Campaign Kenangan (Part 2)

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Februari 2017
Campaign Kenangan (Part 2)

Suasana kota Bogor asri dengan kesejukannya, masyarakat yang tersenyum dengan segala keramahannya. Aku masih menatap tempat itu, tempat yang barang kali menjadi asal muasal bagaimana aku mendapatkan semuanya.

Suara-suara bacaan ayat-ayat suci bersenandung dengan indahnya, dari dalam Musholla dekat pondok suara itu nyaring sekali, indah dan menyejukkan hati. Aku terpejam di depan gerbang pondok sambil terus mendengarkan alunan bacaan itu dengan sangat menikmatinya. Ini bukan soal suara yang bagus, bacaan yang bagus, tapi entah mengapa selalu saja ada pintu-pintu kesejukan yang terbuka ketika suara-suara itu diperdengarkan ke telinga orang-orang, selalu saja ada mata yang terpejam, sambil terus mengagumi bagaimana indahnya suara dan bacaan itu. Sambil perlahan mulut terus berbisik; Allah.

Ketika semua hal datang secara tiba-tiba dan memburu kita dengan satu kepastian yang mereka bawa; kesuksesan, kita terus berkelana, mencari apa yang kurang dari diri ini dan apa yang harus sesegera mungkin di asuransikan agar suatu saat nanti tidak membuat kita menyesal. Aku masih terdiam di gerbang pondok, masih menatap suasana di sana dan dengan bacaan yang masih terus mengalun indah. Sejenak aku sadar sesuatu, apa yang sebenarnya kita cari? Apa yang sebenarnya kita kejar? Hingga kita sibuk dengan hiruk-pikuk dunia, aku pernah ke Melbourne, pernah melihat jam Big Bang secara langsung, pernah merasakan yang namanya Mie Ramen asli asal Jepang. Aku pernah merasakannya, tapi disaat semuanya diberikan secara cuma-cuma oleh Tuhan, kita hanya butuh satu hal yang kurang; tempat pulang.

Waktu begitu cepat berlalu, membuatmu semakin melanglang buana dari semua hal yang terikat pada apa saja di dunia. Aku melupakan satu hal, bulan Ramadhan benar-benar menjadi tempat bagi segala kesejukan yang datang, Dan aku kembali lagi ke pondokku, sebagai orang yang berbeda, dengan tugas yang berbeda. Aku merindukanmu gumamku dalam hati.

“Den.” Panggil seseorang tiba-tiba dengan peci hitam yang ia kenakan dan juga kaos oblong berwarna putih dan celana gombrong berwarna hitam. “Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya.

Aku menatapnya lekat, lalu menyapu semua bagian tubuhnya dari bawah sampai atas. Aku mengenalinya, penjaga pondok. “Mang Irwan, kan?” Tanyaku memastikan.

Dia mengangguk perlahan, lalu dia mengerenyitkan dahinya dan mulai merapikan peci hitamnya. “I.. Iya Den, Aden siapa ya?” Tanyanya kembali.

“Abimana.” Jawabku singkat.

Wajahnya kebingungan, dia terus mengingat-ngingat diriku sambil sesekali berbisik. “Abimana..” Dia menatapku lekat kali ini, mencoba mengingat sesuatu. Sampai akhirnya di menit ke sepuluh ketika dia terus menatapku dia tersadar akan sesuatu. “Oh Abimana yang waktu itu ketika ngaji salah melafalkan tajwid terus di gertak nangis itu ya?”

“Mang jangan bahas yang itu dong.”

Senyum mengembang dari wajahnya sambil sedikit tertawa. “Wah Aden!” Dia memelukku, begitupu aku memeluknya juga.

Dia memelukku erat sambil terus memukul punggungku dengan lembut, dia terus mengucapkan namaku dalam pelukannya sambil sesekali menyeka air mata yang sudah kuduga akan turun dari matanya. Aku sudah lama tidak berjumpa dengan Mang Irwan, dia adalah orang yang membuatku percaya kalau aku tidak dibuang oleh orang tuaku, dia yang memasukkan pemahanan-pemahanan agama di luar jam belajar santri, bisa dibilang dia adalah guru yagn tersembunyi. Memang dia hanyalah seorang penjaga pondok, tapi seperti pepatah bilang Ketika kita bergaul dengan orang yang wangi, kita akan tertular wanginya. Jika kita bergaul dengan orang yang bau, maka kita juga akan tertular baunya.

