Bagian Sepuluh - Layangan Kenangan

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 3 bulan lalu
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

3.1 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Sepuluh - Layangan Kenangan

 

Kehilangan adalah cara Tuhan membuat kita jauh lebih kuat, setiap pertemuan pasti akan mendatangkan perpisahan. Cepat atau lambat, dan setiap perpisahan selalu menyisakan kenangan di dalamnya. Setiap inci ingatan kepada seseorang yang paling berharga dalam hidup kita ditunjukkan untuk sebaik-baiknya diri kita menjadi pribadi yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya.

Selalu ada awal dan akhir, kehidupan dan kematian, pertemuan dan perpisahan, bahagia dan luka, tawa dan sedih, cinta dan patah hati dan semuanya. Selalu ada permulaan di setiap jalan pulang, selalu ada tapak kaki yang perlahan berada di titik dimana kita sendiri tidak tahu berada dimana. Aku pernah merasakannya, menjadi manusia yang paling putus asa yang pernah ada, aku pernah. Mendapatkan luka yang jauh lebih sakit daripada apapun. Jauh lebih sakit daripada dihianati.

Angin sore hari itu menerpa wajahku dan juga ayah, hari itu ayah ingin mengajarkanku cara bermain layangan. Umur ayah waktu itu sekitar 52, umur yang sudah memasuki fase orang tua. Tapi ayah masih bekerja untuk menghidupi aku, ibu dan kakak. Sore itu dia mulai menyuruhku memegang layangan dan pergi ke ujung lapangan yang lain untuk melepaskan layangan itu lalu ayah nanti nya akan menarik benangnya. Aku berlari ke ujung lapangan dengan riang, seorang anak kecil yang bahagia sedang berusaha untuk bermain layangan dengan ayahnya. Akhirnya aku bisa menerbangkannya, sebentar lagi batinku. Bagi anak seusiaku hari itu, menerbangkan layangan adalah hal paling keren yang pernah ada.

“Tunggu aba-aba ayah ya!” Teriak ayah dari ujung lapangan yang lainnya. Aku mengangguk dari kejauhan, menyetujui apa yang ayah perintahkan. Dia mulai melihat ke sekitar, ada dua layangan yang terbang di atas lapangan, ayah memicingkan matanya aku bisa melihat itu dari jauh. Dia mulai menjilat sedikit jari kelingkingnya lalu menaikkannya ke atas agar terkena angin. Dia mengangguk perlahan lalu dengan keras dia berteriak. “Sekarang lepas!” Aku melepaskannya, dan hari itu layangan pertamaku yang aku lihat terbang. Memang bukan aku yang menerbangkannya tapi semuanya terasa sama.

“Ayah akan ajari kamu bagaimana caranya layangan bertarung.” Kata ayah ketika aku sampai di tempatnya berdiri.

Aku menengok ke atas sambil menyipitkan sedikit mata. “Kita bertarung dengan apa ayah?” Tanyaku.

Ayah menoleh ke arahku dan dia tersenyum, perlahan raut wajah nya berubah menjadi sedikit lebih ganas. Seperti seorang pengendali dalam film kartun Avatar. “Seperti ini.” Seru ayah dan layangan yang terbang di samping kami putus dan pergi terbawa angin. Ayah tertawa puas, dia menoleh ke arahku. “Nah itu baru namanya cara bertarung layang-layang.” Lanjutnya.

Aku tertawa, entah aku tertawa untuk apa, tapi perasaan senang yang ayah rasakan juga menjalar ke bagian diriku dan ya. Aku menemukan kebahagiaan sore ini.

---

Petang mulai datang, senja mulai hilang. Aku dan ayah tiba dirumah sebelum adzan Magrib berkumandang. Ayah mulai membersihkan badannya, begitupun diriku. Tapi berbeda denganku, ayah adalah orang yang bersih menurutku, jika dia benar-benar membersihkan dirinya akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Berbeda denganku, mungkin karena waktu itu aku masih kecil. Ibu sudah memakaikanku minyak telon, sarung dan juga kaos muslim yang ibu belikan di hari lebaran tahun lalu.

“Siap anak ibu?” Tanya ibu memastikan.

Aku mengangguk. Selang beberapa menit, ayah masuk ke kamar dan siap mengimami aku dan ibu, sebagai kepala rumah tangga dia adalah laki-laki terbaik yang pernah aku kenal. Laki-laki yang dengan kesederhanaannya mampu membuat kami sekeluarga tertawa terbahak-bahak dengan tingkah lucunya. “Ayah kita nggak nunggu kakak?” Kataku lembut, dengan suara yang masi sedikit cadel.

