Teruntuk Aku Di 19 Tahun Yang Lalu

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Februari 2017
Teruntuk Aku Di 19 Tahun Yang Lalu

Hai...

Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertegur sapa. Aku ingin menuliskan surat ini untukmu, sebuah rasa terima kasih untukmu. Mungkin ini adalah caraku untuk melakukannya, secara sederhana.

Aku ingin berterima kasih atas impian yang kau tanamkan dalam pikiranku sekitar 19 tahun yang lalu, aku ingin berterima kasih karena kau tumbuh menjadi anak yang periang dan terus-menerus tertawa meski tidak ada hal lucu disekitarmu waktu itu. Hey Big Guy, waktu itu kita di anggap tidak waras oleh sebagian orang karena hanya kita yang tertawa pada hal-hal yang tidak sama sekali lucu. Tapi bukankah itu cara kita untuk bisa bahagia? Aku ingat betapa gagahnya kau sewaktu kecil, betapa gagahnya kau sewaktu berkata kepada semua temanmu bahwa kau mempunyai sebuah impian yang besar, impian yang barangkali sulit untuk diwujudkan. Namun aku tahu seperti apa dirimu, aku tahu bagaimana dirimu, aku sangat amat mengenalmu, bahkan kita berada pada satu raga yang sama. Kau tak akan berhenti berjalan meski kakimu berdarah, kau tak akan berteriak meski suaramu telah habis. Aku mengenalmu, sangat amat mengenalmu.

Kau ingat layangan pertama yang kita terbangkan? Kau ingat betapa gembiranya ayah ketika kita berhasil menerbangkan layangan yang ayah berikan dengan sempurna? Aku masih mengingatnya, tawa kita yagn terbalut dengan senyuman ayah, kehangatan mentari sore dan juga surauan angin yang perlahan-lahan membuat seluruh badan kita menggigil.

Waktu itu tidak ada jarak yang memisahkan kita, bahkan mungkin hari ini tidak ada sesuatu apapun yang bisa memisahkan kita. Kita berada dalam satu raga yang sama, dan kau telah bertanggung jawab besar dengan bertumbuh menjadi anak yang periang waktu itu, lalu tumbuh lah dewasa aku karena dirimu.

Beberapa bulan yang lalu ibu sempat bercerita soal kita ketika masih berada di perutnya, soal bagaimana kau dan aku menendang perut ibu secara bersamaan. Ya, itu tepat 19 tahun yang lalu, ketika kita masih lucu-lucunya dan masih menjadi bahan cubitan para tetangga yang gemas karena melihat kita. Ah menyenangkan bukan ketika banyak orang yang menaruh perhatiannya terhadap kita?

Apa kau ingat pesan ibu kepadamu dan aku? Waktu itu ibu bilang. “Kejar mimpi kamu, selama Tuhan belum mematikan kamu, selama Tuhan masih memberi kamu kesempatan, gunakan dengan baik dan teruslah berjalan. Tidak ada kata berhenti kecuali Tuhan sudah memanggil.” Aku masih mengingatnya, dan dari perkataan ibu waktu itu kita mulai mencari impian yang kita anggap benar, mimpi yang menurut kita adalah mimpi paling menyenangkan yang pernah ada, mimpi yang mungkin akan menjadi landasan pacu kita untuk terus bertumbuh. Dan kau yang menemukannya pertama, waktu itu kau memilih banyak mimpi. “Penulis, Sutradara, Designer, yang aman dulu.” Kalau dengan perasaan ragu kita serentak berkata. “SEMUANYA AJA!” Kita kompak sekali waktu itu.

Hari ini, perlahan kau meninggalkanku, perlahan kau menjadi masa lalu yang akan hilang dan pergi entah kemana. Tapi aku ingin berterima kasih kepadamu, karena dengan sukarela membuat raga ini menjadi lebih aktif dan pantang menyerah terhadap impiannya. Kalau bukan karenamu mungkin raga ini sudah kehabisan tenaga untuk berlari. Aku akan terus mengingatmu, lewat album-labum kenangan yang ibu simpang dalam lemari pakaian, lewat rekaman-rekaman suara sederhana ketika kau baru belajar mengaji. Aku akan mengenangmu, mengingatmu adalah kebahagiaan tersendiri bagiku. Sampai pada saatnya aku tua, aku ingin kau terus membersamaiku dalam suka dan duka, dalam hari tuaku.

Kau memang telah pergi, tapi bayangmu masih hadir disini, lewat semua hal sederhana yang ibu simpan. Aku tidak akan pernah membuangnya, karena itu satu-satunya kenangan kita bersama. Ah aku ingat ketika kau pertama kali merayakan ulang tahun, kau begitu sumringah dan bahagia. Ulang tahun pertamamu dengan sebuah lilin besar dan juga kue coklat besar yang ada di hadapanmu. Ketika berumur 17 tahun, bergantian kau sedikit menjauh dan aku yang meniup lilinya kali ini. Usia kita sudah beranjak dewasa, dan kamu hanyalah anak kecil yang perlahan akan menjadi masa laluku. Kali ini aku dewasa, 19 tahun bukanlah waktu yang sebentar, 19 tahun adalah waktu yang berharga bagiku.

Terima kasih untuk semua kenanganmu, terima kasih untuk semua kerianganmu, terima kasih untuk semua tawa dan juga tarikan benang layangan sore itu bersama mendiang ayah. Aku bahagia bukang main, ketika mengingatnya.

Terima kasih, 19 tahun yang lalu, aku akan terus mengingatnya, pertumbuhan kita yang menyenangkan.

Teruntukmu...  Arifin di masa kecil, selamat berulang tahun....