Bagian Lima - Sette Migliori Amici

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 04 Oktober 2016
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

5 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Lima - Sette Migliori Amici

 

Waktu berlalu begitu cepat, dua bulan aku, Bayu dan Saka bersabahat. Kami bertiga layaknya trio masketir yang siap menghajar lawan dengan pedang runcing kami yang tajam. Pertemuan dengan Aira waktu itu membuatku kembali merasakan harapan datang bertubi-tubi kepadaku, di kelas aku dan Aira menjadi lebih sering mengobrol, kami menjadi lebih sering bercanda dan tertawa. Ada satu hal yang aku tahu dari dirinya, akan selalu tumbuh jerawat batu pada wajahnya ketika dia mulai stres atau terlalu banyak pikiran.

Menyenangkan rasanya ketika mempunyai sahabat yang perngertian layaknya Saka dan Bayu, dan mempunyai teman perempuan baru yang aku perhatikan sepanjang hari. Kadang ketika berkumpul bersama kedua sahabatku aku akan sesekali mengajak Aira untuk ikut, dan seperti biasa mereka akan menggodaku dengan berkata “Ciee, jadi kapan nih?” Aku suka itu tapi semuanya terasa tidak nyata ketika Aira masih memiliki laki-laki lain dalam orbitnya. Aku hanya menunggu sampai saatnya semuanya akan mengarah padaku, ada satu hal yang ku pelajari soal Jodoh. Aku membacanya di buku Fahd Pahdepie, konon ketika kita mencintai seseorang, tuliskan namanya di kertas kecil lalu simpan di dompetmu dalam jangka waktu yang lama. Lalu lupakan, nantinya nama kecil di kertas itu perlahan akan menjadi doa yang mempertemukan kamu dengan dia. Aku menyimpan nama Aira baik-baik dalam kertas kecil yang aku simpan di dompet, berharap hal itu benar-benar menajadi doa yang terbaik untukku.

“Jadi gimana sama Aira?” Tanya Bayu yang terfokus pada permainan PES 2009 yang dia mainkan bersama Saka. Setiap weekend, ketika kami sedang libur sekolah, kami akan selalu janjian untuk berkumpul dan bermain Playstation. Atau permainan apapun itu yang bisa menyita waktu kami dengan cukup sia-sia.

“Ya gitu.” Kataku lemas.

“Ya gitu gimana?” Sahut Saka tiba-tiba.

Aku menghela napas panjang. “Ya belum ada perkembangan apa-apa.” Kataku lagi dengan suara yang sedikit parau.

“Lo gimana, udah deket hampir tiga bulan masih aja nggak bisa dapetin sesuatu.” Ujar Bayu yang masih menggerakkan Messi untuk mencapai ujung lapangan.

“Ya kan dia udah punya pacar Bay.”

“Tapi kan belum nikah Dim.” Jawab Bayu. “Emang menurut lo, si Saka baik-baik aja. Dia malah merebut Yuri dari mantannya Yuri yang kemarin.” Lanjut Bayu.

Aku tersentak, lalu dengan sigap membenarkan posisi dudukku. “Wah gila, serius? Lo udah pacaran Sak?”

“Nggak update lo, perasaan gue satu sekolah udah tahu, kenapa cuma lo yang kaget.” Sahut Saka sambil memukul bahu Bayu karena kali ini Bayu berhasil membobol gawang tim kesayangan Saka AC Milan.

“Itu Abiatti udah tua tuh, rematik nggak bisa nangkep bola.” Ejek Bayu sambil tertawa.

“Jagoan kalah dulu.” Ujar Saka masih percaya pada dirinya.

Aku melihat mereka berdua, perlahan aku langsung menyodorkan pertanyaan ke Saka. “Itu Yuri yang gemuk itu kan?” Celotehku seenaknya.

Saka tersentak kaget. “Wah gila lo, kalau ada si Yuri disini. Di jadiin udang lo kalau ngomong gitu depan dia.” Sahut Saka.

“Soalnya dia pengalaman Dim.” Bayu tertawa sambil menepuk pundak Saka pelan.

