Bagian Sembilan - Persahabatan Ini Ada Karena Kita

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 22 Februari 2017
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

4.4 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Sembilan - Persahabatan Ini Ada Karena Kita

Februari 2009

 

Siang itu sekolah menjadi sangat ramai karena disekolah kami sedang diadakan pensi tahunan untuk para siswa dan siswi untuk menampilkan bakat mereka. Aku suka saat seperti ini, karena pertama semua orang yang tampil tidak di kotak-kotakkan. Kata ketua panitia acara hari itu Daka, dia bilang “Ini bukan ajang pembuktian, ini hanya pensi yang digelar setiap tahun. Ini juga bukan sebuah kompetisi, tapi ini adalah cara kita untuk berekspresi. Jadi, show cast your self.” Waktu itu katanya di ruang panitia, aku mengikuti rapat itu sebagai perwakilan dari kelasku.

Di halaman sekolah anak-anak ramai, mereka terus berteriak dengan lagu dan hentakan nada yang diciptakan. Sebagai sekolah yang mungkin nantinya mengambil andil dalam bidang Kreatif Multimedia, bersamaan dengan pensi ini digelar pun sekolahku mengadakan sebuah pameran karya, karya dari mulai seni lukis, foto, ilustrasi, video atau animasi. Semua karya itu diambil dari semua murid-murid berbakat yang mempunyai nilai praktek yang tinggi dalam jurusan Multimedia. Dan aku, ah aku hanyalah seorang anak yang pandai meramu kata, hanya pandai bercerita. Aku bisa bercerita hampir kurang lebih satu atau dua jam, tapi aku kurang yakin membuat sebuah film animasi 30 detik. Menulis sudah mendarah daging bagiku, sudah tidak bisa dipisahkan.

Disaat semua orang-orang bersenang-senang, aku hanya terduduk diam di meja kelas yang didalam kelas itu hanya ada aku dan juga Rama. Kami lebih memilih menghabiskan waktu berada di kelas, aku meneruskan tulisanku dan Rama, dia memilih membangun mimpi-mimpi dalam tidurnya.

“Wohooo!” Teriak Bayu tiba-tiba sambil memasuki kelas, disusul Saka dan juga Moses.

Aku terdiam, masih memperhatikan tingkah konyol mereka. Rama terbangun dengan teriakkan Bayu, suasana kelas yang tadinya tenang dan nyaman seketika Bayu datang semuanya tambah runyam.

“Lo kenapa sih Bay?!” Tanya Rama setengah kesal karena tidurnya terganggu.

“Habis menang lotre kali.” Sahutku sekenanya dan masih tetap fokus dengan tulisanku.

“Hussh ngomongnya sembarangan.” Ujar Moses dengan nada yang ramah. “Judi itu haram, kan udah ada perintahnya di Al-Qur’an, itu dilarang. Haram hukumnya.” Moses mulai kembali, diantara kami bertujuh Moses menurutku adalah orang yang paling Religius. Sehingga terkadang jika ada dari kami yang kebingungan atau Imannya sedikit terkena angin dan mulai goyah maka Moses dengan senang hati membantu kami.

“Bercanda kali.” Lanjutku masih dengan mata yang masih terfokus pada laptop.

Saka tiba-tiba berdiri, dia berjalan ke depan. Dia mengambil sebuah penghapus papan tulis dan mulai mengetukkannya ke papan tulis. “Dengerin semuanya, Bayu punya pengumuman penting buat kalian semua.” Kata Saka sambil tertawa kecil. “Tapi kita tunggu Yuri tersayang sama Aira dulu ya.” Lanjutnya.

Aku tidak menghiraukannya, aku melanjutkan tulisanku. Rama melanjutkan tidurnya dibelakang, Moses hanya terdiam saja sambil memainkan ponselnya, Sementara Bayu dan Saka tertawa aneh layaknya orang yang mempunyai rahasia yang besar. Padahal aku tahu mungkin pengumuman yang mereka maksud adalah soal pensi, atau mungkin soal kepala sekolah baru, atau mungkin soal anak Mbo Ana menikah dengan anak pengusaha sukses. Ah, itu kan namanya sebuah gosip, tidak layak disebut pengumuman.

