Bagian Empat Belas - Nasihat Guru Matematika

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 2 bulan lalu
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

3.1 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Empat Belas - Nasihat Guru Matematika

 

Semuanya seperti mimpi, semuanya seperti halusinasi. Aku dan teman-teman sudah tiba di penghujung akhir sebuah perjalanan, sebuah pencarian jati diri. Fase-fase UN, UKK dan Ujian Praktek telah kami lewati, dan saat ini kami hanya tinggal menunggu saja pengalungan medali yang akan di kalungkan di acara wisuda nanti.

Walaupun sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar yang aktif bagi kami murid-murid kelas tiga, tapi kami diwajibkan untuk masuk mengikuti beberapa kegiatan seperti Class Meeting, Doa sebelum wisuda, Pentas Seni Dan acara-acara lainnya. Ya, hanya untuk menghormati adik kelas dan anggota OSIS yang sudah bersusah payah menyusun semua acara.

Aku masih terduduk di depan kelas, menatap ke sekeliling kelas dan luar kelas. Sambil berjalan perlahan menyusuri sekolah dengan perasaan yang asing. Entah, perasaan ini tiba-tiba saja datang begitu cepat, aku tidak pernah bisa menyangkal perasaan ini. Perasaan  yang membuatku enggan untuk lulus dari sini. Aku akan rindu masa-masa ketika aku pertama kali jatuh cinta dan menatap Aira dari kelas seberang sambil sesekali tersenyum kepadanya, aku akan rindu tingkah Office Boy sekolah yang sering berteriak untuk membantu membersihkan kelas tapi aku dan teman-teman kabur begitu saja. Aku akan rindu suara penyiar radio sekolah yang sedikit “imut” namun membuatku menjadi bersemangat pagi hari, karena yang terjadi adalah kami menertawakan suara pernyiar itu.

“Ini orang suaranya di imut-imutin ya.” Kata Saka yang biasanya akan mulai membuat bahan untuk menertawakan sang penyiar. Penyiar radio sekolah adalah murid yang sama satu sekolah denganku, namanya Santi. Dia manis tapi suaranya yang seperti tikus kejepit lemari lebih sering menjadi bahan olok-olokkan teman-teman yang lain.

Aku melempar diriku ke sofa yang ada di ruangan TU, tanpa sadar aku sudah berada di lantai satu. Karena sebagai kakak kelas yang tidak punya kegiatan atau sangkut paut lagi dengan sekolah, kami bebas melakukan apapun asal masih batas wajar. Aku menghela napas panjang sambil memikirkan banyak hal. Nantinya banyak yang akan aku rindukan dari sekolah ini, terlalu banyak kenangan yang harus di buang. Namun hidup memang selalu begitu, kita tidak akan pernah bisa memaksa mengeratkan pegangan, ketika Raja Alam Semesta sudah berkata Waktunya berpisah. Maka seluruh penjuru dunia, dari mulai tumbuhan, langit-langit, tanah, dan apapun yang ada di Semesta akan takluk dan menyetujuinya. Sebenarnya Dia tidak perlu sebuah persetujuan, semua yang Dia tuliskan di buku takdir pasti akan selalu membawa kebaikan. Aku selalu percaya itu. Dan perpisahan mungkin adalah cara paling baik yang pernah ada.

Pertemuan adalah sebuah bukit yang indah, dan perpisahan adalah sebuah bukit yang longsor terkena hujan. Selalu ada rasa yang amat sangat menyakitkan ketika perpisahan datang secara tiba-tiba atau direncanakan. Selalu saja ada hal yang tidak kita terima sebagai manusia, padahal apa yang Tuhan rencanakan jauh lebih indah dari apa yang sedang kita rencanakan. Memang tidak selamanya kita bisa menerimanya sebagai manusia, tapi Tuhan selalu punya cara agar kita mau menerimanya. Dengan ikhlas.

“Kamu nggak masuk kelas?” Seru Bu Eva yang tiba-tiba datang dari arah pintu masuk.

Seketika aku langsung sedikit menegakkan badan. “Nggak bu, lagi mau jalan-jalan aja.” Jawabku singkat.

“Oh.”

Aku mengangguk perlahan. Hal yang paling aku kagum soal Bu Eva adalah dia pintar matematika, tapi kebiasaan pelupanya tidak pernah hilang, itu adalah hal paling menyebalkan yang bu Eva miliki. Tuhan itu memang Maha Adil, menciptakan kelebihan dengan kekurangan, panas dan dingin, kanan dan kiri, atas dan bawah. Semuanya seimbang, maka kalau harus mendurhakai Sang Raja Alam Semesta maka dengan sangat takut dan menunduk aku tidak akan pernah berani.

“Kamu nggak masuk kelas?” Kebiasaan bu Eva kali ini muncul kembali. Shor-Term Memory Loss.

