Bagian Tiga Belas - Angin Sore Menerpa Wajah Kita

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 26 Februari 2017
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

5.3 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Tiga Belas - Angin Sore Menerpa Wajah Kita

“Cerita lo bagus, kenapa belum di terbitin juga?” Tanya Aira dengan nada manja. Suasana kota Depok hari itu benar-benar sedikit panas, aku mulai mengipas-ngipas diriku sendiri dengan kipas bambu yang aku beli di pasar tadi pagi. Aira masih memperhatikanku dengan seksama, matanya mulai menyipit melihatku yang tampak terbanjiri keringat dan mulai gugup menjawab pertanyaannya. “Kenapa nggak dijawab?”

Seketika aku memajukan diriku kepada Aira, akhirnya mata kami menatap satu sama lain. Teras depan rumah nya yang mulai sejuk karena baru saja keponakan Aira tiba-tiba menaruh kipas angin tepat di muka pintu rumah. “Ada yang masih nyangkut di penerbit, tapi ada juga yang belum selesai.” Kataku halus, aku lalu kembali menyenderkan badanku di bangku empuk milik Aira.

Siang itu aku memutuskan untuk main ke tempat Aira, sekedar kembali mendekatkan diri dengannya. Kejadian waktu di UIN membutakan mataku, seharusnya aku sadar bahwa aku dan Rama adalah sahabat yang terbentuk secara sadar bersama, dan kami tidak mungkin menghianati satu sama lain. Dan aku tahu Rama bukan orang yang ingin melukai sahabatnya sendiri. Kata Saka “jangan pernah membiarkan diri kita terombang-ambing karena keegoisan kita melihat sesuatu, ada hal yang mungkin jauh lebih baik yang sengaja tertutupi, Rama juga tahu kok lo suka sama Aira. Nggak akan mungkin dia berani berkhianat sama lo.”

Aku hanya mengangguk waktu itu sambil terus percaya bahwa kami bertujuh memang berjalan berlandaskan persahabatan.

“Kenapa nggak lo selesain?” Pertanyaan Aira kembali membawaku kepada kenyataan. Siang bolong yang mengesalkan dan juga pertanyaan yang menohok dengan tiba-tiba.

Aku menoleh sebentar ke arah Aira kemudian menatap awan setelahnya. “Gue kehabisan bahan.”

“Bisa juga ya?”

“Maksudnya?”

“Ya, masa penulis kehabisan bahan.” Kata Aira polos tidak tahu menahu soal apa yang dia maksud.

Aku menghelas nafas panjang. “Penulis kan juga seorang manusia, pasti ada masanya ide hancur seperti besi yang di lebur oleh panas, ada masanya ide akan habis seperti bak yang tidak ada airnya sama sekali.” Aira terdiam terus memperhatikan, Ah, aku selalu suka ketika tatapan matanya mulai manja dan kepalanya di miringkan sedikit ke arah kanan. Aku tersenyum kepada Aira kemudian menunjuk kipas angin yang ada pada muka pintu rumah. “Seperti kipas itu kalau tidak ada listrik yang membuatnya bekerja apa yang akan terjadi?”

“Tidak berfungsi.”

“Seperti itu juga ide, menulis kadang juga soal membuat semua akal pikiran dan perasaan kita berfungsi dalam jangka waktu yang kita tentukan sendiri, ketika listrik mulai menyambar kita akan mulai menulis lagi, tapi ketika listrik padam kita akan berhenti menulis sampai daya listrik itu cukup kuat untuk kemudian menemukan ide-ide baru, gagasan baru dan memulai sebuah cerita baru.” Tutupku.

Aira masih menatapku dengan wajah polos, cinta memang selalu membuat setiap hal yang kita punya menjadi sepuluh kali lipat lebih indah dibanding aslinya. Aira, ketika dia mulai tersenyum padaku, selalu ada detak yang perlahan menggebu dengan sendirinya, selalu ada gemetar yang cepat, selalu ada senyum yang terbesit di bibirku. Selalu ada wajah dan sikap manja itu, aku menyukainya ketika dia benar-benar sedang menatapku dengan senyuman manis itu.

