Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

2.6 K Hak Cipta Terlindungi

Bagian Dua Belas - Dua Hari Tujuh Malam

Bagian Dua Belas - Dua Hari Tujuh Malam Bagian Dua Belas - Dua Hari Tujuh Malam

“Dimas.” Panggil ibu yang sedari pagi tadi terus mengetuk pintu kamarku berulang kali. Hari ini hari libur sekolah dan aku tidak berniat kemanapun, aku tidak bisa tidur semalaman karena terus terpikir soal Aira. Ya, pelukan itu membuatku menjadi merana sepanjang malam, membuatku kesal sekaligus tidak percaya. Tapi aku hanya bisa menahan semuanya, aku tidak mau semuanya hancur karena sesuatu yang belum pasti. Rama belum tentu mencintai Aira, dan Aira pun begitu, bisa jadi semuanya hanyalah rasa sayang antar sahabat. Mungkin ini risiko mencintai sahabat sendiri, harus bisa menahan rasa sakit yang datang secara tiba-tiba.

“Ada apa bu?” Tanyaku setelah membukakan ibu pintu.

“Itu di luar ada Kirana sama mamahnya.”

Aku tersentak. “Ngapain mereka ke sini bu?” Tanyaku dengan nada yang mengisyaratkan ketidaksetujuan. Aku merasakan firasat buruk.

“Kalau ibu ada perlu sama mamahnya Kirana, nah selama ibu menjalankan urusan sama mamahnya Kirana. Kamu ajak Kirana jalan-jalan ya.” Seru Ibu dengan santainya.

“HAH! Kenapa harus aku?”

“Ya masa Ibu sih Dim.”

Aku menggeleng kuat-kuat, lalu berusaha untuk melanjutkan tidur. “Aku nggak mau, mending tidur.” Kataku kepada ibu.

“Harus mau.”

“Nggak.”

“Kamu mau ajak Kirana jalan-jalan atau uang jajan kamu ibu potong selama 6 bulan?”

Aku berdiri, dan mulai bersiap-siap untuk mandi dan membersihkan badan. “Iya-iya aku ajak dia jalan-jalan.” Sahutku kesal dan berjalan ke kamar mandi. “Curang.” Lanjutku.

“Siapa suruh jadi anak.” Kata Ibu sambil tertawa puas.

Pagi hari yang menyebalkan, sangat menyebalkan. Kalau aku mengetahui bagaimana caranya merakit bom nuklir atau bom apapun. Hari ini aku ingin meledakkan rumahku sendiri. Layaknya Hiroshima dan Nagasaki yang hancur berantakan.

---

Aku tidak punya pilihan lain selain mengajak Kirana pergi jalan-jalan sebentar. Aku tidak ingin mempertaruhkan uang jajanku selama enam bulan dipotong begitu saja oleh ibu. Lagi pula, kalian pasti mengerti seorang anak sekolah tanpa uang jajan maka hidupnya akan sedikit hampa. Oh ayolah, jajanan itu adalah teman kami, semua rasa manis dan juga rasa pedas bercampur menjadi satu di warung Mbo Ana. Tak ada yang bisa kulakukan selain meminta kepada ibu, tulisanku belum juga mendapatkan kabar, sebelum tulisanku mendapat kabar aku akan dengan sengaja menjadi anak manja yang menangis dan merengek minta uang ketika sudah habis.

Aku mengajak Kirana ke Zoe Cafe, tempat kesukaanku untuk menyendiri, aku dan teman-teman pun sempat makan disini beberapa waktu yang lalu. Ketika melihat suasana tempat ini, pikiranku melayang kepada sosok Aira. Seorang perempuan yang dengan sengaja aku jatuh cinta padanya, namun kejadian waktu itu dengan Rama tidak akan pernah bisa kulupakan, walaupun berkali-kali aku meyakinkan kepada diriku sendiri bahwa itu hanyalah sebuah pelukan persahabatan, tapi tetap saja kadang hati nuraniku menolaknya. Hati nuraniku berkata lain, dia berkata seakan-akan semuanya menjadi salah mereka berdua, aku tidak tahu persis bagaimana semua ini terjadi. Namun yang jelas, hatiku patah, seperti sebuah balok kayu yang di hajar dengan gada yang besar. Yang dengan begitu mudahnya mematahkan sang balok. Mungkin Tuhan ingin mengujiku, tapi bukankah ini keterlaluan? Bukankah Tuhan selalu memberikan ujian tidak melebihi kemampuan hambanya? Entah, tapi aku merasa kali ini aku tidak bisa menopangnya sendiri, membawa beban seberat ini dalam pundakku.

