Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 27 Januari 2017   13:55 WIB
Surat Cinta Untuk Jodoh

Kepada Jodoh,

Aku ingin sesekali mengetahui dirimu, ingin sesekali melihat dirimu dari kejauhan. Berharap Sang Waktu mempertemukan kita dengan cepat, dulu aku pernah terlalu berharap kepada seseorang yang ternyata bukanlah kamu. Hatiku patah saat itu, remuk layaknya pecahan kaca yang berserakan di lantai. Seandainya Tuhan memberikanku petunjuk bahwa perempuan yang dulu aku cintai sampai setengah matinya aku tidak ingin kehilangan dia adalah perempuan yang nantinya akan pergi dan meninggalkanku maka aku tidak akan berharap banyak.

Ternyata benar kata sebagian orang, bahwa ketika kita berharap banyak maka kita juga harus siap kecewa banyak. Aku merasakannya, aku kira itu kamu, tapi kamu tidak mungkin pergi begitu saja dari hidupku di hari paling penting dalam hidupku. Kamu pasti akan selalu ada untukku sampai di saat-saat paling kritis sekalipun. Hidupmu adalah hidupku, sebagian dirimu adalah sebagian diriku. Kita berdua sama-sama tahu bahwa kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama. Walaupun sama-sama harus melewati patah hati yang berbeda. Ah kau tahu kenapa aku begini, sakit rasanya ditinggal pergi. Sakit rasanya menjadi pria yang dengan sengaja di tinggal pergi oleh pasangannya di hari H pernikahan. Kau tahu rasanya itu? Aku terduduk di depan penghulu, masih menunggu, masih menunggu, tapi tidak lama setelah itu seseorang datang padaku dan berkata kalau dia sudah pergi lewat jendela kamarnya.

Kepada Jodoh,

Setelah banyaknya patah hati yang datang padaku, kali ini datang satu perempuan lagi dalam hidupku, perempuan yang barangkali sederhana dan juga berbeda dari perempuan sebelumnya. Aku mengenalnya dari Ibu, tapi aku sama sekali tidak mencintainya, ini adalah perjodohan yang aku sendiri tidak tahu akan kemana arahnya. Aku bingung bukan main, aku sudah tidak mau menebak-nebak lagi apakah kali ini itu kamu atau bukan, aku tidak mau berharap banyak. Aku sudah kehabisan air mata menagis dipojokan kamar sambil sedikit berbisik. “Kemana kamu wahai jodohku.”

Banyak orang yang bilang kalau aku tidak perlu terlalu khawatir karena kamu, karena kamu sudah di atur oleh Tuhan. Kalau sudah waktunya katanya kamu akan datang dengan sukarela kepadaku. Kalau memang begitu, bisakah kamu memberiku waktu yang pasti kapan kau akan datang? Setidaknya aku butuh ciri-cirimu untuk memastikan aku tidak patah hati kembali. Hehh... Mungkin kau menganggapku pria yang pengecut karena takut dengan patah hati, padahal aku salah satu makhluk terkuat dalam spesies kita. Tapi percayalah, rasa sakit kita selalu sama, bedanya kamu bisa dengan mudah bercerita kepada teman atau sahabatmu, sedangkan aku, aku hanya memendamnya sendiri karena aku tak mau kau menganggapku pria yang lembek, pria yang klemar-klemer.

Kepada Jodoh,

Jika memang kamu adalah perempuan yang Ibu ku kenalkan kepadaku, maka perjodohan aku dan perempuan tersebut seharusnya berhasil, tidak ada masalah apa-apa. Tapi jika kamu bukan dia, kali ini tolong biarkan aku sedikit mendekap dan mencium harummu untuk sepersekian detik saja, hanya agar aku tahu bahwa kamu memang belum siap bertemu denganku. Aku masih menunggumu, masih dengan tubuh yang sama, pikiran yang sama, dan hati yang sama. Aku hanya ingin Tuhan tahu bahwa aku memang sabar menunggumu, dan aku hanya ingin kau tahu bahwa aku memang selalu sabar menunggumu.

Sampai kapanpun, sampai Tuhan dan Semesta merestui pertemuan kita. Atau mungkin kita sudah bertemu?

Karya : Arifin Narendra Putra