Cinta Gue Kena Sensor

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Januari 2017
Cinta Gue Kena Sensor

“Kenapa kamu suka sama aku?” Tanya gue ke Marvel waktu itu, ketika kami baru saja menjalani beberapa bulan paling menyenangkan yang pernah ada. Masa-masa dimana kami sama-sama tahu bahwa kami memang dipertemukan untuk saling mencintai, ya mencintai satu sama lain.

Dia tampak berpikir sambil mengetukkan jeri telunjuknya di dagu. “Kenapa ya?” Dia masih berpikir, berusaha mencari kalimat yang tepat agar nggak membuat gue sedikit tersinggung mungkin. “Mungkin karena kamu satu-satunya orang yang bisa paham dan ngerti sama apa yang aku mau, sama apa yang aku rasakan.” Katanya singkat.

“Itu aja?” Dia mengangguk, gue sedikit kecewa waktu itu ketika jawaban yang gue harapkan beda sama kenyataannya. Jawaban dia seharusnya bisa membuat gue menjadi laki-laki paling sempurna tapi ini malah menjadi laki-laki paling tidak beruntung di dunia. Jawaban singkat yang membuat gue kecewa setengah mati Mungkin karena kamu satu-satunya orang yang bisa paham dan ngerti sama apa yang aku mau, sama apa yang aku rasakan. Waktu itu gue hanya tersenyum ke Marvel sambil menutupi rasa kecewa gue sama dia. Sakit rasanya ketika kita berpacaran dengan seseorang tapi hanya dianggap sebagai satu-satunya orang yang bisa mengerti apa yang pasangan kita mau, apa yang mereka sedang rasakan. Padahal bukan itu intinya, ini soal bagaimana kita menghadirkan sosok seseorang dalam hidup kita, menghargai setiap detik bersama, dengan perasaan sederhana yang terucap dengan kalimat sederhana pula. “Aku cinta kamu.”

“Kalau kamu kenapa?” Dia bertanya balik sama gue.

Gue masih tersenyum sendiri, ya masih berusaha menutup rasa kecewa gue sama dia. “Aku?” Dia mengangguk pelan. “Nggak ada.”

“Kok nggak ada?” Tanyanya dia bingung.

“Ya nggak ada, memang harus ada ya?”

“Iya dong, aku aja ada masa kamu enggak.” Dia sedikit marah kali ini, mencubit gue pelan pada bagian lengan.

Gue terdiam beberapa saat mencoba untuk benar-benar mencari kenapa gue jatuh cinta sama dia, agar dia lega dengan jawaban gue. Gue selalu berpikir bagaimana cinta datang ke kehidupan gue, bagaimana semua perasaan itu bisa mengombang-ambingkan diri gue sampai kadang bisa bahagia setengah mati tapi juga bisa sedih setengah mati karena cinta. Beberapa menit terdiam di depan Marvel dan Marvel masih menunggu jawaban gue dengan sabar.

“Aku nggak tahu alasan aku suka sama kamu apa.” Jawab gue tiba-tiba, sambil menoleh ke arah Marvel perlahan dengan rangkulan lembut yang mungkin menyamankan. “Yang aku tahu, aku cuma cinta sama kamu.” Ya, kadang mungkin yang kita pikirkan sedemikian rupa menyulitkan tapi ternyata jawabannya selalu saja sederhana, semuanya selesai dengan beberapa kalimat atau beberapa tindakan.

---

“Mas ini kopinya.” Suara pelayan kafe membangunkan gue dari bayangan masa lalu yang bahagia, tapi itu awal dari patah hati yang berlebihan.

Gue memutuskan menyendiri, memutuskan untuk meredam segala rasa emosi, rasa cemas, rasa patah hati gue dengan cara yang berbeda, dengan berdiam diri di kafe dan membaca buku selama berjam-jam contohnya. Semua butuh proses, dan gue mau berproses perlahan untuk melupakan Marvel, sekarang mungkin Marvel adalah cerita lama, gue punya banyak ribuan bahkan jutaan cerita menarik dan bahagia yang menunggu gue di depan sana. Walaupun bayang-bayang soal Marvel belum bisa hilang, duduk di kafe dan minum kopi seharian mungkin bisa mengobatinya sedikit.

