Hijab

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 November 2016
Hijab

Hijab, kebanyakan orang memandang perempuan yang berhijab adalah mereka yang kaku dan kurang gaul. Tidak bisa membaur dan juga tidak bisa melebur. Kaku disini dalam artian semua orang memandang perempuan berhijab adalah orang yang taat syariat agama, ya kami memang perempuan yang berusaha untuk taat kepada syariat agama tapi kebanyakan orang kembali berkata kalau perempuan yang taat syariat agama itu artinya terlalu patuh dan tidak gaul, intinya tidak asik untuk diajak kumpul.

Kadang ada beberapa orang yang berkata dan berbisik kepada temannya, perempuan berhijab tidak bisa menemukan pekerjaan dengan mudah karena ketertutupan kami terhadap beberapa hal. Ya kenyataannya benar, di beberapa negara-negara Eropa yang maju, para perempuan berhijab sulit mendapatkan pekerjaan. Faktor utamanya karena kerudung yang merekat di kepala. Mau tidak mau beberapa perempuan berhijab yang tinggal di Eropa harus terpaksa berbisnis sendiri walaupun rintangan dan ujian siap menghadang mereka. Kadang barang dagangan yang dipasarkan oleh perempuan yang berhijab tidak selaris yang dipasarkan para perempuan yang tidak memakai hijab. Tapi bukan untuk mengejek maksudku, ini adalah fakta. Entah mengapa, entah kenapa. Hijab seakan-akan menjadi simbol penutup diri yang kuno bagi sebagian orang, padahal hijab adalah perintah dan juga kewajiban sebagai seorang muslimah. Kalau laki-laki mempunyai kewajiban setiap hari Jumat untuk pergi ke masjid, maka perempuan mempunyai kewajiban untuk menutup auratnya secara keseluruh. Lagi pula lewat hijab kita bisa bergaya, simple kan? Aku menamakan nya Style Syar’i, bergaya tapi masih menjalankan anjuran Islam.

Aku pertama kali memakai hijab ketika berumur 12 tahun, ibu bilang perempuan yang cantik bukan mereka yang berdandan ala artis-artis ibu kota dan memakai make up sana-sini, perempuan cantik bukan mereka yang memakai sepatu hak tinggi dan berjalan dengan anggun, jelas kata ibu mereka juga cantik tapi dari luar. Perempuan cantik adalah mereka yang berani menutup dirinya untuk laki-laki lain dan menjaganya untuk suaminya kelak, kata ibu perempuan punya dua kecantikan. Lahiriyah dan Batiniyah. Lahiriyah adalah kecantikan yang berasal dari luar yang orang lihat dan orang perhatikan. Batiniyah adalah kecantikan yang berasal dari dalam yang dilihat Tuhan lalu Dia meridhoi dan kecantikan yang hanya diperlihatkan untuk suaminya. Hanya teruntuk dia.

Ah percayalah sulit untuk bisa memperlihatkan betapa bahagianya berhijab, sulit rasanya ditengah arus modernisasi yang seperti ini. Tapi aku membuktikannya perlahan, dan beberapa dari mereka mengikutiku, bukan menjadi pengikutku tapi mengikuti caraku berpakaian. Dengan hijab dan juga lengan pajang. Menjadi muslimah yang baik di depan banyak orang dan juga Tuhannya.

***

Juni 2012

“Haduhh capek.” Kataku sambil menghempaskan diriku ke sofa rumah temanku.

Dia menoleh ke arahku yang masih fokus dengan majalah bacaannya. “Kamu kenapa Rin? Ditolak lagi lamarannya?” Tanyanya yang sesegera membenarkan posisi duduknya.

Aku mengangguk lemas. “Ini udah perusahaan yang ke 20 Sar.” Keluhku kepadanya.

Dia menghela nafas lalu mulai menepuk perlahan lenganku. “Sabar Rin, nyari pekerjaan kan nggak mudah, apalagi di Stuttgart Rin, mencari pekerjaan sudah seperti mencari kapas di tumpukkan paku.” Katanya sambil mulai mengambilkanku air mineral.

Sarah dan aku berkuliah di Stuttgart Jerman, kalau kalian tahu kota itu. Sangat menyenangkan rasanya mendapatkan beasiswa sampai kesini, apalagi kalau satu rumah dengan teman SMP. Beruntungnya aku, banyak orang yang mendambakan beasiswa ini jatuh ditangan mereka, tapi pada kenyataannya yang paling siap berjuang dan berusaha yang bisa mendapatkannya. Aku dan Sarah berteman sejak kami SMP hanya saja ketika memasuki SMA kami berpisah dan kembali disatukan Allah lewat tes untuk mendapatkan beasiswa ke sini, dan disitulah pertemuanku kembali dengan Sarah terjadi.

Sarah adalah teman dan sahabat yang baik, dia selalu bisa memberikan solusi bagi setiap masalahku, bisa menjadi pendengar yang baik, kakak, ibu bahkan ayah yang senantiasa mengingatkan tidak henti-hentinya. Bagiku peran dia cukup besar selama kami berkuliah bersama disini. Kami sama-sama muslimah, tapi perbedaannya hanya aku berhijab sedangkan Sarah tidak. Kadang ada beberapa hal yang tidak aku setujui soal pendapat dia soal berhijab, aku bisa berdebat semalaman dengan dia.

“Nanti aku berhijabnya kalau sudah siap.” Katanya suatu saat.

