Bagian Tiga - Awal Dari Sebuah Perkenalan

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 05 September 2016
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

6 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Tiga - Awal Dari Sebuah Perkenalan

Juni 2008

 

Langit pagi ini masih menyelimuti kota Depok, aku masih mempersiapkan semuanya. Ini adalah hari pertamaku lagi masuk sekolah baru, masuk tempat baru dan meninggalkan yang lama. Bagiku, baru adalah cara kita membuat sebuah jeda yang akan menghubungkan kita pada masa depan, dan disinilah aku berdiri ketika semua keraguan kepada masa lalu hilang perlahan dan sirna.

SMK Media Kreatif, sekolah baru yang akan aku masuki hari ini. Sekolah baruku, sekolah yang membuatku tertarik kepada bidang Multimedia. Aku tersenyum pagi ini, ayam-ayam berkokok lebih keras daripada alarm ponselku.

“Bu aku berangkat ya!” Teriakku kepada ibu yang masih berada di markas pribadinya di dapur. Ibu selalu saja berperang disana, cabai, sayur-mayur, bawang merah dan bawang putih, kompor dan semua hal lainnya adalah mainannya.

“Iya, hati-hati ya!” Teriaknya padaku.

Aku berjalan sambil tersenyum gagah kali ini, layaknya sebuah ksatria yang sedang berjalan menuju medan perang untuk membawa seluruh pasukan menghadang musuh yang mau masuk ke perbatasan. Aku sudah siap kali ini, bertemu dengan teman-teman baru, bertemu dengan ruangan baru, guru baru dan yang pasti perempuan baru. Bagi anak kebanyakan hari pertama memasuki sekolah baru adalah hal paling menyenangkan yang pernah ada, terutama bagi seorang lelaki, ya hal yang paling ditunggu adalah sebuah pertemuan. Dengan bidadari baru.

Sampai setibanya aku berada di depan gang untuk menunggu angkutan umum. Aku melihatnya, perempuan dengan kerudung putih bersih yang membuat jantungku berdegup kencang layaknya hitungan mundur sebuah pelepasan roket yang sebentar lagi akan di terbangkan. Aku masih menatapnya, mungkin aku tak pernah menyangka bahwa pagi ini aku dipertemukan Tuhan oleh perempuan yang barangkali membuatku menjadi laki-laki paling berbahagia pagi ini. Matahari pagi menabrak sebagian wajahnya dia menoleh ke arahku sambil tersenyum, aku juga tersenyum padanya. Seperti ada bom yang meledak tepat dalam pikiran dan hatiku. Dia menaiki angkutan umum yang berbeda denganku, pagi ini pertemuan singkat dengan bidadari itu terjadi. Seorang yang barangkali ku temui karena sebuah ketidaksengajaan pagi ini, dan aku belum sempat bertanya namanya.

---

Hari-hari pertama sekolah menjadi menyenangkan bagiku ketika pertemuan pagi tadi membuatku terbayang-bayang oleh wajahnya. Perempuan yang bertemu di ujung gang. Pagi ini semua siswa dan siswi baru dibariskan di lapangan untuk pembagian kelas sesuai dengan nama yang disebutkan, setiap kelas diberikan 28 murid perkelas tapi ada yang 30 dan ada yang 31. Biasanya yang melewati angka 28 adalah mereka yang “Spesial”, artinya tidak mengikuti Masa Orientasi tapi membayar “bangku” dengan harga yang sudah ditawarkan pihak sekolah.

Hal yang paling menyedihkan untukku adalah ketika semua sekolah hanya memakai cara menjual “bangku” kepada murid yang ingin memasuki sekolah itu tanpa patokan nilai UN ataupun tes. Aku pernah mengikuti salah satu tes di suatu sekolah negeri di daerah Jakarta. Aku lulus tes waktu itu, nilaiku lumayan memuaskan, tapi aku kalah karena masalah ekonomi, aku kalah karena kata salah satu pihak sekolah, kuoatanya sudah penuh. Lantas untuk apa aku ikut tes?.

“Ya kalau lo nggak punya uang yang nggak usah masuk sini.” Kata seseorang suatu saat.

Tapi bukan itu permasalahannya, tapi untuk apa sekolah membuat sebuah tes yang menyulitkan namun pada akhirnya yang diterima adalah mereka yang mempunyai uang lebih banyak daripada ilmu yang lebih banyak. Pada akhirnya aku terdampar disekolah ini, memang juga sesuai dengan minatku. Sejak SMP aku pernah bermimpi menjadi seorang penulis besar yang nantinya berkeliling Indonesia untuk talkshow dan lain-lainnya, dan berharap suatu saat nanti buku milikku di film kan dan akulah sutradaranya. Dan bidang Multimedia adalah langkahku yang paling awal.

“Dimas!” Teriak seorang guru yang ku tahu namanya adalah Bapak Laksono, perawakannya tinggi besar dan dia mempunyai rambut yang kurang tebal (Botak).