“Lo sering makan disini?” Pertanyaan Kirana mengembalikan aku ke kenyataan.

Aku mengangguk lemas.

Kirana mengernyitkan dahinya. “Kenapa lo lemes banget?” Aku menggeleng, tidak berniat memberitahukan apapun padanya. “Oh ya inget ya, gue mau lo ajak jalan kayak gini bukan berarti gue setuju sama perjodohan kita.”

“Gue paham kok.” Sahutku santai.

Kirana hanya menatapku heran, mungkin dia mengira tidak seperti pertama aku dan dia bertemu. Sifatku yang keras dan menolak keras kepada perjodohan ini bahkan ketika mendengar kata ‘perjodohan’ maka dengan secara otomatis emosiku akan memuncak dan membuat satu komplek panik dengan kemarahanku. Tak selang beberapa lama, makanan yang kami pesan datang juga. Kirana memesan nasi goreng dengan toping sosis dan bakso, sedangkan aku memesan Spaghetti Bologna. Aku suka dengan Spaghetti, walaupun tidak terlalu sering memakannya, menurutku Spaghetti adalah makanan Italia yang paling enak dibandingkan Pizza. Entah kenapa, tapi mungkin untuk Pizza, lidahku sedikit menolaknya.

Aku dan Kirana menyantap makanan kami dengan tenang, suasana Zoe Cafe yang menawarkan ketenangan pun menjadi suasana yang sesuai. Dari lantai dua, pemandangan langsung ke jalanan membuat para pengunjung bisa menikmati kemacetan kota, atau mungkin melihat pemandangan anak SMP yang berjualan tisu di lampu merah. Mungkin bagi kebanyakan orang pemandangan seperti ini adalah pemandangan yang basi dan tidak cocok untuk dilihat. Namun bagiku semua ini menyenangkan, bahkan semua ini mengajariku sesuatu, soal impian seorang anak yang tergantung di sela-sela pikiran mereka dan tidak berhasil mereka wujudkan, soal bagaimana setiap orang saling ejek karena kemacetan, soal motor yang tidak pernah mau mengalah kepada mobil, soal pedagang kaki lima yang ditangkap satpol pp. Bagiku semua itu adalah hal yang sering tidak kita pedulikan, yang dengan senang hati harus kita bantu semampu kita.

Beberapa bulan yang lalu ketika aku sedang menulis dengan tenangnya, seorang anak berteriak “JANGAN PAK! JANGAN” Katanya kepada petugas Satpol PP yang dengan paksa merampas barang dagangannya. Aku yang melihat kejadian itu langsung turun dan berusaha merayu petugas agar tidak menyita barang sang anak. Mereka melepaskannya, tapi dengan satu syarat sang anak tidak boleh lagi berjualan di sekitar daerah Zoe Cafe. Aku mengiyakan, mencoba mencari titik aman, selepas itu aku mengajak sang anak untuk makan bersamaku dan yang ku tahu namanya adalah Fajar. Seorang anak yang memperjuangkan seluruh biaya sekolahnya kepada dagangannya, ayahnya telah meninggal dan ibunya berjualan gorengan di pinggiran stasiun Depok. Mereka berdua selalu seperti ini, berpisah, nantinya ketika Isya tiba, mereka akan bertemu di stasiun lalu pulang bersama. Banyak yang Fajar ceritakan soal ayahnya, ibunya dan juga impiannya. Aku menatapnya lekat-lekat, bagaimana bisa kita tidak peduli kepada mereka, padahal semua kekayaan dan harta berlimpah yang kita punya 2,5% nya adalah milik mereka, orang-orang yang membutuhkan. Oh ayolah, 2,5% dari hartamu tidak akan pernah membuatmu merugi, atau mungkin hartamu malah akan bertambah lewat keikhlasan yang kau bagi dengan sesama.

“Aku punya mimpi Om.” Dia memanggilku om, padahal aku masih SMK.

“Apa?” Tanyaku lembut.

