Bagian Sebelas - Guru Matematika Bu Eva

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 24 Februari 2017
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

5.8 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Sebelas - Guru Matematika Bu Eva

“Serius lo dijodohin?” Tanya Bayu dengan nada bicara yang cukup kaget.

Aku mengangguk perlahan. Sambil terus menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Udah kayak zaman Siti Nurbaya aja Dim.” Sahut Rama.

“He’eh.” Tambah Bayu.

Aku menghela napas, sambil terus berpikir keras bagaimana agar perjodohan ini tidak terjadi. “Gue juga bingung, nggak tahu harus ngapain. Lagi pula ibu aneh-aneh aja deh, pakai segala acara di johohin.” Keluhku.

Hari itu kantin menjadi tempat paling memuakkan yang pernah ada bagiku. Setelah mendengar penjelasan ibu soal perjodohan itu aku berpikir untuk keluar dari rumah dan pergi kemanapun raga ini membawaku. Aku tidak pernah setuju dengan yang namanya perjodohan. Mungkin sebagian orang tua menganggap itu sesuatu yang terbaik untuk anaknya karena pasti pilihan mereka adalah yang paling baik. Tapi bukankah yang akan menikah dan menjalani kehidupan bersama adalah anaknya, kalau perjodohan itu tidak berhasil risikonya akan buruk untuk ke depannya.

Bagaimana bisa seseorang menikahi atau menjalani kehidupan dengan orang yang tidak mereka cintai? Aku bertanya-tanya soal hal itu, ada beberapa perjodohan yang berhasil tapi bukankah lebih banyak yang kandas di tengah jalan? Motifnya sama, karena tidak sama-sama cocok, atau karena sudah diusahakan tapi tetap tidak timbul rasa sayang satu sama lain atau tidak saling mencintai. Ketika berbicara soal cinta maka kebanyakan orang tua akan bertanya balik dengan menaruh cinta sebagai penopang kehidupan.

“Makan tuh cinta, memangnya kamu hidup pakai cinta doang. Pilihan mamah udah yang terbaik kok.” Kata seseorang suatu saat.

Kalau cinta bisa dimakan, mungkin sekarang cinta diperjual belikan di pasar bersamaan dengan ikan dan juga ayam. Kita tidak pernah bisa mengelak soal perasaan cinta yang kita punya, memang menjalani semuanya dengan cinta kadang tidak selamanya mulus, selalu saja ada kerikil kecil ataupun besar yang menghalangi. Selalu saja ada, namun bukankah lebih baik ketika menghadapi dan menjalani semua itu dengan cinta? Cinta adalah cara Tuhan menyatukan sepasang manusia, kan? Tidak ada yang pernah mengerti dan tahu bagaimana cara Tuhan membuat sepasang manusia saling jatuh cinta, tidak ada rumus atau apapun yang bisa menjawabnya. Itu rahasia, sangat rahasia, lebih rahasia daripada rahasia negara.

Aku mencintai Aira, aku tak akan pernah bisa mengelak semua itu. Perasaan ini menggebu-gebu layaknya petinju yang memukul dengan sangat cepat, bagaikan bom atom yang sebentar lagi akan meledak. Lalu ketika dihadapkan dengan satu permasalahn yang membuatku harus melupakan perasaan cintaku kepada Aira, apakah aku menyerah disini dan menuruti permintaan ibu? Ah semuanya begitu rumit, lebih rumit daripada soal algoritma yang ada pada buku-buku pelajaran.

“Dim besok lo dateng kan?” Ujar Bayu mengembalikanku ke kenyataan.

Aku mengernyitkan dahi. “Dateng kemana?”

“Gue, Aira, sama Yuri kan di pilih mewakili sekolah buat ikut lomba cerdas cermat tingkat kota.” Jelas Bayu dengan nada yang sedikit sombong.

“Heleh, sombong banget lo Bay, paling juga kalah.” Celetuk Rama.

“Kok gitu sih Ram, bukannya doa yang baik-baik gitu. Temen tuh gitu temen.”

