Bagian Delapan - Senja Di Balik Bukit

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 21 Februari 2017
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

4.8 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Delapan - Senja Di Balik Bukit

“Om.” Panggil Aika padaku.

Aku menoleh ke arahnya yang duduk disampingku, sambil terus memeluk boneka kesayanganya. “Kenapa?” Tanyakuh hangat.

Dia hanya tersenyum, terus memandangku layaknya seorang pahlawan kesiangan yang datang dari luar kota. Hari ini aku mengajak Aika untuk menemaniku duduk bersama di bangku bukit dekat rumah untuk sekedar menikmati senja. Aku hanya ingin mengulang semuanya kembali, dulu ketika waktu berputar dengan perlahan, merekam semua kasih sayang dan cinta pada tempatnya. Aira terduduk disampingku waktu itu, dengan kerudung merah muda yang selalu ia kenakan setiap kami akan pergi bersama. Dia mempunyai kerudung merah muda yang cukup banyak di lemari kamarnya, karena dia menyukai warna itu dan juga dia terlihat jauh lebih cantik menggunakan kerudung itu.

“Nggak apa-apa Om, aku cuma mau denger suara Om aja.” Ujar Aika lembut.

Benar saja, aku tahu bagaimana perasaan Aika. Aku berada 4 tahun di Melbourne untuk study disana, dan meninggalkan Aika. Memang aku bukan ayah kandungnya, dia hanya keponakan yang kebetulan lahir dengan selamat. Tapi kami layaknya ayah dan anak, ketika ayah Aika yang mana dia juga merupakan kakakku pergi bekerja. Aku yang menjaganya, menemaninya bermain petak umpet atau bahkan bermain kejar-kejaran di area taman. Aku menyayanginya sebagaimana ayahnya.

Senja kali ini tergelincir lebih cepat, wajahku dan Aika tertabrak senja dengan bergitu jelas. Burung-burung berterbangan dari satu tempat ke tempat yang lainnya mengeluarkan suara yang merdu. Aika berdiri tiba-tiba dan mengambil sebuah batu, kemudian ia melemparkannya ke bawah. Dia tertawa melakukan itu, aku ikut tertawa sambil terus bepikir. Sederhana sekali sebuah kebahagiaan, kadang aku ingin menjadi seorang anak kecil yang tertawa kalau ada sesuatu yang lucu atau disukai, menangis jika ada sesuatu yang menyakitkan, berlari jika ada yang mengejar, melompat jika ada yang terbang, memanggil jika perlu bantuan. Tapi saat ini, ketika tumbuh menjadi seorang yang dewasa, untuk tertawa saja kadang harus ada beberapa alasan untuk menertawainya, untuk sedih dan lainnya. Semuanya rumit sekali.

“Om ini.” Seru Aika sambil mengambil sebuah batu dan memberikannya padaku. “Om ikutan juga.” Lanjutnya.

Aku menggeleng, namun Aika langsung menarik tanganku. Aku mengalah lalu berdiri dan mulai siap untuk melempar. “Lemparan kamu sampai mana?” Tanyaku pada Aika.

Dia menunjuk sebuah pohon besar yang rindah ujung bukit. “Itu Om.”

“Om lewatin lemparan kamu.” Kataku sambil bersiap, lalu melemparnya dengan sekuat tenaga. Lemparan batuku melebihi lemparan Aika, dia menunjukkan wajah sedihnya dan aku malah tertawa dengan merasa bangga berhasil mengalahkannya.

“Om curang.” Keluh Aika sambil mengambil batu lainnya, lalu melemparkannya kembali. Tapi sayang lemparannya tidak berhasil menyentuh rekorku.

Aku tertawa keras, sambil terus meledeknya. “Mana nggak sampai.” Kataku sambil tertawa kembali. Aika hanya cemberut sambil  terus berusaha mengalahkan lemparanku, walaupun tidak pernah sampai.

Hari ini, lewat senja di balik bukit. Aika mengajariku sesuatu, soal kebahagiaan yang sederhana, yang kita tidak harus mempunyai alasan dibalik itu semua. Kurasa hukum ‘sebab akibat’ tidak selamanya berfungsi dalam setiap sesuatu yang kita alami. Dan bahagia ternyata bukan sesuatu yang rumit, hanya perlu sebuah batu dan melemparkannya. Ya, hanya itu.

“Pulang yuk Om.” Ajak Aika.

Aku melihat ke arah senja, senja sudah hilang. Langit berubah menjadi petang. “Ayo.” Aku menggendongnya ke mobil, hari ini sungguh membahagiakan bagiku.

“Om.”

“Iya?”

“Om belum cerita semuanya soal 7 pendekar dari negeri seberang, kan?” Tanyanya.

Aku tersenyum. “Oh iya, Om baru cerita setengahnya ya?” Dia mengangguk perlahan, sambil mengeratkan genggaman tangannya padaku. “Yaudah nanti malam Om ceritakan lagi ya.” Lanjutku.

Dan hari itu senja tenggelam, bersama kesedihan yang kubuang melalui sebuah batu