Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

2.5 K Hak Cipta Terlindungi

Bagian Lima Belas - Penulis Amatir

Bagian Lima Belas - Penulis Amatir Bagian Lima Belas - Penulis Amatir

Sahabat, sekumpulan orang yang selalu menemaniku disaat-saat terpenting atau tidak penting dalam hidupku. Atau kadang mereka menemaniku saat senja tergelincir di balik bukit. Langit sore akan menerpa wajah kami dan mulai memperlihatkan keindahannya.

Aku selalu mempunyai tempat berbagi cerita bersama mereka, dengan mulutku yang terlalu tidak bisa diam, mereka siap memasang telinga untuk mendengarkan setiap ocehanku. Walaupun kadang setiap yang keluar dari mulutku selamanya tidak baik atau mungkin bisa menyakiti mereka. Sekumpulan orang-orang ini yang aku sebut sahabat, mereka adalah orang-orang yang membuat hidupku jauh lebih baik daripada sebelumnya. Membuat diriku jauh bertumbuh lebih dewasa daripada sebelumnya, kami sering berselisih paham, namun kami juga sering memberi masukkan. Ah, kami kadang menjadi begitu bodoh ketika tidak sengaja memaki satu sama lain, kemudian menjauh selama berhari-hari hanya karena salah satu dari kami tidak ada yang mau meminta maaf terlebih dahulu. Gengsi kami terlalu besar  untuk hal seperti itu, remaja labil yang belum mengenal artinya kasih sayang.

Jam dinding terus berputar, setiap detiknya aku terus menghitung sampai waktu kelulusan tiba. Ya, aku terus menghitung sampai waktu perpisahan tiba di depan mata. Aku hanya takut ketika perpisahan datang kepada kami bertujuh, tidak sempat ada upacara perpisahan atau ucapan selamat tinggal di balik pintu bandara atau stasiun. Saka katanya akan melanjutkan kuliah di Grouningen, Bayu dan Rama akan kuliah di Jogja, Moses akan bekerja sebagai seorang Graphic Designer, Aira dan Yuri kurasa mereka akan sepakat untuk menjadi seorang guru kelak. Dan aku? Aku tidak tahu kemana tujuanku selanjutnya ketika ini berakhir, aku belum memikirkan kemana aku akan pergi dan untuk apa aku kesana. Keraguan masuk UIN atau Monash University muncul seketika ketika keinginan untuk terus bersama para sahabatku menjadi momok yang menakutkan. Bagaimana kalau kami benar-benar tidak bisa bersama lagi? Gumamku. Biar kuberi tahu kalian sesuatu, yang paling menyakitkan dalam hidup bukanlah saat orang-orang pergi meninggalkan kita, namun ketika semua orang yang kita sayang menjadi tidak perduli lalu hilang dengan perlahan.

Aku pernah merasakan yang namanya kehilangan, rasanya menyakitkan. Seperti di pukul gada pada bagian dadamu, dan sesaat kau merasa sesak, tidak punya ruang untuk bernafas. Hanya ada suara parau dari mulutmu yang terengah-engah, yang berusaha untuk mencari udara, tapi sesaat kau sadar paru-parumu mulai retak dan hancur karena gada yang baru saja dihantamkan tepat dibagian dadamu. Kau makin sulit bernafas dan pada akhirnya semuanya menyerangmu, ketakutan-ketakutan akan kematian, dan juga semua hal yang berhubungan dengan kematian.

Bagiku, perpisahan atau kehilangan adalah kematian sesaat yang Tuhan sengaja berikan kepada kita saat kita sedang tak menginginkan rasanya kehilangan. Apa yang kau harapkan dari sebuah kehilangan terdahap orang-orang yang kau sayangi? Tidak ada, kita hanya selalu percaya dan yakin sambil terus berbisik Ini adalan jalan Tuhan yang terbaik, yang pernah Ia berikan. Bantinmu, tapi tanpa kau sadar perlahan dirimu hanyut dalam lingkaran waktu yang kau tidak pernah bisa ubah. Kau hanya terdiam berdiri tegak, sementara waktu terus membawamu ke tempat dimana keterpisahan selalu saja datang dan menyesakkan. Dan kau tidak akan pernah bisa mengulangnya kembali, akan selalu ada keputusan dan penyesalan disetiap kejadian yang Tuhan hadirkan dimuka bumi ini. Begitupun dengan keterpaksaan, untuk berpisah satu persatu mengejar mimpi yang belum sama sekali terwujudkan.