Rama menoleh lalu dengan cepat menoyor kepala Bayu. “Yee, baper lo. Besok gue dateng.” Sahut Rama sambil beranjak pergi menuju kelas.

Aku hanya tersenyum-senyum sendiri memperhatikan tingkah mereka. “Lo dateng kan Dim?” Tanya Bayu sekali lagi.

“Dimana tempatnya?”

“Ruang Teater Lantai 2, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN.”

“UIN Jakarta?” Tanyaku lagi memastikan. Bayu mengangguk perlahan, dengan tatapan penuh harap agar aku akan menjawab iya. “Oke gue dateng. Aira, Yuri dan lo kan sahabat gue. Masa gue ngga dukung lo sih.” Lanjutku sambil tertawa.

Hari itu aku dan Bayu segera beranjak menyusul Rama ke kelas. Lalu meninggalkan kantin yang penuh sampah dan berantakan. Pikiranku masih melayang-layang soal perjodohan aku dan Kirana, sepertinya aku harus melakukan sesuatu agar semuanya berjalan tidak baik-baik saja. Entah, mungkin seperti mulai memperkenalkan Aira dengan ibu atau dengan sesegera mungkin mempunyai hubungan lebih serius sedikit dengan Aira daripada sebagai seorang sahabat.

---

Aku punya banyak impian. Entah soal profesi, tempat tinggal ataupun pendidikan. Aku punya dua kampus impian, Monash University Melbourne dan UIN Jakarta, kampus yang menurutku salah satu yang terbaik di Jakarta. Kata Kakak kampus ini adalah kampus impiannya juga dulu, kebanyakan teman-teman kakak yang satu angkatan dengan dia masuk UIN dengan begitu mudahnya, tapi kakak terdampar di sebuah kampus di Surabaya. Dan menetap disana hampir kurang 5 tahun sekaligus menghabiskan masa kuliahnya. Semenjak hari itu impian kakak untuk masuk UIN juga menjadi impianku.

Setiap orang mempunyai impian kan? Walaupun kadang usaha untuk mewujudkannya sedikit rumit atau mungkin sulit. Tapi bukankah cara Tuhan untuk memberikan kita jalan yang mudah tidak semudah bayangan kita mendapatkannya? Selalu saja ada jalan berbatu atau berlubang yang sengaja Tuhan berikan untuk sekedar mengetes kadar ketahanan kita pada setiap ujian yang Dia berikan. Aku sadar itu dan paham betul tentang itu, perjuanganku untuk memasuki UIN mungkin akan jauh lebih sulit daripada fase masuk SMK. Bukan hanya aku yang mempunyai mimpi untuk memasuki kampus hebat ini, tapi ribuan bahkan ratusan ribu orang yang berlomba untuk masuk kampus ini untuk sekedar merasakan belajar ditempat kenamaan di daerah Jakarta. Semoga semuanya akan berjalan baik-baik saja, semoga tak ada halangan yang terlalu berat ataupun terlalu sulit untukku. Mimpi adalah satu-satunya cara manusia untuk terus bertahan hidup, dan UIN mungkin adalah salah satu hal yang membuatku untuk terus belajar, jauh lebih baik dari sebelumnya.