Aku mengernyitkan dahi. “Sarah, berhijab itu bukan nunggu siap atau nggak, bukan nunggu dapet hidayah atau nggak. Tapi berhijab itu memang sudah kewajiban seorang muslimah, siap atau tidak siap kamu harus siap. Masa menjalankan kewajiban yang dikasih sama dosen mau, tapi menjalankan kewajiban yang dikasih sama Allah SWT nggak mau.” Jelasku kepadanya.

Dia hanya terdiam, mungkin mencoba berpikir. Lagi pula tidak ada yang salah dengan perkataanku, memang berhijab adalah kewajiban semua muslimah, kan? Bukannya menunggu siap, kalau siapnya sesegera mungkin, kalau siapnya ketika sudah akan dipanggil bagaimana? Sia-sia semuanya, hanya wacana. Lebih baik membiasakan mulai dari sekarang. Seharusnya dibiasakan dari kecil agar lebih betah dan terbiasa menggunakan hijab.

“Nih Rin.” Sarah memberikan sebotol air mineral padaku, yang pasti bukan air pegunungan asal Indonesia atau air yang ada manis-manisnya gitu. Air mineral versi Jerman, merknya saja berbeda. “Alasannya apa kamu nggak diterima?” Tanya Sarah pernasaran.

“Ini.” Aku menunjuk hijabku dengan wajah yang lesu.

Sarah menepuk keningnya dengan pelan, dia mulai merapikan majalahnya dan fokus kepadaku. “Dua puluh perusahaan nolak lamaran kamu karena alasan yang sama? Bercanda kali Rin.”

“Aku serius Sarah.”

“Masa nggak ada satupun yang lihat nilai akademik kamu sih?” Tanyanya lagi kepadaku.

Aku memajukan bibirku cemberut lucu. “Sebenarnya nilai akademikku dinilai bagus oleh ke dua puluh perusahaan yang aku mengajukan lamaran tapi kata mereka aku harus melepaskan hijabku untuk bisa bekerja disana.” Ujarku kepada Sarah sambil meminum air mineral yang diberikan olehnya.

Dia menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan semuanya. “Ririn, Ririn. Lagi pula kenapa sih kamu harus kerja, kan kamu bisa tidur menunggu kiriman dari ayah kamu seperti tahun-tahun sebelumnya.” Jelasnya kepadaku.

“Oh ayolah Sarah, aku kan sudah bilang aku tidak mau menyusahkan ayahku, lagipula aku sudah berada di semester akhir, sambil menyusun skripsi kelar apa salahnya bekerja.” Aku mengatakan hal ini berulang-ulang kepada Sarah. Beberapa tahun terakhir ayah terus mengirimkan uang kepadaku untuk biaya hidup dan kuliah disini, ayah adalah salah satu Dosen di UIN Jakarta. Aku tahu dia mampu, tapi itu akan membuatnya bekerja terlalu keras, karena itu aku memilih untuk bekerja. Walaupun aku mendapatkan beasiswa, itu hanya bertahan beberapa semester, atau mungkin biaya per semester terpotong beberapa persen. Sisanya aku harus membayarnya sendiri dengan uangku. Dan karena jumlahnya yang cukup besar, aku tidak mau terus-menerus merepotkan ayah.

“Yaudah lepas hijab kamu kalau gitu.” Celetuk Sarah tiba-tiba.

Aku tersentak. “Sarah! Sekali aku bilang enggak ya enggak!” Bentakku kepadanya sambil berjalan keluar menuju kamarku. Aku tidak bermaksud membentak Sarah tapi perkataannya malah membuatku kesal, ini bukan pertama kalinya aku membentak Sarah. Dan mungkin dia sudah terbiasa dengan kemarahanku soal seperti ini.

“Oke-oke aku minta maaf Ririn!” Teriaknya dari dalam kamarnya. Aku tidak menghiraukan lalu pergi begitu saja masuk ke kamarku. “Aku nggak bermaksud!”

Aku berdiam dikamar, mendengarkan bacaan tilawah dari ponsel pintarku dan kemudian tertidur hingga larut malam. Lagipula suhu di Stuttgart sangat dingin, bisa setengah membeku kalau keluar sore hingga malam hari.

***

Pengalaman pertama kuliah di luar negeri selalu ku abadikan dengan kamera, setiap kejadian unik dan mengesankan selalu aku foto agar nantinya ketika sudah lulus dan pulang ke Indonesia aku bisa mengenangnya, kenangan yang tidak akan terlupakan. Kampus hari ini tidak terlalu ramai, tiga mata kuliah selesai begitu cepat karena hanya satu dosen saja yang masuk dan pada akhirnya aku pergi ke sebuah taman di dekat kota. Disana aku terduduk di sebuah bangku coklat dengan pahatan burung merpati pada sandaran bangkunya.

Sambil memakan es krim sendirian dan membaca buku seakan-akan dunia menjadi milikku sendiri. Namun dibalik semua itu, pikiranku masih berpikir soal pekerjaan dan kemana lagi aku harus mencarinya, aku tidak mau ditolak dua puluh satu kali. Lebih baik berdiam dirumah dan menjadi seorang mahasiswi biasa daripada ditolak lebih dari dua puluh kali oleh perusahaan yang berbeda. Langit cerah dengan awan yang membentuk angsa, seperti dongeng ya? Tapi benar adanya, awan berbentuk angsa dan aku sedang memandanginya.