---

“Jadi akan terbit kapan Mba?” Tanyaku kepada Mba Ayin, seorang Senior Editor dari penerbit yang akan menerbitkan bukuku.

Mba Ayin tampak menimbang, jari telunjuknya dia sematkan di dagunya yang tidak terlalu runcing namun cukup indah untuk dilihat. “Akhir bulan ini ya.” Katanya singkat.

Aku tersenyum perlahan, dan kami menikmati makanan yang diantar pelayan kafe. Aku dan Mba Ayin tidak bertemu di Kantornya, karena dia bukan tipe orang yang terlalu serius. “Males kalau di kantor, nanti terkesan serius banget.” Katanya padaku ketika kami pertama kali janjian untuk ketemu. Mba Ayin adalah orang yang ramah, dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi sekitar 168 cm, dia mempunyai tubuh yang ideal untuk ukuran tinggi seperti itu. Perempuan simpel dengan kacamata minus berbentuk bulat.

Aku duduk dan mengobrol bersama Mba Ayin hingga petang, senja datang tanpa permisi masuk ke dalam kafe. Mba Ayin pamit terlebih dahulu karena ada urusan penting dirumahnya. Aku masih bertahan di kafe bilangan Tangerang ini, kalau aku tidak salah orang-orang menamai kafe ini dengan sebutan Whats Up Cafe. Aku menatap kesekitar, seperti biasa layaknya kafe-kafe pada umumnya, setiap menjelang malam selalu ada home band yang bernyanyi untuk menghibur para pengunjung. Empat orang berbaju hitam-hitam dengan fomarsi laki-laki tiga dan perempuan satu menaiki panggung. Mereka bernyanyi dengan begitu bersemangat, namun dari sekian banyak lagu yang mereka nyanyikan lagu mili Little Mix Secret Love Song mengalun dengan indah, dibawakan dengan versi akustik membuat pesan pada lagu ini lebih menyentuh maknanya. Aku menyukai lagu ini sejak lagu ini pertama kali muncul, seakan lagu ini hanya mereka ciptakan untuk diriku sendiri. Ah sangat amat syahdu, ada yang pernah bilang setiap lagu akan selalu membawa kita pindah ke tempat yang paling tenang. Dan aku merasakannya kali ini, tempat tertenangku, dalam pikiran yang paling dalam.

Selang beberapa menit sesaat aku masih menikmati lagu yang mengalun indah, ponselku berdering. Aku menlihatnya, tertera dengan jelas di layar ponselku nama itu. “Halo, kenapa Sak?” Tanyaku kepada Saka.

“Lo dimana?” Saka berbalik bertanya kepadaku.

“Hmm. Gue.. Gue di Ciputat.” Jawabku singkat. “Kenapa memangnya?”

“Kerumah Bayu sekarang ya, penting.”

“Ada apa sih?” Tanyaku mencoba memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

“Udah kesini dulu aja ya, yang lain juga udah disini kok.” Jelasnya. Lalu dia menutup telepon dengan cepat. Aku hanya terdiam, sambil menuju kasir dan membayar makanan, aku kemudian beranjak pergi. Dari nada bicara Saka sepertinya memang masalah ini penting, dan mungkin juga saatnya aku memberitahu perihal terbitnya bukuku.

---

Sesampainya dirumah Bayu, suasana sepi tidak ada apa-apa, hanya ada kendaraan milik ke enam sahabatku, kecuali Yuri karena Yuri dibonceng oleh Saka. Aku perlahan memasuki rumah Bayu, suasananya tidak terlalu ramai, dan lagi-lagi aku hanya melihat semua sahabatku.

“Ada apa sih?” Tanyaku masih mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Nih sahabat lo kelakuannya ada-ada aja!” Celoteh Moses tiba-tiba.