Sekitar 15 menit aku berjalan dari gerbang kampus menuju ruang teater tempat perlombaan cerdas cermat dilakukan. Di tempat ini semua murid tercerdas seantero Jabodetabek di kumpulkan untuk diadu kecerdasannya. Sekolahku berhasil masuk final dan terpilih mewakili kota Depok, dan akan melawan 4 peserta lainnya yang melawaki Jakarta, Tangerang, Bogor, Bekasi. Semuanya di kumpulkan disini, dan beruntungnya Bayu, Aira dan Yuri yang terpilih untuk mewakili kotanya dalam sebuah perlombaan besar. Aku tidak ragu ketika mereka yang ditunjuk untuk maju, Aira adalah murid tercerdas dalam matematika, dia adalah murid kesayangan guru matematika ku Bu Eva, begitupun dengan Yuri dan Bayu. Ketiganya punya peluang yang sama untuk membawa kota Depok menang dalam perlombaan ini. Aku melihat Aira yang gugup, aku suka ketika dia gugup dan perlahan bibirnya akan mulai merapalkan doa-doa yang membuatnya jauh lebih tenang. Aku suka ketika melihatnya kebingungan, bagiku cara dia bingung adalah pemandangan terindah yang pernah aku lihat di muka bumi. Aira tak sengaja menatap ke arahku ketika matanya berusaha mencari seseorang, dia tersenyum lalu melambaikan tangannya. Aku membalasnya dengan senyum yang sama, Bayu dan Yuri menyusul dengan memberikan senyum dan lambaikan tangan yang sama padaku.

Jujur aku bangga melihat sahabatku berprestasi, melihat mereka ada untuk sebuah penghargaan atau bahkan untuk sebuah ucapan selamat kemenangan. Aku senang mengetahui bahwa aku memiliki mereka, teman-teman yang barangkali tidak terlalu sempurna tapi mampu menyempurnakan semuanya bersamaku. Aku bangga, ketika melihat mereka berada di atas podium, lalu perlahan nama mereka disebut dan asal sekolah mereka disebut. Aku bangga dengan sangat ketika menyalami mereka dengan senyum hangat yang terpancar dengan lembut. Bukankah memang seperti itu? Sahabat akan selalu senang melihat sahabatnya bahagia atau membuat sebuah sejarah dalam hidupnya?

“Kamu lihat apa?”

Aku menoleh ke arah suara sambil tersenyum malu-malu. “Eh bu Eva, ngapain disini bu?” Lanjutku.

Bu Eva mengernyitkan dahinya. “Loh ibu mau lihat Yuri sama Aira dong, memangnya nggak boleh?”

“Boleh sih bu, tapi anu..”

“Anu apa?”

“Bayu nggak disebut bu? Kasihan loh dia nggak ada yang semangatin.” Seruku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal dan menoleh ke arah Bayu yang sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan sang moderator. Acara sudah berlangsung sejak 10 menit yang lalu.

“Oh iya sama Bayu juga dong.” Kata Bu Eva dengan nada yang sedikit terpaksa.

“Terpaksa gitu bu.”

“Sok tahu.” Kata Bu Eva lalu dia tidak menghiraukanku lagi, dia terfokus pada perlombaan sambil memperhatikan Aira yang lumayan kesulitan dengan pertanyaan yang di ajukan.

Aku pun demikian, mataku mencari sosok teman-teman yang lain. Aku menemukan mereka berada di samping panggung. Moses, Saka dan Rama yang sedang berteriak-teriak menyemangati Aira dan yang lainnya. Sesaat melihat mereka, aku berniat untuk bergabung disana.

“Kamu mau kemana?” Tahan Bu Eva sambil menahan tanganku agar tidak pergi.

“Mau kesana bu.” Kataku sambil menunjuk ketiga orang sahabatku.

Bu Eva hanya terdiam, lalu memperhatikan ketiga sahabatku dengan seksama, dan dia sadar kalau mereka juga termasuk anak murid Bu Eva. Satu hal yang perlu kalian tahu soal Bu Eva, dia adalah guru tercantik di sekolahku, guru matematika yang manis dan sangat fenomenal. Ketika dia lewat, semerbak harum wanginya tercium dari jarak 100 meter. Semua laki-laki terpikat padanya, termasuk aku (Ah sudahlah, itu tidak penting). Namun saat ini Bu Eva memilih untuk sendiri, entah apa yang membuatnya begitu pemilih, secara kesuluruhan tidak ada yang kurang dalam dirinya kecuali sering lupa terhadap satu hal. Dia seperti Dory dalam film kartun Nemo, dia sedikit mengalami Short-Term Memory Loss. Namun yang aku heran, kenapa orang yang mengalami hal semacam itu bisa menjadi seorang guru. Membayangkannya saja mengerikan.