Lagi pula apa menariknya membicarakan kehidupan orang lain? Menurutku membicarakan kehidupan orang lain merupakan hal paling bodoh yang pernah ada. Semua hanyalah masalah bagaimana kita menghargai privasi orang lain, di zaman modern digital seperti ini, kita begitu mudah mengakses info dari siapapun yang kita mau. Bahkan kadang akan menjadi bahan omongan, aku tidak habis pikir bagaimana cara mereka tidak bisa sedikitpun menghargainya, aku sedikit membenci itu. Menurutku, itu adalah hal yang tidak harus dilakukan sebagai seorang manusia. Hal yang belum tentu benar dibesar-besarkan, tapi hal yang sudah benar malah di abaikan. Dunia ini sudah terbalik, bahkan sekarang jumlah populasi perempuan lebih banyak daripada laki-laki, mungkin suatu saat nanti kita akan dipimpin oleh perempuan.

Banyak orang yang mengira perempuan adalah makhluk yang lemah, tapi bagiku lemah bukan kata yang tepat untuk mereka. Bagiku kata yang tepat adalah kuat, mereka bahkan bisa memimpin sebuah kota. Ada sebuah kota di Indonesia yang wali kota nya adalah seorang perempuan, aku tidak perlu sebut kotanya. Tapi kita sebut saja dia Sura (Ikan) dan Baya (Buaya). Di kota itu, wali kotanya perempuan. Bahkan dia membuat kota itu begitu tertib dan taat aturan, bayangkan seorang perempuan bisa melakukan semua itu. Semuanya takut loh sama wali kotanya, kalau sang wali kota Surabaya mencalonkan diri untuk menjadi wali kota di Jakarta aku rasa dia akan terpilih. Bagaimana tidak, cara dia memimpin Surabaya untuk menjadi kota yang tertib, bersih, taat aturan, dan berdikari menjadi nyata loh. Tidak habis pikir bagaimana seorang perempuan bisa melakukan itu. Itulah mengapa perempuan seharusnya disebut makhluk yang kuat.

Kekagumanku pertama kali kepada seorang perempuan adalah ketika melihat Ibu berjalan sendirian tanpa ada laki-laki yang menemaninya. Ketika ayah meninggal, ekonomi keluarga hancur dan sangat tidak stabil. Tapi dia masih sanggup membiayai sekolahku dan juga kuliah kakak di Surabaya. Aku kagum padanya, pikiranku waktu itu hanyalah berpikir bahwa ibu adalah pahlawan yang sebenarnya, pahlawan yang mengalahkan Captain Amerika dan teman-temannya. Ibu selalu bilang padaku “Dimas, selama Tuhan belum mematikan kamu, selama Tuhan masih mengizinkan kamu berada di dunia ini. Kamu wajib untuk terus berjuang, wajib untuk percaya sama mimpi-mimpi kamu. Nggak ada satu orang pun yang bisa menghentikan kamu selain diri kamu sendiri.” Dan disitulah aku percaya bahwa seorang perempuan juga dilahirkan dengan kekuatan yang jauh luar biasa daripada laki-laki.

---

Selang setengah jam, Aira dan Yuri datang sambil membawa makanan ditangan mereka. Hari itu aku melihat Aira tampil lebih Fresh dengan kerudung biru muda dan juga kemeja biru muda miliknya. Sementara Yuri berpenampilan layaknya orang yang ingin pergi ke mall.

“Akhinya datang juga.” Keluh Saka. “Kemana aja sih ditungguin lama banget.”

Yuri memicingkan matanya. “Kemana aja, kemana aja. Nih beliin makanan buat kamu sama yang lain. Orang tuh kalau mau ngomong sesuatu pikir dulu.” Kata Yuri sambil mencubit lengan Saka.

Kami tersenyum melihat tingkah mereka berdua, kecuali Rama dia masih tertidur. Bagi kami pemandangan seperti ini sudah maklum dan sering terjadi, ketika Yuri memarahi Saka atau ketika Saka mengeluh kepada Yuri tapi Yuri membalas dengan memarahi Saka kembali. Ah semua itu terlalu indah, kami bersahabat satu sama lain, selain untuk menjaga persahabatan ini bisa bertahan kadang kami juga menjaga hubungan mereka agar terus bertahan.

