Kepulanganku dari Adelaide

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Januari 2017
Kepulanganku dari Adelaide

Pukul 21.10

Aku kembali tepat sesuai jangka waktu yang telah ditentukan, aku tak mau lama-lama berada jauh darimu. Kau tak tahu aku akan pulang hari ini, karena hari ini aku tak mengabarimu bahwa aku pulang hari ini. Aku berusaha membuatnya terlihat biasa-biasa saja.

Aku mulai berjalan ke lobby bandara, memesan taksi untuk pulang. Aku ingin mampir sebentar kerumahmu untuk menyapamu setelah sekian lama. Aku rindu pada wangi rambutmu, lekat hitam bola matamu dan semua hal sederhana yang membuatku rindu pada suara-suara itu “Udah makan atau belum?” seperti ada gurasan cahaya bahagia yang menyertaiku setiap harinya. Terkadang rindu hanya ingin mengingatkan bahwa jarak tak mampu membunuh semua rasaku padamu.

Dalam genggaman tanganku, sudah ada setumpuk kertas yang sudah di jilid rapih untuk kemudian kuberikan padamu. Ya, aku berhasil membuatnya, buku yang sejak lama ingin aku selesaikan. Menjadi seorang pengarang masa depan. Dan kamu akan menjadi pembaca pertama, aku masih mengingat kata-katamu “Kalau nggak ada satupun pernerbit yang suka sama tulisan kamu, masih ada aku yang siap membaca perhalaman-halamannya.” Aku tahu kau tidak sungguh-sungguh mengatakan itu, tapi aku senang ketika kau mau sedikit meluangkan waktu untuk membaca setiap tulisanku.

Perjalanan masih jauh, Pak supir taksi yang mobilnya kutumpangi serius pada kemudi mobilnya. Sesekali ia menoleh ke arahku memastikan aku tidak berbuat yang aneh-aneh, namanya Pak Razak supir taksi waktu itu. Dia berasal dari Surabaya dan merantau di sini sudah sejak tahun 2001. Dia lebih dulu berjuang sebelum kita berdua dipertemukan.

“Tadi mau kemana Den?” tanyanya tiba-tiba.

“Oh.. Iya Pak ke Komplek Perumahan Bukit Cinere Indah.” Sahutku padanya.

“Lumayan agak jauh Den, Aden bisa istirahat dulu kalau mau.”

“Tadi sih udah istirahat Pak di pesawat cuma nggak tahu kenapa capek lagi badan.”

Dia tertawa kecil, lalu kembali fokus pada jalanan. Kemudian dia mengeluarkan sebuah buku dari bangku disampingnya. Perlahan dia mengambilnya dan memberikannya padaku. “Ini Den, baca buku aja biar nggak ngantuk.” Sambil menyodorkan buku miliknya pria paruh baya itu tersenyum padaku.

Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Kurasa Pak Razak suka dengan karya-karya Mas Andre. “Suka dengan karya Andrea Hirata Pak?”

Dia mengangguk perlahan, sambil membelokkan setir mobilnya ke arah kanan. “Buat saya dia penulis handal yang nggak ada matinya Den.” Katanya. “Sampai sekarangpun demikian.”

Pikiranku kembali teringat dengan semua perkataanmu untuk menjadi seorang pengarang masa depan. Mungkin Andrea Hirata sudah melewati fase-fase krusial dalam hal menulis. Aku kenal dia, dan seorang Bapak-bapak paruh baya pun mengenalnya. Mungkin ini yang namanya menghadirkan sebuah tulisan bukan hanya untuk pembaca masa kini tapi juga masa depan.

Perlahan aku mulai membuka perlembar bukunya, lalu mulai membacanya perlahan. Tak ada yang salah dengan semua perkataan Mas Andre disitu, dia selalu bisa membuat semuanya terlihat lebih menyentuh. Sampai di halaman 25 aku berusaha untuk mengistirahatkan kepala dan bersandar pada bangku taksi. Aku menutup buku itu dan menaruhnya disampingku, lalu apa kabar dengan buku milikku? Kapan akan benar-benar terbit. Sudahlah aku tak mau memikirkannya kali ini, mataku tiba-tiba tertutup dan tertidur pulas dengan semua kepenatan macetnya kota.

---

“Den, sudah sampai.” Sambil menepuk-nepuk pundakku secara perlahan dia mulai membangunkanku. Hampir dua jam perjalanan, aku sampai Tris, dirumahmu.

“Oh sudah sampai Pak.”

Dia mengangguk.