“Iya.” Ketika kebiasaan bu Eva mulai kumat biasanya yang akan aku lakukan hanya menjawab seadanya dan membuat dia mengalihkan ke topik pembicaraan yang lain.

“Loh kok iya, kan ibu nanya kamu. Di jawab yang bener dong!” Nada bu Eva mulai meninggi.

“Kan saya sudah jawab bu.”

“Apaan?” Tanya Bu Eva.

“Iya.” Jawabku singkat.

“Arggghhh bukan gitu jawabnya.” Keluh bu Eva semakin menjadi.

“Terus?”

Bu Eva hanya memasang wajah kesal dan cemberut padaku, walaupun dia seorang guru yang sudah cukup senior di sekolah. Namun tingkah dan kelakuannya kadang seperti anak kecil. Kadang dia bisa menjadi lebih manja dari anak muridnya atau malah menjadi sangat garang daripada anak muridnya.

Aku masih memperhatikan Bu Eva yang masih terdiam kesal kepadaku, dia hanya melipatkan tangannya lalu memasang wajah yang garang. Seperti Singa yang setiap waktu bersiap untuk menyergap mangsanya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Ah, mungkin keadaan seperti ini yang akan aku rindukan juga, kerinduan sederhana kepada guru matematika. Apa kabar guru-guru nanti ketika aku sudah lulus dan keluar dari sini, bagiku sekolah bukanlah sebuah institusi pendidikan, tapi sebuah rumah, tempat bermain sekaligus tempat bercocok tanam sepuasnya. Seandainya waktu bisa diperlambat, maka dengan sangat amat memohon aku akan dengan sengaja memperlambat setiap momen-momen kenangan yang tercipta secara tidak sengaja di sekolah ini. Momen-momen paling membahagiakan yang pernah ada, dan akan selalu aku ingat sampai tua nanti.

Kadang kalau boleh jujur, aku lebih suka sekolah daripada pendidikan. Sekolah adalah Platform, pendidikan adalah sebuah sistem. Aku tidak menyukai pendidikan karena sistem yang masih kopong, di Indonesia sendiri pendidikan bukan hanya menjadi ajang pamer soal ilmu tapi juga menjadi ajang transaksi. Ah, ayolah aku sudah pernah melihat beberapa orang mendirikan sekolah dengan dalih membuat anak bangsa pintar dan cerdas dengan pendidikan tapi pada kenyataannya ketika izin belum pemerintah keluarkan untuk sekolah itu sang pendiri atau bisa dibilang orang yang berteriak lantang soal kesejahteraan ilmu malah pergi dan membawa kabur uang SPP atau uang Masuk siswa.

Banyak orang yang bilang “Pendidikan itu akan mengubah nasib suatu bangsa.” Aku tidak ada permasalahan dengan kalimat itu, tapi mungkin harus kita perjelas ulang. Pendidikan yang seperti apa? Kalau yang kita lihat saat ini banyak institusi pendidikan yang menjadikan pendidikan sebagai bisnis. SMP kelas 2 seorang guru olahragaku berkata sesuatu di kelas sambil membawa setumpuk lks pembelajaran.

“Nih Bapak bawa LKS, harganya Rp. 10.000.- kalau beli sama Bapak, tapi kalau beli sama sekolah harganya jadi Rp. 15.000.- dan kalau beli sama Bapak akan mendapatkan nilai tambahan.”

Kadang yang seharusnya dilakukan adalah membuat anak-anak minat terhadap pelajaran, kan? Kadang aku merasa miris, namun kadang aku bersikap realis, aku tidak punya daya kekuatan apapun untuk mengubah pendidikan jauh ke arah yang lebih baik. Namun lewat tulisan, lewat sastra. Aku bisa berbagi cerita, berbagi pengalaman dan kreatifitas. Dan berharap generasi Indonesia tumbuh dengan cara yang berbeda. Setiap orang selalu punya cara yang berbeda untuk mengubah Indonesia, kan? Kalau memang lewat pendidikan adalah cara yang tidak bisa diterima kebanyakan anak dan akhirnya mereka menjadi brandal dan tawuran, mungkin lewat cerita dan pengalaman akan jauh lebih baik membentuk pola pikir.

“Kamu suka ya sama Aira?” Ujar Bu Eva yang selama hampir kurang setengah jam terdiam dan ketika berbicara menanyakan hal yang aneh menurutku.

“Kok tiba-tiba?” Tanyaku kepada bu Eva.

“Udah ibu tahu kok Dim, dari ekspresi kamu waktu di UIN ketika Aira lebih memilih memeluk Rama daripada kamu. Dari situ sudah kelihatan kok kalau kamu cemburu.” Jelas bu Eva yang tanpa sadar ternyata memperhatikanku.

“Itu cuma salah paham aja bu, pelukan persahabatan.” Kataku. “Lagipula Aira kayaknya juga tahu kok saya suka sama dia, dan kayaknya Aira juga suka sama saya.”

