Bahagia Dengan Cara Sederhana

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Januari 2017
Bahagia Dengan Cara Sederhana

“Kita mau beli apa lagi sih?” Tanya gue ke Marvel ketika kami sudah hampir dua jam berada di Depok Town Square. Seminggu lagi kami menikah tapi Marvel masih sempat-sempatnya memikirkan membeli barang-barang yang tidak berkaitan dengan kebutuhan pernikahan gue sama dia.

“Nyari sepatu sayang.” Jawab Marvel singkat. “Aku besok harus ketemu dulu sama penulis baru, mau meeting soal perbaikan naskahnya dia.” Lanjut Marvel. Marvel bekerja di salah satu penerbit milik sahabat gue, namanya Erwin. Bahkan gue ketemu dan bisa pacaran sama Marvel adalah karena ulah Erwin. Kalau bukan karena Erwin mungkin yang saat ini sedang berdiri di depan gue adalah perempuan lain.

Waktu itu setahun setelah gue dan Erwin lulus kuliah, Erwin membuat sebuah penerbitan untuk kembali menaikkan nama-nama penulis baru Indonesia untuk kemudian dikenal karena karyanya. Mengembangkan potensi berkarya di Indonesia lewat sastra. Gue inget ketika gue hanya berani melihat Marvel dari kejauhan, rambutnya yang panjang dan wajahnya yang ayu membuat jantung gue seribu kali lipat lebih cepat berdetaknya. Seakan-akan ada badai hebat yang menerpa gue waktu itu, gue suka kalau sedang melihat Marvel serius sama pekerjaannya, dia menjadi seribu kali lipat lebih manis dari biasanya. Marvel punya lesung pipi di bagian kanannya, dan sesekali dia mencepol rambutnya ketika asik dengan naskah penulis baru atau penulis lama.

“Ini teman saya, namanya Dika.” Seru Erwin ketika memperkenalkan gue sama Marvel waktu itu, Erwin tahu persis bagaimana gue ketika sedang jatuh cinta, dan Marvel adalah cinta pertama gue setelah sekian lama.

“Marvel.” Sahutnya lembut, seperti senandung musik merdu yang membuat burung-burung tenang.

Gue tersenyum sama Marvel. “Dika.”

“Yaudah kalau gitu saya permisi dulu ya pak, mas.” Serunya sambil tersenyum sopan ke gue dan Erwin. Waktu itu dia pertama kalinya manggil gue dengan sebutan mas. Berasa kayak tukang bakso sih, tapi menyenangkan ketika dia berusaha untuk akrab sama gue.

Selepas kejadian itu gue menjadi lebih sering datang ke kentor Erwin untuk sekedar melihat Marvel, bukan Erwinnya, gue masih normal nggak mungkin gue ketemu Erwin. Setiap kedatangan gue Erwin selalu tahu maksud dan tujuan gue kemana, dia biasanya akan senyum-senyum sendiri sambil bilang. “Modus lo kuat juga.” Biasanya setelah begitu dia akan tertawa terbahak-bahak. Tapi gue nggak perduli, dekat dengan Marvel dan bisa menjalin hubungan sama dia adalah misi gue waktu itu, ciee misi berasa kayak Captain America. Bedanya Captain America memperjuangkan kebenaran dan keadilan, dan gue memperjuangkan cinta.

Kembali ke kejadian tadi, setiap Marvel pulang kantor biasanya gue akan dengan sengaja menyuruh Erwin untuk bersandiwara agar gue bisa pulang bareng sama Marvel.

“Vel, belum pulang?” Tanya basa-basi Erwin waktu itu.

Marvel menggeleng. “Belum pak, masih nunggu di jemput ayah.” Katanya lembut.

“Pulang sama Dika aja tuh, rumah kalian searah loh.” Seru Erwin merayu Marvel agar mau pulang sama gue. Dan triknya akan selalu berhasil, lambat laun gue nggak memerlukan bantuan Erwin lagi untuk merayu Marvel agar mau gue ajak pulang bareng. Gue udah berani bilang ke dia tanpa canggung lagi. Biasanya Marvel akan tersenyum malu-malu dan mengambil helm dari tangan gue. Moment waktu itu benar-benar moment terindah dalam hidup gue, ketika pertama kalinya bertemu, oh bukan tapi ketika pertama kalinya di pertemukan oleh bidadari super cantik nan baik sepanjang masa.

“Dika!” Teriak Marvel tiba-tiba, gue kembali lagi ke kenyataan. “Kamu bengong aja, tadi katanya suruh cepetan. Nih ini bagus nggak buat aku?” Tanyanya sama gue yang masih belum bisa menguasai keadaan.

Gue hanya mengangguk sambil melihat jam tangan gue. Sudah pukul 3 sore sambil terus memperhatikan cantiknya Marvel, ah gue ingin mempercepat tanggal pernikahan kami agar lebih leluasa berdua dengan dia.