Aku terdiam, pikiranku melayang-layang kemanapun dia pergi. Suara Bayu dan Saka yang meneriakkan tim kesanyangan mereka menjadi samar-samar. Aku tiba di tempat yang paling asing dalam kesadaranku, pikiranku mencari arah jalan pulang, tapi yang ku temui adalah jalan buntu dan juga samar-samar bayangan seorang perempuan. Dia bukan Aira, dia berbeda, dia tidak berhijab, rambutnya hitam lurus sebahu. Dia berlari perlahan ketika melihatku yang memperhatikannya, aku mengejarnya, sambil setengah berteriak. “Tunggu, kamu siapa?” Dia tidak menghiraukan panggilanku, dia masih berlari ke arah sebuah sungai di ujung hutan.

Hutan yang aku tidak ketahui namanya apa, karena semuanya layaknya sebuah sistem yang dibuat di film Matrix. Semuanya bersifat Hologram. Dia menghilang, perempuan itu menghilang. Kanan, kiri, depan, belakang aku tidak menemukan jejaknya lagi. Yang kulihat hanya hutan, sampai pada akhirnya Aira terlihat di ujung hutan yang berbeda, hutanku dan dia terbelah sungai di tengah-tengahnya. Tidak ada jembatan, hanya padanganku dan pandangan dia yang buat kami saling menatap. “Aira!” Teriakku sambil memandangnya nanar. Aira hanya tersenyum di ujung sana, kerudungnya tertiup angin cukup keras. Kemudian dia melambaikan tangan sambil bibirnya berbicara tapi tidak ada suaranya. Hanya gerakan yang aku tidak mengerti apa maksudnya. Setelah dia menyelesaikan kata-katanya dia pergi begitu saja, di pohon sebelah Aira berdiri tadi, perempuan berambut panjang itu mengintipku yang memperhatikan Aira sedih karena pergi.

Pergi untuk waktu yang aku tidak ketahui sampai kapan, perempuan berambut panjang itu berjalan perlahan ke empat Aira berdiri tadi dan menampakkan wajahnya. Perempuan cantik yang wajahnya putih lembut, dengan lesung pipi di kedua pipinya. Sambil terus tersenyum kepadaku dia melambaikan tangan, seakan meminta untuk aku menariknya dari hutan tersebut. Tapi aku meninggalkannya dan berbalik kembali, aku menengok ke belakang sekejap dan aku melihat air matanya tumpah dan dia terduduk lemas di hutan seberang sana.

---

“Dim, Dimas.” Panggilan Saka membuatku tersadar dari lamunanku.

Aku masih mencari kesadaranku. “Hmm kenapa?” Tanyaku dengan masih mencari kesadaranku agar tidak terlalu samar.

“Tadi gue ngundang dua teman sekelas kita juga untuk gabung, ada beberapa lagi sih.” Ujar Saka dengan menunjuk dua orang yang dia maksud, aku kenal mereka, wajahnya Familiar bagiku. Moses dan juga Rama. Moses dengan perawakan yang cukup besar dan warna kulit yang agak sedikit gelap, dia layaknya Kim Jong Un versi hitamnya saja. Berbeda jauh dengan Rama, Rama perawankannya lebih kecil daripada Moses tapi lebih besar daripada aku dan Saka. Dia sangat hebat dalam hal menggambar dan juga animasi. “Ini namanya Moses dan Rama.”

“Gue tahu.” Sahutku singkat.

“Bilangin deh si Dimas sekarang Sak.” Celoteh Bayu tiba-tiba yang masih terfokus dengan PESnya, kali ini dia melawan Rama.

“Bilang apaan?” Tanyaku.

Saka menghela napas panjang, lalu perlahan duduk di sampingku dan mulai menepuk pundakku. “Kita mau buat grup.” Lanjutnya.

Aku tersentak. “Hah! Grup apaan?”

“Ya, semacam grup kumpul-kumpul aja.” Saka mulai menjelaskan maksudnya.

“Ngg.. Nggak paham gue.” Jawabku masih dengan wajah yang bingung.