“Ini Pak, ambil saja kembaliannya.”

“Terima kasih Den.” Setelah mengucapkan itu dia mulai beranjak pergi.

Aku sudah tiba dirumahmu, dengan perasaan yang berbeda dan sebagai orang yang berbeda aku kembali padamu. Mungkin kau akan marah padaku ketika aku tak mengabarimu kalau akan pulang tapi aku ingin membuatmu terkejut. Ada sesak yang tertinggal ketika aku meninggalkanmu waktu itu dan sekarang kita akan mulai membangunnya secara perlahan lagi.

“Akbar!” Teriakmu ketika melihatku berdiri di muka pintu rumahmu. “Kamu kenapa nggak bilang kalau akan pulang hari ini?” Kau memelukku.

“Biar surprise.” Aku terkekeh

“Aku kan jadi nggak bisa nyambut kepulangan kamu.” Wajahmu berubah menjadi cemberut seketika.

Aku mulai mengacak-ngacak rambutmu. “Udahlah kan yang penting aku ketemu sama kamu.”

Kau tersenyum tersipu malu.

Mungkin ini kepulangan yang sederhana, mungkin tak ada penyambutan dan tak ada bunga yang dikalungkan di leherku. Tapi ini cukup sederhana untuk orang sederhana sepertiku. Aku tak membutuhkan semua riuh kehebohan manapun, aku hanya ingin ketenangan dengan kembali mengakrabi setiap gerakanmu dan semua tarian yang kau lakukan ketika hujan datang.

Mungkin rindu juga sesederhana itu, kepulangan juga sesederhana itu. Selalu akan ingat kepada siapa dan tahu kemana semua perjalanan akan tertambat. Waktu seakan menjadi bagian dari yang fana, sementara kehidupan punya kepulangan versinya sendiri. Dan aku selalu punya tempat pulang yang menurutku paling nyaman setelah Rumah orang tuaku; Kamu.

---

“Kenapa senyum-senyum.” Tanyamu padaku, sambil mengambil buku komik di dalam rak bacaanmu.

Aku mulai menjahilimu, aku tersenyum jahat dan berusaha untuk tak memberitahumu. ”Kenapa sih, kok senyumnya kayak gitu?” kau mulai penasaran dengan gelagatku waktu itu. Wajahmu mulai berubah menjadi kesal, kau ingin sekali mengetahui arti dibalik senyumanku. “Akbar jujur Nggak, ada apa?!” lanjutmu.

“Aku berhasil buat bukunya.” Sambil menunjukan tumpukan kertas yang sudah dijilid rapih.

Kau terkejut. “Tuh kan aku tahu kamu pasti bisa.” Katamu sambil merebut buku yang aku sodorkan. “Kayaknya aku makin siap jadi pacar penulis.” Candamu padaku.

Aku tersipu malu, dan kau masih berusaha membuka perlembar buku itu. “Jadi kapan mau kamu terbitin?” tanyamu.

Aku tersenyum padamu. “Aku mau kamu baca dulu, aku mau kamu bisa jadi opini kedua buat aku, karena nggak semua yang aku tulis akan disukai oleh pembaca nantinya.”

Kau mengangguk. “Hmm.” Kau mulai mencoba berpikir. “Jadi selama di Adelaide kamu nulis terusan buku ini?” Aku mengangguk kembali pada pertanyaanmu. “Mungkin ini jadi buku pertama kamu ya, aku seneng kamu bisa ngelakuin semuanya.”

Aku masih tersenyum senang sendiri, aku mulai memperhatikan gelagatmu saat memegang tumpukan kertas itu.

“Aku seneng Bar.” Kau mulai membenarkan posisi dudukmu. “Suatu saat aku mau lihat kamu berdiri paling depan untuk kemudian menceritakan apa yang sudah kamu tulis.” Kau sumringah sekali waktu itu. “Sepertinya aku bakalan jadi pacar penulis beneran nih.” Kau menggodaku.

“Aku cuma mau tulisan itu kamu baca aja.” Kataku berat. “Aku rasa buku itu nggak akan laku dipasaran ketika nanti terbit secara besar.”

“Aku yang akan beli semua buku kamu kalau gitu.” Aku mulai menaikkan alisku, merasa aneh ketika kau mengatakan itu. “Akbar, kamu pernah bilang kamu mau nulis karena rasanya seru kalau misalkan melihat banyak orang terpengaruh karena tulisan yang kamu buat. Orang perlahan akan sadar bahwa terkadang hal sederhana selalu menjadi momen yang paling indah untuk dikenang, aku suka kok tulisan kamu. Setiap tulisan pasti akan menemukan pembacanya Bar, sifat kamu yang terlalu pesimis yang buat aku nggak suka. Nggak usah khawatir kalau buku kamu nggak laku ataupun tidak banyak dibaca orang, setidaknya pasti ada sedikit dari banyak orang yang membaca tulisan kamu.” Lanjutmu.