“Kopi itu ya bisa membuat kamu tenang, bisa membuat pikiran kamu lebih jernih Dika.” Kata ayah waktu itu, sebelum dia benar-benar pergi selamanya.

Sejak SMA gue udah minum kopi, bukan untuk bergaya dan menunjukkan ke orang-orang, tapi gue minum kopi ketika hanya butuh kesegaran dan juga ruang bernafas sedikit, kadang kita benar-benar terlalu sibuk dengan segala perkara dunia dan nggak sempat berpikir untuk mengambil jeda lalu menghirup nafas dalam-dalam. Tenanggggggg.. Kopi membuat gue jauh lebih tenang dari biasanya, entah kenapa, mungkin karena ayah selalu bilang kalau kopi adalah sumber ketenangan bagi sebagain laki-laki, penyebab sebuah ide bisa muncul seketika. Karena itu kalau sedang benar-benar lelah soal perkerjaan, kopi adalah hal pertama yang gue cari, untuk sekedar membuat diri gue rileks sama semua masalah yang ada.

Patah hati membutakan mata gue soal semua hal, semuanya berdampak bahkan sampai ke pekerjaan gue. Beberapa hari yang lalu pekerjaan gue benar-benar kacau dan berantakan, presentasi Tender yang harusnya perusahaan gue menangkan menjadi gagal total karena presentasi kurang memuaskan, gue kurang konsentrasi. Akhirnya gue di skors selama seminggu, waktu yang cukup untuk membuat gue bisa tenang, mengembalikan kembali Dika yang dulu. Dika yang bahagia karena hal-hal sederhana, Dika yang selalu optimis dan juga bertanggung jawab sama apa yang di lakukan, Dika yang kalau masuk kantor semua orang langsung berdiri dan bilang “Desainer Interior paling keren sudah datang kawan, beri sambutan.” Ahh, gue kangen waktu-waktu itu, ketika gue belum benar-benar sehancur sekarang. Semua orang dikantor selalu memanggil gue dengan sebutan itu, Desainer Interior Paling Keren. Selalu saja, mereka selalu memandang gue lebih baik, karyawan yang bertanggung jawab terhadap tugas gue dan juga pada apa saja yang bukan termasuk tugas gue.

“Ini nasi gorengnya mas.” Kembali seorang pelayan datang tepat di hadapan gue. Kali ini gue agak sedikit terkejut, seorang perempuan.

“I.. Iya makasih.” Kata gue dengan senyum yang menurut gue sopan.

“Selamat menikmati makanan kami.” Kata dia ramah, lalu perlahan pergi begitu saja.

Gue menghiraukan pelayan perempuan tadi, menatap jendela kafe dengan tatapan nanar. Sebuah surat baru saja gue tulis, sebuah surat yang gue tulis karena perasaan patah hati ini sudah sampai pada puncaknya.

 

Dear Jodoh,

Aku belum bisa menebak siapa kamu, yang pasti kamu perempuan, kan? Ya sudahlah itu tidak perlu dibahas. Aku hanya ingin berkabar denganmu sampai pada waktunya Tuhan mempertemukan kita berdua di waktu yang tepat. Untuk sekedar bertegur sapa mungkin atau untuk sekedar mengucapkan selamat siang dan selamat makan.

Kepada Jodoh, beberapa waktu yang lalu aku gagal menikah. Perempuan yang amat sangat aku cintai meninggalkanku pada hari pernikahan kami, aku kira dia adalah kamu, ternyata bukan. Kamu masih bersembunyi di tempat yang lain, masih menunggu waktu yang tepat untuk keluar. Jodoh, aku ingin kau tahu, aku akan setia menunggu, akan terus menunggu. Sampai kamu benar-benar ada untuk megobati rasa patah hati yang sudah membuat lubang besar pada hatiku.

Ah ini aneh ya, aku seorang Interior Designer tapi bisa menulis hal melonkolis seperti ini. Tapi mungkin ini semuanya karena kamu, karena kamu belum datang setelah sekian lama. Ketika raga ini lelah untuk merasakan kesalnya ditinggal pergi, rasa bencinya dikhianati, kecewanya disakiti. Karena itu cepatlah datang, aku hanya ingin mengintipmu walau hanya sedikit. Karena itu kau harus ada disini, sekedar bertegur sapa denganku. Ya, sekedar mengucapkan “hai” dengan nada yang lembut. Aku rasa itu sudah cukup.

