Bagian Sembilan Belas - Patah Hati Terhabat

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 06 Maret 2017
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

5.3 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Sembilan Belas - Patah Hati Terhabat

“Kenapa harus Melbourne?” Aira terus mempertanyakan pertanyaan itu kepadaku dengan tatapan mata yang teduh, seperti ada air mata yang akan jatuh secara perlahan. Aku tidak pernah tahu apakah Aira mempunyai rasa yang sama denganku atau tidak, tapi pertanyaannya seolah mengatakan ‘aku nggak mau kehilangan kamu’.

“Memang kenapa kalau Melbourne?” Tanyaku kembali kepada Aira.

Dia hanya terdiam menatapku, hari itu kami duduk di musholla sekolah sambil bersenda gurau soal apapun. Sampai pada akhirnya pertanyaan itu muncul dari mulutnya, aku dan yang lain kembali ke sekolah untuk mengurus keperluan untuk pengambilan ijazah. Namun karena prosesnya yang cukup lama aku memutuskan mengajak Aira ke musholla sekaligus sholat zhuhur berjamaah.

Masa ketika aku berada disekolah sudah habis, masa dimana semua kenangan akan datang perlahan dan bertubi-tubi hanya sekedar minta diingat. Semuanya hanya akan menjadi kenangan saja, masa lalu yang mungkin bisa kuceritakan kepada anakku kelak. Soal masa lalu, ada pepatah yang mengatakan; Jangan pernah lagi mengingat masa lalu, tugas kita sekarang adalah menatap masa depan, dan menyusunnya dengan baik dan benar. Walaupun menurutku itu benar tapi ada point yang tidak aku setujui, Jangan pernah lagi mengingat masa lalu. Bukankah kita tidak akan pernah bisa tidak mengingatnya? Masa lalu adalah bagian dalam diri kita yang memang sengaja kita simpan untuk kita sesalkan ketika tua nanti, kalau memang kalian tidak setuju dengan pernyataanku. Aku punya satu pertanyaan untuk kalian, ada yang pernah lihat seseorang menyesalkan masa depan?

Hahaha, mungkin pertanyaanku sedikit konyol. Tapi memang itu faktanya, masa lalu dicipta bukan untuk kita ingat saja tapi juga untuk kita sesalkan. Sebaik apapun ketika kita memutuskan di masa lalu, pasti ada sedikit hal yang kita sesalkan dari keputusan tersebut. Sekecil apapun itu. Aku sadar suatu saat aku akan menjadi renta, dan menyesali segalanya yang pernah aku perbuat ketika masih muda, aku sadar semuanya hanyalah bertahan sesaat tapi penyesalan akan berdiam dalam keabadian. Aku akan berikan sebuah pernyataan kepadamu.

Ketika kita berpikir telah melupakan masa lalu yang kelam dan dia sudah hilang begitu saja dari hidup kita, sebenarnya tidak. Masa lalu hanya sembunyi dibalik ingatan yang paling dalam pada pikiran kita, setelah itu dia akan menunggu beberapa tahun sampai kita renta dan sampai semua apa yang kita pikirkan hilang. Seperti Rumah mewah, mobil bagus, istri cantik, anak lucu, traveling, naik gunung, dan yang lainnya. Oh ayolah, taruhan denganku ketika sudah renta kita tidak akan pernah memikirkan semua itu lagi. Dan disaat pikiran tentang semua hal itu hilang, masa lalu kembali datang dengan perlahan. Kemudian pada akhirnya ketika kita terduduk di bangku teras rumah dan memakai tongkat, kita akan setengah berbisik “Seandainya waktu itu aku bisa lebih baik memutuskan sesuatu.” Dan selamat setelah itu kita akan sepenuhnya menjadi manusia yang normal, yang sengaja diciptakan untuk menyesali sesuatu.

“Ya nggak apa-apa, nanti kita kalau kumpul lagi susah.” Ujar Aira.

