Terompet Tahun Baru (Ibu))

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Februari 2016
Terompet Tahun Baru (Ibu))

24 Desember 2008

?Bu Aku mau terompet itu.? Kataku merengeng padamu.

Kau melihat terompet berbentuk naga itu, dan seketika memeriksa uang yang ada di dompet untuk memastikan bahwa uang itu cukup membeli harga terompet itu. ?Terompet naga nya berapa Pak?? tanyamu pada seorang Kakek paruh baya yang mengenakan kaos berwarna hijau bertuliskan selamat Tahun baru 2009.

?Dua Puluh Lima Ribu Rupiah Bu.? Katanya dengan lembut sambil menunjuk terompet yang kuinginkan.

Kau kembali memeriksa saku celana belakang dan samping, adakah uang tambahan yang tersisa. Sedangkan uang yang ada di dalam dompet hanya Sepuluh Ribu Rupiah. Sulit memang jika membayangkan seorang single parent sepertimu mencari uang untuk memenuhi kebutuhanku Bu, untuk membiayai Kakak kuliah di Surabaya saja sudah susah aku membayangkannya. Namun, otakku tak memperdulikan itu ketika kecil, aku hanya ingin terompet itu untuk tahun baru nanti.

Kau menghampiriku, dengan langkahmu yang berat, bahumu yang agak lemas, dan nafasmu yang tak beraturan kau memegang pundakku. ?Kita belinya nanti ya, nenek udah pulang, nggak ada yang masakin nanti.? Sambil tersenyum kau mulai berusaha menenangkanku. Mah, aku tahu uangmu kurang, aku tahu kau hanya menjadikan Nenek sebagai alasan agar aku menunda keinginanku. Memang semenjak Ayah meninggal aku, nenek datang kerumah untuk tinggal bersama, karena Kakak sedang kuliah di Surabaya.

Aku mengangguk, masih ada keinginan terpendam soal terompet, masih ada keinginan terpendam soal hal itu Mah, kenapa Ayah meninggal di waktu yang tidak tepat, bukankah Tuhan begitu menyayangi hambaNya, lalu kenapa Ia mengambil Ayah lebih dulu. Kalau tidak pasti Mamah tidak perlu bekerja seperti ini Mah.

---

29 Desember 2009.

Aku terdiam di depan jendela, hari itu hujan deras di daerah kami, aku meratapi nasib yang tidak kunjung henti menguji aku dan Mamah, di dalam lamunanku aku membayangkan mempunyai orang tua yang lengkap dengan segala kebahagiaan yang aku dan orang tua ku rasakan. Di terpian kaca jendela rumah, air mengalir dengan perlahan setetes demi setetes, barangkali ini akan menjadi tahun baru yang paling buruk dalam hidupku.

Di pojok ruangan aku melihat nenek yang sedang menyapu lantai karena kembali aku membuat gaduh seisi rumah, pintu kamar ibu terbuka sebagian, aku melihatnya sedang menghitung-hitung uang tabungan. Kurasa, gaji ibu akan turun awal bulan (lagi), sehingga uang tabungan Mamah sengaj ia keluarkan untuk keperluan belanja makanan, Mamah selalu membuat daftar akan tak ada satupun yang terlewatkan. Dia beranjak keluar untuk segera masuk ke dapur untuk meneruskan masakannya.? ? ? ? ??

Kertas itu terjatuh, kertas yang menjadi daftar belanja Mamah, agar tak pernah lupa. Mah, aku tak memintamu untuk memaksakan kehendak untuk membelikanku sesuatu yang tak bisa kau beli, jika uang tabungan hanya cukup untuk kebutuhan makan dan yang lainnya sampai akhir bulan saja sudah cukup buatku. Membanyangkanmu menabung begitu keras, dan mendapati uang lebih untuk membelikan apa yang kuinginkan, itu sudah terlalu kelewatan Mah, kau tak pernah memikirkan yang lain kecuali kebahagiaanku, seandainya aku punya cara yang paling bahagia untuk membalas semua kasih sayangmu, mungkin tak ada lagi rasa sakit hati yang tertanam di hatimu dari perkataanku.