Huh.. Stuttgart, sulitnya hidup di Eropa dengan berhijab adalah soal pekerjaan dan mencari jodoh. Jarang ada pria muslim yang mencari jodoh di luar negeri, mereka lebih senang menghabiskan waktu untuk mengenyam pendidikan daripada mencari jodoh, kalau mau mencari jodoh mereka akan pulang ke negara asalnya dan menikah disana. Beberapa perempuan berhijab di Jerman hanya menjadi ibu rumah tangga saja, tapi beberapa ada yang membuka usaha atau bekerja. Bekerja dengan muslimah juga. Tapi aku belum menemukan perusahaan yang dipimpin seorang muslim atau muslimah mencari seorang pegawai baru. Kalau ada sudah kulakukan dari beberapa bulan yang lalu, aku masih mencari peruntunganku di bank-bank lokal yang ada di kota ini.

“Indonesian?” Tanya seorang laki-laki kepadaku tiba-tiba. Dia berperawakan cukup besar dengan rambut layaknya Humood Alkhuder, penyanyi Kun Anta.

Aku mengangguk perlahan dengan wajah yang masih kebingungan. “I… Iya?”

Dia tiba-tiba saja duduk disebelahku, otomatis aku langsung menggeser dudukku agar tidak terlalu berdekatan dengannya. “Ah akhirnya aku menemukan orang Indonesia juga, kamu tahu aku sudah satu tahun disini tapi tidak ada orang Indonesia yang kutemui.” Ujarnya sambil bersender dibangku dengan kaki yang memanjang ke depan. “Aneh kan ya satu tahun tinggal tapi tidak pernah bertemu orang satu negara.” Lanjutnya.

“Hah maksudnya?” Tanyaku yang masih tampak kebingungan.

Dia menoleh ke arahku dan menatapku lekat-lekat. “Oh ya aku lupa, namaku Bisma.” Katanya sambil menyodorkan tangannya kepadaku.

Aku hanya membalas dengan senyuman, dia lalu terlihat heran dan aneh. Mungkin dia non muslim. “Maaf tidak boleh bersentuhan dengan yang bukan muhrim.”

Dia tersenyum lalu mengangguk mengerti. “Oh iya-iya aku mengerti.” Lalu dia kembali menatap jalanan yang padat dengan kendaraan. Taman ini berjarak dekat dengan jalan utama, namanya juga taman kota tidak mungkin tidak dekat dengan jalanan. “Aku juga muslim kok.” Lanjutnya sambil tersenyum ke arahku.

Aku hanya tersenyum mendengarkannya.

“Kuliah atau kerja?” Tanyanya kepadaku.

“Kuliah, University Of Stuttgart, Fakultas Arsitektur.” Jawabku ramah kepadanya. Baru bertemu saja banyak bertanya, apalagi kalau sudah kenal. Tapi mungkin kenalpun hanya sebagai teman tidak boleh lebih.

“Wah bisa gambar dong?”

“Bisa.” Jawabku singkat.

Dia hanya tertawa lalu kemudian memperkenalkan jurusannya walaupun aku tidak bertanya. “The Bauhaus-Universitat Weimar, Fakultas Art and Design.” Katanya sambil memukul pelan dadanya dengan telapak tangannya, seperti ingin menunjukkan ini loh aku.

“Loh dari Weimar ngapain kesini? Jauh banget.” Tanyaku kaget, karena jarak yang lumayan jauh perkotanya.

Dia menggeleng kuat. “Nggak terlalu ah, cuma 1,9 km jalan ke stasiun dan naik kereta, jadi nggak terlalu capek. Lagi pula cuma 9 jam kok naik kereta.” Sahutnya santai.

“Jarak dari sini ke Weimar hampir 300 km kali.” Kataku berusaha membenarkan.

Dia menatapku lekat. “Kan aku naik kereta, mau 300 atau 400 km pun pasti nggak capek. Kalau naik mobil mungkin akan linu dan pegal-pegal.” Ujarnya sambil tertawa, dia menjadi seketika aneh daripada yang kubayangkan.

Aku menatapnya aneh, sampai pada akhirnya tatapanku membuat ia risih dan tawanya mulai berhenti. “Ka.. Kamu ngapain ke Stuttgart?” Tanyaku perlahan.

“Jalan-jalan, dapet libur 2 minggu dari kampus, kamu libur nggak? Nggak ya?” Dia kembali tertawa, tapi kali ini dia tertawa karena kesombongannya. Mengejek jam kuliahku.

Karena merasa tidak nyaman aku langsung beranjak pergi. Tidak pamit atau apapun, hanya pergi begitu saja. Dia berulang kali memanggilku, dan terus berteriak siapa namaku tapi aku tidak menjawabnya. Hari ini aku baru saja bertemu laki-laki aneh yang cukup tampan, ku akui tapi menjengkelkan. Lebih baik pergi daripada harus terus berada disana duduk bersamanya.

Mungkin ini pertanda baik baik kelangsungan kisah asmaraku, ah tapi aku tidak mau berpacaran kalau bisa sih langsung saja dilamar. Tapi mana mungkin ada laki-laki yang tiba-tiba datang dan memberikan sebuah cincin, di Stuttgart? Bercanda. Harus ku akui walaupun menjengkelkan, laki-laki bernama Bisma tadi cukup asik diajak berbicara dan bersenda gurau, aku menganggumi tawanya dan senyumnya. Seperti mendengar suara anak kecil menangis di lorong-lorong rumah. Ah, memangnya ada yang salah dengan menganggumi orang lain? Fatimah saja menganggumi Ali bin Abi Thalib sejak lama dan akhirnya di nikahkan oleh Rasulullah SAW. Ya mungkin dengan cara menganggumi seseorang Allah memberikan jalan bagi setiap jodoh yang ada. Walaupun Bisma menjengkelkan, tapi semoga aku dan dia bertemu lagi dalam waktu dekat.