“Saka malah lebih jauh ke Grouningen.” Aku mulai menatap Aira penuh tanda Tanya.

Aira menghembuskan nafas perlahan. “Dia masih bimbang, kata Yuri dia malah mau kuliah di Jakarta aja.”

“Loh kenapa?”

“Dipaksa sama Yuri.” Aira tertawa keras-keras. Seakan tidak ada satupun beban yang di pikul, semua tawanya keluar begitu saja.

Aku hanya tersenyum melihatnya seperti itu, sambil terus memperhatikan wajahnya yang imut dan cantik. Sekarang dia tumbuh menjadi perempuan yang cantik dan dewasa dibanding ketika aku bertemu dengannya di angkutan umum ketika pertama kali masuk sekolah. Waktu membuat semua orang semakin dewasa, setiap kejadian membuat semua orang semakin bijaksana. Dan Aira mungkin telah melewati fase remajanya untuk kemudian membuat dirinya lebih bahagia dan dewasa.

“Melbourne itu kota impian gue buat tinggal.” Seruku tiba-tiba dan hal itu berhasil menghentikan tawanya.

“Maksudnya lo nggak cinta Indonesia?”

Aku menoleh ke arah Aira. “Cinta, cuma mau ngerasain aja tinggal disana untuk beberapa bulan. Lalu ada Monash University, salah satu kampus impian gue. Gue punya dua kampus impian; UIN Jakarta dan Monas University.” Jelasku kepada Aira.

“Terus kenapa memilih yang disana?” Rasa penasaran Aira makin tidak karuan.

“Karena mendapatkan kesempatannya, kalau UIN belum pasti. Tapi kalau Monash University gue sudah pasti diterima disana karena sudah ikut tes waktu itu dan lolos. Jadi nggak boleh disia-siakan.” Langit cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung, sepertinya akan turun hujan.

“Lo pernah ikut tes untuk disana?” Tanya Aira kembali.

Aku mengangguk dan dia hanya kembali terdiam. Tidak mengucapkan sepatah katapun lagi. Ya, hanya terdiam.

---

Lusa aku akan berangkat ke Melbourne, untuk memulai kehidupanku yang baru, untuk memulai semuanya dari awal. Mengejar impianku untuk dapat lulus dari salah satu kampus terbaik yang pernah ada di Australia bahkan mungkin dunia. Monash University, dulunya mendengar nama Monash University bagiku hanyalah sebuah angan yang terlalu tinggi untuk dapat memasukinya, namun entah mungkin takdir Tuhan berkata lain. Keberuntungan masih menyelimutiku, impian itu sudah ada di depan mata.

Seorang Stand Up Comedian pernah berkata sesuatu, dia bilang “Jangan pernah bunuh mimpi kamu, karena mimpi kamu tidak akan pernah mati sekeras apapun kamu pukul dia, dia hanya akan pingsan. Nantinya setelah kamu tua, umur 60 atau 70 tahun mimpi itu hadir lagi dalam bentuk sebuah penyesalan, dan kamu nggak mau hidup dalam penyesalan-penyesalan itu.” Pandji Pragiwaksono yang berkata seperti itu.

Aku tidak akan pernah mau hidup dalam sebuah penyesalan, selama Tuhan masih memberiku kekuatan untuk bisa berdiri dan juga kaki yang kuat untuk terus melangkah, impian itu masih ada dalam pikiran dan juga hatiku. Ah aku tahu ini kedengarannya cengeng, tapi memang begitu fungsi impian bekerja. Aku ingin suatu saat ketika anakku bertanya siapakah ayahnya, aku bisa menjawab dengan yakin dan membuat ia bangga mempunyai ayah sepertiku. Orang yang mungkin pantang menyerah dengan segala cobaan yang ada. Hidup itu hanya sekali, dan kita tidak akan pernah bisa memanipulasi waktu. Memanfaatkannya jauh lebih bijaksana daripada sekedar hanya membuangnya.

