Bagian Enam - Hujan Sore Hari

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 07 Oktober 2016
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

6 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Enam - Hujan Sore Hari

Cinta selalu saja bisa membuat semua orang menjadi buta, begitu kata orang-orang terdahulu. Bagiku cinta pada dasarnya mempunyai magnet yang cukup kuat untuk bisa menarik kita sampai ke dasar ke jurang. Padahal kita tahu di dalam jurang itu tidak ada apa-apa, hanya gelap, dan kalapun ada cahaya itu hanya dari atas. Aku mengetahui semuanya, kadang perasaan cinta kepada seseorang hanyalah perantara bahagia sesaat dari rasa sakit yang akan datang. Tapi aku tidak peduli, sakit ataupun tidak asal semuanya bersama Aira.

Setelah terbentuknya perkumpulan sederhana yang dinamakan Sette Migliori Amici, aku dan Aira menjadi lebih dekat, kadang kami berkumpul setiap pulang sekolah dan dengan sengaja mungkin aku akan mencoba untuk membujuk Aira agar mau aku antar. Obrolan kami pun beragam, yang tadinya hanya bertanya soal pelajaran hari ini susah atau tidak, sekarang menjadi lebih personal. Seperti, dia anak keberapa dari berapa bersaudara, hobby nya apa, makanan kesukaan, dan semua bagian-bagian personal yang ia ceritakan kepadaku secara perlahan. Dan aku akan dengan senang hati mendengarkannya, memasang telingaku agar solid keduanya lalu perlahan tersenyum sambil memperhatikan bibir manisnya itu bercerita.

Hari ini ketika pulang sekolah, aku mengajak Aira untuk makan ke kafe di pinggiran kota Depok. Jaraknya tidak jauh dari rumahku, hanya tinggal menyebrang jalan saja lewat jembatan penyebrangan. Namanya Zoe Cafe, Di bawahnya tempat itu adalah tempat yang paling romantis ketika malam hari, dan tempat yang asik untuk mengobrol ketika sore hari. Di lantai dua kafe itu ada Book Corner bagi mereka yang menyukai membaca, dan setiap ke sana selalu saja aku bertahan di sana sampai setengah hari atau sampai kafe itu tutup. Untuk sekedar membaca dan menyelesaikan tulisanku.

Sejak SMP, cita-cita untuk menjadi seorang penulis aku tulis besar-besar di keningku, suatu saat nanti aku ingin tulisanku tersebar luas dan dibaca banyak orang. Dan di Zoe Cafe lah aku menyelesaikan semua hampir tulisan panjang atau pendekku. Selalu menyenangkan menjadi seseorang yang jujur pada dirinya sendiri. Aku pernah dengar sebuah kutipan tapi aku lupa siapa yang mengatakannya dia bilang orang-orang yang menulis adalah orang-orang yang berani berlatih jujur kepada dirinya sendiri. Orang-orang yang membaca adalah orang-orang yang berlatih memahami kejujuran orang lain. Seperti itu kira-kira bunyinya.

Matahari menyingsing cukup cepat, sore itu aku menunggu Aira sedang bersiap mengganti seragam sekolahnya dengan baju yang lebih cocok untuk berpergian. Aku menatap Arlojiku perlahan, waktu menunjukan pukul 4 sore, terasa cukup cepat bagiku.

“Mau minum apa Dimas?” Suara perempuan paruh baya yang tiba-tiba saja datang dari dalam rumah menyapaku dengan lembut, aku tahu dia adalah ibu Aira.

Aku tersenyum sopan. “Nggak usah bu, nggak apa-apa cuma sebentar aja kok.” Lanjutku.

“Beneran?” Tanyanya lagi.

Aku mengangguk sambil tersenyum (lagi), tidak berapa lama Aira keluar dari rumahnya dengan pakaian yang cukup rapih, dia mengenakan kemeja polos berwarna biru dongker dengan kerudung yang seragam dengan kemejanya, dan juga celana jeans putih. Ah rasanya aku telah jatuh cinta untuk kesekian kalinya, jantungku berdegup kencang ketika suara lembutnya itu mulai menyapaku, harum aroma parfum yang ia kenakan tercium olehku yang perlahan memejamkan mata untuk sementara, menikmati kehangatan yang ada. Dia memakai sepatu kets berwarna putih sambil terus mengikat dia memperhatikanku yang sedang memperhatikannya. Lalu aku perlahan memalingkan wajah kemanapun agar tidak terlihat bahwa aku memperhatikannya, sore ini dia cantik, sangat cantik. Layaknya model Sunsilk Hijab Hunt. Dia mulai berdiri lalu berpamitan kepada ibunya.

“Bu berangkat dulu ya.” Ujarnya sambil mengambil tangan kanan ibu nya lalu menciumnya dengan lembut.

