Bagian Tujuh - Deja Vu

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 17 Oktober 2016
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

6 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Tujuh - Deja Vu

“Lo yakin Dim?” Tanya Saka setibanya kami dikantor sebuah penerbitan yang masih berkembang, belum sebesar kantor penerbitan yang namanya sudah diakui di Indonesia.

Aku mengangguk, mulai meyakinkan diri sendiri. “Yakin gue, kenapa emang?”

Saka menarik napas perlahan lalu mengeleuarkannya. “Ini kan penerbit kecil Dim, hitungannya juga masih berkembang. Kenapa lo nggak langsung ke penerbit yang besar sih?” Wajah Saka seketika menjadi sok tahu, seperti orang tua yang tahu segalanya.

Aku tidak menghiraukannya, perlahan aku berjalan maju tanpa memikirkan lagi Saka. Kantor penerbitan yang ada dalam bayanganku adalah sebuah kantor yang besar layaknya perusahaan-perusahaan ternama, yang gedungnya bertingkat dan juga mempunyai karyawan ratusan, tapi bayanganku buyar ketika mengetahui kantor penerbit ini jauh dari keramaian. Harus masuk dulu ke dalam sebuah jalan kecil di pinggiran jalan besar barulah kita temui sebuah rumah besar yang dijadikan sebuah kantor.

Saka masih berada di luar, dia (mungkin) sudah mulai bosan dengan sikapku yang keras kepala. Aku mulai mendekati receptionist, dia adalah seorang perempuan dengan kemeja biru dongker dan juga rok hitam yang hanya sepanjang lutut, dengan rambut yang sebahu, parasnya Ayu layaknya bidadari yang turun dari surga.

Dia menatap ke arahku, perlahan dia berdiri. “Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya dengan nada yang ramah dan lembut.

“Ngg.. Iya.” Kataku agak sedikit gugup. “Saya mau nyerahin naskah Mba Sonya.” Lanjutku sambil melihat nickname yang ia pakai di kemejanya.

Dia mulai menatapku curiga, mungkin aneh jika seorang anak SMK ingin menjadi penulis di usia muda. Dia mulai memperhatikanku, menyapu diriku dari atas sampai bawah, memastikan bahwa aku tidak salah tempat. “Kamu umur berapa?” Tanyanya dengan nada yang agak kurang enak didengar telinga.

“Enn.. Enam belas tahun mba.” Jawabku masih dengan kegugupan yang tidak terkendali, pertama karena dia cantik. Kedua karena dia mulai sedikit tidak senang dengan keberadaanku.

Dia menyapu seluruh diriku sekali lagi, dan perlahan melihat naskah yang kubawa. “Masih sekolah?” Aku mengangguk setuju, lalu dengan seksama dia mulai menyodorkan tangannya tanda untuk meminta naskah yang aku bawa untuk dia lihat. “Nanti akan saya kasih ke Editornya, tenggang waktu selama 3 bulan ya, nanti akan kami kabari sesuai nomor telepon yang sudah dicantumkan.” Jelasnya dengan seksama.

Aku mengangguk. “Terima kasih mba.” Kataku lalu beranjak keluar kantor penerbitan buku itu dengan santai. Urusan naskah sudah selesai, eh sorry maksudku sudah aman tapi belum selesai. Karena bisa saja naskahku di tolak, akan merasa menyedihkannya diriku menjadi manusia yang gagal di awal percobaan. Tapi bukankah setiap orang selalu seperti itu ya, semuanya gagal dipercobaan pertama kecuali orang-orang yang memang beruntung untuk tidak pernah merasakan yang namanya penolakan.

“Udah?” Tanya Saka.

Aku mengangguk, sambil setengah membusungkan dada. “Udah dong, siap-siap aja lo punya sahabat penulis, nanti kasih tahu yang lain ya.” Kataku sombong.

“Heleh diterimah juga belum, lo kan kayak kasih lamaran kerja tadi mah, ditaruh dulu setelah itu paling receptionist nya jawab ‘nanti akan kami kabari ya, dengan tenggang waktu tertentu’ paling juga gitu.” Jelasnya, kali ini dia benar. Dan aku hanya terdiam.

“Udah ayo ah, nanti tutup lagi tukang kasetnya.” Ajaknya.

Aku mengangguk setuju, kami beranjak menuju parkiran. Aku masih terdiam, sedikit merasa malu karena alasan untuk menyombongkan diri tiba-tiba menjadi sia-sia karena ulah Saka. Aku kesal setengah mati, tapi juga malu setengah mati.

Belum sempat berjalan sampai parkiran, mataku tiba-tiba menangkap sosok perempuan dengan rambut sebahu dan juga lesung pipi yang manis. Persis seperti yang aku lihat dalam bayanganku beberapa hari yang lalu di rumah Saka. Dengan tas kelinci berwarna putihnya dia berjalan landai dengan kaki-kaki kecilnya itu memasuki kantor penerbit. Entah apa yang mau dia lakukan, karena aku sama sekali tidak melihat naskah yang ia bawa kalau memang dia adalah seorang penulis juga, atau mungkin berada di tas nya? Tidak mungkin, tasnya cukup kecil tidak terlalu besar. Ya paling hanya cukup untuk menaruh alat-alat make up, dompet dan juga aksesoris perempuan lainnya. Kalau pun ada naskah didalamnya maka tas itu akan terlihat gemuk, tapi ini kurus-kurus saja.