“Dimas kamu sudah menyiapkan keperluan untuk disana?” Teriak ibu dari lantai dasar.

“Sudah bu.” Teriakku kembali kepadanya.

Semenjak diterimanya aku di Monash University, ibu adalah orang yang menjadi super sibuk mengurusi segala keperluanku. Kadang dia bisa bertanya banyak hal hanya dalam waktu 1 jam, dia selalu menjadi alarm yang paling hebat. Entah itu masalah pengurusan passport lah, visa lah, koper apa yang dibawa yang besar atau kecil, baju apa saja yang dipakai dan semuanya. Senang rasanya ketika mengetahui ada orang yang benar-benar peduli dan memperhatikanku lebih. Mungkin seharusnya ibu mendapatkan sebuah pernghargaan nobel terbaik untuk kategori The Best Mother Ever. Aku akan membuatnya nanti, secara pribadi.

Aku mengajak para sahabatku untuk merayakan keberhasilanku dalam menulis buku dan diterima di salah satu kampus terbaik di Australia. Seperti biasa Zoe Cafe adalah tempat yang aku pilih karena aku memulainya dari sana maka harus berakhir disana. Lagi pula ini bukanlah akhir, masih banyak hal yang lainnnya yang akan aku urus nanti setelah aku pulang dari sana. Hidup itu akan selalu berjalan. Seberapa cepat atau lambatnya kamu, hidup akan terus berjalan tidak pernah berhenti, sekarang hanya masalah siapa yang lebih cepat, tepat dan juga bermartabat. Aku hanya ingin terus berlari, mengikuti arus kehidupan membawaku atau malah kadang aku melawan arus. Bermimpilah setinggi-tingginya karena tidak ada larangan atau pengharaman untuk sebuah mimpi selama itu baik, jika kau takut untuk terjatuh maka mulailah berani untuk jatuh. Setiap tindakan selalu ada konsekuensi di dalamnya, terjatuh sudah biasa, terbang juga sudah biasa. Yang sulit hanya bangkit setelah terjatuh dari ketinggian.

Setiap orang yang sukses karena mimpinya adalah karena mereka layak, karena “sang impian” mengganggap mereka yang berjuanglah yang layak, mereka yang tidak pernah berhenti berusaha dan berdoa adalah orang-orang yang layak. Mendiang ayah pernah bilang sesuatu kepadaku soal impian; Berusaha dan berdoa adalah cara terbaik untuk meraih mimpi, berusaha artinya kita menggunakan cara dunia dan berdoa artinya kita menggunakan cara manusia beriman, yang meminta kepada Tuhan. Kalau kamu berusaha tanpa berdoa artinya kamu sombong, karena tidak ada segala sesuatu apapun tanpa restuNya. Kalau kamu berdoa tanpa berusaha itu artinya kamu takabur, karena tidak ada sesuatu apapun dapat diraih dengan bersantai ria. Karena itu berusaha dan berdoa adalah pondasi paling kuat dalam sebuah impian. Kata ayah waktu itu, dan aku terus berusaha untuk mengingatnya. Agar tidak pernah lupa, untuk terus berusaha dan berdoa. Terus berlari dengan kaki berdarah dan meminta kepadaNya dengan memohon restuNya.

Dan selamanya akan terus begitu.

---

“Kalian kenapa sih diam aja?” Tanyaku kepada yang lain sesampainya aku disana. Sudah hampir kurang 20 menit aku dan mereka duduk bersama, tidak seperti biasanya mereka hanya terdiam. Aira dan Yuri katanya datang telat karena ingin membeli sesuatu untuk kenang-kenanganku berada di Melbourne nanti. Alhasil kami hanya berlima di Zoe Cafe, aku merasa aneh dengan semua kejanggalan ini. Tidak biasanya kami berdiam diri seperti ini dan tidak bersuara sama sekali.

