akan pernah (lagi).

 

Salam Sayang,

Dimas

---

“Tolong titipin surat ini sama Aira.” Pintaku kepada Bayu dan Moses yang mengantarkanku sebelum aku berangkat ke Melbourne. Pelukan perpisahan. Sedih rasanya ketika hanya ada mereka berdua saja. Menyakitkan. Aku membalikkan badan dan menatap pintu masuk bandara dengan tatapan penuh harap.

“lo berharap siapa yang datang?” Tanya Bayu kepadaku.

Aku menggeleng kuat-kuat. “Nggak, bukan siapa-siapa.” Jawabku lemas.

“Aira tuh pasti.” Moses tertawa keras, dia meledekku lagi. Ah sudahlah harapan hanya pengalih pehatian saja, pada akhirnya akan patah hati kembali kalau terlalu berharap. “Bercanda gue, ejekan terakhir sebelum lo pergi.” Lanjutnya.

Pesawatku akan segera berangkat. Aku mulai berpamitan kepada Bayu dan Moses, aku akan rindu mereka berdua, bukan tapi bertujuh. Walaupun yang lainnya tidak jadi datang. Tapi ada mereka yang mewakili itu sudah cukup. Seperti inilah fungsi bandara, selalu ada pertemuan dan perpisahan disini, selalu ada senyum bahagia menyambut keluarga yang datang tapi juga ada air mata yang jatuh ketika melihat seseorang pergi ke tempat yang lain. Selalu mengharukan berada di bandara, karena semuanya terasa nyata.

“Jaga Aira dan yang lainnya ya.” Kataku setengah berteriak kepada mereka, karena jarak yang juga sudah terlalu jauh.

“Siap!” Jawab mereka kompak.

Dan disitulah semuanya berawal, empat tahun di Melbourne untuk melanjutkan study. Walau tanpa Aira, walau tanpa teman-teman yang aku sayang. Ya, walau tanpa mereka. Dan itulah hari terakhir aku melihat mereka, dan tidak akan bertemu untuk waktu yang cukup lama….