Sudah amat cukup.

 

Hujan datang tiba-tiba, gue masih membaca ulang surat yang gue tulis, entah akan gue kirim kemana tapi yang pasti mungkin akan gue simpan sendiri sampai jodoh yang gue maksud benar-benar datang. Gemericik hujan membuat atap-atap bersuara pelan, wangi tanah merah yang membuat gue terbius. Ya, mungkin ini cukup, untuk orang yang baru patah hati seperti gue.

Beberapa menit sebelum gue memakan nasi goreng gue, ponsel gue berdering tiba-tiba. Nama Ibu muncul dibagian grup WA keluarga. Ya, gue sama keluarga gue punya grup WA agar kalau ada apa-apa yang nggak sesuai prediksi kami bisa saling menjaga. Keluarga gue nggak mau kalah sama perkembangan digital jaman sekarang, harus selalu up to date  erutama soal komunikasi.

Dik, jemput Ibu di Bakmi GM PIM ya...

Gue aneh seketika, buat apa Ibu ke Bakmi GM PIM, lagi pula Ibu nggak pernah mau keluar sendiri tanpa ditemani anak-anaknya. Tapi kali ini berbeda, firasat gue buruk, bukan soal Ibu tapi soal guenya. Pasti ada apa-apa yang bersangkutan sama gue disana nanti.

---

“Kita nunggu siapa sih bu?” Tanya gue ke Ibu, karena sedari tadi Ibu hanya diam sambil menengok ke arah pintu masuk. Padahal sudah hampir satu setengah jam gue duduk nunggu Ibu belum berbicara sepatah kata pun. Karena bosan akhirnya gue hanya terdiam memainkan ponsel genggam gue. Suasana tempat makan Bakmi GM sangat ramai ketika sore menjelang petang seperti ini, tapi gue nggak terlalu suka, tapi Ibu cintanya luar biasa sama makanan ini. Bahkan saking cintanya waktu itu Ibu rela keluar malam-malam cuma buat makan Bakmi GM.

“Ibu lagi pengen Dika.” Kata Ibu singkat ke gue ketika malam itu gue disuruh menemani Ibu ke sini. Katanya Ibu, dulu ini adalah tempat favorite Ibu sama ayah, tapi dulu disini bukan Bakmi GM, dulu disini ditempati sebuah restoran Jepang ternama dengan nama artis perempuan Jepang sering main beberapa “film” di jepang.. Kalian tahu lah siapa yang gue maksud. Kalau kalian laki-laki pasti tahu.. “Dulu ya Dika, ayah kamu itu paling suka mesen Chicken Teriyaki, beuuhh dia tuh ya sama makanan itu cintanya sudah mendarah daging, bahkan kadang ayah kamu bisa makan Chicken Teriyaki sampai 4 porsi. Bayangin.” Kata Ibu waktu itu bersemangat cerita ke gue dan kakak laki-laki gue. Katanya biar kami berdua tahu sejarah ayah dan Ibunya, dan agar kami tahu juga bagaimana mereka bisa menjadikan tempat ini tempat favorite mereka.

Cinta itu kekal, kadang dengan umur yang sudah lanjut usia cinta masih berada pada porosnya. Maksud gue, belum keluar dari tempat yang seharusnya, setia sama satu orang dan menjalani hidup bersama sampai kakek nenek. Dalam keluarga gue mungkin yang paling beruntung adalah kakak laki-laki gue, dia awet sampai sekarang sama istrinya, sudah hampir menikah selama 2 tahun. Gue sama ibu? Nggak usah ditanya, kami menghabiskan waktu yang cukup lama dengan pasangan kami masing-masing, bedanya ibu di tinggal ayah ketika mereka sudah hampir 25 tahun menikah, dan gue di tinggal pasangan gue pas hari H pernikahan gue. Dia kabur sama orang lain, gue nggak tahu orang lain itu tapi yang pasti gue benar-benar patah hati setengah mati. Sejak hari itu ketika pertama kalinya gue merasakan patah hati, gue udah nggak percaya sama cinta, cinta itu buat gue ya kayak wajan yang sengaja ditaruh di atas kompor yang menyala. Memang kita sebagai wajan berguna untuk keperluan masak-memasak setiap harinya, tapi betapa tersiksanya diri kita ketika kita bersentuhan dengan api dari kompor tersebut. Sulit loh berjuang setengah mati untuk orang yang nggak berjuang buat kita atau lebih tepatnya berpura-pura berjuang di depan kita.

