Campaign Kenangan (Part 1)

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Februari 2017
Campaign Kenangan (Part 1)

Pagi masih menampakkan kebaikannya, bersama sinar hangat yang dengan senang hati menabrak sebagian diriku. Aku masih terduduk disana, di tempat dimana semua tugas-tugas kantor berserakan di segala tempat, dimana semua pikiran dan gagasan menyatu menjadi sebuah ide yang terwujud dalam bentuk yang nyata.

Aku masih menatap komputer yang sedari tadi berada di depanku, dengan latar belakang gambar seekor paus yang sedang berenang mengejar ikan-ikan kecil. Pagi itu suasana kantor cukup ramai, banyak anak magang yang tiba-tiba membludak ketika Ramadhan akan datang. Aku selalu keheranan dengan mereka, bukankah ketika memasuki bulan Ramadhan beberapa sekolah meliburkan murid-muridnya, tapi kenapa yang kudapat hari ini adalah banyak sekali wajah-wajah baru dengan pakaian putih hitam berjalan-jalan di lorong-lorong kantor dan meminta tanda tanganku sebagai bentuk bahwa mereka sukses mengerjakan tugas yang diberikan saat magang.

“Permisi Pak.” Seorang anak magang yang ku tahu namanya adalah Dani, tiba-tiba mengetuk pintu ruang kerjaku.

“Iya Dan.” Sahutku kepadanya.

Dia mulai melangkah masuk perlahan, langkahnya berhenti sekitar 4 meter dari meja kerjaku. “Ini Pak, Bapak di panggil sama Pak Indra.” Katanya sambil menunjuk ruangan Pak Indra yang Dani maksud. Jaraknya memang tidak begitu jauh dari ruanganku, hanya beberapa langkah saja.

Indra adalah CEO dari perusahaan yang saat ini aku bekerja di dalamnya, dan aku adalah PM (Project Manager) nya, sebenarnya ini adalah perusahaan yang kami dirikan bersama, namun ketika ditunjuk sebagai CEO aku menolaknya lalu memilih untuk menjadi PM saja. “Iya Dan, nanti saya ke sana.” Jawabku lembut, sambil perlahan bangkit dari tempatku duduk dan beranjak ke ruangan Indra.

Ruangan itu sangat cocok dengan kepribadiannya, Indra adalah orang yang satu-satunya penyuka Muhammad Ali tingkat tinggi di kantor ini. Bahkan dia sempat membeli semua film tentang Ali yang dibuat oleh beberapa Sutradara di Amerika sana. Lengkap sudah koleksinya. Ketika memasuki ruangan dan banyak poster Muhammad Ali disana, sudah pasti itu adalah ruangan Bapak CEO.

“Kenapa Ndra?” Kataku sambil menutup pintu ruangannya.

“Gue udah baca proposal lo soal Campaign soal Trend masakan Indonesia memasuki bulan Ramadhan.”

“Lalu?”

“Klien kita nggak suka Bi, mereka mau hal-hal yang jarang orang pandang atau kebanyakan orang meremehkan keberadaan objek itu.”

“Maksudnya?”

“Jadi gini, banyak banget hal yang hilang dari Indonesia, sebenarnya mereka ada tapi mereka terlupakan...” Kata-kata Indra berhenti disana, dia berpikir sebentar. “Oh bukan, tapi sengaja dilupakan. Dan klien kita mau kita mengangkat campaign soal hal yang sudah jarang orang ketahui keberadaannya dan kembali mengembangkannya agar semua orang tahu sebenarnya ini adalah senjata terkuat untuk kemajuan Indonesia.” Jelas Indra dengan proposal ber-cover hitam yang kuberikan beberapa hari yang lalu untuk dia cek.

“Tunggu-tunggu, tema campaign ini kan soal menyambut Ramadhan dan hal-hal unik di Indonesia saat Ramadhan, kan? Kok Nasionalis gitu.” Seruku keberatan dengan keputusan sepihak Indra, memang dia CEO nya tapi aku juga bagian yang membangun perusahaan ini.

Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu menaruhnya di atas meja kerjanya. “Ini yang akan kita bahas, dan tema untuk Campaign Ramadhan kali ini kita ubah.” Katanya sambil menunjuk sebuah kertas brosur yang dia tunjukkan kepadaku.

“Brosur?”

“Bukan brosurnya, tapi Pesantrenya.” Aku mengerenyitkan dahiku, dia menarik napas lalu mulai kembali bersiap menjelaskan. “Begini, kemarin ketika gue meeting sama orang-orang dari pihak sponsor itu, mereka bilang mereka bukan hanya butuh tema atau objek yang menjual tapi juga esensial. Orang Indonesia sudah jauh lebih pinter daripada dulu, dan ini adalah hal yang mau gue angkat untuk menjadi campaign kita berikutnya. Karena secara tidak sadar, pesantren telah sengaja di hilangkan keberadaannya oleh masyarakat. Dan memunculkan kembali mereka adalah bentuk campaign yang baik untuk menyambut Ramadhan tahun ini.” Jelasnya.

“Lo yakin?” Tanyaku sekali lagi padanya, memastikan dia mengucapkan semua itu secara sadar. Aku mulai mengerenyitkan dahi kembali, sambil menatapnya lekat-lekat.

