Dear Aira

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 September 2016
Dear Aira

Dear Aira,

Apa kabarmu disana?

Maaf aku baru bisa menulis surat lagi untukmu. Aira, aku sedang berada disebuah ruangan remang-remang yang didalamnya berada kenangan-kenangan kita berdua waktu itu, ketika cinta adalah pengikat bagi setiap kemustahilan yang ada, dan kasih sayang adalah penguat antara aku dan kamu.

Aira, waktu bergerak begitu cepat, empat tahun sudah kau pergi meninggalkanku, dan empat tahun juga ruangan ini sepi tidak berpenghuni. Layaknya rumah mewah tapi didalamnya tak ada sedikitpun barang-barang yang tersisa. Ah, seandainya aku bisa memperbudak waktu, aku ingin sekali berusaha mengulang semuanya dan membiarkanmu terus berada disampingku. Terus menerus bercerita padaku, terus menerus terlelap di bahuku.

Aku suka kata-katamu tempo hari. “Aku dan kamu adalah sebuah perantara yang Tuhan berikan untuk membuat bahagia.” Katamu dengan kerudung merah muda yang setengah tertiup angin.

“Kamu kayak tahu aja bahagia itu apa.” Sahutku dengan wajah yang sediit sok tahu.

“Aku tahu.” Kau tidak mau terima dengan pernyataanku, kau terdiam beberapa saat sambil terus memandang ke arah langit-langit yang biru dan cerah. “Bahagia itu adalah ketika orang disekitar kita bisa merasakan kebahagiaan yang kita rasakan, atau mungkin lebih tepatnya kita membagi kenyamanan dan kebahagiaan kita untuk mereka. Agar mereka juga merasakan hal yang sama.” Kau tersenyum di ujung kalimatmu.

Aku terdiam mendengar semua perkataanmu, hari itu aku mengetahuinya, kebahagiaan yang kau maksud sejak dulu.

Aira, disaat aku menuliskan surat ini untukmu mungkin cita-citaku menjadi seorang penulis sudah tercapai, aku sudah menerbitkan lebih dari sepuluh buku dan empat di antara sudah aku adaptasi menjadi sebuah film. Impian yang sejak dulu aku anggap sebagai sesuatu yang tidak mungkin kali ini terjadi dalam kehidupanku, kalau bukan karena semua ocehanmu soal naskahku yang tidak selesai-selesai mungkin aku tidak akan berdiri sekarang menjadi seorang penulis.

Aira, waktu menjelma menjadi kenangan ketika semua yang tersisa dalam ingatan hanyalah serangkaian peristiwa membahagiakan yang kita miliki, aku ingat pertama kalinya ketika kita terkena hujan bersama saat itu, ketika perasaan cinta kita masih biasa-biasa saja, ketika keluguan kita soal perasaan yang kita telat sadari. Hari itu kita hanya berteduh di pinggir jalan sambil terus bedoa agar hujannya cepat reda, tawa kita membeku bersama dinginnya cuaca ketika aku berbicara soal hidungmu yang pesek, kerudungmu yang tidak rapih, tanganmu yang mungil, nilai-nilai memuakkan yang diberikan dosen di akhir-akhir semester. Aku masih mengingatnya, semua memory indah yang kurekam bersamamu.

Tidak ada perpisahan yang bahagia, tidak ada perasaan lapang yang begitu saja. Aku masih berdiri di persimpangan ketika punggungmu mulai menjauh, membuat jarak di antara kita, seakan-akan ada jurang yang menghalangi jalanku untuk mengejarmu. Perpisahan ada ketika sebuah kerterikatan manusia pada Sang Pencipta benar-benar nyata, kau tahu aku tidak pernah suka berpisah, tidak pernah menyukainya. Hanya terkadang perpisahan datang secara tiba-tiba, dengan suara yang tertahan di ujung tenggorokan untuk berteriak atau berbisik Jangan tinggalkan aku. Kali ini, semuanya hanya soal waktu Aira, ketika punggungmu mulai menjauh dan membikin jeda di antara kita, aku akan perlahan membuat jembatan yang membuatku bisa mengejarmu. Membuat semua kenangan kita kembali untuk kesekian kalinya.

Cahaya senja masuk tanpa permisi ke dalam sini, Aira semoga kita bisa melihat senja bersama lagi, di tempat yang berbeda.

“Aku suka waktu senja begini.” Katamu dengan senyum manis itu.

“Kenapa memangnya?” Tanyaku padamu sambil merapikan kerudungmu yang tertiup angin dan setengah berantakan.

“Hangat, aku seperti menemukan diriku yang lainnya disini.” Katamu singkat.

Aku tersenyum.

Aira, ketika aku bercerita menggunakan namamu, aku hanya mempersembahkan cerita itu untukmu. Dimanapun kau berada, aku hanya berharap kau sempat sesekali membacanya, secara perlahan.

---

“Ayah.” Suara seorang anak kecil membuatku terpaksa berhenti menulis.

“Iya?” Tanyaku kepada Cinta, seorang anak yang setia pada ayahnya.

“Kita jadi kan ke makam mamah? Aku udah rapih nih.” Keluhnya dengan wajah yang cemberut.

Aku menghampirinya lalu mengangkatnya. “Jadi dong, kita akan bawa bunga buat mamah.” Hari itu aku melihatnya senyum Cinta, ya senyum yang tulus. “Kamu kenapa pakai kerudung merah muda? Nggak biasanya.”

Dia tersenyum, lesung pipinya perlahan mulai terlihat. “Kan kerudung merah muda kesukaan mamah, biar nanti mamah seneng liat Cinta pakai kerudung kesukaannya.”

Aku tersenyum. “Kamu nih emang paling bisa.”

Aira, Cinta sudah besar, terima kasih sudah menjadi madrasah pertamanya waktu itu. Terima kasih karena sudah mendidiknya sedemikian rupa ketika ku bekerja untuk mengisi seminar ataupun talkshow di beberapa kota, terima kasih sudah menjadi ibu yang baik.

Hari ini, aku dan Cinta akan mengunjungimu. Satu lagi, hari ini Cinta memakai kerudung merah muda.