“Rama mana?” Tanya Aira tiba-tiba, ketika dia menyadari kehadiran Rama tidak ada. Aku sedikit cemburu dan kesal, tapi aku tersadar Mungkin hanya bertanya saja Pikirku.

“Tidur dibelakang.” Sahut Moses yang masih fokus terhadap ponselnya.

Aira berjalan ke sudut belakang kelas ke tempat dimana Rama tertidur. Lalu perlahan dia membangunkannya dengan nada yang hangat dan ramah. Aku melihatnya, cemburu nya setengah mati, panas menjalar ke seluruh tubuhku, seakan-akan diri ini akan meledak membuyarkan seluruh bagian badannya. Seharusnya tadi gue yang tidur Pikirku. Aku masih memperhatikan Rama yang kini tengah terbangun dengan Aira disampingnya, perlahan tapi pasti mereka berdua saling tersenyum dan menatap, ada jeda disana ketika Rama menyebut nama Aira lembut penuh kehangatan. Arrgggghhh, itu adalah moment paling menyebalkan yang pernah aku lihat. Karena kesal aku langsung beralih ke arah Saka yang masih asik suap-suapan dengan Yuri.

“Sak tadi katanya mau mengumumkan sesuatu, apaan?” Ujarku tiba-tiba membuat berhenti semua aktifitas mereka. Aira dan Rama perlahan berdiri, Moses berhenti memainkan ponselnya, Bayu masih terdiam di bangkunya, Yuri dan Saka berhenti suap-suapan.

“Oh iya gue lupa.” Jawab Saka singkat.

Yuri menoleh ke arah Saka dengan mata bertanya-tanya Pengumuman apa batinnya mungkin.

“Paling juga lo beli motor baru, kan?” Sahut Rama yang tiba-tiba saja bergabung ke dalam topik, tidak tahu kenapa hari ini aku malah jadi membencinya setengah mati.

“Bukan.”

“Anak kucing lo lahiran lagi?” Moses menimpali.

“Soto jualan Bapak lo abis lagi?” Tanyaku.

“Bukan juga.” Saka masih berusaha untuk terus menjawab.

“Rumah lo di tingkat?” Tanya Rama sekali lagi.

“Nah kalau itu benar, rumah gue ditingkat jadi dua lantai, nah dibawahnya itu nantinya ada buat bagasi mobil sama motor. Jadi kalau kalian kerumah gue main, nggak repot lagi untuk parkir motornya dimana....”

Yuri mencubit lengan Saka. “Serius sedikit apa sayang, mau kasih tahu apa kamu?”

“Aw sakit, iya iya iya.” Keluhnya kesakitan karena cubitan Yuri. “Oke, gue ada kabar gembira.” Dia mulai tertawa yang mencurigakan, dan Bayu juga melakukan hal yang sama. “Bayu jadian sama Nisa anak kelas sebelah!” Teriaknya membahana.

Seluruh ruangan tiba-tiba memasang wajah tidak percaya pada apa yang sedang Saka katakan. Bayu? Serius Bayu, aku melihat Bayu sumringah dia tertawa layaknya aktor jahat yang ada di film-film action. Nisa, anak kelas Multimedia 4 adalah anak yang cantik dan juga pintar, dia mudah bergaul dan juga memiliki suara yang bagus saat benyanyi. Dan Bayu baru saja menjalin hubungan dengan dia, entah ini keajaiban atau musibah tapi yang pasti kami masih belum percaya sepenuhnya.

“Serius?” Moses berjalan ke arah Bayu, lalu mulai mengguncang badannya. “Serius Bay? Seirus?” Tanya Moses sambil terus mengguncangkan badan Bayu.

“Nggak percaya gue.” Sahut Rama dengan ekspresi yang sok cool.

“Serius, gue baru aja jadian sama dia kemarin. Hari ini gue anter jemput dia.” Kata Bayu menyombongkan diri setelah Moses melepaskannya.

“Kayak ojek.” Celotehku sekenanya.

“Ojek cinta.” Bayu mulai mengawang, terbang kemanapun dia suka.

“Terserah lo deh Bay.” Sahutku kesal.

Yuri berdehem. “Kalau memang bener Bayu udah jadian sama Nisa anak kelas sebelah, berarti di grup kita yang jomblo tinggal Rama, Moses, Dimas, sama Aira dong.” Ujar Yuri, kata-katanya pelan tapi meyakitkan.