“Jadi ini adalah rumus untuk memecahkan soal Aritmatika ya, hafalkan baik-baik.”

“Baik bu.”

Ada hening sebentar masuk ke dalam kelas.

“Loh sampai mana kita tadi?”

“Aritmatika bu.”

“Oh iya, Jadi ini adalah rumus untuk memecahkan soal Aritmatika ya, hafalkan baik-baik.”

“Baik bu.” Jawab murid-murid sambil berpandangan satu sama lain.

Ada hening sebentar masuk ke dalam kelas.

“Loh sampai mana kita tadi?”

“Aritmatika bu!” Teriak murid-murid kesal.

“Oh iya, Jadi ini adalah rumus untuk memecahkan soal Aritmatika ya, hafalkan baik-baik.”

“YA TUHAN CABUT NYAWA KAMI!”

---

“Udah kamu temenin ibu.” Kalimat bu Eva kembali membawaku pada kenyataan. Ya, benar banyanganku sungguh mengerikan, untung ketika bu Eva mengajar kejadiannya tidak ada yang pernah seperti itu. Kalau sampai semua itu terjadi, ratusan siswa bunuh diri karena sang guru mengalami Short-Term Memory Loss. Dan beritanya akan terpampang jelas di edisi koran dalam kasus bunuh diri terbanyak sepanjang sejarah. Mengerikan, lebih mengerikan daripada rumah mantan.

Aku mengangguk dan mengurungkan niatku untuk menghampiri sahabatku yang lainnya. Aku melihat Aira tim yang baru saja unggul point dari peserta yang lainnya, aku rasa mereka bisa memenangkan perlombaan ini dengan cukup mudah. Namun fokusku selalu saja bukan ke angka dan kemenangan, tapi kepada Aira. Mau menang ataupun kalah, bidadari tetaplah bidadari. Kamu adalah bidadari ku Aira Batinku sambil terus memperhatikan Aira.

Selang selama hampir 2 jam perlombaan ini berjalan, dan dengan kerja keras dan usaha yang sangat amat sulit. Aira dan yang lainnya berhasil membawa sekolah menjuarai lomba ini, mereka menang juara 1 dengan mendapatkan medali dan sertifikat dan uang juga tentunya. Aku turut bangga, aku dan Bu Eva segera menghampiri mereka yang baru saja turun dari panggung. Aku melihat Aira senang bukan main dari kejauhan, belum sempat aku mengucapkan selamat hatiku patah di tengah jalan ketika di tengah kerumunan aku melihatnya. Aira memeluk Rama erat sambil tertawa bahagia. Langkahku terhenti, sementara bu Eva sudah terlanjur berlari ke arah mereka dan memeluk murid kesayangannya erat. Air mata bahagia jatuh dari mata bu Eva. Sedangkan aku, ya air mata kepedihan baru saja jatuh dari mataku. Aku berjalan lemas, mungkin hampir mati rasa dengan semua ini. Patah hati yang berlebihan, ah ini pertama kalinya aku patah hati soal cinta.Mungkin itu hanya pelukan sahabat gumamku, aku berusaha membuat diriku terus berpikir positif, agar terus terbuka kesempatanku untuk terus mencintai Aira.

“Selamat ya.” Ujarku lemas, dengan senyum yang kupaksakan.

“Iyap.” Sahutnya tertawa dengan begitu bahagia. “Ini juga berkat dukungan kalian kok.” Lanjut Aira.

‘Kalian’ Mungkin aku salah dengar, bukankah aku yang mengucapkan selamat? Hari itu aku bahagia melihat sahabat-sahabatku mencapai prestasi paling tinggi yang pernah mereka torehkan, tapi hari itu juga aku terjatuh sakit. Menemukan patah hati terhebat, walaupun sifatnya masih sementara. Karena aku yakin, Rama tidak akan pernah menghianati sahabatnya sendiri.

Bukankah begitu fungsinya seorang sahabat? Saling percaya satu sama lain?