“Pamit ya bu.” Seruku sambil melakukan hal yang sama seperti Aira.

Sore itu gumpalan awan hitam tiba-tiba saja datang, aku dan Aira bergegas pergi meninggalkan halaman rumahnya untuk menuju Zoe Cafe tempat kami akan makan bersama, dan waktu merekam semua kejadian itu. Kejadian yang barangkali membuatku seribu kali lebih bahagia dari sebelumnya.

---

Suasana kafe yang asik dan lampu yang sedikit remang-remang menambah kesan romantis pada tempat ini. Belum lagi dengan Book Corner disamping tempat dudukku. Hujan benar saja terjadi sore itu, tapi untungnya aku sampai lebih cepat sebelum hujan datang.

Aku dan Aira kali ini duduk bersebelahan, ya sekarang ini hanya berdua, hanya soal aku dan dia. Dia sedang fokus membaca salah satu buku milik Dewi Lestari Rectoverso, sambil menunggu pesanan kami datang aku terus memperhatikannya membaca. Kau tahu, ketika aku jatuh cinta terhadap seseorang adalah ketika melihat orang yang aku cintai sedang melakukan apa yang dia suka, dan saat ini dia melakukannya.

“Aku suka baca.” Katanya waktu itu dengan menunjukkan beberapa koleksi bacaannya yang ada dirumah.

Perasaan indah itu datang seketika ketika bom cinta baru saja meledak tempat dalam hatiku, seakan semuanya menjadi berwarna merah muda. Berubah menjadi kumpulan kehangatan kasih sayang yang Tuhan berikan kepada kita. Hujan membuat suasananya jauh lebih indah, aku suka rintik hujan yang perlahan membasahi atap, aku suka derai air hujan perlahan turun membasahi bumi, aku suka semua hal tentang hujan. Disana, kita bisa menemukan cinta dan kenangan, dan sekarang di hujan sore ini aku menemukannya. Cinta dari sebuah pertemuan sederhana.

“Makanannya lama banget ya?” Keluhnya sambil menaruh batasan buku pada bab yang ia selesai membaca.

Aku tersadar dari lamunanku soal Aira. “Biar aku tanya dulu ya.” Dia mengangguk, tidak lama setelah anggukannya aku beranjak pergi untuk memastikan makananku sudah sedia.

Ketika aku menuruni tangga semuanya baik-baik saja, hanya ada suara orang-orang dan juga hujan yang membuat berisik telingaku. Tapi ketika benar-benar sampai dibawah, suara gelas dibanting dan juga peralatan dapur lainnya dibanting terdegar keras. Suara gaduh macam apa itu, ah aku tidak mempedulikannya paling hanya kesenggol dan jatuh lalu pecah Pikirku, tapi semua orang disana terlihat tegang, semua pelayanpun juga demikian. Aku kemudian memanggil pelayan yang ada di depanku, dengan tangan yang sejajar dengan dada dia berdoa semoga semuanya baik-baik saja.

“Mba anu, makanan saya udah dibuat atau belum ya?” Kataku sambil memperhatikan sekitar yang masih saja membisu tak bersuara.

Dia hanya terdiam.

“Mba.” Sapaku sekali lagi. “Makanan saya udah dibuat atau belum ya?” Tanyaku sekali lagi.

Dia menoleh tiba-tiba, dengan keringat yang mengucur cukup deras. “Anu.. Maaf mas, makanannya belum di buat..”

“Loh kenapa?” Potongku karena merasa pelayannya kurang nyaman.

“Anu.. Koki kami mengamuk mas, dia membanting semua barang-barang yang ada di dapur dengan kesal.” Katanya menjelaskan, dan akhirnya aku tahu penyebab semua orang terdiam.

“Dia marah kenapa?” Bisikku padanya.

“Ini, dia mau minjem uang sama bos untuk anaknya ulang tahun tapi nggak dikasih mas.” Ujarnya masih dengan perasaan takut.

“Loh kenapa nggak dikasih, kan nanti bisa dipotong dengan gajinya.”

“Absensi dan sikapnya selama bekerja kurang baik mas, tidak dipecat saja sudah syukur.” Lanjut sang pelayan.

Aku langsung terdiam, bagaimana orang mau berempati kalau cara kerjanya seperti itu. Bagiku dalam dunia kerja sikap adalah segalanya, kadang kita sering meremehkan hal-hal yang kecil, seperti datang tepat waktu, atau menyapa dan bercerngkrama dengan para pegawai lainnya. Padahal kalau kita mengerti dan paham, Attitude dan kedisplinan adalah segalanya, mereka yang tidak punya keduanya mungkin sebenarnya tidak siap untuk terjun dalam dunia kerja. Akhirnya akan timbul masalah, seperti sulit untuk meminjam uang perusahaan, atau kehilangan kepercayaan atasan.