“Iya deh yang udah punya pacar.” Jawabku sambil menoleh ke arah Saka, Saka hanya tersenyum sambil berdehem mengikuti apa yang Yuri lakukan.

“Eh enak aja, nggak gue nggak jomblo lagi deket sama perempuan gue.” Jelas Rama sambil setengah mati menolak pernyataan Yuri.

“Gue juga lagi deket sama laki-laki.” Aira pun demikian. Siapa? Aku? Pikirku bertanya.

“Gue juga.” Sahut Moses.

Saka mengernyitkan dahinya. “Lo deket sama siapa Ses?”

“Sama anak sekolah sebelah, namanya Tia.” Kata Moses menyombongkan diri.

Yuri kembali berdehem. “Berarti yang jomblo cuma Dimas dong.” Lanjut Yuri dengan nada yang tidak enak di dengar telinga. “Jadi kapan nih?”

“Kapan-kapan, udah ya gue mau ke bawah dulu cari makanan.” Aku mulai merapikan laptop dan beranjak pergi dari kelas.

Setelah pengumuman Saka soal Bayu telah menjalin hubungan dengan Nisa, aku mulai merasa semuanya semakin tidak beres, belum lagi Aira yang perlahan menanyakan keadaan Rama disaat dia tidak ada bersama kami, dan Moses yang tiba-tiba dekat dengan Tia anak sekolah sebelah. Aku manjadi berpikir setengah mati, apakah Laki-laki yang Aira maksud adalah Rama, dan perempuan yang Rama maksud adalah Aira. Arrggghhh semuanya begitu rumit, cinta kadang bisa membuat orang semakin gila. Hatiku menjadi was-was, perasaanku menjadi tidak stabil. Apa Aira dan Rama sudah? Ah tidak mungkin, Rama tahu kalau aku menyukai Aira, tidak mungkin dia menghianati sahabatnya sendiri. Aku membuang jauh-jauh pemikiran itu.

Hari itu, acara pensi sekolah sukses besar dan mendapatkan banyak pujian dari kepala sekolah. Seluruh panitia tertawa dan bahagia, dan aku yang bukan panitia sedang merasakan kekhawatiran tentang sesuatu.

---

Kekhawatiranku soal Aira dan Rama menjadi semakin buas ketika berada di kamar, bayangan soal Aira yang membangunkan Rama dengan hangat, mambuatku semakin mual dan kesal. Malam itu aku hanya tertidur di kamarku sambil melemparkan bola tennis ke langit-langit kamarku.

Bintang bersinar malam ini, begitupun juga bulan tapi tidak dengan hatiku. Hatiku redup, walaupun aku belum mengetahuinya secara pasti soal Rama dan Aira, tapi aku tersakiti ketika tahu Aira lebih memperhatikan Rama daripada aku yang sedang dekat dengannya. Cinta itu bisa menyakitkan kadang, ketika semua tidak terbalas secara sempurna. Lalu untuk apa proses pendekatan dan sebagianya jika rasa sakit masih saja ada. Aku rasa pernyataan para orang-orang terdahulu selalu salah, cinta hanya membutuhkan hal yang sederhana dan apa adanya. Kalau memang seperti itu, lalu bagiamana nasib orang-orang yang ditolak dan dicampakkan? Bukankah jika begitu berarti cinta juga membutuhkan syarat untuk menjalaninya dengan wajar? Aku bingung dengan semua ini, soal cinta adalah persoalan yang rumit. Seperti rumus matematika yang kupelajari, cinta adalah soal algoritma dan rasa sakit adalah rumus itu sendiri. Bahagia dan sedih hanya dipisahkan dengan benang tipis yang tidak terlihat. Seperti soal dan rumusnya, sekalinya salah dan kurang teliti maka akan mendapatkan hasil yang buruk (rasa sakit) Atau kalau beruntung akan mendapatkan hasil yang baik (kebahagiaan).

Mungkin cinta adalah cara kita untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia. Tapi kadang cinta adalah penyebab patah hati terhebat kita di dunia.

