Bagian Empat - Perempuan Itu Bernama Aira

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 27 September 2016
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

5.7 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Empat - Perempuan Itu Bernama Aira

Kita tidak pernah tahu bagaimana semuanya berjalan, bagaimana masa depan membentang jauh membuat ketakutan yang kita sendiri anggap sebagai bencana ketika kita gagal disana. Namun, setiap kejadian selalu menyisakan sisi baik dari semuanya. Selalu ada pelangi yang datang ketika badai mulai menghilang, selalu saja ada bahagia yang datang ketika sedih menghilang. Semuanya selalu saja seperti itu, tanda bahwa sebenarnya Semesta ikut andil dalam setiap pergerakan dan kejadian di muka bumi. Dan tanpa kita sadari manusia sudah sedang berada di titik nol, berada di titik netral yang dia tak akan pernah tahu kemana dia akan pergi. Kemana takdir membawanya.

Begini lah cara semuanya berjalan, Konspirasi yang Semesta buat untuk kita.

 

Aku mengecek kembali tulisan yang baru saja aku tulis untuk kemudian di kirimkepada penerbit Mayor. Tulisan itu adalah penggalan penutup yang aku tulis untuk buku pertamaku. Mimpi yang sejak SMP ingin aku wujudkan.

Aku membiasakan diriku untuk terus menulis, sejak SMP aku sering menyendiri untuk menulis, menemukan ide disetiap tempat-tempat terpencil yang ada di dalam otakku, lalu kemudian mengeluarkannya dengan senang hati. Menulis adalah cara untuk melampiaskan apa yang kita sedang gelisahkan, membikin kesimpulan untuk sesuatu yang sedang kita pertanyakan. Karena itu aku menulis, karena keresahan semua orang selalu saja cocok dan sama, maka cara satu-satunya beropini dengan cara yang lembut adalah lewat sastra.

Matahari siang itu membakar sebagian wilayah Ciputat tanpa terkecuali, bahkan bagian-bagian yang sempit sekaligus. Aku menatap awan yang jauh disana berbentuk angsa yang sedang terbang, langit-langit biru menyediakan kenyamanan, dan disini semuanya terasa begitu hangat.

Sampai disuatu kejadian, ditengah hangatnya suasana, tertawan oleh mataku seorang perempuan dengan kerudung merah mudanya. Dengan cantik dan anggun perempuan itu mulai tersenyum dan berjalan layaknya model Sunsilk Hijab Hunt, hanya saja dia berbeda, dia lebih manis dan mengesankan. Waktu bergerak perlahan ketika kaki-kakinya yang kecil itu melangkah perlahan, menghampiri kasir dengan wajah yang bersinar layaknya mentari siang ini. Aku sesegara mungkin menekan tombol-tombol ponselku, dan dengan nada sambung yang sedikit aneh suara itu datang.

“Sak, gue ketemu perempuan yang kemarin.” Bisikku pada Saka.

“Perempuan yang mana?” Tanya Saka yang berada di ujung telepon.

“Perempuan cantik yang waktu itu disekolah.” Kataku masih berbisik kepada Saka.

“Yang kakinya nggak napak?”

Aku terdiam beberapa saat.

“Atau yang rambutnya hitam dan panjang sampai mata kaki?”

“Bu.. Bukan.”

“Hmmm.” Dia mencoba berpikir, dari nada suaranya dia akan menebak sesuatu. Firasatku buruk. “Oh yang perutnya bolong bukan?” Katanya dengan lugunya.

“WOY LO BISA NGGAK SERIUS SEDIKIT!” Kataku berteriak, semua orang tiba-tiba memperhatikanku begitu saja, termasuk perempuan berkerudung merah muda yang berada di kasir. Aku tersenyum kepada mereka sambil meminta maaf. “Lo sih udah gue bilang ini serius.” Kataku kembali berbisik.

“Serius udah bubar, Sheila on 7 yang laku sekarang mah.” Serunya tertawa di ujung telepon.

“Saka.”

“Iya-iya paham gue.” Dia mulai serius. “Kalau lo ketemu dia, lo samperin lah, ajak kenalan. Lo kan belum tahu nama dia, walaupun satu sekolah, paham nggak maksud gue? Percuma satu sekolah tapi nggak saling kenal. Sekarang lo samperin dia terus sapa dan tanya namanya, kalau dia nggak bawa kendaraan pribadi lo harus rela untuk anter dia pulang, kalau dia bawa kendaraan pribadi, bilang sama dia hati-hati dijalan ya. Itu trik nya.” Tutup Saka dan dengan anggukan yang aku ragu akan berhasil.

“Ok.” Aku menutup teleponnya lalu mulai mengikuti cara Saka.

