Lembar Pertama

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Desember 2016
Lembar Pertama

Trisna, apa kabarmu disana? Semoga kau baik-baik saja. Tenang saja adik-adikmu, juga Ibu dan Ayahmu bersamaku disini. Adikmu Cinta tumbuh dengan cukup baik, dia menjadi seorang penulis skenario di salah satu producion house, Bagus dia sekarang menjadi seorang arsitek seperti Ayahmu. Kurasa dia mengikuti jejakmu juga Tris, dan Amri adikmu yang paling kecil dia saat ini sedang akan mengahadapi ujian nasional tingkat SMA. Dia ahli matematika menurutku.

Trisna, hari ini aku menuliskan semua cerita kita, kenangan-kenangan soal kita. Soal cinta yang masih labil pada perasaan, soal masa remaja yang cukup menyenangkan. Soal semuanya Tris, aku ingin semuanya membaca cerita kita, mungkin tak sesempurna Adam dan Hawa. Tapi kurasa ini cukup untuk mewakili perasaan kita berdua.

Trisna, kau tahu dari banyaknya cerita cinta kita yang cukup rumit dan terdengar membosankan bagi sebagian besar orang, aku mempunyai kisah favorite dalam perjalanan panjang bersamamu, aku ingin menceritakannya berulang kali padamu agar aku dapat mengenangnya lebih baik lagi, agar aku dapat mengingatnya berulang kali.

---

Hari itu 24 Desember 2008, aku pertama kali melihatmu berjalan dari muka pintu kelas, aku masih mengingat semua nilai burukmu pada waktu itu, nilai matematikamu yang terbagus pada saat itu, tapi sisanya bahkan tak menyentuh angka 80, itu semester pertama ketika kau kelas 3 SMP, aku masih mengingatnya, kita dipertemukan dalam satu ruangan yang menurutku itu adalah penghakiman bagi para murid-muridnya. Disitu aku menemani kakak laki-lakiku yang mengajar Bahasa Indonesia sekaligus wali kelasmu.

“Ibu, beberapa hari ini nilai Trisna cukup turun drastis, sejak kelas satu dan kelas dua dia selalu mendapatkan 5 besar, tapi sekarang malah menurun, saya khawatir karena ini sudah akhir dari masa-masa SMP. Saya harap semester 2 nanti Trisna bisa lebih baik lagi.” Kata kakakku waktu itu.

Kau sangat terkejut waktu itu, entah perasaan seperti apa yang kau rasakan, tapi aku benar-benar mengetahuinya dengan jelas. ‘semoga Mamah tidak menghukumku’ itu terpancar jelas dari matamu, sebagai orang yang berprestasi 2 tahun terakhir, Mamah selalu melihatmu maju kedepan untuk sekedar sambutan sebagai murid terbaik. Namun, entah kenapa kali ini kau berbeda jauh dari sebelum-sebelumnya. Aku tak tahu apa yang sedang kau khawatirkan kali ini, hanya saja aku selalu memperhatikanmu mulai saat itu, mungkin kau tak mengenalku tapi aku berusaha untuk lebih dekat denganmu dibanding apapun yang ada didunia ini, aku berusaha mencari semua hal tentangmu. Mulai dari jaket yang biasa kau pakai, warna kesukaanmu, alamat rumahmu, berapa adikmu atau kakakmu dan seterusnya, aku berusaha mencarinya. Barangkali ini terdengar konyol dan berlebihan, namun aku tak tahu akan jadi seperti apa perasaanku jika tidak bertemu dengan dirimu, kepada siapa hati ini akan tertambat jika Tuhan tidak memainkan takdirNya, jodoh barangkali sesuatu yang rahasia, kita selalu menganggap ‘berjodoh’ seandainya semuanya berjalan dengan kebetulan, aku benar-benar percaya dengan hal itu.

Trisna, secara tidak langsung atau kebetulan takdir Tuhan mempertemukan kita ditempat ini, dua manusia yang nantinya akan menjadi sepasang kekasih yang saling merindukan, mungkin. Tapi aku selalu percaya dengan takdir yang telah Ia tuliskan, Dia tak pernah ingin membuat sedih hambaNya, kan? Karena itu aku mulai membuat semuanya menjadi kebetulan, aku ingin semuanya berjalan bukan hanya karena takdir yang telah Tuhan gariskan, tapi juga dengan usaha dan kerja keras dari keinginan untuk berjodoh denganmu.