Dia terdiam beberapa sesaat, sambil perlahan melihat ke arah book corner kafe. “Aku mau jadi penulis.” Aku tersentak. Kami punya mimpi yang sama, mungkin hanya masalah keuangan dan juga gaya hidup yang membedakan kami. Tapi mimpi kami melewati batas-batas itu.

Dari Fajar aku mengerti, impian yang kita bangun, impian yang kita perjuangan bukan semata-mata untuk diri kita sendiri. Tapi untuk semuanya, orang-orang yang mimpinya tergagalkan karena nasib yang tidak terlalu beruntung. “Om juga, kita sama-sama mau jadi penulis. Berarti kita bisa kolaborasi.” Kataku sambil tersenyum kepadanya.

Dia mengangguk setuju, sambil meneruskan makannya. Bukankah sangat indah ketika kita mampu berbagi impian bersama dengan orang lain? Bukankah rasanya menyejukkan ketika kita bisa memberikan harapan kepada orang lain, kepada mereka yang senantiasa berdoa dekat lampu merah atau di pinggir-pinggir stasiun dan terminal. Mereka tidak memilih untuk menjadi seperti itu, dan kita tidak pernah bisa memilih untuk menjadi seperti ini, tapi semuanya selalu seimbang. Kita yang bernasib baik Tuhan adakan untuk membantu mereka yang bernasib kurang baik. Adilkan? Karena itu Tuhan disebut Maha Adil.

Tak sadar setelah aku dan Fajar mengobrol, Adzan Isya sudah berkumandang. Sesuai ceritanya, aku mulai mengantarnya ke Stasiun yang tidak jauh dari kafe tempat kami makan, aku membelikan sedikit makanan untuk orang tua Fajar. Ketika sampai di stasiun, dia berlari memeluk sang ibunda dengan perasaan senang sambil tertawa memberikan makanan yang kami beli di kafe tadi. Sang ibu melambaikan tangannya kepadaku, aku melambaikan tangan kembali, Fajar tersenyum ke arahku sambil setengah berteriak. “Terima kasih Om! Kita pasti ketemu lagi!” Teriak Fajar dengan senyum bahagia yang ia pancarkan.

“Aku akan nunggu!” Teriakku.

Selepas pertemuan dengan Fajar hari itu, aku tidak pernah melihatnya lagi di Stasiun. Mungkin benar, lambaian tangannya hari itu adalah yang terakhir.

“Udah mau sore nih pulang yuk.” Pinta Kirana dengan memelas.

Aku menatapnya lekat, hari itu memang matahari tergelincir lebih cepat dari biasanya. Waktu bagiku adalah sesuatu yang sangat amat Fluktuatif, kadang cepat, kadang lambat. Aku hanya mengangguk perlahan, kemudian memanggil pelayan dan pergi dari Zoe Cafe dengan langkah yang cepat. Entah perasaanku saja atau bukan, Kirana terlihat cantik hari ini.

---

Perasaan canggung dan gengsi untuk menyapa kadang menjadi penyebab tebentuknya semacam dinding tak kasat mata yang menghalangi kedua manusia untuk saling bertegur sapa. Aku masih terfokus terdahap jalanan, angin malam menusuk kedalam tulangku membuat diriku sendiri menggigil setengah mati. Angin malam ini cukup aneh, terlalu dingin untuk ukuran cuaca yang normal, maksudku ini sedang tidak hujan dan lagipula masih pukul 7 malam.

Aku dan Kirana masih tidak berkata apa-apa, karena mungkin kami dipertemukan dengan peristiwa yang kami berdua tidak sama-sama menyetujuinya. Jujur, Kirana cantik, dia juga baik, rambutnya terurai panjang sampai ketiaknya, dan lesung pipi nya membuat dia jauh lebih manis daripada perempuan-perempuan tidak berhijab lainnya. Aku sejenak memperhatikan wajah Kirana dari spion motor, ya hanya sejenak setelah itu aku akan melempar pandangan kemanapun hanya agar Kirana tidak salah mengartikan pandanganku. Hal yang selalu ibu katakan padaku adalah “Jangan pernah memberikan harapan kepada perempuan sedikitpun kalau kamu tidak menyukainya. Sayangi dia sebagaimana kamu menyayangi sahabatmu jika kamu tidak menyukainya. Harapan yang berlebihan akan membuat dia menjadi sakit ketika dia mengetahui kenyataannya.” Kata ibu waktu itu ketika pertama kalinya ada seorang perempuan rumahan yang menyukaiku.