Ayah merunduk, dia mulai menyentuh keningku lembut. “Kakak kamu ada les tambahan di sekolah, tapi tadi ayah sudah ingatkan untuk sholat sebelum les di mulai, kita sholat bertiga dulu ya.” Ujar ayah dengan senyum termanis yang pernah ku lihat darinya.

Aku mengangguk dan petang itu menjadi moment paling membahagiakan yang pernah aku alami dalam hidupku. Ayah mulai memulai takbir pertama, sambil membacakan surat Al-Fatihah setelahnya dan surat-surat pendek lainnya. Aku mendengarkan dengan seksama, dengan perasaan yang tenang dan nyaman. Aku merasa berada di padang rumput yang luas, yang didalamnya ada air mancur dan juga pohon-pohon rindang yang menyejukkan, ditambah dengan rumah pohon yang berada di pohon yang paling besar. Ah, maka benar kita tidak perlu hal-hal yang paling mewah di dunia ini, kita hanya perlu kebahagiaan yang sederhana yang sudah Tuhan sediakan, lewat bacaan Al-Qur’an misalnya.

Selepas sholat Magrib, ayah selalu menceritakan kisah-kisah perjuangan pejuang-pejuang Islam terdahulu yang mulai menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia selepas Rasulullah SAW wafat. Dan dongeng itu selalu saja berhasil membuatku tertidur pulas, selalu saja berhasil membuatku menjadi anak kecil yang bermimpi indah dengan cerita ayahnya. Kalau aku harus memilih siapa laki-laki terbaik yang pernah ada di dunia, aku akan memilih ayah.

“Kamu besok berangkat jam berapa mas?” Tanya ibu kepada ayah, mungkin ayah dan ibu mengira aku sudah tertidur, aku masih setengah sadar. Masih bisa mendengar suara mereka yang samar-samar.

Ayah menghembuskan nafasnya. “Subuh kayaknya bu.”

“Aku seneng kamu sudah punya jenjang karir seperti ini, tapi yang aku tidak senang kadang kamu nggak punya terlalu banyak waktu buat aku dan anak-anak.” Keluh ibu, sambil mengusap kepalaku yang aku sadari ibu sambil menciumku. “Berangkat subuh, pulang tengan malam, kata dokter kamu tidak boleh terlalu capek mas.” Ibu mulai khawatir.

Dan aku masih mendengar percakapan mereka walaupun samar-samar.

“Kan weekend selalu aku habiskan dengan kalian.”

“Dua hari bukan waktu yang cukup untuk anak-anak mas, untuk aku? Aku sudah bosan kalau harus bercanda lagi sama kamu terus, sejak muda sampai menikah aku sudah tahu semuanya candaanmu, dan itu membosankan sekarang. Tapi anak-anak belum merasakan semuanya, mereka perlu tawa lebih dari ayahnya.” Kata ibu sambil terus mengusap kepalaku.

Ayah mendekat, yang aku rasakan ayah juga mengusap kepalaku dengan lembut. “Ayah akan buat mereka berdua tertawa, kamu tenang ya. Untuk masa tua kita dan untuk masa depan mereka, aku harus kerja lebih keras lagi.” Setelah mengucapkan itu ayah menciumku.

Malam itu aku mendapatkan dua ciuman dari orang yang paling aku sayang, ya ayah dan ibu. Orang yang membuatku percaya bahwa dunia adalah tempat yang aman untukku.

---

“Dim itu benangnya beli dimana?” Tanya salah seorang temanku yang aku ajak bermain layangan.

“Oh ini, ini ayahku yang beli. Benang nya tajam kok, putus semua musuh kalau sama benang ini.” Kataku membusungkan dada. Hari itu adalah hari yang membahagiakan karena aku sudah bisa menerbangkan layangan sendiri tanpa bantuan ayah. Dan dengan sangat baik hati ayah menitipkan benang dan layangan baru kepada ibu.

Hari itu semuanya benar-benar menyenangkan, walaupun tidak ada ayah yang membantuku menaikkan layangan, tapi ayah janji dia akan bermain layangan lagi denganku weekend ini. Bermain layangan menjadi sangat menyebalkan ketika mendung datang, gumpalan awan hitam yang pekat dan banyak menghampiri lapangan tempatku dan teman-teman yang lainnya bermain. Tanpa pikir panjang, aku mulai menggulung layanganku secepatnya dan mencari tempat teduhan sebelum hujan datang.