Itu yang gue rasain ketika Marvel pergi, ketika dia pergi begitu saja pas hari H pernikahan, gue tahu hari itu kalau dia hanya berpura-pura bahagia dan berpura-pura berjuang sama gue. Sakit rasanya ketika perasaan yang tulus, cinta yang suci dibalas dengan sebuah pernghianatan. Maksud gue nggak rela gitu, karena setahu gue cinta itu membebaskan, mengindahkan sesuatu yang tadinya buruk menjadi baik, yang tadinya berantakan menjadi rapih. Cinta itu berpengaruh besar loh terhadap seluruh diri kita sebagai manusia yang utuh, terhadap jasmani dan rohani kita sendiri. Cinta itu ibarat olahraga buat manusia. Olahraga apapun, persamaan nya kayak gini. Kalau kita mau bahagia kita harus punya cinta yang menyertai setiap perjalanan kehidupan kita, rasa syukur yang kita terjemahkan sebagai rasa berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan cinta adalah bagian dari kebahagian tersebut, bagian dari rasa syukur tersebut. Nah kalau kita mau sehat kita harus olahraga kan? Sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas pemberianNya kepada tubuh kita, apapun itu, dan ketika kita nggak bisa menjaga kesehatan kita maka rusaklah sudah apa yang sudah Tuhan berikan. Begitupun cinta, ketika kita nggak bisa menjaga cinta yang kita miliki maka rusak semuanya. Ego kita tiba-tiba membesar dan muncul ke permukaan, sering murka, sering menghakimi orang lain padahal orang lain itu nggak bersalah. Point gue adalah, Tuhan sudah memberikan kita banyak hal, sekarang pilihan kita sebagai manusia mau menjaganya atau nggak, manusia berjalan atas skenarioNya dan juga berdasarkan pilihan-pilihan kita sendiri sebagai manusia.

Dan mungkin waktu itu Marvel nggak benar-benar berniat untuk menjaga cintanya bersama gue, mungkin dia hanya ingin menjaga dirinya sendiri. Dari hidup sengsara bersama gue.

“Nah udah dateng tuh teman Ibu.” Seru Ibu tiba-tiba.

“Jadi ibu nunggu teman ibu dari tadi?” Ibu mengangguk sama pertanyaan yang gue ajukan. Tapi tiba-tiba tatapan gue aneh melihat teman yang Ibu maksud, dia terlihat begitu muda, mungkin usianya nggak beda jauh sama gue, satu tahun di atas gue atau nggak satu tahun dibawah gue. Ya antara kedua itulah. “Bu, itu yakin temannya?”

Ibu berdehem tiba-tiba. “Memang kenapa?”

“Nggak apa-apa, tapi dia kan muda gitu Bu... Maksud aku kan Ibu lanjut usia dia muda, haduhh gimana ngomongnya ya.. You know what i mean?” Gue mulai gagap sama omongan gue sendiri. “Ibu tapi yakin kan ini teman Ibu?”

Ibu melirik ke gue perlahan. “Hushh kamu tuh ya omonganya... Itu anaknya temannya ibu Dik, lagipula memangnya nggak boleh Ibu punya teman yang lebih muda dari Ibu?”

“Boleh sih Bu tapikan..”

“Ahh sudahlah kamu mah nggak ngerti.” Potong Ibu tiba-tiba sama omongan gue. “Eh apa kabar Dara, udah lama ya nggak ketemu sama tante?” Anak temannya Ibu yang gue tahu namanya Dara itu sudah sampai tiba-tiba di meja gue dan Ibu berada.

Dara tersenyum, perempuan berambut pendek dengan kemeja merah muda dan celana hitam panjang ala-ala orang kantoran. Ah sudahlah.

“Iya Tante maaf ya baru bisa ketemuan hari ini, kemarin sibuk banget di kafe.” Kata perempuan itu dengan lembut.

