Manusia (yang) Berproses

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Desember 2016
Manusia (yang) Berproses

Nara,

Aku senang bukan main ketika mengenalmu dengan cara yang tidak sengaja. Aku tidak tahu arti dan makna senyumanmu yang kau lemparkan kepadaku, tapi semenjak senyuman itu mulai mendarat mulus di dalam hati dan pikiranku. Aku mulai menyadari sesuatu, aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri.

Mungkin kau mengetahuinya Nara, aku mencintamu dalam diamku, aku tidak pernah bisa mengungkapkan semuanya kepadamu. Ada berbagai alasan mengapa aku tidak pernah sempat atau tidak pernah berani megungkapkan semua perasaanku kepadamu, pertama aku takut kau menolakku, yang kedua aku tidak punya cukup keberanian untuk mengatakannya kepadamu. Kau mempunyai mantan yang keren dan tampan, sedangkan aku? Seorang laki-laki culun yang berharap bisa berpacaran denganmu untuk waktu yang cukup lama atau kalau bisa sampai ke jenjang pernikahan. Ah, aku terlalu jauh berbicara, seharusnya waktu itu aku mulai jujur dan mengatakannya kepadamu. Cinta perlahan akan terbiasa tidak terbalas jika didiamkan terlalu lama. Aku tidak ingin menjadi manusia yang merana karena cinta Nara, tidak ingin menjadi manusia yang buta karena cinta. Aku hanya ingin terus bahagia dan tertawa dengan cinta yang kita punya bersama, itupun jika kau mempunyai perasaan yang sama denganku.

Nara, kau ingat hari dimana kau menanyakan hal paling berpengaruh dalam hidupku, sebuah impian yang sejak SMP ingin sekali aku wujudkan. Menjadi seorang penulis, kau selalu penasaran kenapa aku menyukai cerita-cerita cinta yang berlebihan, kata-kata puitis yang selalu membuat telinga menjadi sakit, makna-makna tersirat dan tersurat yang sulit untuk dijabarkan. Ah, Nara aku selalu suka ketika menuliskan semua itu.

“Kenapa mau jadi penulis?” Tanyamu.

Siang itu selepas jam pelajaran ke dua telah habis, bel istirahat berbunyi dengan nyaring. Kita duduk di tangga sekolah untuk sekedar mengobrol berdua. Tidak ada moment paling membahagiakan dalam hidupku selain duduk bersamamu, bercerita dan mungkin merencakan sesuatu yang akan kita lakukan akhir weekend ini.

“Aku mau di ingat.” Jawabku singkat kepadamu.

Kau mengerutkan dahimu sambil terus menebak maksud dari ucapanku. “Kalau itu mah nggak usah nulis juga bisa.”

“Hmm.”

“Bikin sensasi aja.”

Kali ini aku yang mulai mengerutkan dahiku menebak apa maksud ucapanmu. “Maksudnya aku harus ngapain?”

“Iya cari sensasi seperti artis-artis di tv, biar hits dan mudah di ingat, jambak-jambakan gitu pas lagi adegan main film.” Katamu sambil tertawa.

“Aku harus jambak-jambakkan sama siapa?”

“Mang Cucu?”

Kita berdua melihat aneh satu sama lain, selang beberapa saat aku dan kamu tertawa. Kita menghabiskan waktu berdua, ya hanya aku dan kamu. Dua orang manusia yang beruntung di pertemukan dalam balkon yang sama, oh bukan, aku yang beruntung dan kamu? Entah. Yang pasti aku merasa menjadi laki-laki paling beruntung yang pernah ada, yang terus-menerus memperhatikan senyum dan tawamu dengan seksama. Ketika kerudungmu tertiup angin kau perlahan akan mulai merapikannya dengan lembut. Aku selalu berusaha untuk membuat gerakan slow motion ketika kau sedang melakukannya, sejenak aku hanya ingin menghentikan waktu dan menatap ke arahmu dengan penuh cinta. Perasaanku hanya tertuju padamu, bidadari yang perlahan merubah duniaku.

Aku tahu ini terdengar gombal buatmu, tapi aku hanya ingin jujur pada perasaanku sendiri. Dan aku ingin kau mengetahuinya, kejadian tidak sengaja yang semesta berikan membuat aku menjadi manusia yang beruntung bisa mencintaimu. Perempuan penyuka matematika.

“Aku nggak mau memberikan sesuatu yang percuma untuk anak atau istri aku kelak. Aku ingin memberikan sesuatu yang berarti, ketika nantinya aku sudah nggak ada, apa yang aku tulis dalam setiap buku atau tulisan aku nanti adalah semacam surat wasiat untuk mereka dan mereka akan selalu merasakan kehadiranku disamping mereka.” Kataku sambil menatapmu dengan senyum yang kupaksakan hanya agar kau terpesona saja.

Kamu hanya terdiam, hanya memperhatikan apa yang aku katakan. Tatapanmu berubah menjadi tatapan seorang manusia yang penasaran.

