Kita, Adelaide, dan Kenangan

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Januari 2017
Kita, Adelaide, dan Kenangan

Trisna, beberapa bulan aku berada di Adelaide, disini membosankan ketika tak bersamamu, aku mulai mengakrabi foto-foto “Jadul” kita, foto-foto yang barangkali menjadi bagian terpenting dalam perjalanan kita. Ada satu foto yang terselip pada tumpukan foto yang paling menonjol, foto saat kita masih berada pada bangku SMK, waktu itu aku menjadi sok pahlawan agar kau tak terkena hukuman dari Pak Arry waktu itu.

---

“Trisna, kamu nggak ikut upacara?” tanyaku ketika melihatmu duduk tersimpuh di pojok ruangan kelas.

“Nggak Bar, aku nggak bawa dasi, itu kan bagian dari atribut sekolah. Aku takut dihukum sama Pak Arry.” Ujarmu.

Aku mulai memikirkan nasibmu kali ini, Ah, Trisna beruntungnya aku jatuh cinta padamu, sehingga semua yang tidak kamu punya aku selalu punya, seperti nya kita mengutuhkan satu sama lain. “Pakai dasi aku aja nih.” Sambil menawarkan dasi ku padamu.

Kau mulai agak sedikit canggung. “Terus kamu?”

“Aku aja yang dihukum, hanya lari lapangan 20 kali aja, kan?” kataku membuat semuanya seakan menjadi terlihat mudah.

Kamu menggelengkan kepala. “Nggak! Aku nggak mau ngerepotin kamu terus Bar, setiap aku butuh kamu selalu dateng pertama, masa kali ini aku ngerepotin kamu lagi!.” Nadamu mulai berusaha menolak tawaranku.

Aku terdiam, sambil memikirkan cara yang tepat agar kau mau menerimanya. “Udah pakai saja.” Aku mulai memaksa.

“Nggak!.” Nadamu mulai meninggi.

“Aku punya dua.” Jawabku sekenanya, padahal aku tak pernah mempunyai dua dasi seingatku, ini hanya alasan agar kau memakainya.

Kau terdiam mulai memperhatikan lekat mataku, memastikan aku berbohong atau tidak. “Udah pakai ini, kebanyakan mikir, sebentar lagi mau upacara, kan?” kataku memaksa. Aku mulai pergi bergegas.

“Kamu mau kemana?” tanyamu.

“Mau ambil dasi yang satunya, kamu duluan aja.” Alasanku padamu, padahal aku hanya ingin berjalan berpisah denganmu, agar kau tak mengetahuinya bahwa aku tidak mempunyai dasi lagi.

---

Terik panas di tengah-tengah lapangan, upacara sudah dimulai, pertama dengan pengibaran bendera merah putih.

“Pak...” kataku. “Maaf Pak saya telat.”

“Kamu dari mana aja sih, upacara sudah dimulai masih aja berkeliaran.” Bisik Pak Arry dengan nada marah. “Mana dasi kamu?”

Aku mulai bingung ketika ditanya seperti itu, otakku harus segera cepat berpikir. Nah. “Ketinggalan Pak.” Ujarku.

“Kamu kebiasan! Sana pindah kebarisan paling pojok, sendirian!.”

Aku mulai berjalan ke arah pojok lapangan, beberapa anak-anak memperhatikanku, mungkin mereka mulai membicarakan aku, aku melihat kearahmu. Kau menatapku dengan wajah yang cukup memendam rasa kesal, aku tahu dalam benakmu kau berkata; ‘kenapa pakai bohong sih!’ Trisna, barangkali ini yang bisa kulakukan agar melihatmu baik-baik saja, aku tak akan tega melihat perempuan yang aku cintai berdiri terkena sinar matahari sendirian. Kau pasti mengerti kenapa aku melakukan ini.

---

“Kenapa kamu harus bohong sih?!”

“Aku hanya nggak mau kamu kenapa-kenapa.” Ujarku padamu.

“Bukan begitu tahu caranya! Kamu kenapa nggak pernah mikirin diri kamu juga?!” kau mulai menunjukku.

Aku terdiam.

“Aku juga nggak mau kamu kepanasan Bar.” Kata-katamu mulai menampar bagian dalam diriku, seakan ada seribu bunga yang terjatuh disekelilingku dan kemudian menjadi mekar dengan sekejap mata. Indah, benar-benar indah.

“Nggak usah sok pahlawan deh lain kali.” Kamu memegang pundakku dengan halus. “Awas ya lain kali kalau kamu bohong lagi sama aku!”

“Iya.” Sahutku. Trisna, aku tak bisa selalu jujur padamu, aku akan berbohong padamu hanya agar kau baik-baik saja, aku tahu ketika aku jujur kamu tak akan pernah mau menerima setiap tawaranku, namun aku mencari cara lain untuk melindungimu walaupun dengan sedikit kebohongan.

---

Kamu masih mengingat itu Tris? ketika pertama kalinya aku sok menjadi pahlawan hanya untuk sesegera mungkin melindungimu dari hukuman, aku akan menjadi laki-laki paling bersalah jika aku membiarkanmu terluka. Dari sejuta perasaan yang aku sembunyikan, aku menyimpan beberapa untuk tak dikatakan, aku ingin menyimpannya sampai nanti ketika aku sudah kembali kepadamu aku akan menceritakan semua rahasia perasaan yang sempat tak kau ketahui.

Aku mulai merapikan foto-foto kita, kenangan yang tersirat dan selalu punya makna. Soal cinta masa remaja, soal keharmonisan setiap langkah dan soal perasaan yang tak bisa kita ungkapkan. Aku ingin menjadikan semuanya menjadi yang paling indah untuk dikenang, agar nanti kita bisa bercerita, ya, sekedar bercerita.