Aku tidak ingin Kirana mengartikan padanganku sebagai suatu pertanda kalau aku mulai menyukainya, padahal sama sekali tidak. Sebagai seorang laki-laki sejati, yang harus dipunyai adalah tanggung jawab untuk menjaga perasaan perempuan yang kita sayangi. Banyak hubungan yang kandas di tengah jalan bukan karena tidak cocok, atau cinta sudah kadaluarsa. Namun, karena sang laki-laki tidak berani untuk bertanggung jawab kepada perasaan sang perempuan. Cinta tidak pernah ada yang kadaluarsa ataupun salah, setiap masalah selalu ada solusinya, setiap sakit selalu ada obatnya. Dan setiap hubungan selalu ada pengeratnya.

“Kirana.” Ujar Kirana tiba-tiba sambil menepuk pundakku.

“Lo kenapa?” Tanyaku keheranan.

Dia hanya tersenyum dan sekali lagi aku masih melihatnya dari spion. “Nggak apa-apa, hanya ingin mengulang aja. Perkenalan pertama kita waktu itu kayaknya rusuh banget.” Katanya masih dengan senyum manis.

“Lo kesurupan makhluk halus mana sih?”

“Ihh! Gue serius!” Nadanya sedikit meninggi sambil memukul pundakku.

Aku tersenyum memperhatikannya, dalam pikiranku melihat dia cemberut seperti tadi sangat menyenangkan. Entah, ketika melihat Kirana tersenyum hatiku seakan-akan luluh lantak. “Oke-oke, Dimas.” Seruku.

Senyumnya seketika mengembang dengan cepat. “Nah gitu dong, biar enak. Kirana.”

Ketika melihat senyumnya, aku teringat oleh Aira. Orang yang pertama kali membuatku jatuh cinta. Kejadian ketika di Gedung Teater UIN beberapa waktu yang lalu membuatku memutuskan untuk menjauh dari Aira beberapa saat, hanya untuk menenangkan pikiranku saja. Aku hanya perlu waktu untuk utuh seperti semula, walaupun saat ini aku sedang bersama Kirana, tapi tetap saja apapun yang terjadi semua perasaanku hanya untuk Aira. Perempuan manis penyuka angka.

“Lo sering ya ke tempat tadi? Zoo Cafe.”

“Zoe Cafe, bukan Zoo.” Kataku membenarkan.

“Yaudah sih sama aja dibacanya.” Katanya sambil sedikit merapikan rambutnya yang tertabrak angin. “Sering ya?” Lanjutnya lagi.

Aku terdiam beberapa saat, dan berhenti di lampu merah di jalan Margonda. “Iya, itu kafe favorite gue. Gue biasa nulis disana.” Seruku sambil terus memperhatikan hitungan lampu merah berjalan mundur dengan lambat.

“Nulis? Nulis apaan?”

“Iya gue nulis cerita gitu, ceritanya mau jadi penulis gue.” Kataku singkat.

Dia memajukan sedikit wajahnya. “Penulis? Yang buat novel-novel gitu?”

“Bukan.”

“Terus?” Dia mengernyitkan dahinya.

“Yang sering buat bata sama semen.”

“Ihh Serius!” Sahutnya manja walaupun dengan nada yang sedikit meninggi.

Aku tertawa, sambil bersiap menarik gas motor kembali. Lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna kuning. “Habis pakai ditanya.”

“Ya kan gue cuma mau mastiin aja Dim.” Katanya menggerutu. Dan itu pertama kalinya dia menyebut namaku dengan baik, lewat obrolan singkat dan sederhana.“Eh iya lo kalau nulis buat buku gitu berapa hari kelarnya?”

“Dua hari tujuh malam.”

“Hah?! Gimana-gimana?”

“Dua hari tujuh malam.” Kataku sekali lagi.

“Hitung-hitungan lo aneh deh Dim.”

Aku tertawa dan hanya memperhatikannya sambil terus fokus ke jalanan, dia terdiam kali ini mungkin memutuskan untuk tidak banyak bertanya padaku. Namun mataku bisa menangkapnya, gerakan menggigil di seluruh tubuhnya. Jaket yang ia kenakan tidak terlalu tebal, jaket dengan bahan kain berwara abu-abu yang sudah tipis dan mungkin sebenarnya sudah tidak layak digunakan. Aku berbelok tiba-tiba ke pinggir jalan, Kirana terheran-heran, aku bisa melihat itu dari raut wajahnya yang kulihat dari spion.