Selepas pengambilan rapotmu, Mamahmu berterima kasih kepada kakakku dan akan berjanji agar kau tak mengulangi kesalahanmu lagi di semester berikutnya. Aku tak mau kehilangan kesempatan ini, dari sudut ruang kelas aku mengumpulkan keberanian yang mungkin tak semua laki-laki memilikinya, aku tak mau kehilangan jejakmu. Aku minta kepada anak dari ibu kantin yang sedang berjalan di lorong-lorong kantin sekolah untuk meminta nomor telponmu, aku tak ingat nama anak itu tapi kalau tidak salah namanya adalah Angga. Anak itu berlari mengejar dirimu dan Mamahmu, sampai ketika kamu berada dimulut gerbang sekolah, anak kecil itu memanggilmu.

“Kak, Kak tunggu sebentar!” teriaknya dengan nafas yang terengah-engah.

Kau menoleh kearahnya untuk memastikan suara yang memanggilmu itu. “Hey, ada apa?” katamu dengan manis, ah seandainya anak kecil itu adalah aku, aku benar-benar akan menjadi laki-laki paling bahagia didunia ini. Tapi apa daya, aku hanyalah laki-laki pengecut yang malu bertemu denganmu.

“Boleh minta nomornya nggak?” dengan manja Angga memintanya.

Kau terheran kenapa tiba-tiba ada anak kecil yang meminta nomormu, dengan cepat kau mulai mengkonfirmasi perkataan Angga. “Maksudnya nomor telepon Kakak?” tanyamu memastikan.

Angga mengangguk.

“Buat apa?” kau bertanya sekali lagi.

Angga terdiam, dia menoleh kearahku dan kemudian dengan telunjuk kecilnya itu ia menunjuk kearahku dengan manja. “Buat Kakak yang ada disana” katanya.

Kau melihat ke arahku juga, aku tak bisa mengontrol diriku sendiri, dadaku berdetak lebih cepat dari biasanya, keringatku keluar lebih deras dari biasanya, kurasa aku benar-benar skakmat kali ini, padahal kau hanya melihat dari kejauhan. Namun, entah kenapa perasaan ini begitu tak bisa kukendalikan lebih jauh lagi. Seandainya ini adalah semacam cara Tuhan untuk menunjukan bahwa kita sedang jatuh cinta, tak ada yang lebih baik dari semua perasaan indah ini.

Kau melihatku tapi aku tak pernah berani untuk menatapmu, aku bersembunyi di balik tembok-tembok kantin, berusaha untuk tak melihatmu, permasalahannya adalah setiap kau melihatku debar jantungku berdetak lebih cepat, aneh. Aku mengintip di bagian sela-sela lubang berbentuk persegi pada tembok sebelah kanan, aku melihatmu menuliskan sesuatu di kertas yang Angga berikan, kurasa kau berbaik hati memberikan nomormu padaku, aku senang bukan main ketika kau menuliskan itu. Kau mulai mengacak-ngacak rambut Angga sambil tersenyum dengan ramah, aku meperhatikannya! Ya, lesung pipimu yang membuatmu kelihatan lebih cantik dari sebelumnya, caramu tertawa dengan suara lembut yang tertahan, ‘ini sempurna’ gumamku. Setelah mencatat semuanya kau melihat ke arahku lagi, sambil tersenyum, aku belum bisa menafsirkan senyummu itu tapi aku senang karena kau tersenyum padaku.

Dari kejauhan Angga berlari ke arahku, kurasa dia dapat diandalkan dengan baik, dari tempat kau berdiri, langkahmu sudah meninggalkan sekolah ini, hanya debu yang tersisa. Angga sampai dihadapanku dan memberikan kertasnya.

“Nih Kak” Katanya sambil menyodorkan kertas yang kau berikan padanya.

Aku terdiam, kenapa terlipat? Sebelum aku memberikan kertas itu pada Angga, kertas itu tak terlipat sama sekali. Aneh. Aku mulai menerimanya, aku mulai membuka kertas itu perlahan tapi pasti, aku tak mau terburu-buru, jantungku berdebar lagi, perasaan sudah tak karuan, cairan di otakku mulai mendidih, tak ada kata yang ingin kukatakan selain berharap bahwa kau benar-benar menerima kehadiranku. Aku membuka lipatan demi lipatan sampai semuanya telah terbuka, aku menemukan tulisanmu disitu.

“Untuk kamu yang memperhatikanku dari kejauhan, jangan bersembunyi dibalik tembok, jangan menjadikan anak kecil sebagai perisai. Aku tak akan memberitahu semua tentangku sampai kamu sendiri yang datang dan memintanya.” Kau menuliskannya dengan sempurna, Arghhh! Aku berusaha tenang tapi jantungku berpacu lebih cepat lagi, memang kau tak memberikan apa yang aku minta, tapi kau memberikan hal yang lebih dari sekedar penting. Sekarang aku benar-benar tahu maksud dari senyummu itu.

