Cinta yang Gagal Tergenapkan

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Januari 2017
Cinta yang Gagal Tergenapkan

Zaman dimana cinta paling dicari suatu saat nanti mungkin akan menghilang, menghapus jejak-jejak pada kenangan dan membuat jarak pada lapisan perasaan. Mungkin cinta adalah pelepas lara, pembahagia bagi rasa sedih. Dengan sengaja kita dipisahkan dengan pertengkaran yang entah bagaimana aku menyelesaikannya.

Aku pernah berharap akhir cerita yang bahagia, dengan serangkaian takdir kebetulan yang mempertemukan kita pada perasaan-perasaan yang tak biasa, membuat kita berjodoh untuk sementara. Aku yang senantiasa merindukanmu tetap berusaha menanti angin untuk membawamu kembali kapadaku. Aku merasakan sesak yang terlalu dalam ketika kembali mengingat semuanya, seketika aku menjadi laki-laki yang paling bodoh yang menyia-nyiakan sebagian dari dirimu untuk kemudian ku jaga.

Untuk apa menyapa kembali ketika kau telah pergi berlalu, tidakkah kau sadari bahwa merelakan yang telah ternggenggam tak akan mudah, tak akan pernah mudah. Mungkin ini akhir dari sebuah kesalahan, kesalahan-kesalahan yang sengaja kita buat dengan sekumpulan keegoisan kita pada hati. Mungkin ini adalah cinta yang tergagalkan pada sebuah rasa, kenyataan yang menghampiriku setiap malam bahwa kau tidak lagi bersamaku membuatku merasa berbeda dari sebelumnya.

---

Hari ini sudah hari ke dua puluh aku tak mendapat kabar darimu (lagi), kau mulai menjauh perlahan, aku mengerti perasaanmu yang terlalu kecewa padaku. Tuhan tidak pernah menciptakan setiap hati untuk dipatahkan, tidak pernah menciptakan rasa untuk selalu disia-siakan. Aku masih berusaha di balik senja, mencari bekas-bekas perasaan yang masih tertinggal. Mencoba yakin bahwa kita akan dipertemukan kembali pada pertemuan yang paling menyenangkan.

Kau pindah rumah, entah karena ulahku ataupun pekerjaan Ayahmu. Tris, kali ini kita benar-benar seperti sepasang merpati yang gagal terbang, yang menggagalkan perasaanya sendiri. Sambil melihat langit-langit yang masih membisu, berjalan di atas bumi yang masih setia pada langkah. Aku ingin mengadu, pada senja yang masih setia pada bumi, dan bulan yang masih setia pada malam.

Aku ingat ketika wajahmu berseri ketika kau di olok-olok satu sekolah karena dekat denganku, aku ingat ketika kita berusaha menjadi manusia yang ingin beranjak dari masa lalu yang hampir tak menghasilkan apa-apa. Aku ingat ketika lengkung senyummu membuat lubang kecil di bagian pipi-pipimu, ketika angin berusaha mengibas rambutmu, ketika hujan berusaha membuat kita terpaksa berteduh di sebuah halte dekat sekolah. Aku ingat, aku ingin mengulanginya sekali lagi, kebodohan yang barangkali terlalu indah untuk kujelaskan pada siapapun

Aku ingin kembali menari bersamamu, di bawah hujan yang menyenangkan, berputar-putar di halaman depan rumah. Menaiki sepeda dengan rantai yang hampir saja terlepas, suara gesekan-gesekan pedal sepeda yang mulai kukayuh di sepanjang jalan komplek  Universitas Indonesia. Kau masih duduk terdiam waktu itu, duduk pada body depan sepeda. Mungkin itu tidak terlalu penting, tapi aku menyukainya.

---

Trisna, tak ada waktu yang tak berarti dan cinta selalu punya sudut pandang mengenai setiap perjalanan. Setiap saat aku menjalani semuanya dengan kekosongan yang masih tertinggal, aku bertemu dengan beberapa orang-orang baru dan mulai membuat sesuatu dari tulisan-tulisanku. Aku ingin menjadi seorang pengarang masa depan, sesuai dengan perkataanmu, manusia dilahirkan dengan keyakinan bahwa mereka akan menjadi sesuatu nantinya. Dan Tuhan masih menjadikan semuanya indah pada waktunya, kan?