Hujan selalu saja menyebalkan bagiku, ketika semua kesenangan baru saja matahari pancarkan dengan sinarnya. Dibalik derai hujan yang deras, bagi sebagian orang selalu saja ada kenangan indah disana, selalu saja ada tangis yang diam-diam datang, selalu ada tawa yang dipaksakan, dan selalu ada kemeranaan yang berada dibalik jendela rumah. Bagi anak seumuranku waktu itu hujan selalu menyenangkan, dia datang dengan keceriaan anak-anak yang menari dibawahnya sambil berteriak. “Yey main hujanan.” Hujan juga bisa berarti kebahagiaan, bagi mereka yang mensyukurinya.

Petang sudah datang dan senja kembali tenggelam. Aku mulai merapikan semua benang dan layangan. Hujan sudah mulai reda, hanya menyisakan kubangan di lubang-lubang jalanan. Beberapa meter sebelum aku mencapai rumah, aku melihat mobil ayah di halaman depan rumah. Senyumku mengembang bahagia, aku mula berlari, ini adalah kali pertama ayah pulang lebih cepat. Karena semenjak dia di promosikan menjadi pengawas proyek, dia jarang ada waktu dirumah, namun kali ini semuanya berubah.

Tapi semuanya tidak seperti perkiraanku, jelas bendera kuning terpampang jelas di dinding rumahku. Kakak laki-lakiku menangis tersedu, sambil perlahan dia berjalan arahku dan memelukku erat, ya erat layaknya pelukan sang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Aku hanya terdiam, air mata kakak tumpah di kaos Barcelonaku yang ayah belikan ketika aku masih cadel ketika berbicara.

“Ayah mana kak?” Ujarku pelan.

Dia masih tetap menangis, punggungnya gemetar cukup keras.

“Ayah mana kak?!” Nada ku mulai sedikit meninggi.

Dia masih tetap terdiam dan menangis, pelukannya kali ini semakin erat.

Air mataku mulai tumpah. “AYAH MANA KAK?!!” Teriakku sambil memukul punggung kakak laki-lakiku. Dia menahan rasa sakit itu, dia hanya terus memelukku erat. Air mataku tumpah sejadi-jadinya, hujan hari ini bukan hanya hujan yang membuat sebagian orang sedih karena kenangan, hujan hari ini juga membuatku sedih karena kehilangan.

“Kita bisa lewatin ini bersama.” Kata kakak menenangkanku.

Aku menangis sejadi-jadinya, teriakkan ku membuat semua orang memperhatikanku. Aku anak yang masih berumur sekitar 9 atau 10 tahun waktu itu sudah merasakan yang namanya kehilangan orang yang paling aku sayangi sepanjang hidupku. Laki-laki paling bijaksana yang membuatku bisa menerbangkan layang-layang, yang membuatku percaya pada impian dan cita-citaku. Kehilangan, layaknya sebuah rudal, sekali di lempar akan menghancurkan satu kota bernama hati. Ibu datang dan memelukku erat, tapi pelukan ibu tetap tidak bisa menghentikan rasa sedihku.

“Sudah ya sudah, kakak sama ibu ada disini. Sudah ya.” Ibu mulai menepuk perlahan punggungku sambil terus menenangkanku.

“Tapi ayah..”

“Sstttt, sudah ya. Kita bisa melewati ini bersama.” Sahut ibu hangat, begitupun dengan pelukannya.

Hari itu aku pertama kalinya merasakan kehilangan yang membuatku kecewa. Ayah selalu bilang dia akan selalu ada bersamaku apapun yang terjadi, setiap akhir pekan dia akan selalu mengajariku bermain layang-layang dan sepeda jika sempat. Mobil yang biasa kami naiki bersama sudah dijual untuk menghimpun semua kebutuhan rumah setelah ayah pergi. Kali ini setiap senja datang, dan angin sore menawarkan kesejukkannya untuk sebuah layang-layang. Aku tidak bisa melihat bayangan ayah, yang tertinggal hanya sebuah kenangan. Ya, layangan kenangan.

---

“Dim.” Panggilan ibu membuyarkan lamunanku. “Kamu mau beri sambutan atau rasa terima kasih seribu harian ayah meninggal?”

Aku menggeleng. “Nggak bu, tadi kakak sudah menyampaikannya dengan baik.” Kataku lembut.