“Membuktikan sama anak atau istri aku kelak, kalau ayah dan suaminya adalah laki-laki sederhana yang berasal dari suatu daerah di kota Nganjuk, suatu desa yang kecil yang mayoritas penduduknya adalah bertani dan mengangon sapi atau kambing. Tapi laki-laki sederhana ini mampu punya sesuatu untuk dunia, sesuatu yang berharga untuk anak dan istrinya kelak. Walaupun kadang aku sedikit takut.” Kataku sambil menengok ke arahmu yang masih memperhatikanku dengan serius.

“Apa?” Tanyamu dengan nada yang penasaran, aku hanya tersenyum memperhatikanmu yang seperti itu. Aku menyukainya ketika kamu sedang penasaran pada sebuah hal, kamu akan mencari hal itu sampai apa yang kamu mau kamu dapatkan. Entahlah, tapi aku suka caramu yang seperti itu, jarang ada perempuan yang penasaran terhadap sesuatu hal lalu dia mulai mendalami nya dengan lebih lagi. Mungkin itu kenapa aku mencintaimu, rasa penasaranmu soal matematika, soal teori evolusi, soal filsuf matematika Islam, soal kehidupan, dan soal apapun yang membuatku tertarik untuk mendalaminya. Andai manusia bisa sesekali berubah menjadi apapun, aku ingin menjadi sebuah teori yang membuatmu penasaran dan terus-menerus mencariku. Ah, cinta itu indah Nara, cinta itu indah. Seperti berada di padang bunga yang luas, lalu perlahan kita mulai tertidur di atas nya sambil tertawa dengan wajah yang gembira.

“Aku takut kalau apa yang aku tulis, setiap karya yang aku buat nggak bisa menghidupi anak istri aku kelak. Aku ingin Hidup Dari Karya, tapi tidak tahu apa istri dan anakku kelak bisa hidup dari karya juga seperti aku.” Seruku sambil kembali menatap ke arah lapangan sekolah yang disana banyak teman-teman kita bermain Basket dan Futsal.

Kau menepuk pundakku perlahan. “Pasti bisa dong, kamu harus bisa. Itu kan impian kamu, masa iya kamu nggak mau punya sesuatu dari apa yang kamu impiin.” Katamu singkat, ada ketulusan disana. Sebuah cara paling sederhana untuk menjadi bahagia adalah dengan mendengarkan nasihatmu, bagiku.

“Yakin banget.” Kataku tertawa kecut.

“Semuanya kan berawal dari keyakinan, semuanya kan berawal dari bagaimana kita memulai dan berproses. Kalau kamu sudah yakin, perlahan diri kamu akan mulai berproses dengan sendirinya untuk menemukan tujuan yang kamu tuju.” Kau mulai merapikan kerudung putihmu. “Kata Umi, kita harus jadi manusia yang berproses, yang berani memulai dan berani mencoba hal-hal baru. Itu kenapa aku suka penasaran sama beberapa hal. Pengetahuan, impian, kebahagiaan, kesehatan itu mahal harganya. Maka menjadi manusia yang berproses adalah cara untuk mendapatkannya.” Entah kenapa siang itu aku merasa kamu adalah perempuan paling hebat yang pernah ada, kau menarikku ke dalam kehidupanmu lalu perlahan membuatku terkagum dengan segala ocehanmu.

Maka benar katamu waktu itu, soal impian kita hanyalah harus terus berproses. Terus percaya dan yakin dengan apa yang kita ingikan, berusaha sebaik mungkin memulai semuanya dari awal dan bekerja lebih keras. Impian itu unik Nara, impian itu unik. Dia selalu hadir dalam tidur-tidur kita setiap malam lalu dengan perlahan mengetuk relung hati kita dan berkata. “Sudah waktunya kamu memulai, aku menunggu di ujung jalan.”

Banyak dari kita yang menghancurkan mimpi kita sendiri dengan cara yang hina; meremehkan diri sendiri, naskah tulisannya ditolak oleh penerbit berkali-kali dan menyerah di tengah jalan lalu perlahan mulai berpikir Jadi pekerja saja, yang pasti dapat pemasukan setiap bulan. Tidak ada yang salah menjadi pekerja, tapi menghancurkan mimpi dengan cara seperti itu adalah hal yang kejam menurutku, bagaimana bisa seorang manusia menghancurkan mimpinya? Padahal ketika kelas 2 SD di kelas kita berteriak paling lantang dan bersemangat.

“AKU INGIN MENJADI SEORANG AKTOR.”

“AKU INGIN MENJADI SEORANG PENULIS.”

Dan mungkin masih banyak lagi mimpi-mimpi yang bersarang di kelas 2 waktu itu, tapi kemana mimpi itu ketika kita sudah bertumbuh? Mungkin benar katamu Nara, kita memang terus bertumbuh sebagai manusia tapi tidak pernah sekalipun kita berproses pada apa yang kita tuju sejak awal.

 

Ketika cahaya senja masuk ke kamar

Seorang anak bermain dengan mainannya

Sambil berteriak dan berkata “I want to be a Superhero.”

Dari situ kita tahu, banyak mimpi yang menunngu di wujudkan