Ibu tersenyum ke arah gue, dan gue tahu arti dari makna senyum Ibu barusan. “Iya nggak apa-apa, oh iya ini anak tante namanya Dika... Ganteng ya?”

Tiba-tiba dengan sekejap mata gue melihat senyum kecut Dara sama gue, paham nggak maksud gue? Senyum kecut loh, senyum yang jijik-jijik terpaksa deket. Gue rasa Dara kesini udah tahu akan dikenalkan ke gue dan karena nggak enak sama Ibu dia akhirnya mau ketemuan. Dan gue, nggak tahu apa-apa yang tadinya hanya disuruh Ibu untuk jemput masuk salah satu jebakan orang tua kepada anaknya Kenalan dengan anak temannya Ibu.

Dara tersenyum tipis, gue rasa pun itu hanya terpaksa. “Dara... Iya ya sedikit ganteng.” Sedikit? Oh C’mon gue gantengnya ngalahin Andika Kangen Band kali, masa iya cuma dibilang sedikit, Andika Kangen Band loh ini yang nyanyi Yolanda itu tahu kan tahu kan? Gantengnya gue ngalahin dia loh, masa iya dibilang cuma ganteng sedikit..

Gue mencoba memaksa tersenyum. “Dika.” Kata gue menyambut salamnya.

Dan akhirnya malam itu gue habiskan dengan mendengarkan percakapan mereka berdua soal arisan Ibu gue dan Ibunya dia. Selama obrolan berlangsung gue bisa membaca gelagat Ibu yang mencoba untuk membuat gue dekat dengan Dara. Gue akui Dara memang cantik tapi apa daya jika hati ini sudah sakit setengah mampus, sudah nggak bisa merasa apa-apa lagi. Semua hal soal cinta buat gue udah kayak ketika baju renang Sizuka di sensor di salah satu stasiun televisi ternama yang padahal menurut gue nggak ada ngaruh-ngaruhnya itu, aneh... Oke balik lagi ke topik, perasaan gue soal cinta udah kayak baju renang Sizuka di sensor... Blur, samar-samar, udah nggak bisa gue gapai. Cinta gue udah kena sensor.

---

“Dara cantik ya Dik.” Kata ibu semangat ketika kami perjalanan pulang kerumah.

Gue menengok Ibu gue dengan tatapan males setengah mati. “Iya bu.” Jawab gue terpaksa.

Ibu tersenyum tiba-tiba. “Besok anter Ibu ya?”

“Kemana?”

“Kerumah Dara.”

“Mau ngapain Bu?”

“Menjodohkan kamu sama dia.”

“HAH BU SERIUS? DIJODOHIN?!” Gue kaget setengan mampus, sampai-sampai mengerem mendadak ketika berada di kawasan Pondok Indah.

“Dika! Kamu nyetir yang bener dong ah.” Tegur Ibu ke gue.

“Ya masa yang benar aja Bu, masa dijodohin.”

“Daripada kamu lama menjomblo? Lagian baru ditinggal kabur nikah pas hari H aja udah patah hatinya kayak gitu, kayak anak alay.” Ibu mengatakan hal itu dengan santai, sementara gue yang merasa sedikit terseinggung hanya diam. Nggak bereskpresi apa-apa, ya hanya diam. Malam ini rasanya gue mau keluar dari mobil dan menabrakan diri gue sendiri ke Truk ataupun Mobil Molen sekalian daripada harus dijodohin, ini kan bukan jaman Siti Nurbaya, lagi pula nama gue Dika bukan Siti. Lagi pula lagi, perjodohan buat gue adalah sebuah penghinaan, artinya orang tua secara tidak langsung berkata. “Kamu nggak bisa nyari jodoh dengan baik dan benar.” Nah itu, kehormatan gue sebagai laki-laki turun karena perjodohan.. Lagi pula lagi, gimana cara nyari jodoh yang baik dan benar? Pakai syarat dan ketentuan? Atau pakai Reseller? Nyari jodoh kan nggak kayak nyari barang di Online Shop. Mudah, gampang, praktis, dan cepat. Ah sudahlah tidak perlu diperdebatkan. Yang pasti malam ini gue badmood setengah mati.