Sebuah ketukan tiba-tiba terdengar cukup keras pada pintu kamarku. “Dim.” Suara ibu perlahan memusnahkan bayanganku soal Rama dan Aira.

“Iya bu?” Jawabku yang masih berada di posisi yang sama, belum beranjak sama sekali dari kasur.

“Temennya ada yang nyariiin tuh.”

“Siapa?”

“Ibu kurang tahu, tapi ramai ini.” Jawab ibu ramah, seperti biasanya.

Aku beranjak dari kasur lalu perlahan menuju pintu kamar untuk melihat siapa yang mencariku. Pukul 10 malam, aneh rasanya kalau ada temanku yang bermain atau bertamu pukul 10 malam. Aku rasa mereka bukan temanku, karena keseluruhan temanku pasti mengerti kalau waktu seperti ini sudah harus masuk jam tidur.

“HAPPY BIRTHDAY DIMAS!” Suara itu membuatku menutup telinga. Semua sahabatku datang kesini untuk merayakannya. Hari ulang tahunku, ah aku saja melupakannya. Memang kadang sahabat adalah pengingat yang baik.

“Kalian kok disini?” Tanyaku kepada mereka.

Saka tersenyum. “Iya dong, hari ulang tahun sahabat sendiri masa nggak di rayain.” Lanjutnya. Aku melihatnya sekarang, kebaikan dan ketulusan mereka selalu ada bersamaku.

“Tiup lilinnya.” Kata Aira yang sedari tadi memegang kuenya. “Pegel tahu.” Keluhnya, ah aku selalu suka ketika dia mulai cemberut dan kesal seperti itu. Perkataannya membuatku sedikit lupa soal dia dan Rama.

Aku meniup lilinnya perlahan, malam itu menjadi malam yang paling membahagiakan. Aku selalu lupa hari ulang tahunku tapi mereka sahabat-sahabatku mengingatnya bahkan Moses mencatat di ponselnya. Aku menjadi teringat salah satu kutipan sederhana dari Fiersa Besari dalam bukunya Garis Waktu Lebih baik tidak punya pacar tapi banyak orang yang peduli, daripada pacaran tapi merasa sendiri. Malam itu kekesalanku soal Rama terhapus sudah, pikiranku soal hal-hal buruk tentang Aira musnah sudah. Malam ini mereka datang, menyempatkan waktu mereka untuk merayakan hari ulang tahunku.

“Potong kuenya dong.” Yuri mulai menegorku dan memberikan pisau potongnya.

“Oke.” Perlahan aku mulai memotong kuenya. “Untuk Saka yang dengan sengaja membuat kita bersatu menjadi sekumpulan sahabat yang menyebalkan.” Kataku sambil tertawa.

Saka hanya tersenyum. “Bukan karena gue, persahabatan ini ada karena kita. Persahabatan ini ada karena Tuhan sudah menakdirkan kita untuk bertemu, untuk sekedar bertegur sapa dan menjadi keluarga.” Lanjut Saka.

Yuri mencubit Saka tiba-tiba dengan putaran 180 derajat di lengannya. Aku tahu rasanya, pasti sakit sekali. “Ihh kamu tuh ya, yang ulang tahun kan Dimas seharusnya dia yang pidato bukan kamu.” Yuri semakin mengencangkan cubitannya.

“Iya iya ampun.” Pinta Saka sambil memelas. Dan kami semua tertawa melihat tingkah mereka berdua.

Mungkin ini sederhana, sahabat adalah orang yang membiarkan kita menjadi versi terbaik dari diri kita, mereka yang kadang membuat kita kesal tapi kadang membuat kita bahagia. Mereka yang selalu mengerti seperti apa kita, apa yang kita inginkan dan rasakan. Kami ditakdirkan menjadi sahabat, saudara, keluarga yang dilahirkan dari rahim yang berbeda, dan dibesarkan dari ayah dan ibu yang berbeda. Tapi kami yakin itu, setiap perbedaan yang ada pada masing-masing kami adalah untuk saling menguatkan. Saling mendorong satu sama lain untuk merangkak maju menuju tangga yang lebih tinggi. Orang pertama yang akan dengan sengaja bertanya “Lo kenapa?” Ya kepedulian adalah segalanya, bagi mereka yang percaya tentang persahabatan.

“Dim ada telepon tuh.”