Mang Irwan hidup di lingkungan pondok sudah lebih dari 15 tahun sejak diterimanya dia menjadi penjaga pondok. Pemahaman dia soal agama begitu mengesankan bagiku, walaupun hanya sedikit yang dia punya tapi itu cukup untuk membuat aku bangga pernah belajar dengannya.

“Ya ampun Aden, udah lama ini teh. Udah berapa tahun ya?”

“Enam tahun lah Mang kira-kira.” Seruku padanya.

“Oh iya-iya, sudah lama juga tidak bertemu. Sini Mamang bawakan barang-barangnya.” Dia berusaha untuk meraih koperku, tapi aku menghentikannya.

“Mang sudah tidak usah, biar saya saja.”

“Sudah, itukan sudah tugas mamang juga kalau ada tamu yang datang harus mamang bantu.” Dia tersenyum sambil menyingkirkan tanganku dari koper. “Silahkan Den.”

Dia mempersilahkan aku memasuki wilayah pondok, aku akan bertemu Pak Haji Muhammad, guru yang mengajariku banyak hal ketika aku di pondok dulu. Apa kabar beliau? Ah sungguh durhaka murid yang jarang menengok gurunya, menggagalkan doa gurunya, tapi sekarang aku kembali walaupun dengan tujuan yang berbeda.

Senja memasuki sebagian wilayah pondok, dan disinilah aku berdiri. Di tempat ini, di tempat aku berasal.

---

“Bismillahirrohmanirrohim.” Ayah memulai hafalan surat-surat pendekku.

Kota Depok saat itu sedikit mendung, angin bertiup pelan dan menyejukkan. Suasana kota seperti biasa ramai banyak orang yang baru saja pulang bekerja. Sambil menunggu Adzan magrib Ayah mengajariku untuk menghafal beberapa surat pendek. Ini benar-benar Quality Time berharga antara Ayah dan anak.

Setiap magrib Ayah selalu mengajakku berbincang dan menceritakan banyak kisah kepahlawan muslim pada zaman dulu. Ba’da Shubuh Ayah selalu mengajakku untuk keliling kampung, sekedar melihat-lihat, dan dia selalu megajakku untuk pergi ke masjid. “Setiap langkah yang kita pijakan di jalan Allah, Insya Allah selalu ada kebaikan dalam setiap langkahnya.” Ketika itu aku berumur 5 tahun belum mengerti soal seperti itu, yang kutahu jika Allah akan bersenang hati memberikan pahalanya bagi siapa saja yang datang padaNya dengan ikhlas.

“Kamu ikutin Ayah ya Abi.” Ayah menepuk bahuku secara perlahan. Aku tersenyum padanya. “Iqra.” Ayah memulai kembali bacaannya, kali ini adalah sebuah surat yang diturunkan ketika Nabi Muhammad sedang bertafakur di Gua Hira; Al-Alaq. Ayah membaca nya perlahan, mengalun indah seperti musik orchestra yang sedang di mainkan oleh Erwin Gutawa dalam sebuah pagelaran. Ibu memasak di dapur dengan tangan yang lembut dan suaranya pelan berteriak “Ayah makanan sudah siap ya.”

Ayah menghentikan bacaannya sejenak. “Sodaqallahuladzim.” Selepas itu Ayah membaca Hamdalah sambil mengusapkan kedua tangannya ke permukaan wajah paling depan. “Kita makan dulu ya, selepas itu tinggal menunggu Adzan Isya.” Ayah tersenyum padaku. Dia mulai merapikan Al-qur’an, rekar dan sajadah yang kami gunakan ketika sedang mengaji.