Langkahku perlahan mendekat, degup jantungku kali ini berdetak cukup cepat, semakin cepat ketika aku semakin dekat dengan dia. Entah, aku belum bisa menyimpulkan ini cinta atau bukan tapi semenjak awal pertemuan di ujung jalan waktu itu aku mulai menyukainya, mulai sering memperhatikannya, mulai ingin tahu kebiasaannya dan ingin berbicara dengannya.

Hal yang paling aneh soal cinta adalah ketika kita mulai memandang semua hal yang ada disekitar kita sebagai sesuatu yang indah walaupun pada dasarnya itu adalah sesuatu yang cukup buruk dan tidak baik untuk dilakukan. Anehnya lagi adalah setiap orang yang jatuh cinta akan rela melakukan apapun demi orang yang dia suka. Aku pernah memiliki teman yang berani sky diving (Terjun dari pesawat dengan parasut). Ketika mendarat dan sampai dibawah dia mual dan muntah-muntah, ketika ditanya kenapa dia mau melakukan itu padahal yang aku ketahui dia takut pada ketinggian, dia bilang. “Ini semua demi buktiin ke gebetan gue kalau gue pemberani.” Katanya sambil mengusap sisa muntahan yang ada di bibirnya.

Ketika berada di SMP aku juga memiliki teman yang rela melakukan apapun demi kekasihnya. Ketika itu ada seorang yang di gadang-gadang adalah jagoan di sekolahku waktu itu, dia adalah seorang laki-laki bertubuh lumayan besar dan dia dua tingkat di atasku. Dalam artian dia adalah kakak kelas. Ketika itu salah satu temanku bernama Rahman rela menantang sang Jagoan karena sang pacar sebenarnya adalah mantan dari sang Jagoan. “Kalau gue nggak turun tangan, gue bisa kehilangan dia.” Katanya sambil membuka seragam sekolahnya waktu itu, dan pertarungan di lapangan belakang sekolahpun menjadi arena tarung yang cukup ideal. Hari itu Rahman mengalami patah hidung, memar di wajah dan juga goresan di tangan.

Entah sebesar apa kekuatan cinta membuat manusia menjadi robot yang tidak takut apa-apa dan rela melakukan apapun demi cintanya. Cinta itu layak untuk diperjuangkan, Oh ayolah, perjuangan yang menggunakan akal akan lebih baik daripada perjuangan yang lebih mementingkan nafsu belaka. Sebelum mendiang ayah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, ayah selalu berkata. “Yang terburu-buru itu adalah nafsu.” Kata ayah waktu itu, dia selalu berkata seperti itu ketika aku menyukai seseorang. Kata ayah agar aku selalu ingat dan bisa membedakan yang mana nafsu dan yang mana cinta yang sesungguhnya.

Dan hari ini, cinta kembali menyihirku. Hal yang aku takutkan adalah aku mengalami kejadian yang sama seperti yang Rahman rasakan waktu itu, karena permasalahannya adalah perempuan yang aku suka sudah mempunyai laki-laki lain yang selalu ada disampingnya, yang mungkin bisa kutebak adalah pacarnya. Yang terburu-buru itu adalah nafsu kata-kata ayah terngiang di kepalaku ketika langkah kakiku perlahan mendekati perempuan itu. Keraguanku mulai tampak ketika dia menerima telpon dari seseorang, yang mungkin bisa kutebak juga dia adalah pacarnya.

“Makasih ya mba.” Katanya lalu perlahan meninggalkan kasir.

lo samperin dia terus sapa dan tanya namanya Aku kembali mengingat-ngingat perkataan Saka. Tanpa pikir panjang lagi, aku merapikan laptop dan barang-barangku di meja lalu dengan sigap mengejarnya dengan cepat. Ketika keluar kafe mataku menyapu sekeliling dan tidak menemukannya sama sekali, dan hilang sudah harapanku hari itu. Perkenalan pertama yang sudah ku damba-dambakan menjadi sia-sia dan tidak berguna. Dia menghilang dengan cepat, dan aku ketinggalan start kembali.

Mungkin sudah ditunggu sama pacarnya tadi. Gumamku dengan wajah yang masih menunduk.

“Lo ngapain ngikutin gue?” Sampai tiba-tiba suara itu datang dari arah pintu keluar kafe. Aku menoleh ke arah suara berasal sampai akhirnya ku temui dia, perempuan cantik dengan kerudung merah muda dan celana jeans berwarna putih.

“Gu.. Gue?” Dia mengangguk. “Oh nggak-nggak, ngapain gue ngikutin lo, gue masih banyak pekerjaan dan kesibukan yang lebih penting daripada ngikutin lo.” Kataku sambil menghilangkan kegugupanku, aku hanya terus berusaha untuk tenang.

Dia berjalan menghampiriku dengan matanya yang lekat menatapku, seakan-akan ingin memastikan aku tidak berbohong. “Masa? Soalnya dari tadi di dalem kafe gue liat lo merhatiin gue gitu sambil nelpon seseorang.”