Aku melihat Bayu yang berantakan, dengan mata yang lebam dan juga keringat yang mengucur dengan deras. Seperti baru saja menangis. “Lo kenapa?” Tanyaku kepada Bayu yang masih segukan.

“Gue.. Gue..” Bayu masih mencoba menahan tangisannya dan akhirnya bicaranya malah jadi aneh.

“Dia diputusin sama Nisa.” Sahut Yuri.

Aku mengangguk perlahan, dan menatap Bayu dengan lekat. “Paham gue.”

“Cengeng lo! Diputusin aja nangisnya gitu banget!” Ejek Rama dengan wajah kesal.

Aku hanya terdiam, dan terus memperhatikan Aira yang hanya diam saja. Di antara kami bertujuh Aira adalah anak yang paling diam, dia selalu tidak memilih untuk banyak bicara, kecuali terhadap sesuatu yang dia tidak mengerti maka dia akan bertanya. Namun, itu yang kusukai dari Aira, saat ini berharap aku memeluknya erat.

“Lo nggak tahu sih Ram rasanya di giniin, sakit tahu.” Tangisan Bayu semakin kencang bersamaan dengan perasaannya yang terombang-ambing oleh rasa sakit hatinya.

Aku mencoba untuk mendekati Bayu, berusaha untuk menjadi pendengar nya yang paling baik. Sahabat akan selalu ada untuk sahabat lainnya, kapanpun dan dimanapun, kan? Karena itu sahabat selalu saja seperti keluarga kedua. “Cerita nya gimana lo bisa di putusin? Kurang ganteng? Kurang ngajak dia jalan-jalan? Atau kurang apa?”

“Dia bosen sama gue katanya Dim, katanya gue nggak bisa apa-apa. Punya sesuatu aja nggak. Dia malah milih laki-laki lain yang waktu itu jadi temen PKL nya.” Jelas Bayu masih dengan suara yang segukan. “Gue nggak tahu harus gimana, sakit tapi nggak berdarah. Patah hati itu udah kayak makan cabe sekilo, mending mati aja.” Lanjut Bayu.

“Hussh ngomongnya.” Aira mulai memukul kepala Bayu dengan bantal. Hal lainnya yang aku suka dari Aira adalah cara dia mengingatkan orang lain untuk selalu optimis.

“Nisa selingkuh Dim.” Sahut Rama masih dengan ekspresi kesalnya.

“Wah gila, berani banget dia selingkuh dari lo. Lo kan banyak kelebihannya.”

“Apa?”

Aku mencoba berpikir keras, mencari sesuatu yang istimewa dari Bayu. “Kalau pinter bohongin petugas TU biar SPPnya dimurahin itu kelebihan bukan sih?” Tanyaku ke yang lain. Yang lain menatapku heran, tapi mereka mengetahui maksudku berkata seperti itu.

“Kayaknya itu bisa disebut juga nilai tambah deh Dim.” Timpal Saka dengan tawa yang berada di akhir kalimatnya. Semuanya tertawa, dan Bayu hanya tersenyum. Walaupun hanya senyum tapi aku sudah bisa menebaknya, dia sudah mulai bisa bahagia kembali. Sahabat bukan hanya harus selalu ada, kan? Namun juga harus mengisi kekosongan satu sama lain, berbagi kebahagiaan dan kesedihan satu sama lain.

Aku menghentikan tawaku sejenak. “Ini alasan kenapa kita selalu bareng-bareng. Satu sama lain selalu ada saat bahagia ataupun sedih, kalau lo sedih bagi sama kita, kalau lo seneng bagi sama kita juga. Masa yang sedihnya aja dikasih.” Candaku kepada Bayu, Bayu mulai bisa tertawa kecil kali ini. “Masalah lo masalah kami juga, kita ada untuk bersama. Kalau lo nggak punya orang yang akan ngucapin ‘selamat malam’ dan ‘selamat tidur’ setiap malam, maka kami akan ada untuk membuat lo ngerasa semuanya malah jauh lebih baik kalau lo sama kita. Kita siap kok jadi pendengar yang baik.” Tutupku sambil menepuk pundak Bayu.