Aku menatap masing-masing mereka perlahan dan lekat-lekat, karena jujur seperti ada yang mereka berempat sembunyikan dari diriku. Entah apa dan entah untuk apa tapi yang pasti aku merasakan firasat yang tidak enak, firasat yang membuat diriku tidak nyaman dengan semua ini. “Ini serius nggak ada yang mau kasih tahu kalian kenapa?” Tanyaku lagi kepada mereka yang masih terdiam sedari tadi. Mereka tidak menjawab hanya terdiam kembali, kali ini sambil memainkan ponsel mereka masing-masing. Mungkin mereka akan membuatkan kejutan untukku, karena lusa aku sudah berangkat Pikirku. Aku berusaha tenang dan baik-baik saja seolah tidak terjadi apapun.

Rasanya sangat amat tidak nyaman ketika meninggalkan mereka, sahabat-sahabatku yang berjalan bersama semasa sekolah dan kali ini harus terpaksa menumpuk kerinduan dalam-dalam untuk kemudian aku rasakan. Aku masih terdiam tanpa berbicara sepatah katapun, begitupun juga mereka. Mereka hanya asik dengan diri mereka sendiri, ada yang berbeda hari ini entah apa itu. Walaupun aku terus berusaha merasa bahwa semuanya baik-baik saja, tapi sebenarnya aku terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Prasangka-prasangka buruk kemudian muncul tiba-tiba; Jangan-jangan mereka berniat meninggalkanku atau jangan-jangan mereka akan berlibur bersama dan tidak mengajakku atau… Batinku terus menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Suasana Zoe Cafe semakin sore semakin ramai, Zoe Cafe akan selalu ramai pada sore dan malam hari, jarang sekali ramai pada siang hari. Ya faktor penyebanya karena baru buka juga kafe nya pukul 4 Sore.

Aku menelan ludah, berpikir keras untuk membuat mereka berbicara. “Eh iya buku pertama gue cetak buat ketiga kalinya loh selama dua minggu. Hebat ya gue.” Kataku sambil tertawa, tapi mereka tetap saja biasa-biasa saja seolah menolak kehadiran, tidak bukan menolak tapi hanya takut untuk mengatakan sesuatu kepadaku. Apalagi Rama yang sedari tadi kulihat keringat sudah membanjiri dirinya, begitupun Saka. “Eh tadi gue naik ojek online loh ke sini, tapi karena ojeknya online naiknya lewat media sosial deh.” Aku masih berusaha mencairkan suasana tapi tetap saja, malah keringat Rama dan Saka semakin membajir. You are very worst stand up comedian Dimas Batinku. Aku sadar itu, semua pancingan komediku tidak ada yang berhasil.

“Hey udah lama kalian?” Sapa Yuri tiba-tiba dengan Aira yang mengekor di belakangnya.

Aku berdiri bersalaman dengan mereka berdua. Anggap saja salaman terakhir sebelum aku berangkat ke Melbourne. “Nggak kok baru aja, tapi kayaknya mereka berempat lagi kena jamuran deh, diem aja dari tadi.” Jelasku kepada Yuri dan Aira.

Yuri menengok ke arah Saka dan wajah Saka sudah basah dengan keringat. “Saka kamu kenapa deh kok keringetan gitu.” Ujar Yuri sambil mengambil tissue dalam tas nya dan memberikannya kepada Saka, Saka pun menerimanya dengan sangat baik. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua, mereka berdua sudah seperti sepasang orang tua yang mempunyai lima anak nakal untuk dirawat.

“Kamu juga kenapa Ram kok keringetan gitu.” Aku tersentak, perlahan tapi pasti mataku memandang Rama dengan tatapan tidak percaya, begitupun Saka dia hanya memalingkan wajah dariku. Ketika aku melihat Bayu dan Moses mereka hanya menaik-turunkan bahunya, kurasa mereka benar-benar tidak mengetahui hal ini.