Hujan tiba-tiba saja turun, namun untungnya aku sudah berhasil berteduh di halte bis lebih dulu sebelum akhirnya hujan membasahi seluruh bagian dari tubuhku. Sebelum aku berangkat ke kampus Sarah mengingatkanku untuk membawa payung untuk jaga-jaga, tapi karena aku masih kesal dengannya aku tidak mendengarkannya dan pergi begitu saja. Menyesalnya aku tidak mengikuti apa kata Sarah, kalau aku mendengarkan dan sedikit meredam emosiku mungkin aku tidak harus berteduh di halte seperti ini menunggu bis yang entah datang kapan. Seperti jodoh yang masih dirahasiakan.

***

“Halo.” Suara Ibu terdengar dari ujung sana.

Akhir pekan ibu memang sudah bilang akan menelponku karena kangen katanya sudah lama tidak melihat dan mendengar suaraku. Aku yang juga mempunyai perasaan yang sama seperti ibu bersemangat sekali mendengar suara ibu walaupun hanya lewat telepon. Ah, begitu malangnya nasib manusia yang merindu, begitu malangnya hati yang lepas dan menjadi benalu. Terjajah sendiri oleh sebuah kerinduan yang amat sangat menyakitkan. Soal kerinduan ibu selalu bilang kepadaku kerinduan yang paling dahsyat yang pernah dia rasakan. Kerinduan akan Rumah Allah SWT.

Ibu berangkat pergi haji ketika aku sudah berada disini selama satu tahun, berarti sekitar tujuh tahun yang lalu ibu telah menunaikan perintah Allah itu. Ibu selalu bilang, kalau disana semuanya terasa sejuk dan menenangkan, orang-orangnya pun ramah-ramah. Sebagai orang yang pergi haji, kita disambut dengan ramah oleh petinggi kota Makkah dan diprioritaskan. Kalau di Indonesia ada yang namanya AFF Cup (Asian Federation Football) Kalau di Makkah ada yang namanya Musim Haji, dimana para jamaah haji diutamakan keselamatan dan juga kesehatannya. Suasana yang ramah dan menyenangkan, juga disana kita bisa merasa dekat dengan Allah, Sang Raja Semesta. Kita bisa merasakan kehadiranNya lebih dekat. Kerinduan yang paling mendalam bukanlah kerinduan tentang sang kekasih pujaan, bukan kerinduan tentang sang suami yang pergi, kerinduan yang paling dalam bagi ibu adalah kerinduan akan Rumah Allah, dan mencium batu Hajar Aswad. Bagi ibu itu adalah suatu keberkahan yang ia dapat dari Allah.

“Kamu bagaimana kuliahnya?” Tanya ibu dengan nada ramah seperti biasanya.

Senyumku mengembang secara perlahan. “Baik dong bu, ini kan semester terakhirnya Ririn. Sebentar lagi Ririn akan pulang, siapin makanan ya.” Kataku meledek ibu sambil tertawa.

“Hussh kamu tuh ya kebiasaan.” Perkataan ibu terdengar lucu dan aku masih tertawa. “Lagi pula masih tahun depan, kan?”

“Iya sih bu, tapi kan yang namanya kabar baik harus disampaikan dengan cepat.”

Ibu hanya terdiam beberapa saat, lalu lima menit berselang ibu berkata hal yang sudah bisa kuduga akan keluar dari mulut ibu. “Kamu beneran mau bayar uang kuliah semester akhir kamu sendiri?” Tanya ibu penuh kekhawatiran, jelas saja sejak kecil ibu mendidikku dengan baik, ilmu-ilmu soal agama masuk begitu saja dan mudah aku pahami. Jadi wajar ibu menjadi terlalu khawatir. Ketika mendapatkan kabar kalau aku akan berkuliah di Jerman, ibu juga sempat pingsan, namun setelah sadar aku menjelaskan semuanya dengan seksama.

“Demi impian Ririn bu dan juga ibu.” Kataku waktu itu sebelum akhirnya meninggalkan rumah selama delapan tahun.

“Iya bu nggak usah, Ririn bisa kok cari kerjaan sementara sampai Ririn lulus.” Kataku berusaha menenangkan ibu.

Ibu menghembuskan nafas pelan, disisa waktu yang terpakai untuk mengobrol dengan ibu aku gunakan dengan baik, kami berbicara soal apa saja, soal apapun. Sekitar dua jam setengah aku dan ibu mengobrol di telepon, dan akhirnya mengucapkan sampai jumpa lagi. Kata ibu jangan pernah mengucapkan selamat tinggal tapi ucapkan sampai jumpa lagi karena itu menunjukan sebuah harapan bahwa kita akan bertemu lagi.

Setelah menelpon ibu, aku mulai mencari kembali beberapa perusahaan di internet. Namun tidak ku temukan yang aku berminat masuk di dalamnya, sampai pada akhirnya aku melihat foto sebuah busana keren, cool dan modis. Busana itu di desain oleh Ivan Gunawan. Aku berpikir sejenak lalu mendapatkan ide dengan cepat kilat. Aku langsung berlari ke kamar Sarah untuk meminta pendapatnya soal ideku yang menurutku adalah yang paling cemerlang ini.

