Gelap.

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Februari 2016
Gelap.

?Ibu ibu ibu dimana Bu?? kataku setengah berteriak.

Hari itu mati lampu di komplek rumah kami, kurasa ini pemadaman listrik besar-besaran, aku benar-benar tak bisa melihat aku ketakutan. Ayah belum pulang kerja, aku hanya berdua bersama ibu dirumah.

?Ibu disini?? teriak ibu.

?Dimana bu?! Ibu aku takut!? aku sudah tak bisa berjalan lagi, aku benar-benar dalam ketakutan. Aku tak biasa berada dalam kegelapan seperti ini. ?Aku takut bu! IBU!? teriak ku menangis.

Aku menangis sekeras-kerasnya berharap lampu menyala, berharap ibu datang dan menjemputku. Aku ketakutan, sejak bayi kata ibu memang ketika berada dalam gelap aku tak pernah bisa berhenti menangis. Aku selalu mempunyai pandangan lain soal kegelapan, menurutku kegelapan selalu menyeramkan, aku benar-benar tak suka!

Di ujung pintu, aku melihat sepercik cahaya lilin, cahaya itu mengahpiriku secara perlahan. Langkah demi langkah, aku ketakutan, aku merinding bukan main, bagaimana kalau itu adalah hantu yang selalu Ayah ceritakan padaku setiap malam. Bagaimana?! Aku takut!. ?Ibu, Ibu dimana aku takut!? Aku menangis lebih keras, namun cahaya itu menghampiriku lebih cepat, seakan berlari. Cahaya itu mulai medekat lebih dekat, lebih dekat sampai akhirnya berada satu langkah bersamaku. Aku gemetar, mulutku tak bisa berteriak memanggil ibu lagi, kali ini aku benar-benar pasrah.

?Hey, tenanglah Mahesa, ini ibu.? Kata ibu

?Ibu!? Aku memeluknya, memegang tangannya, aku tak mau terpisah lagi dengannya. ?Aku takut bu? kataku.

Ibu tersenyum dalam gelap. ?Tenang ya, ibu udah disini kok, kamu tak perlu khawatir lagi, ibu akan jagain kamu selama Ayah di luar?

Hatiku tenang mendengarnya. ?Ibu nggak takut?? tanyaku.

?Ibu takut, sama kayak kamu, tapi ibu nggak ada pilihan lain selain berani, kalau ibu takut terus yang jagain kamu siapa? Ibu akan jagain kamu tenang ya? katanya sambil tersenyum.

Aku lega ketika ibu memegang erat tanganku, entah perasaan macam apa ini, ibu semacam memberikanku kekuatan agar aku berani pada gelap. Agar aku tak takut lagi. Ibu tak pernah melepaskan genggamannya pada tanganku, mungkin ini kedengaran seperti anak manja sekali. Tapi jika kau berada pada posisiku kau pasti akan setuju, ibu tak pernah meninggalkanku selama aku dalam kesulitan, dia selalu berada didekatku. Padahal aku tahu dia juga merasakan ketakutan yang sama sepertiku, tapi dia selalu memberanikan diri agar semuanya terlihat baik-baik saja, hanya ingin menunjukkan kepadaku bahwa semuanya pasti terkendali.

?Ibu, ibu nggak takut??

?Takut, tapi apa boleh buat. Ibu akan jadi berani buat kamu, tenang ya?

  • view 140