Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 25 Oktober 2016   12:56 WIB
Konspirasi Semesta

Menjalin hubungan itu berarti mempercayakan sebagian diri kita pada orang lain, orang yang mungkin akan melengkapi kita untuk sementara waktu ataupun selama-lamanya. Waktu seakan bergerak menjadi lebih lambat pagi ini, seakan-akan berada pada adegan slow motion.

Hari paling bahagia itu datang, ketika aku dan seorang perempuan yang kutemui 14 tahun lalu di bangku SD yang menatapku lekat-lekat, kali ini duduk disampingku dengan gaun putih bersih nan suci, layaknya kertas kosong yang siap untuk dituliskan apapun untuk mengkotorinya. Namun tidak bagiku, aku tidak akan mengkotori gaun itu, gaun seseorang yang paling aku sayang.

“Siap?” Suara sang penghulu mantap bertanya padaku ketika tangannya mulai berusaha untuk menjabat tanganku.

Aku memegang tangannya kuat-kuat dan perlahan mulai menarik nafas panjang. “Siap.” Kataku yakin.

“Ucapkan dalam satu tarikan nafas ya.” Aku megangguk menyimak perkataannya. “Saya nikahkan saudara Putra Arya Wijaya Bin Dimas Indra Wijaya dengan seorang perempuan bernama Rissa Sarasvati Bin H. Reno Wicaksono, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan seberat 3 grm dibayar tunai.”

Aku menarik nafas dalam-dalam sambil terus merasakan detak yang perlahan membawa diriku kepada kegugupan, mental seorang pecundang kembali hadir ketika detak jantung itu terpacu semakin cepat, layaknya sebuah Mobil Lamborghini yang terpacu disebuah jalan lurus yang panjang. Aku mencoba menghilangkan keraguan itu, mencoba yakin sambil terus melirik sedikit ke arah Rissa, perempuan yang entah bagaimana membuat hatiku sejuk.

“Saya terima nikahnya Rissa Sarasvati Bin H. Reno Wicaksono, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan sebesar 3 grm dibayar tunai.” Kataku mantap dengan satu tarikan nafas seperti yang penghulu katakan.

“Sah?” Tanya sang penghulu sambil melihat ke sekeliling, orang-orang bertatap satu sama lain, dari wajahnya mereka menimbang jawaban seperti apa yang harus mereka katakan. Oh ayolah, aku sudah benar mengucapkannya.

Sampai pada akhirnya seorang laki-laki yang berkumis sedikit tebal dan berbadan cukup tegap tersenyum perlahan ke arahku. “Sah!” Serunya, dan seisi ruangan menyambut kata itu dengan perkataan yang sama, ya laki-laki itu, seorang laki-laki yang akan kupanggil Ayah.

“Jaga anak ayah baik-baik ya, jangan sakiti dia.” Kata laki-laki itu sambil memelukku erat. Aku merasakannya, air mata turun dari matanya. Seorang laki-laki kuat yang membesarkan seorang anak perempuan yang cantik yang saat ini sudah sah menjadi istriku, kali ini menangis di depan menantunya. Punggungnya bergetar sambi terus mengucapkan kata-kata itu. “Jaga anak ayah.”

Waktu seakan berhenti, masuk ke dalam lorong-lorong waktu yang aku tidak pernah bisa membayangkan akan kembali ke waktu yang sebenarnya. Aku mengecup kening perempuan yang mulai saat ini akan kupanggil dengan sebutan Istri, dia tersenyum malu-malu lalu perlahan mencium tanganku dengan lembut. Lesung pipi yang membuatnya seribu kali lipat lebih manis daripada biasanya berhasil menyita seluruh perhatianku hari itu. Ah, cinta memang akan selamanya seperti ini, membuat semua yang sederhana menjadi indah pada waktunya. Aku ingat hari itu, hari dimana pertemuan pertamaku dengannya.

“Aku Putra, kamu siapa?”

Dia tersenyum malu-malu sambil sesekali membenarkan kerudung coklatnya yang tertiup angin. “Rissa.” Hari itu aku menemukannya, cinta pertamaku mendarat di kedua lesung pipinya yang manis itu.