Aku menoleh ke arah ibu. “Dari siapa bu?”

“Katanya dari editor penerbit.” Jawab ibu singkat.

Aku dan yang lain saling bertatapan, lalu perlahan mengembang senyum di wajah kami semua. Aku sudah menceritakan kalau aku ingin menjadi seorang penulis kepada mereka, dan ketika mendengar berita ini, itu juga suatu kebahagiaan untuk mereka. Bukankah begitu, susah dan senang adalah soal bagiamana kita membagi bersama?

“Halo.” Kataku ketika telepon sudah ada ditanganku.

“Halo, ini Dimas ya?” Suara seorang perempuan berada di ujung sana.

“Iya benar.”

Dia menarik napas perlahan. “Saya Ayin, saya editor penerbit yang naskahnya waku itu kamu kirim, maaf kalau ganggu malam-malam karena lagi ada kerjaan jadi sekalian kamu saya telepon supaya besok siang bisa ke kantor.”

“Oh iya mba, iya bisa.”

“Oke, naskah kamu diterima tapi masih ada yang harus direvisi. Besok akan saya jelaskan detailnya di kantor ya.”

“Oke mba.” Kataku lalu telepon langsung ditutup.

Aku kembali kepada teman-temanku, perlahan tapi pasti langkahku bahagia layaknya anak kecil yang mendapatkan permen karet dari ibunya. Bukankah membahagiakan ketika cita-cita yang kita impikan sejak lama bisa menjadi kenyataan walaupun harus revisi dan ada beberapa halangannya. Tapi itu yang namanya proses, pepatah lama selalu berkata Proses tidak akan pernah menghianati hasil. Begitulah, seperti detak jarum jam yang tidak pernah berkhianat kepada angka, seperti semua itulah kerja keras. Selalu saja ada akhir indah menyertainya.

“Gimana?” Tanya Saka.

Aku mengangguk perlahan.

“Lo ngangguk itu diterima atau gimana?” Tanya Bayu memastikan.

Aku tersenyum perlahan. “Iya diterima.”

Semuanya langsung berteriak kegirangan, Moses melompat-lompat, Rama dan Bayu berpelukan begitupun Yuri dan Aira. Sementara Saka berlari ke arahku dan memelukku. Aku merasakannya ada air mata yang tertahan disana, ada tangis yang akan tumpah.

“Gue percaya lo bisa Dim, gue percaya.” Kata Saka dengan kata yang hampir terbata, kurasa air mata baru saja keluar dari matanya.

“Ada yang sedikit harus direvisi sih.”

“Nggak apa-apa yang penting lo udah aman, yang penting buku lo udah pasti akan terbit.” Seru Saka sambil memukul pelan punggunggku kali ini.

Begitulah persahabatan yang sederhana, ketika satu orang mendapatkan kebahagian semuanya juga merasakan kebahagiaan yang sama. Ketika satu orang merasakan kesedihan semuanya juga merasakan kesedihan yang sama. Sahabat, apapun bentuknya, perasaannya sudah terikat satu sama lain bahkan dalam hal-hal yang pribadi sekalipun. Aku merasakannya malam ini, kebahagian sahabat-sahabatku dan juga tangisan kebahagian Saka. Dan aku baru tersadar, aku juga telah menitihkan air mata.

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    4 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Asyik sekali penggalan cerpen dari Arifin Narendra Putra ini. Menyenangkan, kekinian secara bungkusan tetapi tetap mengandung esensi yang penting tak cuma relevan buat anak sekolah tetapi juga buat orang dewasa.
    Bercerita tentang persahabatan beberapa anak satu sekolah, fragmen ini mengetengahkan si narator sekaligus tokoh utama jelang hari ulang tahunnya. Ia dan rasa cemburu yang ia miliki untuk temannya yang dinilai dekat dengan cewek dambaan hatinya lalu penyajian sifat karakter teman-teman di lingkaran dalamnya.

    Pada akhirnya, kejutan dari mereka yang menyayangi dia membuat dia sadar sahabat lebih penting dari rasa naksirnya kepada sang dambaan hati dan tentunya dari rasa cemburunya. Cerita ini sungguh riil, dekat dengan kehidupan sehari-hari. Gaya tutur Arifin pun enak dinikmati sampai selesai.