“Sarah.. Sarah.” Panggilku padanya yang masih terfokus dengan acara di televisi.

Dia hanya menoleh lalu kemudian berpaling kembali ke layar televisi. “Kamu sudah nggak marah sama aku?” Tanyanya jutek kepadaku.

Aku hanya tertawa kecil. “Udah kok udah nggak, Sarah cantik deh hari ini.” Rayuku kepadanya.

Dia menghembuskan nafas dengan nada badmood. “Mau apa? Nggak usah pakai ngerayu segala deh.”

Aku tertawa kegirangan, sambil terus meledek wajah Sarah yang terlihat lucu ketika sedang cemberut ataupun marah. Dia selalu saja bisa membuatku tertawa geli atau sekedar membuatku tersenyum, kadang kalau tidak sedang bersenda gurau, ekspresi wajahnya pun bisa menjadi lucu seketika.

“Begini aku mau buat Online Shop.” Kataku mantap yang sudah tidak lagi tertawa.

“HAH?! ONLINE SHOP APAAN?!” Teriaknya kaget dengan pernyataan yang kubuat.

“Sabar cantik sabar.” Aku mulai mengelus punggungnya. “Jadi gini, tadi aku habis telponan sama ibu, terus sehabis telponan aku coba cari lowongan di internet dan nggak dapet tapi aku melihat busana Ivan Gunawan.” Jelasku kepadanya.

Dia sedikit tampak bingung. “Terus?”

“Jadi aku berpikir daripada repot-repot cari kerja untuk uang kuliah tambahan lebih baik aku jual busana saja.” Kataku.

“Kamu mau jadi Re-Seller nya Ivan Gunawan?”

Aku menggeleng kuat-kuat. “Enggak, aku akan mendesain bajunya sendiri. Untuk para Muslimah diseluruh dunia. Aku akan buat busana muslim yang trendy dan nggak kuno agar para muslimah lebih senang ketika memakainya. Dan kesempatan aku untuk mengajak mereka menutup aurat pun secara otomatis terikut, kan?” Sarah mengangguk perlahan. “Nah jadi rencana ini yang akan aku jalankan untuk menambah uang kuliah, untung dapat uang dan juga dapat pahala.” Lanjutku.

“Terus aku suruh apa?”

Aku tertawa licik. “Bantu aku buat promosi ya? Biar produknya terkenal dulu, setelah itu baru akan mengenalkan beberapa bentuk busana muslimah yang keren-keren.” Pintaku kepada Sarah.

Sarah menelan ludahnya, seakan tidak percaya dengan keputusanku. Tapi aku sudah bertekad, mungkin sedikit berusaha untuk mengubah padangan orang kebanyakan bahwa perempuan berhijab juga bisa kok mendirikan sebuah usaha sederhana. Walaupun di Jerman, tapi aku yakin bisnis ini akan berhasil, karena menurutku semua hal didunia ini bukan masalah tempat nya tapi masalah apa yang mau kita buat dan bagaimana cara mepromosikannya agar orang lain tertarik dengan apa yang kita buat.

Keahlianku dalam menggambar akan aku gunakan dengan baik, walau biasanya menggambar sketsa rumah atau gedung dan kini menggambar sketsa busana tapi tidak berbeda cukup jauh karena intinya masih sama menggambar. Ini hanyalah masalah waktu, semuanya pasti akan berhasil dan menjadi kenyataan semua rencana matangku ini. Jerman akan menjadi tempat pertamaku untuk memulainya dan Indonesia menjadi tempat kedua, aku akan meminta tolong ibu untuk mepromosikannya, jadi selepas aku berada di Indonesia nanti semuanya akan semakin mudah karena orang-orang sudah tidak asing lagi dengan produk yang aku berikan. Impian untuk membiayai kuliah sendiri dan juga tidak menyusahkan ayah untuk bekerja lebih keras sudah ada terpampang jelas di depan mata, tinggal eksekusinya saja.

***

Aku masih terduduk di kantin kampus, masih mengatur semuanya dari ponsel pintarku. Bisnis online yang baru saja aku dirikan. ‘Ririn Muslimah Clothing’ memang kedengarannya sedikit jelek dan kuno, tapi itu nama yang sengaja kubuat agar tidak terlalu terkesan mewah dan rumit, dan juga orang lebih mudah untuk mengingatnya. Sarah membantuku dalam bidang promosi, dia mempromosikan hampir ke seluruh temannya dari mulai yang ada di Stuttgart sampai yang ada di Jakarta. Hidup akan selalu menyenangkan jika berbagi kawan, ya hidup akan selalu menyenangkan ketika berbagi.

Aku sudah memberitahu ibu soal bisnis ini dan ibu pun setuju dengan ide gila ku ini. Dan semua teman-teman ibu pun hampir sedikitnya ada beberapa yang memesan busanaku untuk sekedar memakainya ke pesta-pesta pernikahan atau pengajian. Busana yang ku buat layaknya gamis tapi ini modern, ada kumpluk yang kugunakan di bagian atas gamis yang menyerupai kerudung. Lalu ketika membeli salah satu busanapun ada bonus hijab yang seragam dengan busananya agar muslimah lebih terlihat anggun dan cantik.