Ini seperti Deja Vu, seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Aku dan dia, perempuan itu maksudku, perempuan yang berada di ujung hutan lainnya dan aku malah meninggalkannya, waktu itu dalam bayanganku dia menangis ketika aku meninggalkannya. Tapi sekarang dia baru saja lewat di depanku, aku bingung setengah mati ketika ini benar-benar menjadi kenyataan. Kenapa orang yang tidak pernah kutemui dan aku asing dengan wajahnya, ketika dia berada di bayanganku kenapa dia menangis begitu kuatnya.

“Dimas!” Teriak Saka yang menyadarkan kembali lamunanku. “Ayo, ngapain lo?” Tanyanya dengan nada yang cukup bete.

“Sak gue kenal sama perempuan itu.. Eh bukan, maksud sempet ketemu sama dia.” Kataku menjelaskan sambil menunjuk perempuan yang baru saja memasuki kantor penerbit itu.

“Lo jangan sok ganteng deh, mau lo godain? Katanya lo sukanya sama Aira.” Katanya memperjelas.

“Nggak gue bukan sok ganteng, gue pernah liat dia Sak.” Jelasku, sambil berjalan ke arahnya. “Dalam bayangan gue waktu itu gue sama dia ada disebuah hutan yang berbeda yang dipisahkan oleh sebuah sungai panjang, karena gue nggak kenal gue tinggalin tapi dia malah nangis di ujung hutan yang beda sama gue Sak.” Aku mulai menceritakan kepada Saka kalau perempuan yang baru saja masuk itu, aku pernah melihatnya.

Saka menatap aku aneh. “Dim, gue tahu lo penulis dan pinter ngarang. Tapi nggak usah ngarang cerita juga.” Jelas Saka. “Udah ah ayo jangan kebanyakan baca majalah ababil deh lo, jadi gini kan.” Lanjutnya sambil menyalakan motor lalu mulai pergi meninggalkan kantor penerbitan itu.

Aku nggak butuh Saka percaya atau nggak, tapi gue tahu gue pernah ketemu sama perempuan yang tadi, perasaan aku bener-bener yakin seratus persen, kalau memang ini Deja Vu nggak mungkin sedetail dan semirip ini. Dari mulai rambut dan lesung pipi yang manis itu. Bodohnya aku nggak sempet tanya namanya, tapi semoga semuanya  hanyalah perasaanku doang, biar semuanya tidak berkepanjangan.

---

Kantin sekolah siang itu menjadi sangat meyenangkan, karena tidak terlalu ramai hari itu. Sebagian murid-murid bolos dengan alasan yang sebenarnya bisa aku anggap sebagai alasan yang klise; hujan.

Sebagian murid satu kelas memiliki alasan yang sama ketika ditanya kenapa tidak masuk. “Karena hujan sejak pagi tadi pak.” Ketika aku mendengarnya, begitu mudah patahnya nyali seseorang untuk mencari ilmu karena dikalahkan oleh hujan. Lalu bagaimana dengan adik-adik kita yang ada di pelosok, bagaimana dengan mereka? Disalah satu portal berita Indonesia aku pernah melihat, disuatu kampung orang harus bersekolah dengan melewati jembatan. Jembatannya sudah roboh dan miring, tapi mereka masih berniat untuk sekolah karena untuk mengubah nasib mereka. Untuk tidak menyia-nyiakan ilmu yang diberikan.

Hari ini aku ingin menagih janji Saka soal Nasi Goreng Mbo Ana, karena janji tetaplah janji ketika sudah berucap harus ditepati. Banyak manusia yang sekenanya saja berjanji tanpa tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap janji itu. Ada yang menepatinya, ada yang membiarkannya dan hilang bersama waktu, ada yang memang dengan sengaja menyangkalnya bahwa dia pernah bernjanji hal itu. Banyak dari kita manusia memang kelewat wajar, tidak tahu aturan, dan memutuskan seenaknya. Tapi Saka adalah orang yang menepati janjinya ketika dia berucap.

“Udah pesen?” Tanya Saka setibanya dia di kantin, kebiasaan aku dan ke enam sahabatku adalah berkumpul setiap jam istirahat di kantin sekolah dan bercerita soal apapun yang kadang mengganjal di hati masing-masing atau mungkin bercerita hal yang memang membahagiakan.

Aku menggeleng, Saka langsung mengerti kemudian dengan sekejap dia beranjak untuk memesan nasi goreng. “Sak gue sekalian ya.” Sahut Bayu tiba-tiba.

“Gue juga.” Rama pun begitu.