“I.. Itu Pe.. Perasaan lo aja kali.” Seruku mencari-cari alasan.

“Oh lo penculik anak-anak SMK yang ada di berita-berita itu ya?!” Dia menunjukku dengan telunjuknya. “Penculik! Penculik! Penculik!” Teriaknya tiba-tiba.

“Eh.. Eh bukan-bukan.” Aku seketika menutup mulutnya. “Gue bukan penculik, gue temen satu sekolah lo.” Kataku sambil menyingkirkan tanganku dari mulutnya.

Dia menatapku perlahan, memastikan aku kembali tidak berbohong. “Penculik! Penculik! Penculik!” Teriaknya lagi.

“Eh bukan-bukan, SMK Media Kreatif.”

Dia terdiam seketika. Tatapannya semakin lekat, matanya menyapu diriku dari atas sampai ke bawah. Dan perlahan mengitari diriku sambil menatap tajam ke arahku terus tanpa berhenti. “Nggak percaya gue, lo pasti nyelidikan gue kan? Penculik! Penculik! Penculik!”

“Eh yaudah-yaudah es krim.”

“Oke gue percaya.” Aku menepuk keningku keras.

Hari itu aku dan dia duduk di halte bis sambil memakan es krim coklat dan vanilla. Siang itu hari yang panas seketika menjadi dingin bagiku, menyejukkan. Hal yang tidak terduga datang padaku, ketika aku hanya ingin mengajaknya berkenalan tapi kali ini aku dan dia bersanding duduk bersama di halte memakan es krim bersama. Layaknya dalam film-film bergenre romance, aku bahagia hari ini. Mungkin memang semuanya seperti itu, apa yang kita inginkan justru kadang tidak pernah terjadi dan apa yang tidak kita inginkan terjadi begitu saja.

“Elo emang biasa ya makan es krim sama orang yang nggak di kenal gini?” Tanyaku padanya.

Dia hanya terdiam lalu menoleh ke arahku, sambil terus memakan es krim coklatnya itu. Dia tersenyum lugu sambil terus menatap ke arah depan. Aku tidak merasa sakit pertanyaanku tidak dijawab, aku hanya sedang memperhatikannya, senyum manis itu. Ah, kurasa aku lebih ingin membeli senyumnya daripada sebuah es krim.

“Gue udah tahu lo sebenarnya, gue tahu kita satu sekolah.”

“Ini ceritanya lo jailin gue?”

Dia tertawa keras. “Es krim doang nggak buat lo miskin kali.” Tawanya makin keras ketika dia melihat wajahku yang tidak berminat bercanda. Perlahan dia melihat arlojinya dan kemudian bergegas pergi. “Eh gue ada acara lain di ujung jalan sana, gue duluan ya. Kapan-kapan ngobrol lagi.” Dia lalu beranjak dari duduknya.

“Eh tunggu, gitu doang?”

Dia berhenti dan menoleh. “Emang apalagi?”

Aku kemudian dengan cepat menyodorkan tangan kananku kepadanya. “Di.. Dimas.” Kataku berharap dia akan menerima jabatan tangan ini dengan baik.

“Lo ngajak gue kenalan ceritanya?”

“Eh enggak-enggak, gue cuma.. Ini... Anu.. Apa namanya.. Gue..”

“Aira.” Dengan senyum yang manis tiba-tiba saja dia menjabat tanganku dengan cepat. Senyumnya membuatku kembali merasakan keindahan cinta yang sebenarnya.

Aku tersenyum kembali padanya. “Ma.. Mau gue anter ke sana nya?” Tanyaku menawarkan diri.

Dengan sopan dia terseyum kembali. “Oh nggak usah, gue bisa kok sendiri.” Selepas itu dia pamit lalu pergi dengan lambaian tangan yang lembut.

Hari itu aku menemukan kembali cinta yang telah lama hilang, cinta pertamaku jatuh dalam senyuman dan juga perawakannya yang sederhana. Seandainya aku bisa memperbudak waktu, aku hanya ingin sejenak memberhentikan waktu lalu perlahan merekam senyumnya yang manis itu dalam kepalaku sehingga surga seperti berada di hadapanku dan hanya menunggu untuk dimasuki. Aku teringat perkataan Umar Bin Khattab ketika ayah sedang berbicara tentang sahabat Muhammad Rasullah dan masa ke pemimpinan mereka setelah Rasullah wafat. Umar berkata Carilah perempuan atau calon istri yang baik untuk anak-anakmu kelak, bukan mereka yang hanya cocok dan baik untukmu. Karena selain kamu, anak-anakmu juga mempunyai hak untuk mendapatkan ibu yang baik. Dan kurasa, Aira, adalah perempuan yang baik bukan hanya untuk diriku tapi juga untuk anak-anakku kelak.

Aira, ya nama perempuan itu Aira. Gumamku sambil tersenyum perlahan.