Menyenangkan rasanya ketika mempunyai bisnis sendiri untuk keperluan banyak orang, ‘Ririn Muslimah Clothing’ sengaja dibuat selain untuk menambah keperluanku juga untuk memberitahu kepada muslimah yang ada di Jerman dan Indonesia untuk memakai hijab, karena aku tahu langkahnya akan sulit kalau aku hanya menjual hijab lebih baik sekaligus menjual busana saja. Memang marketbilitias pasar ada pada busananya, membuat orang terbiasa dulu dengan busana muslimah yang sebenarnya. Lalu ada bonus hijab di setiap pembelian, itu akan membuat mereka lebih bagus dalam memakai busananya. Pertama memang niatnya mereka membeli hanya untuk sytle tapi lama-kelamaan mereka membeli karena suka dan ingin berpenampilan layaknya muslimah yang sebenarnya.

Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Bukankah begitu? Untuk menjadi bermanfaat tidak perlu menjadi yang paling kaya atau paling hebat, kan? Hanya perlu menjadi diri sendiri dan mulai melakukan inovasi. Mungkin itu arti bermanfaat yang sebenarnya.

“Sendirian aja?” Suara seorang laki-laki menelusup memasuki telingaku.

Aku menoleh ke arah datangnya suara. “Kamu? Ngapain disini?” Tanyaku dengan heran kepada Bisma.

Dia hanya tersenyum, lalu segera duduk di bangku di depanku. “Jalan-jalan.” Aku mengernyitkan dahi merasa tidak percaya dengan omongan laki-laki yang satu ini. Dia tertawa kecil. “Kenapa? Nggak percaya? Beneran kok jalan-jalan kan libur dua minggu dari kampus.” Katanya kepadaku.

Aku hanya terdiam, menatapnya lekat-lekat Semoga saja laki-laki ini tidak berbohong Batinku berbisik. “Kamu tahu dari mana aku kuliah disini?”

Kali ini dia yang mengernyitkan dahi. “Loh kamu kan sudah pernah kasih tahu waktu ditaman. Lupa?”

Aku benar-benar lupa. Aku menepuk keningku, kenapa aku harus memberitahunya kalau aku kuliah disini hari itu. Kenapa? Ah seandainya waktu bisa diulang aku ingin menarik semua ucapanku hari itu. Aku hanya tersenyum, aku tidak mengerti kenapa aku tersenyum. Seperti ada sesuatu yang membucah didalam hatiku, entah apa itu aku tidak mengetahuinya. Seperti gempa bumi, bergetar hebat dengan skala yang besar. Apakah ini pertanda jatuh cinta? Arrgghh aku tidak mau jatuh cinta, kalau sudah jatuh cinta ujung-ujungnya pasti pacaran dan aku tidak mau pacaran sama sekali. Karena tidak ada anjuran yang tepat soal pacaran dalam agama, mungkin yang ada hanya pendekatan itu pula waktunya tidak berlangsung lama dan sekiranya sudah cocok tinggal menunggu untuk menikah.

“Oh ya kamu belum kasih tahu nama kamu waktu itu.” Ujarnya sambil memesan satu buah minuman dingin kepada pelayan.

“Ririn.” Jawabku singkat.

“Oh Ririn, bagus juga namanya.” Katanya memuji namaku yang sebenarnya tidak sebagus kelihatannya.

Karena tidak mau terbalut perasaan yang lebih dalam, aku merapikan barang-barangku dan memutuskan untuk pergi. Aku tidak mau pada akhirnya aku jatuh cinta pada laki-laki Indonesia yang tiba-tiba saja datang dari Weimar. “Aku pamit dulu masih ada kelas.” Ujarku kepadanya.

Dia menghentikanku dengan menggenggam tanganku erat. “Tunggu Rin…”

“Apasih pegang-pegang. Haram!” Teriakku kepadanya, dia hanya terdiam lalu melepaskan genggamannya dan aku sesegera mungkin beranjak pergi. Meninggalkan Bisma dalam kesendirian di tempat yang sepi. Dari kejauhan aku memandangnya dan dia hanya tersenyum, entah tersenyum karena apa. Mungkin dia sudah gila dan tidak waras makanya sedikit tersenyum dan menampakkan wajahnya yang sok tampan itu. Sebenarnya tampan sih, hanya saja aku tidak suka dengan sikapnya.

Aku kembali kerumah Sarah dengan mobil taksi, oh ya aku belum menceritakannya jadi Sarah bisa mempunyai rumah disini, karena beberapa tahun yang lalu keluarga Sarah berlibur disini dan karena ayahnya dan ibunya ingin tinggal disini lebih lama, mereka memutuskan untuk membeli rumah disini. Dan akhirnya sekarang karena Sarah yang kuliah disini, rumah itu digunakan olehnya untuk tempat tinggal sementara selama kuliahnya belum selesai. Menghemat biaya hidup. Tanpa ba bi bu lagi aku langsung menghampiri Sarah dan menceritakan semua kejadian soal Bisma, dan tanggapan Sarah pun seperti perempuan pada umunya yang mendorongku untuk kenal Bisma lebih dekat, tapi aku hanya berpikir Bisma hanyalah orang lewat semata. Lagi pula aku tidak ingin lebih dekat dengannya.

“Coba aja dulu Rin, siapa tahu baik anaknya.” Katanya menyarankanku.

“Nggak mau, pacaran itu nggak ada dalam Islam Sar, adanya menikah dan aku nggak mau menikah dengan dia.” Kataku mulai berusaha untuk memberikan dia penjelasan.

“Siapa yang suruh kamu nikah, pacaran aja dulu pacaran yang Islami.” Serunya santai.

