Surat Wasiat

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 November 2016
Surat Wasiat

A, kau selalu bertanya kenapa aku terus menulis dan selalu ingin jadi seorang penulis. Aku ingat pertanyaanmu ketika cahaya senja masuk ke teras rumahmu. "Kenapa harus nulis? Kamu kan bisa kerja jadi Graphic Designer atau nggak Videographer. Tinggal di asah lagi aja." Biasanya aku hanya akan tersenyum dengan tenang sambil mengelus rambutmu pelan.

"Aku cuma mau di ingat, nantinya kalau aku tua dan meninggal orang akan ingat aku dari setiap tulisan yang aku buat." Kau hanya tersenyum lucu sambil memuji jawabanku.

"Kayak surat wasiat aja." Kataku sambil tertawa.

Ahh itu semua benar A, banyak orang yang meninggal tapi tidak meninggalkan apa-apa, banyak orang yang pergi begitu saja tanpa memberikan apa-apa. Aku hanya ingin berbeda, mungkin dengan menulis bisa membantuku untuk diingat oleh orang-orang, bisa membuat mereka belajar. Mungkin dari tulisanku kelak, akan menyadarkan seseorang tentang hal-hal sederhana yang sempat mereka lupakan. Aku hanya ingin diingat dan berusaha untuk terus mengingatkan. Aku akan bertambah tua A, namun tulisanku akan terus muda, akan terus bertahan, gagasanku akan bersua sampai ke ujung negeri. Jika beruntung aku ingin tulisanku terbaca oleh semua penulis yang aku kagumi. Agar mereka paham, bahwa mereka telah memberikan energi positif padaku selama bertahun-tahun.

Impian barangkali adalah cara manusia untuk terus bertahan hidup, tujuan barangkali adalah cara manusia untuk terus bernafas meskipun berdarah. Walaupun kadang sebagai manusia kita hanya terus berteriak soal tujuan kita tanpa tahu dimana akhir garis finishnya, tapi kita terus berlari sampai menemukannya, kan? A, aku sudah menemukan garis finish yang orang lain cari aku rasa; Keluarga, Masa Depan, dan Kematian. Tak ada yang lebih menyenangkan selain tawa dan kebersamaan keluarga, tidak ada yang lebih misterius daripada masa depan, dan tidak ada yang lebih nyata selain kematian.

Maka aku akan terus menulis A, surat wasiat yang kau bilang. Sampai pada akhirnya aku mencapai finishku dengan tawa yang lega.

A, kau tahu. Saat ini aku benar-benar merasa kalau setiap tulisanku seperti surat wasiat yang kelak akan dibaca banyak orang dan menyadarkan mereka. Sebelum perpisahan kita malam itu di bandara Soekarno-Hatta kau tertawa walau pada akhirnya aku menyadari air mata jatuh dari matamu.

"Kalau kamu udah jadi penulis besar nanti, masih inget kan sama aku? Jangan sombong-sombong ya." Katamu dengan koper hitam yang kau bawa untuk keperluanmu di Jerman selama 8 tahun. Di sudut bandara aku tersenyum kepadamu.

"Pasti dan selalu akan aku ingat." Kataku lembut.

A, tahun depan jika berkemungkinan baik, buku pertamaku akan terbit. Dan mungkin ini akan menjadi surat wasiat pertamaku untukmu.