Cerita Di Halaman Asrama

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 September 2016
Cerita Di Halaman Asrama

“Aku nggak tahu seperti apa takdir Tuhan berjalan. Aku nggak pernah tahu.” Kataku kepadamu waktu di Asrama.

Kamu terdiam, menunggu apa lanjutan dari perkataanku.

“Mungkin manusia sengaja tidak diberitahu Tuhan bahwa takdirnya akan seperti ini dan seperti itu hanya agar mereka tahu kalau Tuhan Maha dari segala Maha.” Ujarku padamu. “Dia penguasa, Raja Alam Semesta. Pencipta kehidupan.” Nadaku yang agak sedikit santai ketika berbicara soal Tuhan didepanmu, membuatmu bertanya tentang sesuatu.

“Apa kamu yakin?”

Aku menaikan kedua alisku.

“Ya, apa kamu yakin kepada iman-mu?” Kau mulai menegorku sedikit lebih keras.

“Tentu.” Kataku yakin waktu itu.

Kamu tersenyum. “Lalu untuk apa kamu masih bertanya soal kemungkinan-kemungkian tadkir Tuhan yang Maha Rahasia?.” Tiba-tiba pertanyaan itu merasuk keadalam hati dan pikiranku sendiri. “Satya, manusia selalu bisa disesatkan, seperti Adam dan Hawa ketika melanggar perintah Tuhan. Mereka dihukum dan dijatuhkan kebumi sebagai hukuman atas perbuatan mereka, jangan-jangan sekarang yang berbicara bukan kamu, tapi orang lain?”

Aku mulai memperhatikanmu berbicara.

“Pikirkan lagi Satya, jangan-jangan itu hanyalah bisikan hawa nafsu kamu saja.” Katamu. “Tak ada manusia yang bisa yakin bahwa ia telah menjadi yang paling sempurna soal Agama. Agama selalu punya ribuan rahasia yang tak akan pernah bisa kamu pecahkan.”

Salma, entah kenapa ketika aku melihatmu berbicara, aku merasa seperti sedang berada pada titik paling nyaman dalam hidupku. Entah, aku selalu diajarkan bagaimana caranya membaca tajwid, Bagaimana cara membedakan yang baik dan yang benar. Tapi Ayah tak pernah mengajariku bagaimana caranya memuji seorang wanita sepertimu.

Aku suka ketika melihatmu berjalan dilorong-lorong Asrama, tertawa dengan Shafa dan Leona. Ketika kau berbicara seakan ada pemacu dadakan dalam dadaku, semacam pemompa angin yang cukup besar. Aku pertama kalinya merasakan sensasi seperti ini, entah tapi aku ingin terus merasakannya. Berada bersamamu dan bercerita banyak denganmu. Kamu kadang menjadi sangat lugu ketika kita membicarakan masala-masalah yang cukup serius, soal Teori geo-fisika yang entah bagaimana selalu bisa terjelaskan, soal rumus matematika yang menjadi momok menakutkan bagi sebagian santri. Dan soal sebuah rahasia perasaan antara aku dan kamu.

“Aku nggak pernah tahu.” Kataku, seketika angin mulai berubah menjadi lebih kencang, udara semakin dingin. Sepertinya akan turun hujan. “Aku kadang berusaha untuk melihat ke kedalaman hatiku sendiri. Apakah aku sudah beriman pada Tuhan?”

“Mungkin seharusnya juga seperti itu, kita tidak akan pernah bisa mengukur iman seseorang. Kita hanya bisa terus berjalan, sambil sesekali menyadari kesalahan dari perbuatan kita.” Jawabmu kepadaku.

Kau terdiam, memperhatikan diriku dari bawah sampai atas dan berusaha menimbang sesuatu dari diriku. “kenapa?” tanyaku padamu. Kau masih terfokus pada peci putih pemberian Ka Jaka, Kakak pembina kita.

Kau menggeleng lugu. “Nggak apa-apa.” Sambil tersenyum kau mulai meledekku. “Kamu lucu kalau pakai peci putih. Mirip Ayah aku.”

Seketika diriku mulai membeku terkena angin sore itu, di halaman depan asrama aku menjadi manusia paling beruntung kali ini. Entah doa mana yang Tuhan kabulkan tapi aku merasa sedang berada pada perasaan paling membahagiakan yang pernah kutemui daripada apapun. Dan cinta menjadi semacam pemanis bagia setiap kepahitan hidup. Salma, cinta kadang aneh pada hidup. Mereka selalu membutuhkan peramu untuk mengatur ramuan cinta mereka sendiri, dan aku sudah mulai meracik semua hal yang mungkin akan menjadi bumbu paling mengagumkan yang pernah ku buat.

Seperti Adam dan Hawa yang turun dari bumi dengan kecepatan yang tak terjangkau manusia biasa, dengan jarak yang Tuhan takdirkan kepada mereka. Aku ingin mengulanginya sekali lagi, menjadi sepasang Adam dan Hawa yang memang ditakdirkan untuk selalu bersama; Doaku masih sama. Berjodoh bersamamu dalam keadaan yang paling menyenangkan

“Iman itu sebuah senjata Satya, senjata paling kuat bagi manusia. Dan agama adalah pelurunya. Iman itu sebuah  kereta, dan agama adalah lorong-lorong nya. Agama membawa kita yakin, dengan iman kita akan terus berjalan, sampai kereta kita dipaksa berhenti.” Tutupmu hari itu.

“Aku mengerti.”

Aku mengerti