Dia tersenyum menatap aku dan yang lain dengan tatapan penuh harap. Terima kasih.

Kadang patah hati mampu membuat orang yang tadinya tegar menjadi lembek, menjadi tidak bergairah hidup dan seakan-akan kematian datang esok hari. Padahal kalau kita telaah lebih itu adalah cara Tuhan membuat kita menemukan kebahagiaan, Tuhan mematahkan hati kita dengan orang yang salah untuk menemukan orang yang benar. Memang begitu kan siklusnya, kadang kita selalu bertemu dengan orang yang salah terlebih dahulu, padahal mungkin orang yang kita anggap menyayangi kita saat ini hanyalah perantara bagi jodoh kita yang sebenarnya, bisa dibilang dia hanyalah nasib yang numpang lewat untuk menyakiti. Tapi takdirnya, Tuhan membahagiakan kita lewat cara-cara yang tidak pernah kita sangka.

Selalu ada rasa bahagia dibalik setiap kesedihan yang datang, dan selalu ada pertemuan dibalik setiap perpisahan. Dan dibalik semua itu hanyalah untuk membuat kita jauh lebih kuat.

---

Malam ini dirumah Bayu semuanya terasa seperti berbeda, aku merasa seperti lebih bahagia dari biasanya. Persahabatan ini terjalin begitu saja dengan cara yang sederhana, dan waktu begitu sangat bersahabat dengan kami. Perlahan mengajari kami arti kesetiaan dan juga arti bahwa setiap momen selalu berharga untuk dijalani. Persahabatan ada ketika kita rela berbagi kebahagiaan, kesedihan dan kegilaan dengan orang yang sama bukan?.

Malam ini bintang-bintang menampakkan dirinya, memperlihatkan bahwa langit malam benar-benar indah dan tidak ada salahnya menatapnya walau sejenak. Soal bintang aku ingat pesan ayah sebelum ia benar-benar pergi untuk selamanya. Kata ayah bintang itu selalu ada dan selalu bersinar di hamparan langit yang luas mereka tidak pernah menghilang. Namun ketika mendung, mereka hanya tertutupi oleh awan hitam, tapi sebenarnya mereka selalu ada ketika awan itu pergi. Dan sebagai manusia kadang kita harus bersikap layaknya bintang-bintang. Walau sesuatu yang gelap dan menyedihkan datang, kadang yang harus kita lakukan adalah selalu ada sampai pada akhirnya kesedihan atau gelap itu hilang. Berbagi dan terus berusaha untuk menghargai adalah sifat alamiah manusia, kita ada untuk saling merawat dan memperdulikan, kan?

“Kenapa nggak masuk penulis amatir?”

Aku menoleh ke arah suara itu datang, dan Saka berdiri disana dengan tegap. “Lagi lihat bintang.” Jawabku padanya.

Dia tersenyum lalu perlahan berjalan ke arahku. Dan akhirnya duduklah dua orang laki-laki yang menyukai bintang-bintang. Aku selalu suka memang ketika berada di rumah Bayu, beda dengan rumah sahabatku yang lainnya. Rumah Bayu mempunyai akses untuk langsung bertatapan dengan hamparan langit yang luas. Walaupun kadang aku merasa sendirian ketika menatap langit.

Ketika melihat keindahan yang Tuhan ciptakan untuk kita rawat dimuka bumi ini, pernahkah kau merasa sendirian? Seakan-akan tidak ada orang lagi selain kita di muka bumi. Aku pernah merasakannya, bahkan sering, kalau aku adalah orang terakhir yang berada di muka bumi. Ketika melihat hamparan keindahan langit yang luas, entah kenapa sepertinya pikiranku melayang jauh pergi ke tempat-tempat yang tidak bisa ku jangkau. Merasa sendiri ditengah kesunyian, ah itu masih tidak masalah daripada merasa sendiri ditengah keramaian. Kau tahu bahwa kau tidak hidup sendiri di dunia ini, duniamu begitu ramai dan berwarna. Namun disatu ketika, hatimu sunyi, pikiranmu kosong. Kau merasa hidupmu jauh lebih menderita daripada orang lain, disitulah kadang keramaian tidak cukup berperan penting dalam kesunyian. Lebih baik mengetahui diri kita benar-benar sendiri daripada harus menerima kenyataan kalau banyak orang yang ada bersama kita tapi tak ada satupun yang peduli.