Trisna, aku akan datang kepadamu secara langsung, walaupun sebenarnya gugup dan ketakutan, tapi aku akan menghilangkan rasa takutku, hanya agar takdir Tuhan berjalan apa adanya. Agar suatu saat nanti kita bisa bercerita dan melihat bulan dari balkon yang sama.

---

Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang, aku mempunyai rencana sore ini, untuk menggenapkan keberanianku. Selepas pulang sekolah nanti, aku akan mampir ke sekolahmu untuk sekedar bertemu denganmu. Melihat kembali bola mata itu, melihat kembali cahaya itu, dan melihat kembali semua perasaan-perasaan yang tak pernah bisa kujelaskan.

Dengan langkah-langkah yang kecil, aku mulai berjalan di bawah lorong-lorong kelas. Membayangkan sesuatu soal kita, soal perasaanku yang tak pernah terjelaskan, soal cinta yang masih muda. Kali ini aku sadar telah menjadi laki-laki paling bahagia di muka bumi, menjadi laki-laki yang paling beruntung bisa bertemu denganmu. Aku percaya bahwa dari setiap pertemuan tak pernah ada yang kebetulan, dan dari setiap kebahagiaan tak pernah ada kepalsuan.

Siang itu Ibu Dwi mulai mengajarkan Bahasa Indonesia, pelajaran yang paling kusuka. Karena disitu aku bisa mulai belajar untuk menuliskan sesuatu untukmu, sesuatu yang barangkali masih terlihat kacangan tapi aku tak ingin kau melihatnya seperti itu. Di akhir paragraf puisiku, aku menyelipkan puisi milik Sapardi Djoko Damono, aku selalu menyukai puisi-puisinya. Cara dia menyusun kata, cara dia memilah makna dari setiap kalimat. Oh, aku merasa bahwa puisi ini ditunjukan untukku. Ibu Dwi masih saja sibuk dengan pembahasan soal Premis, sedangkan aku masih sibuk mencari ujung perasaanku padamu.

“Akbar! Akbar! Akbarrr!!!.”

“Aduh.. Bu sakit.” Ujarku, sebuah penghapus ia lemparkan padaku.

“Kamu merhatiin ibu nggak dari tadi?!”

Aku mulai merapikan buku tulisku, aku sudah mengetahuinya saat ini pukul 3 kurang 10 menit, itu artinya akan pulang. “Merhatiin kok bu, saya selalu merhatiin ibu disaat ngajar ataupun enggak.”

Dia menatapku tajam. Kurasa aku salah berbicara. Ibu Dwi, dia adalah salah satu guru rekrutan dari sekolah lain. Dia mengajar Bahasa Indonesia, aku selalu suka dengan cara ia mengajar. Apalagi saat ia mulai mengajarkan soal membaca puisi dan menulis cerpen, bagiku keduanya adalah media dari perasaan kita.

“Kamu itu ya, dari dulu nggak pernah bisa serius. Mikirin apa kamu tadi?!” tanyanya geram.

Bagaimana aku menjelaskannya, aku tak tahu harus berkata apa. Sementara sejak dari tadi yang kupikirkan hanya dirimuTris, tak ada yang lain. Bagaimana rencanaku mengajakmu pergi dan semua bahasan kita nanti, aku sedang memikirkan itu semua. Tak sempat sama sekali berpikir pada mata pelajaran.

“Hmm... Anu Bu... Anu.” Kataku gugup.

“Bicara yang jelas!.”

Kulihat dari kejauhan teman-teman dari kelas sebelah mulai keluar satu persatu, itu artinya. “Saya harus pulang bantu Mamah.” Kataku seketika melarikan diri, dari kejauhan kulihat bu Dwi geram dengan sifatku. Kurasa jika aku menjadi dia, sama saja aku juga akan kesal jika seperti ini.

---

Aku sudah menunggumu satu jam, ini sudah hampir pukul 4 kau masih belum keluar juga. Dengan gerbang setinggi 2 kaki, berwana biru dengan security berbadan besar di sampingnya. Kurasa sekolahmu cukup menyeramkan.

Selang beberapa menit ketika bayanganku jatuh pada perasaan-perasaan yang tak mengenakkan, kau mulai berjalan dari pintu gerbang yang terbuka. Dengan ikat rambut berwarna merah, dengan alis yang tak terlalu tebal, sepatu hitam itu. Oh, ini selalu menjadi gerakan lambat ketika aku berada didekatmu.

Deg! Deg!