“Kita buat semacam geng sekolah gitu, kalau di sekolah-sekolah agar bisa terlihat keren kan harus punya grup. Kalau di film superhero itu kayak grup pahlawan pembela kebenaran.” Celoteh Bayu.

Aku membenarkan posisi dudukku. “Gue kan nggak punya kekuatan apa-apa.”

“Yee bukan itu dodol.” Timpal Bayu kepadaku.

“Iya, biar lo jadi keren Dim.” Sahut Rama tiba-tiba.

Aku menatap Rama sinis. “Tunggu-tunggu, jadi kita buat grup biar terkenal?”

“Buat seru-seruan aja dan kumpul aja.” Sahut Saka. “Setuju ya? Lagipula nggak ada salahnya, lewat ini kan kita lebih bisa silaturahmi, mungkin bisa jadi sahabat.” Lanjut Saka.

Aku berpikir sebentar, yang tadinya hanya aku, Saka, dan Bayu yagng selalu berjalan bersama, kali ini menambah dua personil lagi (Personil, emang Boyband). Rama dan Moses, dua orang yang nantinya akan menjadi sahabatku juga, aku rasa mereka berempat sudah membicarakan ini sebelumnya. Dan aku tidak tahu apa-apa sama sekali.

“Oke.” Aku mengangguk setuju.

“Sip.” Ujar Saka. “Kita udah tentuin namanya.”

“Apa?”

“Jadi aku nggak di ajak?” Suara perempuan manis dari dapur belakang membawa pisang goreng yang baru saja matang, aku sudah bisa menebaknya perempuan itu siapa.

“Kamu di ajak dong, di ajak kan ya Dim ya hahahaha.” Seru Saka tertekan, dia menepuk pundakku sambil terus mengulang kata ‘di ajak’.

Aku yang tersadar dengan maksudnya tiba-tiba langsung mengangguk paham. “Hahaha, iya di ajak kok. Kita kan baik anaknya. Hahahaha.” Tertawaku terpaksa.

“Tadi aku denger ada yang bilang aku gendut?!”

Benar saja, ternyata Yuri mendengar perkataanku soal berat badannya yang sedikit gempal. Walaupun aku akui dia manis layaknya perempuan gempal kebanyakan, tapi memang pada kenyataannya ketika duduk dia membutuhkan dua kursi agar muat.

Aku terdiam sebentar, keringat mengucur perlahan dari keningku. “Kata lo dia nggak disini tadi.” Bisikku kepada Bayu.

“Ya kan memang nggak disini, dia di dapur tadi.” Bisik Saka polos.

Aku terdiam.

Hal yang paling membuatku terheran-heran adalah bagaimana laki-laki seperti Saka mau dengan perempuan seperti Yuri, di saat semua laki-laki mempunyai kriteria perempuan idaman dengan tubuh yang ideal dan wajah yang cantik. Saka memilih Yuri yang jauh dari semua kriteria laki-laki kebanyakan. Tapi aku sadar satu hal, cinta tidak membutuhkan sesuatu apapun selain rasa saling menerima satu sama lain.

Banyak orang yang gagal hubungannya karena banyak orang yang berusaha untuk menjadikan pasangannya apa yang mereka mau bukan apa yang mereka butuhkan. Padahal kalau kita tahu arti kata jatuh cinta yang sebenarnya adalah soal bagaimana menemukan sesuatu yang kita butuhkan untuk bersama-sama saling menguatkan, bukan apa yang kita inginkan untuk mendapatkan sesuatu yang sempurna. Kadang yang sederhana saja sudah lebih dari cukup.

“Maaf keceplosan tadi.” Kataku memelas.

Wajah Yuri tiba-tiba saja menjadi memerah, layaknya banteng betina yang melihat warna merah sebagai pusat tandukannya. Dan kali ini warna merahnya adalah aku.

“Yuri ini mau di taruh mana sirupnya?” Teriak seseorang lagi dari dapur tempat Yuri keluar.