Aku berjalan menunduk di hadapannya, wajahnya yang sedikit garang membuatku takut bukan main, aku masuk kelas Multimedia 3, bersama beberapa teman-teman yang lain, salah satu ada yang kukenal namanya adalah Crish, kami sempat berkenalan ketika Masa Orientasi waktu itu. Perawakannya hampir menyamai Pak Laksono tadi, hanya saja Crish mempunyai rambut yang lebat dan juga wajah yang terbilang putih dan mirip dengan bule. Dia satu-satunya orang yang kukenal di kelas, sepanjang hari aku hanya berbicara dengannya, hal yang paling sangat ingin aku lakukan ketika memasuki sekolah baru adalah di akui. Sejak SMP aku tidak pernah berada di deretan orang-orang yang terkenal, aku di bully, mungkin dijauhi dan dihindari sudah menjadi kebiasaan. Di sekolah baru ini aku tidak akan pernah mau mengulangi kejadian yang sama, pengakuan adalah hal mutlak yang harus aku dapatkan. Aku masih mengingatnya hari itu, siang itu di kantin belakang sekolah.

“Apaan lo liat-liat!” Teriak kakak kelasku di pojok kantin sambil menunjuk wajahku dengan garangnya dia.

Aku menunduk. “Engg.. Enggak kak saya nggak liat apa-apa.”

“Heh!.” Sekejap saja dia langsung berada di hadapanku dengan badan yang tegap dan juga suara yang lantang layaknya petir yang akan menyambar. “WOY KALAU ORANG NGOMONG LIAT MUKANYA!” Dia berteriak lebih keras seisi kantin memperhatikan.

Aku menoleh ke arahnya dengan wajah yang memelas dan mata yang berkaca-kaca. “I.. Iya ka?”

“Nah, tuh lo liatin gue! Masih mau nyangkal lo nggak liat!” Teriak nya lagi.

“Taaa... Ta.. Tapi kan tadi kakak yang suruh untuk liat kak.” Kataku sedikit melawan.

“Gue nggak terima alasan lo! Woy bawa nih anak ke lapangan, kita ikat di tiang bendera.” Teriaknya kepada teman-temannya yang lain, mungkin bukan teman, tapi anak buahnya.

“Ka tapi salah saya apa?”

“Karena lo cemen! Lo juga waktu itu lari duluan kan waktu di ajak tawuran?!” Kali ini dia mulai menarik kerah seragamku sampai pada akhirnya aku sedikit terangkat.

“Tapi itu kan salah ka, mengorbankan nyawa untuk hal yang nggak berguna.”

Ekspresi wajahnya semakin kesal ketika aku melawannya. “Nasihatin gue lagi lo, bosen hidup lo!” Aku menunduk kembali, wajahnya yang garang dan ucapannya yang terlalu menyakitkan membuatku terdiam cukup lama.

Ketika itu keberanian adalah syarat mutlak untuk bertahan hidup, kebencian adalah makanan sehari-hari, hal yang paling aku benci adalah ketika setiap orang ingin membuktikan dirinya kuat dengan cara membunuh ataupun memukul orang lain dengan perasaan biasa-biasa saja. Aku sadar satu hal ketika melihat mereka yang bersikap seperti itu lalu mendapatkan banyak perhatian dari semua orang, tidak ada satu orangpun yang bisa bertahan dengan sifat yang lemah, yang mempunyai keberanian yang lebih dan mampu menantang siapapun dia yang menang.

Aku di ikat di tiang bendera siang itu sampai jam pelajaran habis. Sampai pada akhirnya satpam sekolahku waktu itu yang membantu melepas ikatanku. Hari itu aku berterima kasih kepadanya lalu pamit pulang.

“Dim, Dimas.” Kata Crish sambil terus mendorong pelan bahuku. Aku kembali ke dunia nyata.

“Eh iya.” Jawabku masih belum sepenuhnya sadar.

“Itu di tanya sama pak guru nama lo siapa.” Jawabnya sambil menunjuk seorang guru yang sudah berada di depan, padanganku tak salah dia Pak Laksono.

“Oh iya iya.” Aku segera membenarkan posisi dudukku, sambil sedikit menegakkan badan lalu mengankat tangan. “Nama saya Dimas Aditya Saputra, saya dari SMP Tarakanita I, alasan saya masuk di SMK ini, karena ingin mengetahui lebih soal bidang Multimedia dan teman-temannya, ingin menjadi pekerja seni yang handal di berbagai bidang!” Teriakku pagi itu. Semua orang menatapku dengan wajah yang heran dan bertanya-tanya, aku menurunkan tanganku lalu mulai terdiam beberapa saat.

“Bapak kan hanya minta kamu menyebutkan nama saja.” Suara lembut Pak Laksono lansung membuat seisi kelas tertawa, sampai pada akhirnya aku sadar. Aku kurang cukup berani untuk melawan mereka. Kalau Cemen, cemen aja udah.

---

Masjid adalah tempat paling menyejukkan yang pernah ada, bukan karena banyak kipas angin dimana-mana tapi memang selalu saja ada perasaan yang berbeda ketika masuk ke rumah Allah tersebut. Aku selalu bisa merasakan sesuatu, ketenangan dan kesejukan melanda pikiran dan perasaanku.