“Sar kalau mau pacaran ya pacaran aja nggak usah bawa-bawa nama Islam. Pacaran tuh nggak ada yang Islami, di Islamnya saja nggak ada hukumnya. Menikah tuh baru namanya Islami, karena dianjurkan oleh agama.” Jelasku kepada Sarah.

Dia hanya menghembuskan nafas lalu mulai beranjak pergi mengambil minuman. “Iya-iya bu Haji.” Ujarnya sambil tertawa.

“Ihh Sarah aku serius.” Kataku sambil beranjak mengekor dibelakangnya.

Sarah baru saja mengganti warna cat rumah dengan warna biru, karena lebih adem dan juga serasa berada di lautan yang dalam katanya. Dia menyewa beberapa tukang dua hari yang lalu untuk mengerjakannya. Aku tidak bisa membantu apa-apa, bukan tidak bisa tapi Sarah yang tidak mau menerimanya. Uang dari bisnis busana muslimahku lumayan laku keras tapi Sarah tidak mau menerima uang dariku, dia bilang buat tabungan saja kalau sewaktu-waktu ada keperluan mendadak. Secara teknis dia adalah orang tuaku, menampung diriku sejak lama sampai hampir mau lulus seperti ini. Walaupun kadang menjengkelkan, dia adalah teman terbaik yang pernah aku punya.

“Lagi pula kalau menurut aku ya coba dulu aja Rin, siapa tahu nyaman.” Dia mulai menuangkan susu ke dalam gelasnya.

Aku menggeleng. “Cinta karena Nyaman akan kalah dengan cinta karena Iman Sar.” Kataku kepada Sarah.

Dia hanya menggeleng. “Terserah kamu deh.”

Aku terus berusaha untuk yakin dengan keyakinanku sendiri bahwa semuanya hanya harus dimulai dengan niat yang baik dan juga ridho Allah semata. Mendapatkan restuNya jauh lebih penting daripada harus terburu-buru karena nafsu belaka. Bukankah jodoh bersifat seperti itu? Bagaimana kita bisa berkata bahwa orang lain berjodoh dengan kita sementara kita tidak pernah tahu apakah Allah sudah merestui atau belum, kan? Karena itu aku selalu menunggu agar Allah yang membawakan laki-laki pilihanNya untuk datang kepadaku. Mungkin Bisma bisa disebut salah satunya, tapi semuanya belum pasti. Aku hanya akan terus berada pada keyakinanku soal jodoh dan segala takdir Allah yang akan mempertemukanku kepada satu-satunya laki-laki pilihanNya.

***

“Seorang lulusan University Of Stuttgart kenapa memilih untuk membuka sebuah toko busana muslimah?” Tanya sang moderator kepadaku.

Ya, aku kembali ke Indonesia setelah lulus dari University Of Stuttgart dan meninggalkan Sarah disana, karena Sarah mengulang satu semester lagi. Aku berkata kepadanya untuk mengizinkanku menemaninya lagi, tapi dia menolaknya dia bilang sudah saatnya aku pulang dan fokus dengan keluarga dan karir ku. Aku hanya mengangguk waktu itu, mengucapkan terima kasih kepadanya dan melepaskan perpisahan di depan pintu bandara. Dan sesampainya di Indonesia bisnis busana muslimahku berkembang pesat, tidak menyangka bisa sampai seperti ini sampai pada akhirnya beberapa stasiun televisi mengundangku untuk wawancara membahas soal ‘Ririn Muslimah Clothing’ Nama yang berbau Islami tapi tetap seakan-akan membeli di distro.

“Saya hanya berusaha untuk jujur sama diri sendiri, bahwa ini yang saya inginkan. Tersebab juga untuk kemudian mengajak para muslimah yang ada di tanah air untuk mulai menutup dirinya, hanya berusaha seperti layaknya seorang muslimah yang sebenarnya. Hijab itu nggak membuat kita terlihat jelek kok, gamis atau busana muslim yang lainnya pun begitu. Justru hijab akan membuat kita lebih cantik merona, lebih cantik dari luar maupun dari dalam. Tidak selamanya orang yang berpenampilan muslimah yang sebenarnya terlihat kaku dan jelek. Mba Zaskia Adya Mecca contohnya, beliau begitu cantik layaknya muslimah yang baik. Dengan style muslimah nya sendiri tentunya.” Jelasku kepada sang moderator salah satu stasiun televisi swasta ini. “Berhijab dan menggunakan busana muslimah tidak menghalangi kecantikan kita sebagai kaum Hawa kok, tetap cantik cerah berseri layaknya pemeran film-film Hollywood.” Candaku pada sang moderator, dan dia tertawa.

Ide untuk membuka toko busana muslimah berpengaruh besar terhadap kehidupanku dan juga kehidupan orang lain. Beberapa hari yang lalu ada yang mengirimiku email sederhana, sebuah ucapan terima kasih.

Makasih ya Mba Ririn, karena mba meyakinkan saya, saya jadi yakin untuk berhijab dan menutup diri. Busana muslimah yang mba desain juga keren, bahannya adem dan enak untuk dipakai. Kapan-kapan saya pesan lagi ya satu untuk ibu saya.