Aku melempar badanku ke kursi kafe, terduduk lemas dan penuh emosi. Ingin aku meluapkannya sekarang dan mungkin memukul dan menghajar Rama, tapi aku menahannya. Tidak di depan Yuri dan Aira. Pikiranku melayang-layang jauh membuat melodi patah hati yang disengaja, senar gitar yang dipetik putus ditengah lagu, gendang yang di pukul hancur begitu saja, dan suara penyanyi yang sedang menyanyi rusak seketika. Semuanya terasa sangat amat buruk bagiku, bagi hatiku dan juga pikiranku. Aku pernah merasakan sakit karena kehilangan seseorang yang paling aku sayang, dan aku tidak mau kehilangan orang yang paling aku sayang untuk kedua kalinya.

Yuri dan Aira pamit ke toilet sebentar. Aku masih memandang Rama yang masih membasuh wajahnya dengan tissue. Bayu dan Moses sudah dalam mode siaga untuk melerai sebuah perkelahian nanti, aku mengerti ancang-ancang mereka. Mereka perlahan mulai berbisik satu sama lain, sepertinya akan menghalangiku.

“Sejak kapan Aira manggil lo ‘kamu’ Ram?” Tanyaku kepada Rama dengan nada setengah marah. Rama hanya terdiam, dia menunduk dalam-dalam. “RAMA JAWAB GUE!” Aku teriak keras, semua orang yang ada di kafe tiba-tiba memperhatikan meja kami, tempat teriakkan berasal.

“Dim udah-udah sabar ya, ini kan bisa di omongin baik-baik.” Bayu dan Moses langsung berusaha meredam emosiku. Aku sudah tahu mereka akan melakukannya. Saka hanya terdiam sedari tadi, merunduk dalam-dalam seperti Rama.

Aku menyingkirkan tangan Bayu yang memegang tanganku. Aku mulai berdiri dan beranjak mendekati Rama. “Ram sejak kapan Aira manggil lo ‘kamu’?” Pertanyaanku kali ini lebih menekannya, dia hanya terdiam dan memalingkan wajahnya dariku. “RAMA JAWAB!” Aku memukulnya keras, dia terjatuh dari kursi kafe.

Saka berdiri dan beranjak menahanku. “Dim, Dim udah cukup.”

“APANYA YANG CUKUP! APANYA!” Aku mundur selangkah dan air mata jatuh begitu saja di ujung bola mataku. Aku menutup wajahku sendiri dengan kedua tanganku, entah apa yang kurasakan hari itu tapi aku hanya ingin menangis saja. Ya hanya ingin menangis. Meja kami menjadi pusat perhatian para pengunjung, dan aku masih saja menangis tidak karuan.

“Kita bisa omongin semua ini baik-baik Dim.” Saka mulai berusaha kembali menenangkanku.

“APANYA YANG PERLU DI OMONGIN!” Aku memukul Saka kemudian, aku sudah menahannya terlalu lama sejak tadi ketika lututku menjadi lemas karena kenyataan pahit ini. Saka kemudian membalas pukulanku, kami adu pukul. Tidak ada yang berani memisahkan kami, entahlah ini pertengkaranku dengan Rama tapi aku dan Saka yang saling pukul. Bayu dan Moses hanya terdiam tidak berkutik, sampai pada akhirnya mereka mulai berusaha memisahkanku tapi aku malah memukul mereka juga. Bagiku sudah tidak ada lagi yang bisa dibicarakan selain harus saling memukul dan terus memukul. Aku terpancing emosi, aku tidak bisa mengkontrol diriku sendiri, Rama adalah sahabatku tapi dia sekaligus perebut cinta pertamaku.