Dia melihat kipas angin yang tadi aku tunjuk kemudian menatapku, dia terus mengulanginya sampai beberapa kali kemudian dia mulai berdiri. “Lo tahu, kipas ini sudah rusak dulunya. Kabel-kabel yang ada di dalamnya sudah putus satu persatu dan sudah tidak layak untuk digunakan lagi, lihat badan kipas ini berbeda warnanya dengan si kepala.” Aira berjalan menghampiri kipas itu.

Aku masih terdiam, berusaha menangkap apa yang ingin Aira sampaikan.

“Ayah merakit ulang kipas angin ini agar bisa berfungsi dengan baik, artinya bukan aliran listrik yang membuatnya kembali berfungsi, maksudnya nggak sepenuhnya aliran listrik. Tapi tangan Ayah yang membuatnya kembali mempunyai kesempatan untuk bisa berfungsi lagi.” Aku menaikkan salah satu alisku, kemudian dia menatapku. “Artinya lo itu bukan kehabisan ide, lo hanya tidak bisa menjadi kreator yang baik.” Aku tersentak, itu pertama kalinya Aira mengucapkan hal seperti ini padaku. Aira yang seorang penyuka angka dan bercita-cita menjadi guru matematika bisa sampai berpikir bahwa aku bukan seorang kreator yang baik. “Yang harus lo lakukan bukanlah menunggu ide itu datang, buat gue ide adalah kesadaran kita pada gelombang-gelombang theta dan alpha yang ada pada otak kita, ketika mereka bersinergi menjadi kumpulan gagasan yang menguap dan bersiap untuk di keluarkan. Ini adalah tentang bagaimana lo merakit ide itu sendiri, lo harus berusaha untuk mengelola ide itu menjadi layak untuk digunakan.” Jelasmu.

Aku masih terdiam dengan apa yang baru saja dia katakan, bagaimana bisa? Batinku mulai meneriaki diriku sendiri. “Penulis itu buat gue adalah pemuja dan perakit kata-kata, karena mereka adalah seorang pencerita yang berada di balik tulisan. Sekarang gue tanya siapa penulis pertama di dunia?”

“Murasaki Shikibu.” Sahutku singkat.

“Nah sekarang sudah ada berapa novel yang ada di dunia ini?”

“Jutaan, bahkan milyaran.”

“Nah artinya penulis hanya perakit kata, menggabungkan kata-kata yang sudah ada kemudian di tulis kembali.  Lo nggak pernah kehabisan ide, lo hanya lupa caranya merakit sebuah cerita.” Dia semakin terlihat pintar ketika sedang menasihatiku seperti sekarang ini, dari kerudung merah muda yang dia gunakan seakan-akan keluar bau wewangian yang sangat tajam menelusup ke indra penciumanku. Ahh, dia selalu saja begitu, membuat diriku tak berkutik di depannya.

“Gue beruntung ya.” Aku tertawa kecil di ujung kalimatku.

Dia mulai merapikan kerudungmu yang sedari tadi tertiup kipas angin. “Kenapa? Lo pikir gue nggak tahu ya masalah seperti ini, yang gue tahu hanya tentang matematika aja?” Aku mengangguk, Aira tertawa cukup keras. “Gue dulu pernah nulis puisi untuk sebuah majalah Dim.”

“Oh ya?” Sontak aku mulai penasaran ketika Aira mulai mengatakan hal itu.

Dia tersenyum licik, wajahnya mulai membuatku curiga setengah mati. “Memang lo doang yang bisa buatin gue puisi.” Perlahan dia beranjak ke dalam rumah, meninggalkanku dalam kebingungan yang amat mendalam. Ya waktu itu aku pernah membuatkan Aira sebuah puisi, puisi pertamaku untuknya. Selang beberapa saat Aira mulai kembali membawa sebuah majalah tebal berwarna cerah. “Dulu puisi ini gue buatkan untuk seseorang yang barangkali akan membersamai gue di masa depan, semacam permintaan kepada Tuhan untuk mempertemukan gue dengan jodoh yang sebenarnya.” Dia mulai menjelaskan, aku mulai berpura-pura tidak tahu apa yang dia maksud. Aku mulai membacanya dengan seksama.