Saka berhenti sejenak sambil berusaha untuk menimbang kembali. “Lo mau Ses?” Tanya Saka ke Moses yang masih asik dengan laptopnya.

Moses menggeleng dan ya masih sibuk dengan laptop kesayangannya.

Saka beranjak pergi untuk memesan, dari sudut yang berbeda dua bidadari cantik datang dengan pesonannya masing-masing. Yuri dengan tubuh gempalnya tapi tetap manis jika berjalan, dia menurutku adalah Adele versi KW Super. Hanya berbeda di wajah dan warna kulit saja. Aira, ah aku selalu suka menyebut nama itu.

“Loh Saka mana?” Tanya Yuri ketika dia tiba di meja kami.

“lagi pergi sama selingkuhannya.” Celoteh Rama, keberanian yang membuat aku dan yang lain terpana. Seketika wajah Yuri berubah menjadi marah, dia kesal setengah mati.

“Enak aja lo! Sampai ketahuan Saka macam-macam, gue jewer!” Ujarnya sambil mencubit lengan Rama dengan begitu kuatnya.

“Aduhh sakit apaan sih!” Keluh Rama sambil dia beranjak pindah tempat duduk dan memilih untuk dekat denganku.

Aku hanya tertawa geli sendiri melihat tingkah sahabat-sahabatku ini. Ya, mereka adalah orang pertama yang selalu ada untukku. Selalu bersamaku dalam keadaan susah atau suka. Bagiku, sahabat adalah orang pertama yang akan menangkapmu lebih dulu ketika kau akan terjatuh ke lumpur, orang yang akan menarik tanganmu lebih dulu ketika kau jatuh ke jurang. Manusia bernama sahabat adalah mereka yang senantiasa menemanimu dan orang pertama yang akan menepuk pundakmu ketika kau ada masalah sambil setengah berbisik. “Kita ada buat lo.” Disitulah arti pertemanan sesungguhnya ada, sebuah rasa menghargai satu sama lain datang dari sana.

Waktu seolah menjadikan semuanya terasa begitu berharga, aku jadi memikirkan semuanya. Kalau sudah lulus dan berpisah masing-masing apa kehangatan ini akan terjaga? Apa semuanya masih tetap terasa sama? Ketika berbicara soal semua itu entah seketika perasaanku tentang Aira hilang begitu saja, seperti ada yang lebih berharga dari sekedar pacar dan menjadi hubungan. Ada sesuatu yang memang harus dijaga dan tidak boleh dilanggar, tapi Saka dan Yuri sudah melanggarnya. Ah, biarkan sajalah mereka sudah melanggarnya sejak awal, dan kali bukan soal menyalahkan siapa yang mulai duluan dan melanggar, sekarang hanya soal bagaimana aku bisa menjaga semuanya tetap aman.

Hari itu Aira terlihat murung dan tidak bersemangat, Rama yang menyadari itu lebih cepat daripada aku langsung memastikannya. “Lo sakit Ra?” Tanya Rama penuh khawatir. Aku cemburu, benar-benar cemburu tapi sebagai seorang sahabat tidak masalah mengkhawatirkan satu sama lain kan?

Aira menggeleng perlahan. “Nggak kok.”

“Beneran?” Rama semakin mendesak Aira, aku berada di antara obrolan mereka berdua.

“Cuma sakit kepala aja kok.” Dan benar saja, Aira menjawab dengan malu-malu pertanyaan Rama. Aku terdiam beberapa saat menyadari hal itu terjadi. Hanya sebuah pertanyaan pikirku. Sambil terus berusaha menjadi biasa-biasa saja.

“Kalau lo sakit mau di traktir makanan sama Rama katanya.” Celoteh Bayu sambil tertawa di ujung kalimatnya.

“Nggak, mana punya uang gue.” Sanggah Rama.

Aku, Yuri, hanya tertawa mendengar candaan mereka berdua. Sementara Moses (Kim Jong Un KW Super maksudku) masih sibuk dengan laptopnya, entah apa yang dia kerjakan tapi terakhir kali aku melihatnya dia sedang bermain sebuah game yang ada di facebook. Waktu merekam kejadian ini, tawa kami pecah dalam waktu yang bersamaan ketika satu candaan mampu memecah suasana, Aira tertawa kecil, aku melihat senyumnya mengembang walaupun bukan karena aku.

“Nasi Gorengnya datang.” Seru Saka sambil membawa dua Nasi Goreng Mbo Ana dengan dua lainnya dibantu oleh anak dari Mbo Ana.

Siang itu sampai waktu istirahat selesai kami terus mengobrol dan tertawa di kantin sekolah. Terus tertawa, waktu kembali merekam semuanya. Kali ini kegelisahanku mulai datang, ketika kami sudah lulus dan tidak punya banyak waktu lagi untuk bisa tertawa bersama seperti ini. Masih sama atau tidak, waktu seperti ini yang akan aku rindukan nanti. Waktu bercengrama dengan mereka yang peduli padaku.