Sudah lama ayah meninggalkan aku dan keluarga tapi perasaan kehilangan itu masih membekas sampai sekarang. Patah hati terhebat yang tidak akan pernah ku definisikan seperti apa. Rumit, sangat rumit lebih rumit dari soal matematika. Belum sempat aku beranjak pergi ke kamar, seorang perempuan manis masuk yang dengan seketika di sambut dengan hangat oleh ibu. Perempuan manis itu duduk bersila dan senyumnya, ah begitu meluluh lantakkan hatiku. Entah, tapi perasaan ini tidak karuan. Kau sudah mencintai Aira Dimas! Bentakku dalam hati.

“Dimas.” Panggil ibu dari ruang tamu.

Aku menyahut dan perlahan menghampiri bu. “Iya bu?”

“Nah ini dia jeung anak saya, yang saya ceritain waktu itu.”

“Oh yang ini anaknya, iya iya.” Sahut teman ibu dengan wajah yang bahagia.

Aku mulai tidak nyaman dengan percakapan ini. “Ini ada apasih bu?” Tanyaku sambil bersiap untuk beranjak ke kamar.

“Kenalin ini teman ibu namanya ibu Cantika, nah ini anaknya namanya Kirana.” Kata ibu sambil menunjuk perempuan manis tadi yang menggunakan sebuah topi.

Perlahan tanganku berusaha untuk berjabat dengannya. “Dimas.” Kataku dengan tangan yang masih di anggurkan.

Dia membuka topinya, dan aku tersentak ketika mengetahui dia adalah perempuan yang aku lihat di kantor penerbit hari itu. Sungguh sebuah kebetulan yang sangat amat ajaib.. Oh bukan, ini bukan kebetulan tapi sudah ditakdirkan. Sudah digariskan, tarik menarik dengan nasib. “Kirana.”

“Lo yang waktu itu di kantor penerbit kan?”

Dia terheran-heran, dengan ekspresi yang mencoba mengingat diriku dia mulai menebak. “Siapa ya? Satpamnya?” Tebakannya cukup menyakitkan.

“Bu... Bukan, gue waktu itu lagi kirim naskah ke penerbit dan gue lihat lo gitu.” Sahutku singkat.

“Oh jadi kalian sudah saling kenal toh.” Ibu sumringah, dia tersenyum dengan gigi yang rapih yang selalu ia pamerkan. “Jadi perjodohan ini bisa berjalan dengan mulus.”

“HAH?! PERJODOHAN?!” Aku dan Kirana sontak berteriak. Perlahan kami seperti orang yang kikuk, lalu saling menatap sinis. Kenapa harus sama dia Batinku.

“Bu yang bener aja bu, aku masih kelas 2 SMK, kelas 2 SMK. Masa pakai dijodohin segala bu?” Kataku memprotes keputusan ibu yang sepihak.

“Ibu nikah waktu umur 18 tahun.”

“Bu ini kan bukan zaman dimana ibu dibesarkan, lagi pula perjodohan itu mitos bu, nggak akan berhasil.” Bujukku kepada ibu.

“Nah sekarang jadi kenyataan bukan cuma mitos kan?” Seru ibu sambil tersenyum licik.

“Mah aku nggak mau dijodohin sama dia.” Nada Kirana meninggi dan menolak keberadaanku.

“Memang siapa yang mau dijodohin sama lo, gue juga ogah.” Timpalku kepada Kirana yang berbicara seenaknya padaku, memangnya siapa yang setuju dengan perjodohan ini.

“Gue juga ogah!”

“Apalagi gue!” Aku berteriak di hadapannya, lalu kemudian dengan wajah yang kesal pergi begitu saja dari rumah.

“Dim mau kemana?” Teriak ibu dengan nada yang khawatir.

Aku menoleh ke arah ibu, masih dengan ekspresi kesal. “Nyari angin.” Jawabku jutek.

Hari ini adalah hari paling menyebalkan bagiku, aku tidak pernah menyangkanya, perempuan yang berada dalam bayanganku dan bertemu di kantor penerbit malah akan dijodohkan denganku. Keputusan sepihak ibu yang membuatku tidak menyukainya, karena walaupun demikian Kirana orang yang cantik dan baik, lesung pipinya membuatnya semakin manis dengan tutur kata yang sopan. Tapi aku masih kelas 2 SMK, lulus sekolah saja belum, sudah mau dijodohkan. Lagipula aku hanya mencintai Aira.

Kadang orang tua selalu berperan soal asmara, walaupun dengan sedikit pemaksaan.