“Gue tahu apa yang ada di pikiran lo.” Katanya sambil menunjuk keningku. “Abi, ini bukan soal keyakinan kita yang beda. Tapi soal bagaimana masyarakat kembali sadar dan tahu kalau Indonesia sebenarnya punya wadah pendidik yang jenius dan hebat, lagipula kan dulu lo pernah di pesantren, kan?”

“Ya hanya 3 Tahun Ndra selepas Ayah meninggal.”

“Nggak masalah, yang penting Esensial.” Katanya tersenyum.

---

Cahaya rembulan mulai menunjukkan keindahannya, dengan bintang yang indah di sekelilingnya. Aku masih menatapnya, dari jendela kamarku yang berada di lantai dua. Aku masih memperhatikannya terus, sampai akhirnya bayanganku memasuki masa-masa ketika aku kecil, seminggu selepas Ayah meninggal.

“Aku Arga.” Kata salah seorang laki-laki yang duduk dekat Musholla pesantren degan tangan yang ia sodorkan.

“Abimana, kamu bisa panggil aku Abi.” Kataku tersenyum, ketika itu umurku baru beranjak 10 tahun dan Ibu memilih untuk memasukkanku ke salah satu pesantren di daerah Bogor, kampung mendiang Ayah tinggal.

“Kamu dari mana? Baru ya disini?” Tanyanya padaku.

“Jakarta, iya aku baru masuk kesini tadi siang.” Arga mengangguk, sambil terus tersenyum kepadaku.

Dari ujung gerbang pondok seorang anak kecil menangis keras, dan semua orang mengerubunginya dengan cepat. Seorang senior berusaha untuk mengangkatnya tapi dia terus berpegang pada gerbang pondok, dia berteriak keras-keras meneriakkan nama orang tuanya kalau aku tidak salah dengar.

Karena satu orang tidak cukup untuk menariknya, akhirnya beberapa senior lainnya ikut membantu dan membawa sang anak ke dalam kamar lalu menenangkannya disana. Aku masih memandang anak itu dengan tatapan yang aneh sekaligus kasihan. Dia sepertinya di buang oleh orang tuanya.

“Itu sudah biasa terjadi Bi.” Kata Arga sambil menunjuk anak kecil yang di bawa tadi

“Ma.. Maksudnya?”

“Iya, banyak dari orang tua santri yang memasukkan anaknya ke sini sedini mungkin agar mereka lebih bisa belajar mandiri, belajar agama dan banyak hal lainnya yang akan mereka tekuni selama berada di pondok. Tapi kadang pemikiran anak-anak selalu saja sulit di tebak, ada anak yang biasa-biasa saja dan menganggap semua ini untuk kebaikannya, tapi ada beberapa anak yang merasa orang tuanya membuang mereka karena memasukkan mereka ke pesantren.” Jelasnya.

Aku mengerti penjelasan Arga, bagaimana bisa pemikiran sederhana soal bermain dan dekat dengan orang tua tiba-tiba dirubah dengan lingkungan yang berbeda, sesak pasti ketika anak itu menganggap dirinya sudah tidak berarti di keluarganya dan orang tuanya juga hanya tidak ingin terlalu lelah untuk mengurusnya. Pemahaman yang salah di sini adalah ketika pondok pesantren menjadi buruk ketika fungsinya di anggap sebagai panti asuhan anak. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Langit senja memasuki wilayah pondok, membuat aku dan Arga bersiap mebersihkan badan dan mulai melangkah ke Musholla di ujung pondok untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah.

“Abi.” Ketukan lembut ibu di bagian bahu tiba-tiba mengembalikanku ke kenyataan.

“Eh ibu.” Kataku tersenyum malu.

“Lagi mikirin apa?” Tanya Ibu sambil merebahkan badannya di bangku disamping rak-rak bukuku. “Perjalanan buat besok?”

Aku mengangguk terpaksa, sebenarnya bukan itu yang kupikirkan.

“Ibu udah siapin semuanya kok, besok pagi kamu tinggal berangkat saja.” Kata Ibu tersenyum. “Berapa hari disana?”

“Nggak lama kok bu, ya mungkin 4 atau 5 hari. Sekalian mau nostalgia sama pengurus disana.” Kataku santai menganggapi ibu.

Ibu tersenyum, dia mulai berdiri dari duduknya. “Ya sudah, besok ibu anter ya.” Aku megangguk dan ibu mulai beranjak keluar dari kamarku.

Bulan masih menyisakan sinarnya malam ini, masih dengan bintang-bintang kecil nan indah yang berada di sekelilingnya, nostalgia adalah cara manusia mengenang tempat dimana dia berasal. Tidak melupakannya dan mulai menyapanya kembali, pondok pesantren adalah tempat yang aman yang memberikanku rasa nyaman, dan mungkin akan banyak yang berubah dari sana, tapi itu bukan masalah besar.

Aku mulai merapikan sisa-sisa barang bawaan, kemudian tertidur lelap di kasur kamar. Dan malam itu semuanya benar-benar tenang, sangat tenang.

 

 

 

To Be Continued...