Aku menggelengkan kepala. “Siapa?” aku mengerti perasaanmu, ketika aku sudah pesimis di awal tapi aku hanya takut, sekedar khawatir jika suatu saat nanti orang-orang akan membuang tulisanku.

“Aku.” Kau mulai serius.

Aku terdiam

“Lagipula tulisan kamu bagus kok, kamu selalu punya titik terberat ketika kamu menuliskannya. Aku suka, aku tahu beberapa dalam tulisan kamu pasti ada aja satu atau dua bab soal aku ataupun kamu. Aku suka ketika kamu jujur sama diri kamu sendiri.” Kau mulai membuka lembaran pertama buku itu. “Perlahan kamu akan jadi lebih hebat lagi dari sekarang Bar.”

“Buat aku menulis adalah semacam melepas setiap perasaan aku, aku nggak pernah bisa marah sama keadaan dan menulis aku jadiin media untuk aku bisa meluapkan kekesalan dan emosi aku dengan tidak mebabi buta. Aku berusaha jujur untuk kemudian pembaca ngerti apa yang aku tulisin, aku ingin mereka baca karena aku tahu tulisan yang jujur akan disukai pembaca.” Kataku. “Aku tahu tulisan aku mungkin tidak akan banyak diterima oleh pembaca, mungkin akan banyak datang kritikan pedas dalam setiap tulisan aku, akan datang semua hujatan ketika buku ini diterbitkan, aku takut semuanya tambah kacau.”

Kau terdiam ketika aku mengucapkan hal itu, kau mulai mengelus perlahan pundakku. “Kamu udah usaha kan? Sekarang biarkan pembaca yang menemukan perasaan mereka dalam tulisan kamu, mereka selalu menjadi opini kedua penulis, kan? Jadi biarkan mereka yang menilai tulisan kamu.” Kau tersenyum dan mulai membuka kembali lembaran demi lembaran buku itu.

Tris, mungkin ini buku soal kita berdua, Dengan cara yang entah bagaimana aku ingin menuliskannya. Aku ingin kau membacanya secara perlahan. Aku ingin menuliskannya untukmu, untuk sekedar kau mengetahui setiap perasanku pada lembaran-lembaran bukunya. Pada lembaran pertama aku ingin kau mengetahui cinta amatiran dari seorang remaja muda, pada lembaran kedua aku ingin kau mengetahui segenap perasaanku padamu, pada yang ketiga aku ingin kau tersenyum membaca setiap tulisanku dan begitu seterusnya setiap lembaran demi lembaran; aku ingin kau mengetahui setiap perasaanku.

“Karakter yang pakai nama aku kok, nggak sesuai banget sih Bar sama aslinya!.” Umpatmu. “Kok aku dijadiin perebut pacar orang sih?!” kau mulai memarahiku, ah aku rindu amarahmu itu.

“Bu... bukan gitu, aku tadinya mau pakai nama yang lain tapi aku mau pakai nama kamu karena bagus aja.”

“Namanya bagus tapikan karakter nya nggak!.” Kau mulai menunjuk karakter pada buku itu. “Aku nggak mau tahu ganti pokoknya, aku harus jadi yang baik.”

“Tapi kan....”

Kau mulai sinis padaku. “Nggak mau tahu!.”

Aku tersenyum keheranan, sambil menggaruk kepalaku berkali-kali. Ah, ini keadaan yang menyebalkan tapi sekaligus aku rindukan. Semoga kau akan terus seperti ini; menjadi nenek sihir yang cerewet pada cucunya.

Aku bahagia ketika melihatmu tertawa kerena aku, aku senang ketika kau mengucapkan kalimat itu Aku siap kok jadi pacar penulis Dan aku tak butuh apa-apa lagi. Soal tempat pulang, aku sudah menemukannya, entah nantinya akan menjadi yang paling nyaman atau tidak. Tapi selalu ada pilihan dalam setiap perjalanan, kalau tidak nyaman aku yang akan menyamankan diriku sendiri dirumah itu.

Dan Trisna, tetaplah seperti ini, menjadi rumah yang nyaman bagiku. Tempat pulang terbaikku.