Ketika jam isitrahat tiba, aku memutuskan untuk ke masjid, aku tidak bisa mengajak Crish karena dia berbeda keyakinan denganku. Aku masih terduduk dan merenung di sudut masjid, masih dengan sejuta pertanyaan di kepala apakah memang sebagian manusia diciptakan untuk menerima nasib yang buruk untuk dirinya atau memang Tuhan sengaja membawa nasib buruk itu untuk dirinya? Gumamku dalam hati, aku tak pernah tahu bagaimana cara Tuhan membuat semuanya menjadi lebih baik dari seharusnya ketika apa yang kita lihat sekarang adalah sesuatu yang terbilang cukup buruk dan sulit untuk di perbaiki.

Berani atau penakut Aku terus meneriakkan itu dalam kepalaku, masih dengan pertanyaan yang sama, masih dengan cara yang sama. Aku bersujud selepas menyelesaikan Sholatku, aku mulai berdiri lalu beranjak pergi untuk kembali ke sekolah.

“Lo seru juga.” Kata salah seorang teman sekolah yang berbeda satu shaf di belakangku, dia masih terduduk dan bersandar pada tiang-tiang Masjid.

“Padahal tadi Pak Laksono cuma nanya nama lo aja, lo sampai detail gitu. Sarapan pakai apa tadi pagi?” Kata salah seorang yang lainnya lalu mereka berdua tertawa.

Aku mulai menoleh ke arah mereka lalu mulai menegapkan badanku. “Kalian kalau memang cuma mau terus ngejek gue, mending gue pergi.” Aku mulai beranjak dan tidak memperdulikan mereka.

“Eh tunggu.” Kata mereka setengah berteriak lalu menghampiriku.

“Bareng ke sekolahnya.” Kata yang satunya dengan perawakan yang biasa-biasa saja.

“Kenalin, gue Saka.” Katanya sambil tersenyum lembut kepadaku.

“Gue Bayu.” Kata yang satu lagi.

Aku memperhatikan mereka berdua, menyapu badan mereka dari atas sampai bawah. Saka adalah orang yang gemuk dengan wajah yang lumayan bisa memikat beberapa perempuan untuk dia jadikan pacar, tidak terlalu garang tapi mungkin bisa dijadikan teman. Berbeda dengan Bayu, dia berpostur ideal dengan dada yang bidang dan cukuran rambut yang rapih, layaknya seorang bussines man, dan kebetulan Bayu adalah ketua kelas. Hari pertamaku disekolah baru, aku mendapatkan teman baru walaupun bukan lewat sebuah keberanian.

---

Waktu bergulir begitu cepat, hari pertama sekolah semuanya begitu menyenangkan. Selepas pulang sekolah Bayu dan Saka mengajakku untuk nongkrong di kantin agar sedikit gaul katanya.

Selepas itu juga ketika memasuki muka pintu kantin, seorang perempuan dengan kerudung putih melewati lorong-lorong kantin dan bepegangan tangan dengan seorang laki-laki. Wajah laki-laki itu cukup tampan layaknya seorang bintang film. Aku terdiam sebentar lalu seyumku mengembang secara perlahan ketika aku mengetahui perempuan yang kulihat tadi pagi bersekolah di sekolah yang sama denganku. Bunga-bunga mekar di setiap sisinya, membikin indah di sudut-sudut hatiku. Ah seandainya aku yang menggenggam tangannya mungkin aku akan menjadi laki-laki paling beruntung yang pernah ada.

“Lo suka ya sama dia?” Pertanyaan Saka yang secara tiba-tiba datang membuatku tersentak.

“Eh lo berdua ngapain sih tiba-tiba dibelakang kayak hantu gitu.” Kataku memukul mereka pelan.

“Lo gue tungguin nggak dateng-dateng, lumutan nih kaki.” Keluh Bayu kepadaku.

“Ya maaf.”

“Lo suka ya sama dia?” Saka kembali mengulang pertanyaannya.

“Dia siapa?”

Mereka berdua tertawa. “Udah lah nggak usah bohong sama kita berdua. Walaupun baru sehari kita kenal, tapi sebagai seorang laki-laki gue tahu kalau orang lagi jatuh cinta kayak apa.” Kata Saka sok tahu, dan Bayu hanya mengangguk pertanda dia setuju.

“Nggak, gue nggak suka sama siapa-siapa.” Kataku sambil menarik tangan mereka, untuk segera pulang karena hari sudah hampir habis.

“Tenang ada kita berdua kok masih disini, kalau misalnya lo ditolak sama perempuan yang tadi.” Jawab Saka sambil tertawa, Bayu pun ikut menertawakanku.

Aku mengerti apa yang Saka maksud sebagai penolakan. Mungkin memang begitu, tidak ada tempat bagi orang yang terlalu biasa-biasa saja sepertiku. Hari ini aku hanya terus bersyukur bertemu dengan Saka dan Bayu, sebuah pertemuan awal dari sebuah mimpi yang besar. Ya, awal dari sebuah perkenalan.