Jika Aku Telah Tiada

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 September 2016
Jika Aku Telah Tiada

Lisa, pagi itu matahari pagi menabrak wajah kita berdua ketika kita perlahan memasuki rumah sakit dengan wajah yang sedikit bahagia. Perasaan menduga-duga yang mungkin dirasakan seluruh orang tua diseluruh dunia. Aku melihatnya, ketika kau mulai tersenyum sambil terus memegang perutmu yang masih kurus dan belum menandakan ada sesuatu didalamnya.

Kau menarik tanganku sambil terus berkata. “Ayo cepetan mas.” Aku mengangguk sambil terus tertawa kecil melihat tingkahmu yang kegirangan.

Pagi itu dokter menyampaikan kabar baik, kabar yang membuat kita menjadi orang tua yang paling bahagia yang pernah ada, ketika semua hal paling bahagia di dunia adalah tentang Traveling, atau main air di pantai kuta, atau menaiki gunung bersama. Namun, hari itu hal yang membuat kita menjadi manusia paling bahagia adalah kedatangan keluarga baru, kedatangan teman main baru, perncampuran antara aku dan kamu. Kau senang bukan main ketika mendengarkan penjelasan dokter soal anak laki-laki yang bersarang di dalam perutmu. Kau mengabarkan berita ini pada semua orang, pada mereka yang berbahagia menerima kabar baikmu.

Hari ini kau mulai mempunyai kesibukan baru, mengajak si buah hati jalan-jalan atau hanya sekedar duduk dan mendengarkan musik. Kau mulai terus mengelus perutmu berulang kali sambil berbisik padanya “Nanti kalau kamu sudah lahir, mamah akan ajak kamu jalan-jalan ke tempat yang hanya kamu, mamah dan papah tahu. Yang hanya kita bertiga akan tertawa bersama.” Ada air mata yang tertahan disana ketika kau mulai mengucapkannya, punggungmu bergetar ketika kau mulai mengingat betapa bahagianya menjadi orang tua yang mendapatkan buah hati pertamanya.

Tidak ada kebahagian lain bagi seorang ibu selain melihat rahimnya terisi oleh segumpal daging manusia yang menendang-nendang dengan pelan. Dan dengan perlahan aku akan mencoba untuk menrangkulmu sambil mengecup keningmu, dan kembali kau akan mulai berteriak. “Mas dia nendang lagi mas, dia nendang lagi.” Kau akan bersemangat ketika membahas soal tendangan dia yang hebat itu.

“Aku rasa dia mau jadi pemain sepak bola nanti.” Kataku sambil tertawa.

“Ihh apasih mas, aku mau dia nanti jadi artis.”

“Kayak aku dong?”

“Kamu kan penulis mas.” Katamu pelan. “Pokoknya dia nggak boleh jadi penulis kayak Bapaknya, nanti jadi sok ganteng lagi di depan perempuan lain.” Kau mulai menyindir sikapku ketika aku sedang talkshow ataupun dengan mengisi seminar kepenulisan.

“Eh nggak kok, aku biasa aja tapi memang karena aku ganteng jadinya banyak peserta seminar aku yang naksir.” Kataku tertawa lebih keras.

“Nggak lucu.” Wajahmu mulai cembeut kali ini, lalu mulai beranjak pergi ke kamar meninggalkanku sendirian di ruang tamu.

Lisa, hal-hal seperti ini yang akan aku rindukan, hal-hal yang mungkin terlalu sederhana namun begitu menyejukkan untuk selalu kita lalui. Aku suka ketika melihatmu yang tiba-tiba marah karena rasa cemburumu dengan peserta seminarku, aku suka ketika kau mulai memukulku pelan karena kesalahan kecilku yang aku tidak sengaja, aku suka ketika kau tersenyum dan berjalan perlahan menghampiriku dengan kerudung merah muda itu. Aku suka, ketika semua hal sederhana yang kita lewati menjadi bagian terpenting dalam rumah tangga yang kita bangun.

Lisa, kelak jika aku telah tiada, ketika tanganku tidak bisa lagi memegang tanganmu dengan erat, ketika badanku yang tegap tidak bisa memeluk dengan erat, aku ingin kau selalu seperti ini. Menjadi perempuan paling kuat dan paling bahagia yang pernah ada.

Maafkan aku yang tidak bisa berjanji akan selalu berada di sampingmu selamanya, menemani calon anak kita bermain, menemani dia tumbuh atau mungkin memberikan dia petuah-petuah sederhana yang membuatnya menjadi anak yang baik dan hebat nantinya. Lisa, maafkan aku ketika semua hal sederhana yang saat ini kita lewati bersama hanya akan menjadi kenangan beberapa tahun ke depan, ketika ragaku sudah tidak berada disampingmu. Aku hanya ingin mengucapkan maaf untuk semua janjiku yang tidak sempat aku tepati, untuk semua tawa yang tak sempat kita bagi, untuk semua kesedihan yang tak sempat kita tertawakan. Maafkan aku, menjadi laki-laki yang pesimis terhadap hidupnya.

Namun, aku hanya ingin kau tahu, bahwa hidup memang selalu berjalan seperti itu, bahwa hidup selalu saja terikat pada sebuah pertemuan dan perpisahan. Sebuah awal dan akhir, yang mungkin kita tidak pernah siap menghadapinya.

Lisa, jika aku sudah tiada nanti, percayalah aku akan selalu bersamamu. Menemanimu dalam suka maupun duka, dari tempat yang berbeda. Maka terima kasih, untuk waktu yang sebentar, untuk kebahagiaan yang sebentar, dan untuk semua hal sederhana yang sebentar. Itu sudah cukup untuk membuat kenangan kita terkenang dengan cara yang juga bahagia.

Lisa, ketika kau membaca surat ini, itu artinya aku sudah berada di tempat lain. Di tempat dimana kita tidak akan pernah bisa bersatu kembali.

---

“Sudah siap?”

Laki-laki itu mengangguk perlahan. “Siap Dok.”

“Risiko nya akan terlalu besar, donor jantung ini berarti membiarkan dia hidup dan kamu akan pergi.” Kata sang dokter yang sudah siap melakukan bedah, sekali lagi memastikan.

“Siap Dok.” Laki-laki itu kembali terbaring di kasur lalu mulai menarik nafas perlahan. “Untuk Istri saya.”


  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    12 bulan yang lalu.
    Selalu keren karya-karyamu, adik keciil ....
    Unpredictible nih endingnya.
    Saya bertanya-tanya, dia bilang 'jika aku telah tiada' apakah karena dia sedang sakit?
    Tak disangka, ternyata dia sedang ingin berkoban untuk istrinya.

    Btw, sedikit saran dari saya, di kalimat:
    .... anak laki-laki yang bersarang di dalam perutmu.
    kata "yang bersarang" terasa kurang pas, kan yang bersarang itu semut, burung, lebah, dll.
    mungkin lebih pas kalau dipakai kata:
    .... bayi laki-laki yang sedang bertumbuh di rahimmu.
    atau
    .... bayi laki-laki yang sedang bermukim di perutmu.
    atau kata lainnya, yang penting jangan "bersarang". Hehe ....

    Itu sedikit saran dari sudut pandang saya sebagai pembaca, semoga berkenan