---

Hampir tiga jam setelah berada di Detos, gua dan Marvel mampir ke salah satu kafe di sana. Kafenya unik bertemakan penjara gitu, pelanggan yang makan disana diganti namanya menjadi tahanan. Walaupun makanan nya sederhana tapi suasananya yang membuatnya semakin unik dan menyamankan.

“Aku mau nanti bagian pojok ini di isi sama foto wedding kita ya? Yang besar ituloh yang kemarin aku buatin jadi Kartun.” Kata Marvel menjelaskan. Gue mengangguk sambil sesekali tersenyum sama dia. Beginilah repotnya orang akan menikah, menyiapkan ini dan itu. Apalagi Marvel, gue sampai suka tertawa sendiri ketika dia lebih sibuk karena mengurus dekorasi tempat pernikahan gue sama dia. Tapi itu yang gue suka dari Marvel, sejak pertama kali pacaran dia orangnya nggak mau ada miss sedikit pun dalam proses pembuatan yang dia buat, semuanya harus semaksimal mungkin dan ini adalah untuk pernikahan kami.

Hal yang paling gue suka dari pernikahan adalah kita bisa melihat orang yang sangat amat kita cintai berada di samping kita, tersenyum dan menampakkan keindahannya. Pernikahan itu adalah cara kita mencintai dengan tanggung jawab, karena itu pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Gue sudah membayangkan akan seramai apa tempat kami menikah, pasti menyenangkan ketika mengetahui bahwa banyak orang yang merestui pernikahan kami. Ah, cinta memang seperti itu, selalu saja mengindahkan pikiran dan perasaan kita. Membuat kita seribu kali lebih bahagia daripada biasanya.

Banyak orang yang meremehkan cinta, jodoh dan yang lainnya. Mereka semuanya berkata hal yang sama “Jodoh mah nggak kemana.” Memang jodoh nggak kemana, tapi mengusahakan segenap apa yang kita punya untuk dengan sengaja berjodoh dengan orang yang kita cintai bukan sebuah kesalahan, kan? Kita berusaha dengan cara yang baik dan benar dan Tuhan merestui perjodohan kita. Buat gue jodoh adalah apa yang kita usahakan dengan jalan dan skenario Tuhan tentunya, tapi masih ada sedikit campur tangan kita perihal usaha, kan? Dan jodoh adalah soal pilihan, soal apa yang kita pilih untuk kita jalani dan apa yang kita pilih untuk kita terima. Dan menikah adalah cara terindah untuk merayakan cinta, untuk merayakan perjodohan yang telah Tuhan restui.

“Eh tunggu sebentar, kalau fotonya kita taruh di pojok nggak kelihatan dong?” Tanyaku memastikan kembali, sambil menunjuk area yang dimaksud Marvel. Kami mempunyai denah gedung tempat pernikahan kami, karena kami tidak memakai Wedding Organizer, kami lebih suka menyiapkan segalanya sendiri.

“Iya ya, tapi kan maksud aku biar nggak terlalu menganggu orang ketika sedang mengambil makanan atau jalan menyalami kita.” Katanya dengan nada yang tidak mau kalah.

“Gimana kalau di depan aja, di pas pintu masuk jadi orang udah liat foto Wedding kita. Gimana?”

“Nggak mau, itu bisa menghalangi orang jalan Dik.” Jawabnya singkat.

“Itu bagus kali Vel, yaudah deh itu taruh di dekat bangku kita aja di atas. Gimana?”

“Nggak mau jelek, nanti pemandangan kitanya jadi nggak bagus kalau di foto.” Katanya lagi menolak. “Udah deh Dik kamu nggak usah bantu deh, bikin aku ribet tahu nggak, biar aku aja.”

“Aku bikin kamu ribet?” Tanyaku kepadanya

“Iyalah kamu bikin ribet aku.”

Aku menghembuskan nafas pelan dan dia hanya terfokus pada dekorasi tempat pernikahan kami. Gue diam saja menoleh ke arah jalanan, gue suka senyum sendiri ketika kami sedang berdebat kayak gini. Ada sesuatu yang menyatukan kami secara tidak langsung, sesuatu sederhana yang membuat kami tertawa. Perdebatan-perdebatan kecil semacam ini adalah salah satu kebahagiaan yang indah.

“Nah aku udah ketemu nih tempat yang bagus buat naruh foto wedding kita.” Kata Marvel dengan senyum yang mengembang dibibirnya. “Setelah menimbang-nimbang kayaknya bagusan di pintu masuk deh.”

Terserah deh. Gumam gue sedikit kesal, tapi lucu. Malam ini perdebatan kami yang sederhana dan sangat mengasikkan sampai pada ujungnya. Setelah merencakan akan ditaruh mana foto wedding kami, hiasannya akan seperti apa dan temanya seperti apa. Kami bergegas pulang menimakmati indahnya langit malam di kota Depok. Waktu merekam kejadian tadi, yang mungkin sangat amat sederhana tapi membahagiakan.

Kadang mungkin benar kata orang, bahagia tidak perlu banyak uang hanya perlu kesederhanaan.