Bukankah sakit ketika mengetahui seseorang yang kita suka diambil oleh sahabat kita sendiri. Bukankah sangat menyesakkan, sangat menyiksa. Kita tidak bisa berbuat apa-apa selain membenci mereka, mereka yang katanya rela berkorban apapun untuk kita, yang selalu ada untuk kita disaat senang ataupun susah. Namun, semua perkataan dan nasihat mereka adalah sampah ketika mereka benar-benar menghianati kita di depan mata kita sendiri, bukankah begitu. Tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding disakiti oleh sahabat sendiri, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada ditusuk sahabat sendiri. Rasa sakitnya berlipat ganda, seperti sudah ditusuk lalu kemudian di pukul dengan gada tepat pada bagian dada. Remuk semuanya tidak bersisa, dan pada akhirnya akan mati rasa untuk jangka waktu yang cukup lama.

“Iya gue emang jadian sama Aira.” Celetuk Rama tiba-tiba yang sudah bangkit. Aku dan Saka berhenti memukul.

“KURANG AJAR TAHU NGGAK LO!” Aku kembali memukul Rama. Bayu dan Moses menarikku dan menjauhkanku dari Rama. “LO UDAH TAHU RAM GUE SUKA SAMA AIRA, LO JUGA UDAH TAHU SAK! TAPI KENAPA?!” Teriakku pada mereka, diriku sudah lepas kendali. Emosiku meluap, namun tetap saja air mataku jatuh.

“Nggak tahu, gue sayang sama dia.” Hatiku panas mendengarnya ketika Rama mengucapkan hal itu. Namun Bayu dan Moses kembali menahanku.

“Ram lo kalau mau bikin suasana makin panas mending lo pergi deh.” Sahut Bayu kepada Rama. “Udah lo tenang, lo sabar dulu ya.” Lanjut Rama sambil mengelus punggungku perlahan. “Mereka kan juga sahabat lo.” Jelas Rama kepadaku.

Aku menggeleng kuat-kuat. “Sahabat macam apa yang menghianati sahabatnya sendiri! Banci!” Teriakku sambil mataku membelalak ke arah Rama dan Saka.

Lututku tidak kuat untuk menahan berat badanku sendiri, aku terjatuh. Air mataku semakin membanjiri wajahku. Aku basah karena air mata, mungkin ini adalah patah hati terhebat yang pernah aku alami sepanjang hidupku. Setelah kepergian ayah kali ini sebuah penghianatan dari orang-orang yang aku sayang. Betapa menyedihkannya diriku ketika mengetahui bahwa orang yang paling aku percaya sama sekali tidak bisa membantuku keluar dari dalam sumur, malah menggali lebih dalam untuk menjatuhkanku.

Sekarang aku mengerti soal pelukan Aira untuk Rama ketika di ruang Theater UIN, pertanyaan Rama soal Aira yang sedang sakit atau tidak, soal Aira yang lebih dulu akan mencari keberadaan Rama ketika kami berkumpul. Aku mengerti semuanya, mereka memang sudah mempunyai perasaan satu sama lain sejak lama, dan aku? Ya aku hanyalah bagian terkecil dalam hubungan mereka berdua, aku hanya berada di tengah-tengah dan berangan-angan Aira akan membalas perasaanku dengan perasaan yang sama. Tapi pada kenyataannya tidak, Aira lebih menyukai orang lain daripada diriku, lebih nyaman dengan orang lain daripada aku. Penyesalan selalu datang dibelakang, ya penyesalan akan selalu datang dibelakang. Dan aku benar-benar menyesal tidak mengungkapkan semuanya kepada Aira lebih cepat daripada Rama. Alhasil jadilah aku, manusia merana yang patah hati karena cinta.

“Kalian semua kenapa sih?” Tanya Yuri tiba-tiba yang melihat meja kami ramai dengan orang-orang yang menonton. “Ya ampun Saka, Rama.” Yuri dan Aira bergegas menghampiri mereka dan aku hanya berdiam diri, tapi Bayu dan Moses berusaha menghalangi padanganku ke arah Aira dan Rama, mereka berdua tahu tidak seharusnya aku melihat Aira mengobati luka Rama. Klakson mobil bunyi bergantian, aku mendengarnya samar-samar. Suaranya seperti patah hati terhebat yang pernah ada.