Seperti itulah semuanya berjalan, aku dan Rissa tidak pernah tahu akan sampai dititik ini, oh bukan aku yang tidak pernah menyangka akan sampai dititik ini. Semesta seakan-akan berpihak padaku ketika aku mulai menyematkan sebuah cincin emas di jari manis Rissa, dengan bacaan bismillah dan juga dengan kalimat romantis yang entah aku dapat darimana. Dengan anggukan sederhana dia bersedia menerimaku sebagai suaminya dan aku bahagia dia menjadi istriku.

---

“Aku baru aja pindah kesini, karena ayah dipindah tugaskan pekerjaannya ke sini.” Katanya ketika kami berjalan di pinggiran taman dekat kota.

Aku mengangguk perlahan. “Oh berarti kamu sudah pindah ke berbagai kota ya setiap ayahmu dipindah tugaskan?”

“Ya seperti itu, aku sudah pernah tinggal di Semarang, Surabaya, Bandung, Majalengka, Kediri, Padang, Melbourne, Jakarta, dan ini lagi Depok.” Katanya dengan sedikit menjelaskan pekerjaan ayahnya dengan sangat detail. Hari itu aku lebih fokus dengan wajahnya yang manis, dengan semua hal sederhana yang ada padanya, aku tiba-tiba saja menyukainya. Dengan cara yang sederhana.

“Pindahan itu enak menurutku. Soalnya bisa berkelana, bisa mempunyai cerita, bisa kenal dengan banyak orang yang berbeda, dan bisa melihat beberapa tempat unik di kota masing-masing.” Kataku sambil mulai meloncat-loncat layaknya kelinci di tengah-tengah taman.

“Siapa bilang berpindah itu enak.”

Aku terdiam ketika mendengar kata-katanya. “Hmm.”

“Berpindah itu tidak pernah enak, aku tidak suka dengan yang namanya pindahan, ketika pindahan yang aku lihat hanyalah kotak, membosanka. Seperti buronan yang harus lari dari kota ke kota, harus kembali menemukan tempat baru lalu ketika waktunya telah habis harus kembali membuat kenangan disana. Aku benci berpisah atau berpindah, ah keduanya sama saja. Tinggal disatu tempat lalu hidup tenang disana jauh lebih menyenangkan.” Jelas Rissa sambil mengikuti meloncat dibelakangku.

Aku terhenyak mendengar penjelasannya, senyumnya mulai pudar ketika dia berbicara soal perpindahan dan perpisahan. Aku menyesal setengah mati hari itu, sambil terus merasa bersalah aku mulai memegang tangannya. “Eh kamu mirip sama Alyssa Soebandono deh kalau aku liat-liat.”

Dia hanya terdiam dan terus menunduk.

“Kerudungnya tuh rusak.” Seruku sambil menarik kerudung biru dongkernya, sehingga hampir sangat berantakan.

“PUTRA! BERANTAKAN NIH JADINYA!” Aku mulai tertawa geli sambil bersiap untuk berlari, dia mengerjarku dengan kerudung yang masih berantakan. “RESEH BANGET SIH JADI LAKI-LAKI!” Teriaknya  sambil terus mengejarku. Layaknya seorang ibu yang mengejar anaknya yang tidak mau makan bubur dengan tenang. Hari itu aku merasa layaknya anak kecil yang siap untuk dipukul oleh sang ibu dengan sapu.

“Tangkap kalau bisa.” Ledekku padanya.

Ada yang pernah bilang cinta dimasa muda adalah cinta yang hanya suka-sukaan, yang hanya sekilas dan akan pergi begitu saja. Dan pada kenyataanya banyak orang yang seperti itu, banyak orang yang menjalin hubungan dan hancur ditengah jalan. Tapi entah, hari itu perasaanku mulai terombang-ambing, layaknya sebuah kapal yang menabrak ombak. Aku mulai tidak bisa mengontrol diriku sendiri, bagi anak SD kelas 6 hari itu mungkin masih terdengar samar-samar perasaan cinta tersebut. Namun tidak bagiku.