Ah, senangnya rasanya menjadi orang yang bermanfaat bagi sesamanya. Tujuanku sejak awal untuk kembali membuat para muslimah mengerti akan kewajiban yang mereka emban sebagai seorang perempuan muslim terbaik yang pernah ada pun akhirnya berhasil. Walaupun butuh waktu yang tidak sebentar, tapi itu namanya sebuah proses. Aku bersyukur karena ide yang bisa dibilang tidak waras ini tiba-tiba datang begitu saja dan datangnya kepadaku. Seandainya ide ini Allah berikan kepada orang lain mungkin aku akan menjadi muslimah yang bekerja di kantor dan menggambar seluk beluk bangunan. Semuanya tidak akan pernah terjadi tanpa izin dan restuNya.

Karena perkembangan bisnisku begitu pesat aku akhirnya memutuskan untuk membuka toko fisik di bilangan Jakarta Selatan. Alhamdulillah nya ramai tidak terkendali, dan semuanya senang dan tersenyum dengan ceria. Sekarang aku mengerti rasanya menjadi bermanfaat bagi orang lain itu menyenangkan, dan kita yang menjalaninya pun merasa bahagia.

***

“Bu.. Ibu.” Panggilan suamiku mengembalikanku ke kenyataan. Aku terbangun dari lamunanku dan mulai menghampirinya.

“Iya tunggu sebentar.” Kataku setengah berteriak kepadanya.

Dia tersenyum kepadaku ketika aku sampai di hadapannya. “Besok ikut aku ya?”

Aku mengernyitkan dahi. “Kemana?” Tanyaku penasaran.

“Ke Munchen untuk shooting. Aku dapat project baru lagi dari Pak Produser dan shootingnya harus di Jerman.” Katanya dengan tersenyum lugu.

Aku tersentak mendengarnya, aku sumringah bukan main. Jerman? Yang benar saja, aku akan segera kembali bertemu dengan Sarah. Kembali mengenang masa-masa kuliah. “Beneran? Kamu nggak bohong, kan?”

Dia menggeleng. “Seratus persen nggak bohong.”

Aku memeluknya, dan malam ini kami menjadi sepasang suami istri yang bahagia bukan main. Terlebih aku yang mengetahui akan kembali ke Jerman walaupun karena keperluan pekerjaan suamiku. Bisma, ya orang ini benar-benar menjadi jodohku. Sekembalinya aku dari Jerman ke Indonesia entah mendapatkan informasi darimana dia datang kerumah dan langsung melamarku untuk menjadikanku istrinya. Aku yang memang sudah lama diam-diam memendam perasaan yang sama hanya bisa mengangguk setuju sambil tersenyum bahagia. Ternyata Bisma adalah orang yang Allah Restui untukku dan sekarang aku berada bersamanya disini, dirumah yang kami beli di salah satu kompleks dibilangan Tangerang Selatan. Dia sama sepertiku perkejaannya tidak mengikuti Major sewaktu dia kuliah, dia menjadi Sutradara sekarang tapi walaupun seperti itu ilmunya ketika kuliah masih tetap berguna. Karena tetap menggunakan elemen Seni dan Desain dalam film-film yang ia buat. Hanya aku saja memang yang keluar dari jalur Majorku sewaktu kuliah, yang bermanfaat hanya kemampuan menggambarnya saja.

Tapi tidak masalah, selama itu dijalankan dengan baik dan benar maka semuanya akan baik-baik saja.

Dan begitulah semuanya berjalan, jodoh, rezeki dan juga sebuah keyakinan. Semuanya datang dariNya dan atas restuNya. Tanpa campur tangan Allah mungkin semuanya tidak akan pernah terjadi. Mengucapkan syukur untuk segala nikmat yang telah Ia berikan adalah salah satu kewajiban sebagai seorang muslim dan muslimah yang baik, karena jika besyukur itu artinya kita tidak melupakan Allah dan membuktikan bahwa Dia memang Maha Adil dan Maha Penyayang kepada semua hambaNya yang Dia restui jalannya akan baik-baik saja dimasa depan.

Dan berhijab, ah selalu saja ini dan ini. Tapi sekali lagi berhijab bukanlah sebuah pilihan tapi sebuah kewajiban sebagai seorang muslimah yang baik kita harus berusaha untuk patuh terhadap perintahNya. Kalau belum terbiasa, buat agar terbiasa. Kalau belum mau, buat agar mau. Semuanya hanya soal bagaimana kita yakin menjalankannya dan percaya bahwa itu adalah yang terbaik, kan? Kalau kau takut dipandang jelek dan tidak cantik lagi. Oh ayolah, kau harus menjadi seorang perempuan yang hebat. Nantinya laki-laki tidak akan melihat kecantikan luarmu saja tapi juga kecantikan yang ada di dalam dirimu juga. Dan ketika seorang laki-laki bisa menerima itu, maka artinya Allah sudah merestui perjodohanmu.

Bagaimana penawaranku? Maka ayo mulai menjadi muslimah yang baik dan cerdas, untuk bertanggung jawab pada kewajiban kita yang sebenarnya.

kalau mau membeli busana muslimah kalian tahu harus kemana, kan? Hihihihi.


  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    10 bulan yang lalu.
    Ceritanya baguus, banyak pesan yang terselip di dalamnya, juga bisa jadi sumber inspirasi nih biar bisnis makin berkembang, hehe ...

    Tapi ada yang kurang tepat dek, entah Arifin yang salah tulis kali ya ...
    itu, yang disebutin tentang Aisyah dan Ali bin Abi Thalib.
    Dalam sejarah yang kita ketahui, Ali bin Abi Thalib r.a. menikahi Fatimah Az-Zahra r.a., putri Rasulullah saw.
    Sedangkan Aisyah r.a. adalah istri Rasulullah saw.