 

Kepada takdir, manusia mempunyai jalan yang tidak terduga.

Manusia dicipta untuk merasa, untuk meraba, untuk mencinta.

Aku pergi ke ujung laut tapi tak menemukan apa-apa.

Aku pergi ke dataran tinggi dan tetap tak menemukan apa-apa.

Kemana perasaanku jatuh?kemana tanganku akan meraba? kemana aku mencinta?

 

Kepada takdir, manusia mempunyai jalan yang tidak terduga.

Manusia dicipta untuk merasa, untuk meraba, untuk mencinta.

Bumi terlalu luas untuk ku jelajahi, langit terlalu tinggi untukku terbangi.

Lautan terlalu dalam untukku selami, dan pikiranku terlalu dangkal untuk meratapi.

Datang darimana perasaanku? Datang dari mana semua itu? Cinta dan ketulusan?

 

Kepada takdir, manusia mempunyai jalan yang tidak terduga.

Manusia dicipta untuk merasa, untuk meraba, untuk mencinta.

Aku terjatuh di lembah penuh laba-laba, merangkak layaknya katak yang kehilangan mata.

Aku menemukan berlian, intan tapi semuanya sudah menjadi abu.

Lalu bagaimana perasaan ini bisa jatuh? Darimana semua ini akan berawal

 

Kepada takdir, manusia mempunyai jalan yang tidak terduga.

Manusia dicipta untuk merasa, untuk meraba, untuk mencinta.

Inikah perjalanan rasa itu? Penuh misteri dan ketakutan yang sangat amat dalam.

Aku kedinginan, menggigil, seluruh tulangku beku, sebaris gigiku menggigil.

Cinta datang karena rasa, Tuhan mencipta karena makna.

Bahagia datang secara tiba-tiba, memelukku dari keheningan malam bersama rembulan.

 

Kepada takdir, manusia mempunyai jalan yang sudah pasti dan tercatat.

Manusia tidak dicipta untuk merasa, untuk meraba, untuk mencinta.

Manusia berjalan dengan kedua kakinya dan patah di tengah jalan.

Kesadaran mulai menelusup ke hati dan pikiranku.

Manusia diciptakan hanya untuk menunggu yang sudah tercatat.

---

Aira tersenyum memperhatikan mataku yang berkaca karena tidak kuat lagi menahan semuanya, perlahan senyumnya menjadi tawa yang keras. “Lo nangis?” Dia mulai merunduk melihat ekspresi sedih ku yang tak karuan. “Kok nangis, kayaknya gue yang lebih berbakat jadi seorang penulis deh.” Aira tertawa lagi, kali ini lebih keras

Aku terdiam sejenak, menyeka perlahan air mataku. “Gue cuma akting aja, biar lo senang. Biasa aja.” Kataku sambil tersenyum licik padamu.

Dia memperhatikanku kesal, jelas saja dia amat tidak nyaman dengan apa yang baru saja kukatakan. “Lo  ya dasar, jahat!” Aira berlari ke arahku lantas memukulku dengan cukup keras, kami mulai berlari, bermain kejar-kejaran layaknya film-film india di televisi. Bunga-bunga seakan sedang terjatuh di tempat kami berlari, tertawa dan melompat dengan sangat bersemangat. Aira, barangkali ini yang namanya mencinta, menemukan rasa paling bahagia ketika meihat seseorang yang kau sayangi tertawa dengan cukup tulus untuknya.

Manusia dicipta untuk merasa, untuk meraba, untuk mencinta. Dan Tuhan, kami masih mau bahagia kok, lebih dari ini.

Sejenak angin sore hari itu  menerpa wajahku dan Aira, semua masalah hilang seketika, termasuk masalah Rama. Ya, soal pelukan itu.