Aku jatuh cinta padanya ditatapan pertama ketika dia mulai memperkenalkan dirinya di depan kelas, ketika semua perasaan yang biasa-biasa saja berubah menjadi perasaan yang sangat amat indah. Memekarkan bunga disekeliling hatiku lalu perlahan datang sebuah bisikkan sederhana. Aku mencintainya, karena aku memilih untuk mencintainya.

Hari itu aku dan Rissa, merebahkan diri di tengah taman dengan posisi mengahadap langit-langit dan kedua tangan kami ditaruh dibelakang kepala sebagai bantal untuk menopang kepala. Aku melihat banyak awan yang indah, awan yang berbentuk kelinci, domba, pesawat dan yang lainnya.

“Aku suka yang itu.” Kata Rissa sambil menunjuk awan berbentuk hati.

“Kok ada awan bentuknya seperti itu ya?” Kataku keheranan, karena pertama kalinya aku menemukannya, awan yang berbentuk hati.

Rissa menengok ke arahku sambil mencubit pelan pipiku. “Ada dong, emang kamu pikir hanya kelinci dan kawan-kawannya saja yang bisa.”

“Aku kan nggak tahu.” Kataku lemas.

Rissa tertawa. “Aku suka deh memandang awan seperti ini, merasa lebih bersyukur aja sama semua keindahan yang Tuhan kasih ke kita.” Aku tersenyum kecil sambil mengangguk setuju dengannya. “Apalagi kalau liat awannya sama kamu.” Serunya tiba-tiba, dia tersenyum dengan lesung pipi yang manis itu, yang membuatku terus terbayang-bayang wajahnya. Dengan kerudung biru dongker yang ia kenakan. Ah cinta selalu saja seperti itu, membuat diriku jauh lebih bahagia dari sebelumnya.

“A.. Aku nggak salah denger kan?”

“Nggak.” Jawabnya singkat. “Kalau sama kamu enak, bisa dibayarin makan.” Lanjutnya tertawa di ujung kalimatnya.

“Oh gitu ya, makasih-makasih.” Kataku lalu mulai mencubit pipinya dengan cukup keras.

“Ampun-ampun, sakit ampun.” Katanya merengek kesakitan.

“Bercandanya jelek sih.”

“Tapi bohong, nggak sakit weee.” Dia pergi berlari seketika ketika aku melepaskannya, lalu perlahan meledekku dari kejauhan.

Hari itu aku dan Rissa mungkin mengalami kejadian paling sederhana yang pernah ada, ketika perasaan lugu dan biasa-biasa saja datang perlahan dan berubah menjadi perasaan cinta satu sama lain. Hari itu kami menyempurnakan diri kami sendiri untuk membangun nya bersama-sama.

Ketika usia muda menjadi penyebab tergagalkannya cinta, aku dan Rissa hanya percaya bahwa kami akan bersatu kembali. Entah kapan, entah dimana, di tempat yang indah atau buruk sekalipun. Kami selalu percaya itu, setelah perjalanan panjang yang akan menunggu kami di depan nanti datang, kami hanya akan terus percaya bahwa kami masih disini dan baik-baik saja. Menunggu kembali disatukan Semesta.

---

“Mas nanti rumah yang di Tangerang yang lagi dibangun aku mau ada rooftop-nya. Boleh ya?” Katanya selepas merapikan kamar kami.

“Buat apa sih?”

Dia tersenyum, dan kembali hari itu aku melihat lesung pipinya. Yang amat sangat mengindahkan sebagian dirinya. “Buat melihat awan.” Dia tersenyum.

Aku menoleh ke arahnya. “Boleh kalau begitu, tapi kejar dulu.” Kataku sambil menarik kerudung merah muda yang kuberikan padanya waktu itu menjadi berantakan.

“PUTRAA KEBIASAAN BANGET SIH!”

Dan hari ini kami menjelma menjadi sepasang suami-istri yang bahagia, lewat cara yang sederhana dan juga lewat pertemuan sederhana. Tentang cinta mungkin ini sederhana.

Cinta hanya membutuhkan sebagian kesederhanaan yang kita punya untuk menyempurnakan sebagian lainnya untuk bisa bahagia. Ya dengan cara yang sederhana tentunya.

Karya : Arifin Narendra Putra