Seketika tiba-tiba dadaku kembali berdetak lebih cepat, keringatku kembali turun lebih deras, kakiku mulai menunjukan kelemahannya. Sementara kau selalu lebih cepat langkah demi langkah.

Deg! Deg!

Kali ini dua kali lebih cepat, kau mulai semakin dekat denganku. Dengan dasi biru itu, dengan seragam putih yang terlihat bersih itu. Kau mulai berjalan ke arahku. Perasaanku tak karuan, rasanya aku harus pergi seketika untuk menenangkan diriku sendiri. Trisna, perasaan macam apa ini.

Deg! Deg!

Kau berjalan melewatiku, Ah wangi itu, aku tak akan pernah lupa. Wangi yang mengingatkanku pada peristiwa ini, peristiwa yang barangkali akan kuingat seumur hidupku. Dua langkah kau berjalan melewatiku, kau berputar balik untuk memastikan ada yang terlewat. Kau melihat ke arahku, aku tak karuan, entah apa yang harus kulakukan untuk semua ini. Aku berharap kau tak pernah melihat kehadiranku disitu. Kau memperhatikanku dari bawah sampai atas, dengan wajah keheranan kau terus memperhatikanku dengan perlahan tanpa ada yang terlewat sama sekali.

“Kamu yang waktu itu minta nomor aku kan?” tanyamu.

Deg! Sekali lagi, jantungku menjadi tak karuan ketika mendengar suaramu. Sebagian orang bilang cinta butuh waktu, namun tidak berlaku bagiku ketika aku mendengar suaramu. “I... Iya.” Kataku gugup, aku takut kau malah tidak mau kenal denganku.

Kau tersenyum. “Haii aku Trisna, kemarin kita belum sempat kenalan kan?” katamu sambil menjulurkan lengan kananmu.

Aku terdiam, jantungku berdetak normal kembali. Entah, kurasa aku mulai merasa aman. Kali ini kurasa aku cukup berani padamu. “Akbar.” Sahutku pelan.

“Kamu ngapain disini? Pasti mau ketemu kakak kamu ya?” tanyamu.

“Pergi ketaman yuk?” Entah apa yang ada di pikiranku ketika mengucapkan itu, seperti semuanya harus segera di lepaskan. Aku mau menahan sesak dan penyakit jantung itu lagi.

“Apa?”

“Pe..... Pergi ketaman Yuk.” Kataku kembali gugup.

Kau tersenyum, aku menganggapnya sebuah jawaban yang berarti ‘ya’. Jantungku masih normal, kali ini aku tak merasakan sensasi gempa itu lagi Tris. Mungkin karena aku sudah merasa aman, seperti merasa sudah menemukan titik pelabuhan bagi hatiku sendiri. Cinta selalu tahu kemana dia harus pulang, dan hati selalu tahu kemana dia harus pergi. Kurasa itu pertama kalinya aku mengajakmu berbicara.

Trisna, mungkin ini perkenalan pertama kita. Awal dari sebuah perjalanan panjang yang kita akan genapkan, sebuah takdir yang barangkali sengaja kita jemput untuk kemudian menjadi akhir dari yang paling bahagia. Aku masih berada pada pengandaian yang sama, soal kita berdua yang mengalir bersama waktu. Menjadi sepasang manusia egois yang memutuskan untuk jatuh cinta, untuk benar-benar mengetahui perasaan satu sama lain. Kita mungkin hanya sebagian hiruk-pikuk dari sebagian kebisingan yang dirasakan langit, kita mungkin adalah tetes air hujan yang perlahan jatuh tanpa tahu akan berada dimana, kita mungkin senja yang terpapar diujung khatulistiwa, kita mungkin bulan yang masih mengerti bagaimana caranya bersinar. Kita mungkin semua itu, tapi aku ingin menjadi kita yang sebenarnya, menjadi cinta yang sama. Untuk aku dan kamu, untuk cinta yang tak pernah berkhianat pada hati.

---

“Kamu kenapa nggak minta langsung sama aku waktu itu?”

“Aku takut.” Ujarku.

Kau menoleh ke arahku, menghentikan memakan buah yang kau pegang. “Takut apa?”

“Aku takut kamu nggak mau ketemu sama aku.”

“Hahaha... Kamu lucu ya, aku bukan orang yang sejahat itu Bar. Kalau memang mau berteman aku selalu terbuka kok.” Katamu. Berteman? Kurasa aku perlu konfirmasi dari kata itu.

“Hanya takut aja Tris.” Aku tertawa.

Kau tertawa.

Seperti obrolan di sore hari, angin muson yang bergerak perlahan

Cinta masih membutuhkan peraduan, sebab dari semua akibat