“Masa?” Aku mengangguk ragu, karena sampai sekarang walaupun aku dan Aira sudah dekat bahkan lebih seperti sepasang kekasih tapi aku dan dia belum sama sekali menyatakan perasaan masing-masing. “Kenapa bisa seyakin itu?” Tanya Bu Eva.

Aku menaikkan bahuku. “Nggak tahu, yakin aja. Kita harus percaya dong kalau cinta selalu akan pulang ke tempat yang tepat.” Kataku berdalih.

“Pinter juga kamu ngelesnya.” Bu Eva mulai sedikit bisa menerima jawabanku. “Tapi kalau tempat pulang Aira itu Rama gimana?”

Aku tersentak. “Nggak boleh.” Aku mulai merapikan dasiku.

“Loh kok nggak boleh kenapa?”

“Ya nggak kenapa-kenapa, pokoknya nggak boleh. Tempat pulang Aira harus saya bu.” Kataku dengan semangat 45.

Bu Eva hanya terdiam memperhatikanku, sebuah senyum mengembang di bibirnya. Aku melihatnya, ini pertama kalinya aku melihat senyum bu Eva yang paling manis yang pernah ada. “Kamu tahu nggak kenapa setiap orang harus mengutarakan maksud hatinya?” Aku menggeleng dengan pertanyaan bu Eva yang sepenuhnya belum aku mengerti, bu Eva hanya tersenyum. “Dimas, kalau kamu memang menyukai Aira, jujur saja sama dia kalau kamu suka. Masalah kamu diterima atau nggak adalah urusan belakangan. Kalau kamu terus-menerus menyimpan perasaan itu dalam-dalam, perasaan itu akan berkecamuk dalam hati kamu dan mengobrak-abrik sebagian diri kamu dan akhirnya keegoisan kamu akan muncul.” Jelas bu Eva sambil memegang pundakku pelan.

“Egois?”

“Barusan kamu egois. ‘pokoknya tempat pulang Aira harus saya, nggak boleh orang lain.’ Paham nggak?” Aku terdiam, rasa malu mulai menjalar ke seluruh diriku. “Tuhan itu menuliskan Jodoh, Rezeki, Maut secara rahasia. Nggak ada satupun manusia di muka bumi ini tahu dengan pasti ketiga hal tersebut. Kalau misalnya kamu berjodoh dengan Aira, kalau tidak? Kamu mau memaksa kehendak Tuhan?”

Aku menggeleng perlahan.

“Cinta itu layaknya rumus matematika, kalau nggak pandai dalam penyelesaian rumus-rumus yang ada maka kamu akan tersesat dan mendapatkan hasil yang salah. Ujung-ujungnya, mencontek atau menjadi gila sendiri karena tidak bisa menyelesaikan soal.” Bu Eva mulai menatapku lekat, tangannya masih berada di pundakku namun kali ini sambil menepuk perlahan. “Kalau kamu suka sama Aira, nyatakan saja. Kamu nggak akan tahu sebelum mencoba, jangan berubah menjadi monster egois, penerimaan kamu terhadap setiap keputusan Aira adalah kebijaksanaan yang seharusnya kamu punya sebagai seorang manusia. Kita manusia adalah makhluk yang derajatnya paling tinggi, jadi jangan mau kalah sama hewan.” Tutup bu Eva, walaupun dengan kalimat akhir yang cukup menyakitkan.

Tapi semua itu benar, sekarang atau tidak sama sekali. Suatu saat nanti kalau aku berlama-lama menyatakan semuanya terhadap Aira, Aira akan menjadi milik orang lain dan aku akan menjadi monster yang menghalangi kisah cinta Aira dan kekasihnya, hanya karena aku tidak ingin Aira punya tempat pulang selain aku.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    2 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Ada keseruan tersendiri dari tulisan Arifin ini. Masih menyambung dari bagian berikutnya, bagian ke-14 ini terbaca asyik dan memunculkan banyak rasa; ada sedih, lucu, lega dan bijak. Inti penggalan ini adalah tentang perasaan si narator yang hendak lulus SMU. Ia mewakili banyak rasa orang yang hendak meninggalkan bangku sekolah. Segala kenangan indah yang pasti akan sangat membekas dan sedih untuk ditinggalkan.

    Kedekatan si tokoh dengan bu guru Eva dijadikan oleh Arifin sebagai salah satu bumbu yang asyik. Salah satu hal dalam masa sekolah yang akan membawa angan pembaca kembali ke masa itu. Hubungan keduanya merambah ke ranah pribadi yang membuat si tokoh utama belajar menghadapi perasaannya ke Aira. Teknik penuturan Arifin yang mengalir runut dan enak dinikmati membuat cerita ini terasa istimewa bahkan mengetengahkan kejadian yang normal terjadi dalam keseharian kita. Ia membuktikan kisah sehari-hari bisa jadi materi bagus untuk diceritakan kembali menjadi fiksi.