“Loh-loh kok berhenti?” Tanyanya sambil memperhatikan aku yang turun dari motor.

Aku hanya tersenyum sambil melepas jaketku. “Ini.” Kataku menyodorkan jaketku.

Dia hanya terdiam sambil memperhatikanku. “Maksudnya?”

“ini pakai, tadi gue lihat lo kedinginan. Akan jauh lebih baik kalau lo pakai jaket gue.” Ujarku.

Dia menggeleng. “Nggak mau, gue baik-baik aja kok. Nggak usah lebay.”

“Kalau lo nggak mau pakai kita nggak akan pulang.” Sahutku mengancam.

“Yaudah sih, gue tinggal telepon nyokap gue dan bilang gue diculik sama lo!” Dia mulai mengambil ponselnya di dalam tas.

“Kalau lo lakuin itu, nanti nyokap gue juga kena imbasnya. Emang lo tega lihat nyokap gue masuk penjara karena tindakan lo yang berlebihan?” Aku mulai mencari-cari alasan agar dia mau mengenakan jaket yang aku berikan.

“Oh iya ya.” Dia mulai berpikir, wajahnya lucu ketika sedang berpikir, layaknya putri yang sedang menatap rembulan dari atas balkon lalu mulai berangan-angan ada pengeran tampan datang menjemputnya. “Oke gue pakai, tapi ini buat nyokap lo ya bukan karena gue suka sama lo. Inget tuh.” Dia mengambil jaket yang ku sodorkan lalu mulai memakainya.

“Iya-iya pasti gue inget kok.”Konyol batinku dalam hati.

Malam itu entah karena terbawa suasana atau memang karena hal yang lainnya, Kirana memelukku dari belakang. Jantungku berdebar cukup cepat, seperti sedang menghadapi bencana terbesar yang pernah ada, tidak ada jalan keluar kita hanya harus membiarkan diri kita hancur terbawa arus. Bayangan Aira sekilas lewat dalam pikiranku Seandainya kamu yang memelukku gumamku sambil menancap gas lebih keras lagi agar segera sampai dirumah Kirana. Agar semuanya cepat selesai dan kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi, aku hanya mencintai Aira dan itu faktanya. Tidak mungkin aku benar-benar membiarkan diriku tenggelam dalam pelukan Kirana dan melupakan Aira. Cinta itu kadang memang aneh, semuanya hanya soal nyaman atau tidak, kan? Aku bukan orang yang ahli dalam urusan percintaan atau apapun, tapi sebodoh-bodohnya kita harus bisa membedakan mana yang namanya suka dan cinta. Malam ini mungkin aku hanya menyukai Kirana saja dari segi dia bertanya dan dari segi penampilannya, tapi aku hanya mencintai Aira.

“Makasih ya.” Kata Kirana seketika aku dan dia sampai dirumahnya.

Aku tersenyum. “Iya sama-sama.”

“Ini jaketnya.” Dia mulai melepas dan menyerahkan jaketku kembali. Aku mengambilnya dengan senyum kembali. “Sekali lagi makasih ya buat malam ini.” Lanjutnya.

Aku hanya tersenyum sambil mengangguk perlahan. Malam itu aku dan Kirana berpisah tepat di gerbang komplek rumahnya, dia tidak ingin aku antar sampai dalam karena dia bilang semua tetangga nya agak sedikit ‘repot’ kalau melihat dia diantar oleh laki-laki. Aku mengiyakan lalu melambaikan tangan, dia pun begitu sambil tersenyum. Bersama lesung pipi yang paling manis yang pernah ada.

Arifin Narendra Putra

Bagian Dua Belas - Dua Hari Tujuh Malam

Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project dipublikasikan 25 Februari 2017
Ringkasan
Mungkin Tuhan ingin mengujiku, tapi bukankah ini keterlaluan? Bukankah Tuhan selalu memberikan ujian tidak melebihi kemampuan hambanya? Entah, tapi aku merasa kali ini aku tidak bisa menopangnya sendiri, membawa beban seberat ini dalam pundakku.