Karena itu Tuhan menciptakan cinta, untuk membuat kita percaya. Dimanapun dan kapanpun kita tidak akan pernah sendirian. Persahabatan yang terjalin karena cinta, keluarga dan semua hal-hal yang membuat kita merasa bahwa kita tidak pernah sendirian. Ah, semuanya memang selalu seperti ini, hidup sepenuhnya soal mencintai dan dicintai. Walaupun kadang menyakitkan ketika mengetahui penghianatan datang secara tiba-tiba. Sungguh, rasa kecewa adalah penyakit yang paling membuat patah hati.

“Siap-siap ya.” Ujarku kepada Saka tiba-tiba.

Saka menoleh ke arahku, dengan wajah yang bertanya-tanya. “Siap apa?” Tanya Saka kepadaku.

“Lo akan punya temen penulis beneran.” Jawabku sambil tersenyum kecil kepadanya.

Saka kaget bukan main, wajahnya yang tadinya terlihat bingung kini menjadi senang bukan main. “Lo serius?” Aku mengangguk kepadanya, dia lalu memelukku erat. Lalu berteriak keras tentang kabar yang baru saja aku sampaikan kepadanya. Teman-temaku yang lain segera menghampiri kami berdua begitu mendengar soal berita ini.

“Makan-makan nih.” Celoteh Moses dengan tawa yang mengembang di ujung kalimatnya.

“Makan terus lo.” Timpal Bayu, matanya masih lebam karena menangis. Tapi senyumnya mulai menyungging begitu kabar ini sampai di telinganya, seakan dia menemukan sesuatu yang lebih penting daripada memikirkan Nisa. “Selamat ya, gue yakin lo bisa.” Ucapnya kepadaku.

“Jajanin ya? Keripik singkong sama es krim.” Yuri mulai berburu, Kalau ada kabar gembira dia adalah orang yang paling depan meminta sesuatu. Bukan dalam artian perhitungan tapi memang dia adalah perempuan yang dimanja oleh Saka, dan sifat manjanya itu menjalar ke 5 orang laki-laki yang ada di Sette.

“Siap.” Balasku kepadanya.

Aira hanya tersenyum, dalam senyumnya aku tahu dia mengucapkan doa kepadaku. Entah aku mendapatkan keyakinan itu darimana tapi aku tahu Aira pasti akan mendoakanku, entah doa untuk seorang sahabat atau doa untuk sang pujaan hati.

“Gue buat buku juga boleh nggak?” Tanya Rama kepada yang lain.

“Nggak! Nanti Dimas ada saingannya, lagian lo kan jago nya gambar bukan nulis.” Larang Yuri, sambil mencubit lengan Rama.

“Tapi lo bisa buat komik kok.” Sahutku kepada Rama. “Setiap profesi kan nggak ada larangannya, kalau memang lo mau jadi penulis nggak masalah tapi gue lebih suka lo jadi komikus. Coba deh jadi komikus.” Lanjutku.

“Lo takut kesaing sama gue?”

“Ya itu juga salah satunya.” Timpalku

Momen seperti ini akan hilang dan musnah 2 bulan lagi. Namun, malam ini kami bersenang-senang dan kami semua tertawa merayakan keberhasilanku sebagai seorang penulis. Dan akhir bulan nanti aku resmi menjadi seorang penulis profesional. Dari seorang penuis amatir yang mengabadikan setiap tulisannya di blog, kali ini beralih mengabadikan tulisannya pada sebuah buku.

Arifin Narendra Putra

Bagian Lima Belas - Penulis Amatir

Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project dipublikasikan 01 Maret 2017
Ringkasan
Lebih baik mengetahui diri kita benar-benar sendiri daripada harus menerima kenyataan kalau banyak orang yang ada bersama kita tapi tak ada satupun yang peduli.