Ketika kita diterima oleh sebuah perusahaan atau institusi apapun, itu artinya atasan kita sudah percaya pada kemampuan kita dan tidak meragukan lagi. Mempertahankan kepercayaan orang lain jauh lebih sulit daripada memusnahkannya. Aku kembali melihat arlojiku, sudah hampir pukul setengah 6 sore, sementara aku dan Aira belum makan apa-apa, akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih nyaman.

“Kalau gitu pesanannya dibatalin aja mba.” Ujarku sambil tersenyum kepadanya, dia juga tersenyum padaku sambil meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dibuat oleh pihak mereka. Tapi aku memakluminya Sudahlah Pikirku.

Aku beranjak ke atas dan menarik tangan Aira, mengisyaratkan harus pergi dari tempat ini. “Mau kemana?” Tanya Aira sambil melepaskan tarikanku.

“Itu kokinya ngamuk, kita cari tempat lain aja ya.”

Aira mengernyitkan dahinya. “Ngamuk gimana?”

“Ya gitu, karena nggak di izinin pakai baju koboi pas kerja sama bosnya.” Candaku padanya.

Dia tertawa, sambil memukul lenganku. “Ada-ada aja.” Lalu akhirnya dia menuruti permintaanku untuk berpindah tempat.

---

Akhirnya makan malam yang tadinya romantis berubah menjadi buruk, kami terdampar di tukang nasi goreng di pinggir jalan. Karena aku tidak menemukan lagi kafe yang menurutku enak untuk dijadikan tempat makan, dan dengan senang hatinya Aira mengangguk setuju ketika aku pindah kesini.

“Maaf ya, jadi berantakan deh.” Kataku sambil menundukkan kepala.

Dia tertawa kecil. “Santai aja Dim, gue juga nggak terlalu suka kalau di kafe-kafe gitu, terlalu gimana gitu rasanya. Mending disini enak, pemandangannya langsung jalanan.” Serunya sambil menyuap kembali nasi goreng yang ada di tangannya.

Malam ini tawa kecilnya berhasil membuatku menjadi jauh lebih menyukainya. Kepribadiannya yang mungkin bisa dibilang low profile membuatku terkagum dan tersenyum sendiri. Malam itu kami tidak pulang terlalu larut, sebelum pukul 9 malam aku langsung mengajaknya untuk pulang. Dan akhirnya kami berpisah jalan di gerbang rumahnya. Malam yang indah walau dengan rencana yang berantakan, bulan bersinar terang malam ini tapi tidak dengan bintang karena hujan dan ya semuanya hanyalah masalah waktu, tentang penerimaan yang apa adanya dan juga semua hal yang mungkin terlalu dini untuk aku maknai sebagai cinta.

Ponselku berdering tiba-tiba ketika baru saja berpamitan dengan Aira. “Ada apa Sak?” Tanyaku kepada Saka di ujung sana.

“Naskah lo nih ketinggalan dirumah gue.” Sahutnya dengan nada sedikit kesal.

Aku menepuk keningku. “Oh ya gue lupa, yaudah besok gue ambil ya.”

“Lo kapan mau nganter ke penerbit?” Tanyanya lembut.

“Kayaknya besok deh Sak, nggak mau terlalu lama gue tahan nanti yang ada malah nggak jadi.” Ujarku sambil menyalakan motor butut yang kubawa untuk membonceng Aira.

“Gue ikut ya?”

“Hah?! Ngapain?”

“Mau beli kaset PES yang baru, buat gue main dirumah sama keponakan gue. Ya ya?” Pintanya.

“Nggak ah, ribet nanti urusannya.” Aku masih menolak permintaannya.

Dari suaranya aku bisa mengira dia sedang berpikir sesuatu. “Nasi goreng ibu kantin?” Ujarnya. Dan benar saja, dia menyogokku dengan nasi goreng kantin, dia pikir aku semurah itu.

“Oke gue terima.” Dan benar aku murah. Tapi permasalahannya bukan itu, nasi goreng ibu kantin terkenal enak diseluruh area sekolah. Bahkan bisa dibilang dari keseluruhan kantin tersebut yang paling laku hanya nasi goreng ibu kantin dan juga es teh manisnya (Ya masa akan nggak pakai minum). Kami biasa menyebutnya Nasgor Mbo Ana, karena nama ibu kantin adalah Mbo Ana.

“Sip.” Jawabnya sambil mematikan telepon.

Malam itu aku geleng-geleng kepala dengan tingkah Saka, tapi aku juga tersenyum kecil dengan tingkah Aira dan juga tawa kecilnya itu. Malam ini menjadi sangat indah bagiku, walaupun tak ada bintang, tapi aku selalu merasa bintang bercahaya menerangi malam-malamku yang bahagia ini.