Daftar Pembayaran dan belanja....

-Cabai

-Sayuran

-Sabun mandi

-Shampoo

-Bayar listrik bulan Desember

-Bayar tagihan rumah

-Buah jeruk dan apel

-Bayar kuliah Kakak

-Beli terompet Rafa.

?

Aku menangis ketika membacanya, di tengah carut marutnya ekonomi keluarga kita yang naik turun kau masih menyelipkan ?terompet? untuk sekedar menghiburku dari rasa sedih karena tak puya terompet tahun baru, sementara teman-temanku sudah lebih dulu membelinya. Kau ingin aku tumbuh bahagia dengan diam-diam menaruh harapan pada tabungan keunganmu agar semua yang aku minta bisa kau penuhi. Mah, aku memang masih kecil tak punya masalah yang harus di pikirkan, tapi aku tahu kau memikirkan banyak hal untuk keperluan yang lebih penting daripada sebuah terompet. Aku selalu saja memaksamu untuk berjanji yang tidak penting.

?Mamah janji akan beliin terompet itu.?

?Mamah janji akan beliin kamu Tamiya itu.?

?Mamah janji akan ajak kamu jalan-jalan.?

Bla bla bla.

Mah, ketika kau berjanji aku sangat percaya kau akan menepatinya, namun aku tahu betul dengan susah payah kau berusaha untuk menepatinya. Mah, aku sudah tak mau terompet itu lagi, tamiya itu lagi dan berlibur disebuah pantai atau tempat rekreasi, aku tidak akan menagih lagi Mah.

Yang pasti aku ingin tetap membersamaimu dalam bahagiaku, aku ingin membahagiakanmu! Kali ini aku yang berjanji!

---

6 Januari 2009

?

?Mah! Mah aku pulang.? Teriakku dari luar selepas pulang sekolah.

Rumah sangat sepi siang itu, tak ada orang sama sekali, Mamah dan juga nenek kurasa mereka berdua pergi kepasar untuk membeli keperluan bulan ini. Terang saja, Mamah baru saja mendapatkan haknya dari perusahaan setiap bulan, Mamah harus menyiapkan semuanya juga, karena esok adalah 100 hariannya Ayah. Semua orang dan semua saudara akan hadir disana.

Aku mulai masuk kamar, menanggalkan semua seragam sekolahku, merapikan ranselku, dan mulai membersihkan ruang tamu. Ini pertama kalinya aku bersih-bersih, biasanya aku hanya sekedar melihat saja, nenek selalu meralangku untuk bersih-bersih, dia tak mau melihat diriku lelah. Ada sesuatu yang menggantung di pojok ruangan, dekat dengan televisi namun bentuknya seperti kukenal. Berkilau merah, mirip seperti karton. Di atasnya tertulis sebuah pesan. ?Buat Rafa, meniupnya pelan-pelan ya. Mamah.?

Sekali lagi kau berhasil membuatku bahagia, terompet tahun baru ini memang tak terlalu mahal, memang tak terlalu mewah buatku. Namun, bukankah yang jadi makna dari sebuah pemberian adalah ketulusan yang ada didalamnya, Mah aku selalu ingin berterima kasih kepadamu soal semuanya, aku ingin sekali mengucapkannya, dalam tangis ku kata itu tertahan diujung lidah. Kau berhasil membuatku bahagia (lagi), dengan serangkaian tangisanku, dan semua perjuanganmu untuk menabung perlahan, padahal kau harus memikirkan banyak hal selain terompet kecil ini, kau masih harus menanggung yang lainnya.

Mah sekali lagi, terima kasih!

?

Langkahku mulai terbata

Setiap jalan terasa seperti sama

Dan kau, Mah, selalu punya cara yang berbeda

Kau selalu ada, meski tanpa rupa