Aku mengenal suara itu, suara yang familiar bagiku. Suara sopan dan manis itu. Aku menoleh ke arah Saka, dia tersenyum licik, dan sekarang aku tahu makna senyumannya itu. Aku bergegas berdiri dan berjalan ke arah dapur, dan benar saja. Firasat orang yang jatuh cinta selamanya tidak akan pernah salah.

“Lo ngapain disini?” Tanyaku sambil berjalan perlahan mendekatinya.

Dia hanya tersenyum sambil terus mengaduk sirup yang baru saja dia buat. “Lagi main sama Yuri tapi Yuri ngajak untuk ke sini.” Seperti biasa, suara lembutnya meluluh latankkan hati dan juga pikiranku. Seakan-akan ada dorongan besar yang begitu kuat datang secara tiba-tiba.

Yuri menepuk pundakku. “Tadinya Aira lagi curhat sama gue.”

“Soal?”

“Dia baru aja putus sama pacarnya. Dan karena Saka juga ngajak gue buat kesini, jadi sekalian gue ajak Aira.” Jelas Yuri, sambil terus menatap tajam ke arahku. Aku rasa Saka sudah menceritakan semuanya kepada Yuri.

“Oh kirain ada apa sampai bisa kesini.” Jawabku singkat, padahal setengah mati bahagianya diriku mendengar kabar kalau Aira baru saja putus.

“Yakin nih ‘oh’ dong, dia baru putus loh Dim.” Yuri berusaha memojokkanku, salah satu alisnya naik turun berusaha untuk membuatku salah tingkah.

“Yakin, emang ada apaan sih?!” Nadaku setengah tinggi, sambil mencubit lengan Yuri, agar dia bisa diam sejenak di depan Aira. Aira hanya tersenyum mendengar aku dan Yuri betengkar soal jawaban singkat tadi. Hari itu dia menggunakan kerudung merah muda, maka benar jika Tuhan menciptakan bidadari cantik untuk setiap laki-laki di muka bumi. Seperti nya aku telah menemukannya.

---

Hari itu, semua teman yang dulunya tidak akrab, hanya sebatas menyapa saja. Begitupun Aira, tapi kami sudah melebur menjadi satu hari itu. Menjadi sekumpulan orang sederhana yang bercanda dan tertawa lewat cara yan sederhana pula.

“Oke, gue udah putusin, karena kita ada tujuh orang...”

“Eh bukannya tadi perjanjiannya cuma ada lima.” Sahutku keberatan.

Saka hanya diam, sambil melirik ke arah Yuri yang matanya sedang membelalak kearahku, urat-urat di keningnya keluar, seaka-akan siap memangsa. Dan aku mengerti maksud lirikan Saka. “Karena ada Yuri tersayang, dan juga Aira.” Seru Saka.

“Yuri ada tersayangnya, gue nggak.” Keluh Aira.

“Sama Dimas aja noh.” Saka tertawa keras, begitupun Yuri. Yang lainnya hanya diam, berusaha untuk menjadi netral.

Aira hanya tersenyum malu-malu, sambil perlahan menunduk. “Apaan sih Saka, Yuri. Nggak lucu.” Lanjutnya.

Aku hanya senyum-senyum sendiri, aku rasa Saka dan Yuri berusaha untuk menjodohkanku. Aku tidak suka dijodohkan, tapi dengan Aira mungkin pengecualian.

“Oke balik ke masalah tadi, karena kita ada tujuh orang. Jadi gue putusin untuk nama grup kita Sette Migliori Amici. Itu gue ambil dari bahasa Italia, artinya tujuh sahabat.” Tutup Saka. Dan kami semua (terpaksa) mengangguk setuju.

Dan hari itu, layaknya Aliansi Shinobi di film Naruto, Layaknya Justice League pada film superhero, dan layaknya SNSD atupun Bing Bang yang pakai bedak sekilo. Tebentuklah perkumpulan yang sebenarnya aku sendiri kurang tahu apa maksud pembuatannya, dan tujuannya, tapi aku bahagia karena Aira berada di dalamya. Yang jelas, hari itu bukan hanya Saka dan Bayu saja, tapi Rama, Moses, Aira, Yuri. Mungkin akan menjadi sahabat nantinya.