Aku membantunya merapikan ruangan untuk sholat itu. Kemudian berlari menuju ruang makan untuk menjemput Ibu disana, Kakak sudah lama tak pulang, ia sedang menyelesaikan studynya di Surabaya. Dan Ibu hampir menjual beberapa perhiasaan dan beberapa barang-barang berharga untuk membiayai kuliah Kakak. “Heyy jagoan ibu, cepet banget kalau soal makan malam.”

Aku selalu suka masakan ibu gumamku. Tapi pada kenyataannya aku tak pernah bisa mengatakan semuanya pada Ibu. Ayah bergegas datang untuk memastikan semuanya sudah siap. Dia melihat ke arah Ibu dan tersenyum, mengusap sebagian kerudung Ibu dan berkata. “Terima kasih.” Ah, aku selalu suka momen ketika mereka berdua menjadi sepasang Adam dan Hawa di depanku.

Ibu tersenyum pada Ayah dan mulai mempersilahkan Ayah duduk. “Kita makan dulu ya.” Ajak Ibu pada Ayah. Hidup memang indah kalau kita mensyukurinya dengan hal yang tak biasa.

Hari itu, dengan cuaca yang kurang bagus, aku menyaksikan sesuatu yang lebih indah dari sekedar hujan, pelukan hangat dari orang-orang terkasih. Dalam angin yang perlahan membuat dingin sekujur tubuh, aku menemukan sesuatu yang menghangatkan; bacaan Qur’an dan Hadits.

“Ayo Sholat Isya dulu.” Kata Pak Haji Muhammad tiba-tiba datang, lamunanku hancur dan aku kembali ke dunia nyata. Ingatan soal ayah masih terus terasa sampai sekarang. Orang pertama yang memperknalkanku pada agama.

“Iya Pak.” Sahutku singkat kepadanya.

Seluruh santri melaksanakan sholat isya berjamaan di pimpin oleh salah satu santri lainnya yang sudah cukup senior yang kutahu namanya adalah Jaka. Wajahnya yang putih dan perawakannya yang cukup besar membuatnya gagah ketika berjalan, suaranya yang halus dan lembut ketika membaca ayat-ayat suci membuatku jatuh ke dalam kapas ketenangan tapi juga membuatku iri setengah mati. Ah, seandainya aku bisa memperbudak waktu, aku ingin kembali lagi ke masa lalu, ke tempat dimana aku masih belajar membaca Qur’an. Aku ingin memperbaikinya, ya bacaanku agar terdengar begitu merdu dan syahdu.

Selepas sholat Isya berjamaah, aku pamit lalu kembali secepat mungkin ke kamar tamu. Aku mulai menyiapkan beberapa dokumen untuk aku kerjakan disini dan mungkin membuat beberapa agenda agar aku tidak terlalu membuang-buang waktu. Aku menatap langit-langit kamar, perlahan tapi pasti mencoba berpikir apa yang harus aku angkat dari sebuah objek sederhana bernama pondok pesantren. Aku masih mencarinya, otakku berputar lebih cepat daripada sebelumnya, badanku panas seakan-akan terbakar karena pikiran yang tak ketemu ujungnya.

Aku melempar diriku ke tempat tidur, mencoba berpikir sambil berbaring, tapi kenyataannya sama sekali tidak berhasil. Malam ini otakku buntu tidak ada ide yang bisa aku berikan untuk campaign nanti, yang waktunya tinggal 1 minggu setengah nanti. Dengan waktu yang sebegitu singkatnya aku harus menemukan solusi dari semua permasalahan yang ada, apa yang harus aku bahas dan aku rancang agar orang-orang kembali teringat soal pondok pesantren. Agar orang-orang kembali menemukan bahwa pesantren adalah tempat paling aman bagi setiap orang yang belajar. Malam ini bulan bersinar cukup terang, namun tidak begitu dengan bintang. Sepertinya akan turun hujan Gumamku. Aku masih menatap layar laptopku, dan masih terus mencari ide.

Waktu berlalu begitu cepat, oh waktu berlalu begitu cepat. Aku terlelap dengan laptop yang terbuka, malam itu tidak ada satupun ide masuk kecuali tentang kenangan yang ada di pondok.

 

To Be Continued.......

Baca Juga Campaign Kenangan Part 1